Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Lucky Guy


__ADS_3

Arka menyimpan dua buah kantung kresek besar berwarna putih dengan aksen oren dan hijau, belanjaan barusan di dapur. shania yang baru saja menyimpan sepatu di rak, langsung mengekor dan mengeluarkan semua belanjaan untuk ditaruh sesuai tempatnya.


"Bi ! maaf snack yang itu masukin aja ke laci barengan sama teh sama kopi. Bibi kalo mau, ambil aja !" imbuh Shania.


"Iya neng, " bi Atun mengangguk, ikut membantu Shania.


"Mas pergi dulu, hati hati. Bilangin anak anak jangan macem macem."


"Iya, mas. Hati hati !!!! " pekik Shania dari tempatnya tanpa menoleh. Tak lama setelah kepergian Arka, Shania berganti pakaian dan meraih tas selempangnya.


"Bi, Sha pergi dulu ya !"


"Iya neng, hati hati !"


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. "


"Ko ga bareng sama pak guru neng ?" tanya pak Hari saat berpapasan dengan Shania yang berjalan.


"Beda jalur pak !" jawab Shania membetulkan letak topinya. Shania sedikit berlari dengan sepatu sniker putihnya, demi melihat Melan sudah berdiri, dengan motor matic sejuta umatnya di pinggiran jalan raya depan komplek. Seraya mengetik sesuatu di ponselnya.


"Mel !"


"Sha, baru juga mau gue chat. Loe minta di jemput disini, emang siapa yang tinggal disini ?" tanya Melan.


"Sodara," jawab Shania singkat, langsung duduk di atas motor Melan. Belum saatnya Melan dan anak anak lain tau jika ia sudah menikah dengan Arka. Tidak terbayang jika mereka sampai tau, kalau Shania sudah menikah, apalagi dengan guru killer di sekolah mereka. Bahkan mungkin, beberapa temannya sudah mencap Arka sebagai guru tanpa hati, dan menandainya dalam list guru yang paling dihindari.


**********


Arka memarkirkan mobilnya, menarik tuas rem tangan dan berjalan turun menuju dalam cafe. Cafe dengan konsep angkringan ini adalah bentuk renovasi dari angkringan sebenarnya. Awal mula hanya sebuah angkringan biasa di tengah gemerlapnya kota besar, bersaing dengan cafe cafe modern yang mengusung konsep cozy dan instagramable. Dengan makanan kekinian anak muda yang berbau western dan korea, kini berubah menjadi angkringan kelas atas dengan suasana nyaman. Namun, tetap receh dan tak menghilangkan kesan angkringannya. Ia berjalan menuju teman teman semasa kuliahnya, para pelopor angkringan modern ini sekaligus pendiri.


"Weits !!! ini dia bapak guru kita, kemana aja bro !" Teguh menepuk punggung Arka sedikit keras.


"Baik, sibuk Guh." Arka bersalaman ala laki laki dengan kedua teman lainnya sesama pendiri angkringan yang sekarang sedang mereka jalankan.


Arka duduk disamping Priyawan dan Nino. Sampai detik ini, keempatnya tetap solid dalam menjalankan usaha angkringan yang sudah mereka dirikan sejak kuliah, bahkan memiliki cabang usaha di beberapa sudut kota ini. Arka menarik sebatang rokok dan bergabung ditemani segelas wedang jahe. Angkringan dengan konsep jajanan tradisional khas tanah Jawa ini, bukan hanya menjual makanan/ jajanan daerah Jogja dan sekitarnya saja, ada juga jajanan khas dari daerah Jawa Barat tempat asal Priyawan. Harga yang receh. Namun, berbagai macam pilihan menu dan juga rasa yang tidak kaleng kaleng membuat angkringan milik mereka selalu ramai, baik itu oleh anak muda maupun usia lanjut.


"Jadi ambil magisternya Ka, di jas kuning ?" tanya Priyawan.


"Jadi Wan, do'a kan saja 2 bulan ke depan."


"Wan ! pesanan !" teriak Teguh.


"Biar saya saja, " Arka menggerus rokoknya lalu mengambil buku note dan pulpen.


"No, meja 7 tambah minum susu jahe !" pekik Teguh lagi, di okei Nino.


Selesai melayani Arka kembali duduk bersama Priyawan dan Nino yang juga sudah selesai mengantarkan pesanan, Teguh baru saja menyusul. Keempatnya memulai usaha sejak kuliah, di dasari oleh kebutuhan uang kuliah, mereka mengumpulkan modal bersama, entah itu mencarinya dengan cara kerja serabutan, menjadi guru les, bekerja di cafe ataupun toko dan sisa kiriman orangtua. Keempatnya serius menjalankan usaha ini hingga kegigihan mereka membuahkan hasil.

__ADS_1


"Alhamdulillah cabang nambah di Daan Mogot !" ucap Teguh menyeruput bandrek.


"Buka lagi lowongan kalo gitu ?" tanya Arka.


"Yoi, cari aja anak kuliahan yang butuh kerjaan sampingan kaya kita dulu," usul Priyawan.


"Boleh, tuh si Dani kasian sibuk sendiri !" tunjuk Teguh pada salah satu karyawannya yang tengah membereskan meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan.


"Apalagi sekarang saya sibuk ngurus cafe, ngajar, sama persiapan ngampus lagi, " jawab Arka.


"Widihhh hebat lah mamen kita yang satu ini, makin melebarkan sayap usahanya ! sukses bro !" Nino meninju pelan bahu Arka.


"Sorry, saya jarang bantu bantu di angkringan, cuma bisa merekap pendapatan dan pengeluaran, sama kerja belakang layar !" ujar Arka.


