Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Bangunkan aku dari mimpi burukku


__ADS_3

Pengunaan karet pelindung efektivitas mencegah kehamilan 98%. Bukan berarti tidak mungkin hamil, mungkin diantara 2% itu ada Shania. Penyebab terjadinya kebobolan banyak sebabnya, kadaluwarsa, salah cara penggunaan, salah cara penyimpanan, terjadinya banyak gesekan mengakibatkan bahan karet sobek, ukuran, dan masih ada lagi sederet penyebab bisa terjadinya kebocoran.


Begitu penjelasan dokter yang tertangkap oleh telinga Arka dan Shania. Gadis yang kini memakai swetter bertuliskan tim basket SMA BAKTI PERSADA berwarna hitam dengan logo sekolah kebanggaan di dada kirinya ini masih memasang wajah keruhnya. Nampak tatapan tak percaya, marah, kesal dan sedih. Pada siapa ? ia pun tak tau harus melampiaskan ini pada siapa.


Bangunkan aku dari mimpi burukku,


Shania Cleoza Maheswari.....


------------------ 


 


"Mari kita cek usia kandungan pake alat USG (ultrasonografi)," ajak dokter perempuan bertitle dokter obgyn.


Shania menurut saja, tubuhnya sudah tak tau harus kemana. Ia dibantu Arka membaringkan badannya di ranjang pasien.


Shania menatap nanar pada layar monitor yang sudah bersiap melihat kondisi rahimnya. Dokter mengoleskan gel bening di perut bagian bawah Shania lalu mulai menggerakan alat usg-nya.


"Nah itu, yang bulat itu kantung-nya, dan ini," dokter men zoom beberapa kali karena memang ukurannya yang masih sangat kecil, mengarahkan kursor, dan anak panah ke arah tengah kantung tersebut.


"Wah, aku sudah sebesar biji kacang hijau ayah, bunda !" seru dokter. Shania melelehkan kembali air matanya, perasaan campur aduk di hatinya.


"Ini kira kira usianya baru 4 minggu. Di usia ini, embrio akan melekat di dinding rahim. Nah mulai tuh, si calon baby ini memproduksi hormon HCG, jadi..jangan aneh kalo nanti bunda-nya ngerasain mual, eneg, dan ada kepengen makan sesuatu gitu yang ga biasa," senyum dokter Rani pada Shania.


"Di usia ini juga, si hormon ini bakalan ngirimin sinyal sama indung telur buat berenti ngasilin sel telur lagi tiap bulan selama masa kehamilan, sehingga sebagian perempuan kadang ngerasain kram perut dan mengeluarkan bercak darah yang disebut implantation spotting, pendarahan ini biasa dikira datang bulan karena memang biasanya munculnya tuh di waktu yang sama dengan siklus datang bulan."


Shania akhirnya mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi dengannya belakangan ini. Jika ia sedang mengalami kehamilan.


Kakinya berjalan, tapi pikirannya pun melayang entah kemana. Satu nama yang sedari tadi ia pikirkan, Maya. Bagaimana reaksinya jika tiba tiba didatangi oleh Shania dan bertanya, dimana loe aborsi ? apa yang loe makan ? absolutely no.


Sedangkan Arka, ia menghitung perkiraan kapan Shania lahiran, dan bagaimana plan selanjutnya. Ia menghela nafasnya. Satu yang kini ia tau, manusia memang perencana ulung. Namun, Tuhan lah yang menentukan.


"Kamu tetep sekolah aja dulu, kalo sekarang kamu baru satu bulan masih ada 8 bulan lagi. Sekarang sekolah sudah berjalan 2 bulan, sedangkan kelas XII belajar efektif hanya sampai bulan maret, april sudah UN. Hitungan mas sekitar 6 sampe 7 bulanan lagi kamu UN."


"Yang bener aja !! Sha mau ke sekolah sama UN pas perutnya buncit gitu ? apa kata orang orang di sekolah ?!" sengitnya.


"Kamu ga harus ke sekolah setelah perut tidak bisa dikondisikan. Setau mas, BAKTI PERSADA dulu pernah menawarkan home schooling untuk keadaan darurat seperti sakit parah, jadi guru yang akan datang ke rumah hanya untuk 1 sampai 2 bulan. Biar mas yang urus !" terangnya.


Shania memandang ke arah luar jendela, tak ingin melihat Arka. Tangan Arka terulur untuk mengusap kepala Shania pun, ia tepis.


"Mas tau apa yang dipikiran kamu, jangan berniat macam macam Sha. Mas ga akan ijinin !" ucapan itu sarat akan ancaman.


"Ngapain Sha harus denger tukang boong, tukang kasih janji palsu !!"

__ADS_1


"Manusia cuma bisa berencana, tapi Allah yang menentukan, itu rejeki yang Allah kasih untuk kita, titipan, anugrah."


