Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Romeonya Shania


__ADS_3

Satu step untuk selangkah lebih dekat dengan kuliah sudah dilewati. Tapi masa belajar mereka belum berakhir, masih ada US yang menanti, belum lagi SNMPTN, SBMPTN.


"Ka Dim, Sha mau ke Route 78 aja ka. Sekarang kan udah hari terakhir UN, jadi Sha udah bisa nafas dulu bentaran sebelum US ! pengen ngadem."


"Ngadem tuh di kamar mandi Sha, di kulkas, " jawab Dimas dari kursi pengemudi terkekeh.


"Nah tuh tau, kalo kulkas rumah mah kecil, yang di Route 78 kan gede kulkasnya !" jawab Shania, oke ! Dimas tak lagi memiliki kata untuk melawan si ahli debat ini.


Mobil sampai di bangunan bergaya retro, dengan banyak pengunjung di dalamnya, itu terlihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir rapi disana.


Shania masuk ke dalam cafe, dan menyapa Arga dengan menepuk bahunya yang sedang membersihkan meja sehabis ditinggalkan konsumen.


"Arga !"


"Eh, mbak Sha ! Abis dari sekolah ?" tanya nya.


"Baru selesai UN,"


"Mau gabung sama ibu sama mas Arka ya ?" tanya Arga membuat dahinya berkerut.


"Ibu siapa ?" tanya Shania.


"Dih, ini nih.. udah kaya di sinetron azab, anak yang melupakan ibu kandungnya," jawab Arga.


"Dih, amit amit...naudzubillah ! maksudnya bunda Sha ?" tanya Shania, dan Arka mengangguk. Otomatis saja matanya mengedar mencari keberadaan bunda dan suaminya.


Senyumnya merekah demi mendapati keduanya tengah mengobrol di meja dekat jendela sambil minum secangkir kopi.


"Recomended lah Ka, cafenya ! Nanti bunda promoin ke temen temen arisan kalo mau ngadain acara, makanan sama minumannya juga oke," puji bunda.


"Makasih bun," jawab Arka.


"Bunda, " sapa Shania menghampiri.


"Sha, udah pulang ?" keduanya menoleh.


"Udah bun, "


Arka menarik kursi di sampingnya untuk Shania duduki.


"Mas ko ga bilang ada bunda disini ? Untung aku kesini," tanya Shania.


"Mas kira kamu masih di sekolah. Tapi ternyata keasyikan ngobrol sama bunda sampe kamu pulang belum selesai."

__ADS_1


"Ngobrolin apa ?"


"Acara tingkeban atau mitoni, " jawab bunda.


"Oh, " Shania beroh singkat.


"Kapan ?"


"Ibu kesini besok, acara paling 3 hari ke depan."


"Biar dibagi bagi, makanan ada yang dari angkringan sama dari toko kue bunda, "


"Ga usah lengkap lengkap lah, yang penting pengajiannya khusyuk aja !" jawab bunda, sedangkan Shania hanya mengangguk saja.


****


Lain di mulut lain di kenyataan. Hanya berselang 1 hari, rumah Arka sudah disulap bak rumah calon manten sunat.


"Ini yang namanya ga usah lengkap lengkap ? Ck," Shania berdecak. Orangtua terkhusus bundanya memang tipe orang perfeksionis. Terkesan sederhana namun glamour.


Di ruang kerja Arka sudah berjejer hampers acara tingkeban Shania dengan isi Alqur'an berukuran kecil, handuk kecil berwarna merah maroon, sisir, manisan buah pala in jar, dan setoples macaroon berwarna warni, di bungkus cantik dalam keranjang dengan kain tile berwarna maroon diberi pita gold diatasnya.


Gerbang dan pintu rumah dibuka lebar untuk para tetamu yang hadir, termasuk disana ada teman teman Arka entah itu dari angkringan, Route 78, maupun teman kampus. Dari pihak sekolah seperti pak Wildan dan beberapa guru yang sering mengajar Shania di rumah. Teman teman dekat bunda dan ayah, kerabat dan juga beberapa tetangga, tak ketinggalan teman teman Shania. Ayah duduk melantai bersama deretan tamu laki laki lengkap berpakaian koko putih dan songkok, sedangkan bunda dan ibu duduk di samping Shania seraya mengobrol dengan tetangga.


"Silahkan pak Arka, " ucap ustadz Zaky.


Sontak saja Shania menautkan alisnya menatap ke arah Arka yang berada di sebrangnya bersampingan dengan ayah, hingga tatapan keduanya bertemu.


