Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Otewe menahan rindu


__ADS_3

Shania tersenyum senang. Arka memang terlalu kaku dan dingin untuk bisa segila teman-temannya. Berkali-kali Guntur, Ari, Deni dan Roy mengajak dengan penuh bujuk rayu ia tetap menolak ajakan mereka untuk berjoget ria diatas panggung sambil nyawer.


Arka lebih memilih duduk di mobil bersama Gale sambil menonton video di youtube bersama putri kecilnya.


"Ha-ha-ha ! Akal bulus loe semua ga akan mempan sama mas Kala. Bagi dia lebih menyenangkan nyawer gue lagi goyang itik somplak tiap malem yang pake jaring ikan ketimbang nyanyi bareng yang bukan istrinya."


"Noh tuh ! Si Roy Nez, putusin aja kalo macem-macem mah ! Bukannya di kampus masih ada cowok yang suka sama loe, Nez ?" Shania menaik turunkan alisnya, godaan Shania diangguki Leli yang satu kampus dengan Inez.


"Bener !" jawab Leli.


"Siapa ?!" seru Roy sewot.


"Engga Sha, ihh.." Inez melotot.


"Siapa tot ?" tanya Roy pada si bontot Leli.


"Ada deh !" tawa Leli.


"Asem, awas loe tot !" Roy menjitak kepala Leli.


Di atas sana Ari, Guntur dan Deni masih asyik berjoget sambil request lagu. Sedangkan Shania mengambil potongan buah dan baso tahu untuk anak dan suaminya di mobil.


Shania mengulas senyumnya melihat Gale dan Arka yang asik bercanda di dalam mobil sambil bernyanyi lagu anak-anak.


"Yeee, suara ayah bagus !!" serunya duduk dan menaruh makanan yang ia bawa di dashboard.


"Mas, Sha bawain baso tahu..sini biar Sha suapin dedek buah," Shania mengambil alih Gale.


"Ini mau pulang jam berapa ?" tanya Arka.


"Bentar lagi mas, tuh anak-anak masih sibuk di dalem !" jawab Shania menyuapkan potongan semangka setelah menyisihkan bijinya.


"Dedek kayanya ngantuk mas," ujar Shania melihat Gale yang sudah terantuk-antuk dan sesekali merengek rewel.


"ASI'hi dulu, biar pintu mobilnya mas tutup," Arka keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil seraya membawa sebatang rokok. Shania mulai meng'ASIhi Gale, terlihat olehnya Arka yang mengambil duduk samping hansip di depan acara dan mengobrol disana.


Tak lama keluarlah teman-temannya dari acara dan mencari Shania, namun mereka menemukan Arka tengah merokok bersama hansip.


Gale sudah tertidur, waktu juga sudah menunjukan siang hari. Mereka memutuskan untuk pulang.


*****


Waktu demi waktu berlalu tak terasa, dengan semua kesibukan Shania sebagai seorang mahasiswi tata boga, seorang istri dan seorang ibu. Terkadang jika praktek, ia pulang terlambat. Begitupun Arka dengan kesibukannya.


"Mas sekarang jarang ke Route 78," Shania duduk di meja rias, ia baru saja mandi.


"Mas sibuk banget Sha, mas juga mulai mempercayakan Route 78 sama Dimas, Lukman dan Mila. Mas mau coba lepas Route 78," jawabnya meraih sisir dan mulai menyisiri rambut panjang Shania.


"Maksudnya, mas cuma kerja belakang layar gitu ?" tanya Shania menatap Arka dari pantulan cermin. Terlihat urat-urat kelelahan dari pria matang kekasih hatinya, meskipun begitu ia tak seperti kelihatan bertambah tua padahal umurnya menginjak usia 36 tahun dan sebentar lagi memasuki 37 tahun.


"Iya," jawab Arka.


"Sebentar lagi mas mengerjakan tesis Sha,"


Deg...


Saking sibuknya ia dan Arka, Shania sampai lupa jika teman-temannya sudah meributkan penempatan dimana mereka akan KKN.


"Mas," Shania mendongak.


"Hm,"

__ADS_1


"Kalo kita beda kota, berarti nanti kita LDR dong ?" tanya Shania, Arka tersenyum dan mengangguk lalu mengecup kening Shania lama.


"Kita pisah nih mas ?" mendadak hatinya dilanda galau.


"Ga lama Sha, paling lama juga cuma beberapa bulan."


"Beberapa bulan ?!!!" pekik Shania yang langsung membekap mulutnya dengan tangan karena Galexia yang sudah tertidur.


"Iya," jawab Arka, pria itu beranjak keluar kamar, Shania mengekorinya sampai ke ruang kerja.


"Lama dong mas !! Kalo nanti Sha kangen gimana ?!" rengeknya seperti anak kecil.


"Berdo'a saja semoga masih di kota yang sama," jawab Arka.


"Aamiin,"


"Kamu jadi bantu bunda di toko ?" tanya Arka.