"Rejeki buat mas, siall buat aku !" apapun yang dikatakan Arka percuma untuk sekarang, otak Shania sudah dipenuhi oleh kekesalan dan amarah.


Mobil sudah sampai di rumah, Shania langsung keluar dan membanting pintu mobil.


BLUGH !!!


Begitupun pintu rumah dan pintu kamar.


"Mas Arka, ada apa ini ? neng Sha kenapa ?" tanya bi Atun, melihat gelagat keduanya sepertinya sedang ada masalah.


"Sha hamil bi, " jawab Arka.


"Ya Allah, alhamdulillah mas. Tapi...gimana sama sekolahnya ?" asisten rumah tangga yang sudah bekerja untuk Arka selama hampir 3 tahun ini ikut senang tapi ada rasa getir mengingat Shania yang masih sekolah.


"Shania tetep bisa sekolah bi, " Arka tersenyum.


"Bi, saya titip Sha sebentar. Mau ke rumah bunda dan ayah Shania."


"Oh gitu, siap mas ! "


"Saya minta tolong, jangan dibiarin keluar ya bi," pintanya.


"Saya pergi bi, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, "


Bagaimana pun kedua mertuanya harus tau kondisi putrinya, meskipun Arka tak tau bagaimana reaksi keduanya nanti. Terlebih sang ayah mertua yang sedikit keras. Seperti apapun nanti, Arka akan menerimanya.


Jalanan tak terlalu macet seperti sedang berdamai dengannya yang sedang dikejar waktu. Sejak sore tadi ia bahkan belum mengganti pakaian, untuk minum saja ia sampai lupa.


Pagar rumah bunda sudah terlihat, mobil ayah pun terparkir di carport, pertanda jika si empunya ada di rumah.


"Assalamualaikum, "


"Waalaikumsalam,"


"Bun,"


"Eh Arka, loh Shania nya mana ?" bunda tampak celingukan saat menerima salim dari Arka.


"Ada bun, di rumah."

__ADS_1


"Masuk, "


Arka masuk ke dalam, tampak ayah sudah duduk di kursi kebesarannya dengan menonton tv acara debat para pejabat negara tentang sebuah isu nasional yang kini tengah beredar.


"Eh Ka, mana bocah nakal ayah ?" Arka salim takzim.


"Ada di rumah yah," bunda sudah mengerutkan dahinya, what's wrong ? pasti ada something ini mah.


"Dari rumah, kampus atau dari kerjaan ?" demi melihat raut wajah Arka yang tampak lelah.


"Dari rumah yah, "


Ayah beroh singkat.


"Kenapa Ka ?" tanya bunda ikut duduk di samping ayah.


"Ayah, bunda. Maafin Arka kalau sudah lancang, jujur Arka sudah melakukan yang terbaik tapi memang Arka hanya manusia tempatnya salah dan khilaf. "


Sepasang suami istri itu mulai berkerut serius.


"Shania hamil, "


Keduanya sedikit terkejut, tapi sejurus kemudian bunda menggumam hampir tak terdengar, "alhamdulillah." Hanya ayah yang tak bergeming.


"Arka sudah memperhitungkan semuanya, Shania tetap bisa lulus sesuai waktunya, kuliah sesuai keinginannya tanpa harus mengorbankan apapun dan siapapun, maaf jika ayah dan bunda berfikir Arka sudah merusak anak gadis ayah dan bunda, tapi Shania istri Arka, dan Arka menyayangi Shania maupun anak kami yang tengah dikandungnya sekarang." Arka memang pandai berhadapan dengan anak didiknya, sudah berapa tahun ia menjadi seorang guru, semua karakter anak ia sudah paham, Arka juga seorang pengusaha, berbagai macam karakter konsumen dan partner bisnis sudah pernah ia temui, begitupun lingkungan kampus, dosen, dekan dan rektor, karena ia seorang mahasiswa. Tapi rasanya untuk menghadapi sepasang orangtua yang notabenenya adalah mertuanya, cukup membuatnya gugup.


"Berapa usia kandungannya sekarang ?" tanya ayah angkat bicara.


"4 minggu, "


"Ayah memang sedikit terkejut, tapi memang kita tak bisa menyalahkan siapapun disini. Kamu dan Shania sudah menjadi suami istri, kamu berhak atasnya. Untuk tanggung jawab, ayah tidak akan meragukanmu lagi, jaga baik baik putri dan calon cucu ayah. Sebaiknya kamu pulang sekarang, pasti bocah nakal itu lagi ngamuk ngamuk," jawab ayah.


Arka mengangguk,


"Yang sabar ya Ka, ngadepin Shania. Budak eta emang rada bandel, rada egois !" usapan bunda di bahu setidaknya memberikan ia sedikit kekuatan tambahan. Bunda memang selalu jadi support system untuk Arka dan Shania.


"Iya bun, Arka pamit. Assalamualaikum,"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2