"Iya ustadz, " microphone yang menggunakan penyangganya tepat di depan Arka, tak terlalu dekat ataupun tak terlalu jauh.


"Sha, saya belum pernah memberi kamu kado khusus, selama kita menikah. Sepertinya sekarang saat yang tepat, untuk memberikan sesuatu..terimakasih selalu berjuang dan berkorban untuk kita, sehat-sehat dan semoga lancar saat persalinan nanti."


"Uhhh, pak Arka diem diem menghanyutkan tau ngga, sweet banget kaya gula aren dipakein skin care !" gumam Melan, Niken dan Leli melongo, bagaimana ceritanya gula aren dipakein skin care.


Suara merdu lantunan ayat ayat Ar Rahman menggetarkan kalbu, membuat suasana mendadak syahdu. Tak sedikit dari mereka yang menampakkan binar haru, terlebih Shania. Hatinya bergetar, badannya mengalami tremor. Cukup lama memang, jangankan bunda yang terus berkata masyaallah, ayah sudah tertegun khusyuk dan para tamu yang menghayati alunan romantis bermakna lembut.


"Wahai manusia dan jin, nikmat mana lagi yang kamu dustakan? terutama nikmat yang telah Allah berikan pada hari ini. Kabar derita dan peringatan pedih yang telah disampaikan-Nya, yaitu agar manusia menghindari dan menjauhi perbuatan dosa."


Surat berjumlah 78 ayat itu lolos dari mulut Arka di acara 7 bulanan Shania. Ditutup oleh surat Ali Imran ayat 14 dan An-nisa ayat 1.


"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)."


"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang menciptakan dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang biakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama hubungan mengenai tali kekerabatan, sesungguhnya Allah swt adalah pengawas atas kamu." (Qs. An-nisa : 1)

__ADS_1


Arka bukan sedang pamer, tapi ia sedang menggombali Shania dengan caranya.


Shania mengusapkan tissue disekitaran wajahnya yang sudah basah demi air mata yang telah menganak sungai. Jangankan ia yang tengah di hadiahi, orang orang yang hadir disini pun menyetujui bukan Romeo dan Juliet icon pasangan romantis untuk hari ini yang jadi idola mereka, tapi Arka dan Shania.


"An*jritttt, sumpah ! gue pengen mewek ! gemeteran jantung gue !" bisik Leli.


"2in, "


Setelah Arka lalu kesemua yang hadir di bimbing ustadz Zaky sama sama membacakan beberapa ayat surat Yusuf, surat Maryam, surat Al fatihah dan ke 4 surat lainnya.


Arka tak segan membantu bunda, ibu, dan bi Atun mempersilahkan para tamu untuk mencicipi makanan yang ada disana seraya bersiap siap memulai acara siraman Mitoni atau Tingkeban.


"Arka, bantu istrimu ganti baju," pinta ibu, Arka mengangguk dan menyusul Shania yang baru beberapa langkah menuju kamar.


"Sha, ganti baju dulu !" gadis ini langsung menghambur menubruk dada Arka dan memeluknya erat, air matanya bahkan sudah membasahi koko putih milik suami gurunya itu.


"Mas, makasih !" cicitnya.


"Sama-sama," Arka mengangkat dagu Shania hingga gadis itu mendongak dan membalasnya dengan sengatan manis di bibirnya, membawa Shania untuk melambung ke nirwana, meraup pelangi jingga dan rasa yang tak dapat mereka jelaskan selain menik matinya, meskipun kini mereka tak bisa merapat karena terhalang perut, namun tak mengurangi ke in ti man keduanya. Justru Arka menahan tengkuk dan pinggang Shania, tanda tak ingin melepaskan manisnya bibir semanis madu istri nakalnya. Mungkin jika tidak sedang di tunggui oleh semua orang, moment ini akan berlanjut ke ranjang.


Arka terpaksa melepaskan pa gu tannya dan mengusap ujung bibir Shania dengan jempolnya dan menutupnya dengan kecupan singkat di pipi Shania.


"Asin, " kekehnya demi merasai jejak air mata.


"Mas sweet banget sih, " Shania kembali memeluk Arka seraya kaki yang menghentak hentak lantai.


"Kita lanjutin nanti aja malem, orang orang udah nunggu," pintanya membantu Shania memakaikan samping kemben.


.


.


.


Noted


* Retro : gaya yang mengadipsi gaya tahun 70' -90'an.


*Mitoni : adat siraman 7 bulanan dari jawa.


*Tingkeban : adat siraman 7 bulanan dari sunda.


*Glamour : anggun, elegan.

__ADS_1


*Tremor : gemetaran, bergerak tanpa sadar.


__ADS_2