"Sha, males lah mas ! Capek, mendingan main sama dedek. Oh iya mas, dedek mau Sha masukkin ke playgroup yah ?!" Shania berseru, ia berlari lalu kembali dengan membawa selembar brosur sebuah playgroup pada Arka.


"Coba deh mas baca," pintanya duduk di pangkuan Arka, posisi ini masih menjadi posisi favorit keduanya. Arka sesekali menghirup rakus aroma khas vanilla dan strawberry Shania yang sudah menjadi candunya.


"Sha denger dari ibu-ibu kompleks sih playgroupnya bagus mas, Mas tau ngga Hazel ?!" tanya Shania.


"Anak sepupu jauh kamu ?" tanya Arka, Shania mengangguk.


"Iya yang jago baca Al-qur'an itu, dia juga disana asalnya !" jawab Shania.


Arka melihat lebih teliti lagi brosur playgroup itu, fasilitas lumayan bagus, para gurunya terlatih dan memang berpendidikan.


"Boleh, nanti mas coba liat langsung kesana,"


"Ko mas sih, bareng sama dedek lah. Yang mau sekolah kan dedek bukan mas," jawab Shania menoleh ke belakang.


"Mas,"


"Hm,"


"Sha belum haid, udah 2 bulan..." bisiknya.


"Telat kb ?" tanya Arka, Shania mengangguk.


"Kalau sudah rejeki harus disyukuri," jawab Arka santai memejamkan matanya menghirup hawa nafas lembut Shania.


Jika sampai hamil kembali, maka kehamilan sekarang pun tidak akan mudah bagi Shania, ditengah-tengah kesibukannya yang akan menghadapi KKN, skripsi, belum lagi Arka yang akan sama-sama sibuk, bahkan kemungkinan mereka akan berjauhan, membuat Shania menghela nafas.


"Kalo sampe jadi...Sha,"


Melihat raut wajah lelah Shania, Arka segera memposisikan dirinya menjadi penyemangat dan pendukung pertamanya.


"Kalo sampe jadi, Sha ga boleh telat makan, jangan terlalu capek, makan makanan bergizi dan jangan stress," potong Arka.


"Kita jalani ini sama-sama," Arka tersenyum membawa kepala Shania untuk bersandar di dadanya.


******


Arka duduk di pendopo dekat dengan fakultasnya, bersama Vian dan Hendra.


"Jadi, berapa bulan Ka ?" tanya Vian.


"4 bulan,"

__ADS_1


"Dimana ?"


"Bandung,"


Setelah menemui dosennya, Arka akhirnya diberitahu bahwa ia ditugaskan melakukan Kajian kuliah kerja lapangan program S2-nya adalah di sebuah sekolah di kota Priangan.


Sedangkan di lain tempat, Shania patut bersyukur karena penempatan KKN nya tak jauh dari Jakarta, hingga ia tak harus meninggalkan Galexia yang sedang dalam masa pertumbuhan, dan butuh bimbingan orangtua.


Ponsel Arka bergetar, nama Shania tertera disana.


"Maassss !!" pekiknya dari sebrang telfon sana.


"Waalaikumsalam," jawab Arka, Shania terkekeh, "assalamualaikum mas, lupa Sha !"


"Mas coba tebak deh, KKN Sha dimana ?!" tanyanya.


"Engga tau,"


"Dih, ko langsung nyerah gitu sih ?! Mas ga asik lah !"


"Daerah Jakarta dan sekitarnya," jawab Arka ngasal, mendengar dari suara riang Shania.


"Daebakkkk !!! Mas cenayang ini mah !" jawabnya, Arka terkekeh..dari suara riangnya saja sudah tertebak bahwa kota penempatan Shania tidaklah jauh.


"Iya, sampe sekarang kamu lagi mikirin apa pun mas tau," jawab Arka beranjak dari sana, ia memutuskan untuk menjemput Shania, mendadak ia merindukan Shania-nya mengingat penempatan Kajian kuliah kerja lapangannya.


"Mikirin apa cobak ?!" tanya Shania.


"Mikirin mas." Jawabnya.


"Ihhh pede amat kisanat !" tawa Shania renyah.


"Sha, jalan yu !" ajak Arka.


"Jalan kemana mas, Sha masih ada jadwal kuliah satu makul lagi," jawab Shania.


"Ijin dulu sekali-kali boleh kayanya Sha," Arka sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Ini Arkala Mahesa kan ?" tanya Shania ragu membuat Arka tertawa.


"Kenapa memangnya ?"


"Seriusan, ngajakin Sha bolos ?"


"Seribu rius, katanya mau liat playgroup buat Galexia ?"


"Oke lah kuyyy !"


"Mas sudah di jalan, kamu siap-siap tunggu di depan parkiran, mas tutup telfonnya ya,"


"Iya mas,"


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Shania melirik ponselnya yang dimatikan.


"Aneh," gumam Shania.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2