"Suka merendah untuk meroket nih mamen yang satu ini, kita punya tugas masing masing dan saling memaklumi Ka, prinsip kita dan perjanjian kita dari dulu !" ucapan Teguh diangguki Priyawan dan Nino.


"Cabang lain aman ?" tanya Nino.


"Aman, laporan dikirim ke Arka tiap hari, " jawab Priyawan.


"Tinggal nyari bini Guh, " seloroh Nino mengepulkan asap putih di udara. Arka kembali menyalakan kembali batang rokok yang tadi baru di nyalakannya.


"Hooh lah ! gue baru sadar kalo dah tua, perasaan umur tuh masih 20 aja gitu !" jawab Teguh.


"Ahhh, yang paling cakep aja belom kawin. Loe ngarep kawin cepet !" sontak saja ucapan Priyawan dihadiahi toyoran dari Teguh.


"Putus, " jawab Arka.


Demi apa ? kini Priyawan bahkan sampai tersedak pedasnya bandrek.


"Sing bener bae mas bro ?" tanya Teguh.


Arka mengangguk, " saya dah nikah Guh, " kembali Priyawan dan Nino melotot dibuatnya.


"Yang bener Ka ? ko, loe ga kabar kabar ?! kita tuh temen bukan sii ?!" sebelum Nino memancing amarah yang lain juga. Arka menceritakan semuanya, membuat kerutan di kening mereka, hingga terkadang alis mereka yang terangkat dan mengernyit demi mendapati jika salah satu kawannya ini sudah menikah tanpa kabar beritanya.


"Hah ?!! jadi bini loe anak SMA ??! si*@lan, lucky guy !" Nino menggelengkan kepalanya.


"Udah di cicip !" tanya Teguh.


"Di cicip emang loe pikir kue onde !" sarkas Priyawan.


"Gue pikir loe masih sama Alya, terus si Alya nganggur gitu ? kesempatan !" jawab Nino, Arka tak ingin lebih membahas lagi tentang Alya, ia hanya mengangguk.


"Wes apik tenan, persaingan sehat guys !" jawab Teguh menggosok gosok kedua tangannya. Sedangkan Arka menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan candaan teman temannya, jika mereka tau bagaimana Alya sebenarnya. Sudah dipastikan mereka tidak akan mau mengejarnya.


"Ga nyesel Ka, lepasin Alya. Malah ngejar cinta bocah SMA ?" tanya Priyawan.


"Lebih baik mengejar yang sudah halal dan sudah jadi makhromnya, " jawab Arka kembali menyeruput wedang jahe.

__ADS_1


"Bener mas bro, setuju ! ga apa apa daun muda buat yang sudah tua tua biar awet muda !" tawa Nino.


"Loe aja yang tua !" desis Priyawan


"Lebih enak ngajarinnya ya Ka ?!" tawa Teguh pecah.


"Kalo bablas repot bruh, masih sekolah !" sewot Priyawan.


"Kecup kecup boleh lah, kalo lebih mah manusiawi, " seru Nino.


"Mesti tahan iman bru, ga bisa langsung hajar. Ga usah di dengerin s3tan satu ini mah !" timpal Teguh menunjuk Nino.


"Ga sadar apa kita tuh bujang bujang tua ?!" Arka tertawa mendengar pertanyaan lebih tepatnya pernyataan Teguh.


"Umur loe tuh udah pada udzur ! tapi belom nikah nikah !" imbuh Nino.


"Bilang tuanya jangan ke muka gue, noh si Teguh yang lebih tua !" Priyawan melempar kacang rebus pada Nino.


Di depan angkringan.


"Ini tempatnya ?!" Melan melihat ke sekelilingnya.


"Iya, disini. Harganya receh, tapi lumayan lah kalo buat nongkrong nongkrong. Menunya tradisional tapi lengkap mau dari Jawa Timur sampe Jawa Barat ada !" jawab Leli.


"Oh iya, gue tau nih ! ada di IG !" jawab Mila si anak medsos berseru.


"Udah buruan lah gue pengen duduk, ntar keburu penuh !" jawab Shania yang turun dari motor Melan.


"Noh Den, besok besok tuh mendingan nongkrongnya disini aja, jangan di markas. Biar loe minumnya bandrek, wedang jahe, wedang ronde, biar sehat ! jangan b*r, amer, insyaf bro ! dunia udah mau kiamat bentar lagi, " ujar Guntur.


"Si*@lan, loe juga kamvrett !" jawab Deni melengos masuk ke dalam dan memilih salah satu meja di pojokan ruangan.


Terdapat bacaan selamat datang di pintu masuk


" MONGGO LEBET KONCO KONCO" (silahkan masuk, teman teman)


Shania bersama teman temannya yang lain ikut duduk. Ia melihat sekelilingnya, konsep ruangan dengan perintilan khas tanah Jawa percampuran modern, membuat angkringan ini terkesan unik. Letak kasir di samping kanan, dengan meja penganan tradisional yang di tempatkan di sepanjang sisi ruangan dengan konsep ambil sendiri langsung bayar, harga per porsinya pun sudah tertera di atas tempat makanannya masing masing. Mata Shania berbinar melihat berbagai macam jajanan khas daerah tanah Jawa, cenil, jiwel, klepon, getuk, serabi, hingga awug, carabikang, gemblong nagasari dan lain lain ada disini. Angkringan ini terdapat banyak meja panjang, sebagai tempat untuk duduk para pelanggannya.


"Siapa yang pernah kesini, fav. menu nya apa ?"


"Susu soda, makanannya ambil masing masing. Bayarnya juga masing masing !" jawab Melan. Masing masing dari mereka sudah dengan nampan dan piringnya masing masing, mereka berjajar dengan pelanggan lainnya untuk memilih dengan seorang karyawan angkringan di ujung kasirnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2