
"Mas, udah kerja aja !" ujar Shania ikut menatap layar laptop di samping Arka.
"Ini jadwal buat nanti, setelah mas pulang. Biar mas ga pusing, dan lupa, waktu pulang ga harus cape bikin jadwal lagi, tinggal jalan."
"Dih, kaya orang sibuk aja !"
"Mas mulai masuk kampus minggu besok, "
"Jadi Sha ditinggal nih, minggu depan ? betein."
"Mas kan emang gini tiap hari, baru sadar ?" tanya nya.
"Kalo angkringan kan emang tiap hari, Teguh atau Priyawan kan tiap hari kirim email pendapatan. Mereka bagian lapangan,"
"Iya, tau."
Melihat wajah kusut Shania, Arka menghentikan ketikan jarinya, dan membalikkan badannya ke arah Shania. Si kebo bule nakal ini memang harus ia beri pengertian, mengajarkannya menjadi istri mandiri dan tidak manja.
"Mas kerja banting tulang buat masa depan kita Sha, kalo mas leha leha..mas ga bisa nafkahin kamu, ibu...mas juga harus punya tabungan, kamu tahun depan sudah lulus. Katanya mau kuliah di jas kuning, otomatis biaya kuliah yang harus mas bayar 2. Dan itu bukan jumlah uang yang sedikit, mas juga harus punya persiapan kalau nanti setelah lulus kita memiliki anak ? emangnya kamu ga mau punya anak ? ga mau mengandung keturunan mas ?"
"Iya. Sha paham," kepalanya tertunduk.
"Mas mau dibikinin kopi ?" tanya Shania mendongakkan kepalanya.
"Boleh, " jawabnya. Ibu baru keluar dari kamarnya, setelah selesai menunaikan shalat isya.
"Ibu mau sekalian dibikinin teh manis ngga ?" tanya Shania.
"Boleh nak, " jawab ibu.
"Ambil singkong goreng di meja ya, biar sekalian sambil nyemil !" jawab ibu.
"Oke bu, "
Shania beranjak ke arah dapur. Ia menyeduh air takutnya air di termos kurang panas. Lalu tangannya terulur mengambil kopi di toples bertutup merah menambahkan gula pasir juga ke dalamnya, beralih ke gelas lain dengan teh celup sachet yang dibeli di warung dan menambahkan gula pasir. Gadis ini menyenderkan badannya di dinding sambil menunggu air rebusan mendidih, tapi saat matanya mengedar ke arah bawah meja, sesuatu bergerak di bawah sana. Panjang dan meleor.
"Eh, apaan tuh !" Shania membungkuk setelah sebelumnya mematikan kompor.
Shania menyingkabkan satu persatu barang di bawah meja makan. Mulai dari panci besar, tapi tak ada apapun di bawahnya, lalu beralih ke tumpukan baskom yang tertelungkup. Namun, tak ada apapun juga disana.
Terakhir ia menggeser karung berisi beras, begitu terkejutnya ia sampai kepalanya terantuk meja, seekor tikus berlari disusul seekor ular hitam dengan aksen kuning di tengah badannya.
"Dughhh !"
"Awww !"
"Masss !!! ibu !!!" Shania segera melompat dan naik ke kursi meja makan. Sontak saja Arka dan ibu terkejut, dan menyusul ke dapur.
"Sha ! ada apa ?!"
"Itu ular mas, bu !" tunjuk Shania ke arah belakang lemari piring.
"Ular ?! astagfirullah !" jawab Ibu.
"Dimana ?"
"Itu belakang lemari piring samping kulkas."
"Ya Allah, kamu ga apa apa nduk ?" Shania menggeleng.
"Bu, ibu masuk saja ke dalam, biar Arka yang keluarin ularnya, " jawab Arka khawatir ibu akan terluka.
"Kamu turun, " Shania menggeleng.
"Takut mas, Sha disini aja liatin mas.." jawabnya duduk di meja makan.
__ADS_1
Arka membuka pintu dapur yang langsung menghadap ke kebun singkong, disana juga ada beberapa pohon pisang yang ditanam si pemilik kebun. Ia mencari batang kayu dengan cabang, yang bisa digunakan sebagai senjata.
Pria itu kembali,
"Mas hati hati ih, " ucap Shania. Arka menggeser barang barang, dan menemukan si ular tengah meleor dengan sesekali mengeluarkan lidahnya, si ular juga mengangkat kepalanya demi mencari jalan dan makanannya seekor tikus.
"Ada ngga mas ?"
Arka mengangguk, ia mengarahkan kayu bercabang tepat di atas kepala ular, namun di ular malah kabur.
"Itu !!! itu mas, ke bawah ember !" pekik Shania.
Arka mendekat pelan pelan, ia sudah ancang ancang dengan kayunya, tangan kiri membuka ember. Tapi naas, belum sempurna membuka ember, sang ular ternyata sudah bersiap dengan taringnya dan mematuk tangan kiri Arka.
"Astagfirullah !!! mas !!!" Shania turun, Arka melempar tongkat kayu dan memegang kedua sisi rahang ular lalu menekannya sehingga gigitan ular dapat dilepas dari tangannya. Ia juga membuka pintu dapur mengembalikan ular itu ke habitatnya.
"Mas," air matanya sudah menggenang, ia menghambur memeluk Arka.
"Ambilkan kotak p3k, "
Shania langsung melepas pelukannya, dan berlari ke dalam.
"Bu ada kotak p3k, mas Kala digigit ular bu," sesenggukannya. Sudah jelek saja pikirannya, takut kalau kalau ularnya berbisa dan bisanya membuat nyawa Arka tidak tertolong.
"Digigit ?!" ibu segera membawa p3k dari bufet dan menyerahkannya pada Shania.
"Ibu panggil pak mantri ya ? minta Nanang jemput biar cepat !" Shania mengangguk lalu berlari ke dapur.
Disana Arka hanya mencuci bekas gigitan ular saja, apa perlu Shania menyedot darah seperti di film film ? tapi biar apa, cobak ?! justru akan berbahaya.
Tangannya bergetar sambil sesenggukan.
"Ambilkan kain untuk mengompres," pintanya. Shania mengambil kain dan membasahinya dengan air, menempelkan di luka.
"Ga usah nangis Sha, mas ga apa apa, cuma ular kecil itu.."
"Sakit banget ngga mas ? Kebas ngga tangannya ? Apanya lagi yang sakit ? Mas mau punya anak kan ! Mas harus baik baik aja ! Sha ga bisa bikin anak sendirian," sungguh Arka ingin tertawa. Namun, ia tahan karena kasihan melihat Shania yang menangis sampai sesenggukan.
Ia menarik Shania ke dalam pelukannya, "mas ga apa apa Sha, cuma gigitan kecil, bukan ular berbisa itu.."
Pak mantri datang bersama ibu, Nanang, dan Retno. Tak tau kenapa wanita ini ikut.
"Mas ndak apa apa to ?" tanya Retno.
"Ndak, " jawab Arka.
"Mas, ga apa apa ?" tanya Nanang, terlihat wajah Retno yang khawatir.
"Ka, ya Allah gusti, " ucap ibu. Pak Mantri memeriksa bekas gigitan ular, memencetnya sehingga keluar darah dari dalam sana.
" Bukan ular berbisa pak, "
"Oalah, sedang musim panen mas Arka.. biasa ini, hama tikus banyak. Jadi ular pada keluar cari makan, " terang pak mantri.
"Darah tidak menggumpal, "
"Iya pak, itu cuma ular yang biasa ada di pohon pisang, " jawab Arka.
"Alhamdulillah, " jawab ibu.
"Kalau begitu bapak kasih suntikan antivenom dan obat antibiotik ya, bapak juga kasih obat demam. Takutnya terjadi demam dan pembengkakkan, "
Shania hanya melihat sambil sesenggukan.
Setelah pak mantri menyelesaikan tugasnya, ia beranjak untuk pamit.
__ADS_1
"Matur nuwun pak, "
"Sami sami, "
Shania kembali memeluk Arka, "mas jangan kenapa napa, jangan tinggalin Sha sendiri mas, "
Nanang mengulum bibirnya, sedangkan Retno, ia dapat melihat jika Shania memiliki perasaan yang sama dengan Arka, keduanya memang sama sama saling menyayangi.
"Ikhlas lho mbak ?" bisik Nanang, Retno menoleh, "ikhlas, Nang.." cicitnya.
"Wes mbak, arjuna begitu ga akan mati cuma karena ular !" imbuh Nanang tertawa.
"Sha takut mas, "
Arka menghapus air mata di pipi Shania begitupun lelehan dari hidungnya tanpa rasa jiji.
"Mbak Sha nih lucu, nangisnya kaya Banyu minta jajan terus ga dikasih mbak Tias, " kekeh Nanang.
"Syukur kalo mas ndak apa apa," ucap Retno.
"Makasih Retno, sudah memanggilkan pak mantri, " ucap ibu.
"Nggeh bu, sami sami."
"Makasih mbak, " susul Shania.
"Sami sami Sha, " jawabnya mengangguk.
"Nang, sudah malam. Sebaiknya kita pulang, "
"Bu, mas Arka, Shania..kami pamit pulang dulu."
"Mas, budhe..mbak Sha, Nanang pamit pulang, assalamaualaikum !"
"Waalaikumsalam, "
"Sudah, sebaiknya kalian istirahat saja, " pinta ibu.
"Iya bu, "
"Ibu tutup dulu lubang lubang sekitaran pintu dan lubang angin."
"Iya bu, Sha bawa mas Kala istirahat dulu !"
"Masih sakit ngga mas ?" yanya Shania duduk diatas ranjang samping Arka.
"Engga, itu bukan ular berbisa. Lebih berbisa ular punya mas, Sha ! kalo bisanya masuk ke kamu, kamu bisa mabok," kekehnya, membuat Shania mencibir padanya.
"Mas butuh obat lain Sha, "
"Apa ?"
"Obat hormon, "
"Kaya gimana ?"
Arka beralih mengunci pintu kamar, untuk segera memulai malam panjangnya bersama Shania. Menorehkan kisah indah berdua di ranjang Surabaya sebelum keduanya pulang.
Part selanjutnya mungkin skip bocil lagi ya, kalo ga nanti malam mungkin besok malam guys ...Mulai bulan ramadhan, mimin update setelah berbuka ya,
Atas nama pribadi dan keluarga Shania Arka, mimin mengucapkan mohon maaf lahir bathin, dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🙏🙏🙏
.
.
__ADS_1
.
.