Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kejadian demi kejadian


__ADS_3

Shania duduk bersama Niken hanya beberapa meter dari jarak Arka dan perempuan itu, rasanya hati Shania panas tak karuan, mungkin ia akan butuh es balok beberapa kilo untuk mendinginkan hatinya yang panas. Sepertinya kutub selatan saja tak akan cukup besar untuknya. Dan sudah dipastikan nantinya pondasi restoran ini akan habis dilahapnya.


Sudah cup ke berapanya Shania memesan minuman. Hanya dalam sekali sedot saja, ia bisa menghabiskan setengah dari minuman yang dipesannya.


Ia menajamkan pendengarannya, mendengarkan apa yang tengah diobrolkan.


"Iya, jadi nanti pas nikahan konsepnya pengen putih gitu, pernikahan kan suci," ujar si perempuan.


"Suci, suci...sini gue sedot da_rah loe biar muka loe suci !" gerutu Shania, Niken ngeri melihat wajah Shania yang kesal.


Arka mengangguk,


"Dekorasinya juga bagus kalo bunganya mawar sama sedap malam di bagian depan !" ujar si perempuan lagi.


"Gue kasih kembang kamboja sekalian !" kembali dumel Shania.


Gleukk....


Niken menelan salivanya berat.


"Oh iya, request zupa-zupanya Route 78 ya bang, recomended banget lah !" ucap si perempuan tadi.


"Abang ?!" gumamnya melotot kepada Niken yang menggeleng. Shania melihat ke arah lain dengan ditutupi nampan dan cup minuman.


Arka menyerahkan satu map di atas meja.


"Perjanjian," ucapnya.


"Pake perjanjian Sha ? Maksudnya nikah kontrak gitu ?" tanya Niken berbisik. Shania sudah mewek-mewek sambil mengusek-usek lantai dengan kakinya.


Lalu kemana mak mak garang tadi ? Kenapa sekarang ia terkesan seperti anak bayi yang lolipopnya diambil orang.


"Oh oke, sebentar ku baca dulu.." ucapnya.


"Wahh," perempuan itu tertawa.


"Ini sepadan..." lanjutnya.


Tangan Shania sudah mengepal kuat.


"Sayang...aku setuju !" serunya, Shania sudah benar-benar diujung puncak marahnya.


Cukup sudah !!!


Ia bangkit dari duduknya sampai lututnya menabrak kursi di depannya saat ingin melabrak keduanya, tapi saat ia berbalik ternyata perempuan tadi merangkul laki-laki lain dan bukanlah Arka. Sontak Shania menunduk. Tapi sayang, sikap refleks dan rusuhnya malah membuat nampan, cup minum yang tercecer di meja ia senggol alhasil semua jatuh ke lantai.


Brukkk...


Prakkk....


Grombyangg ...


"Sat, mamposs gue !!" ia berjongkok layaknya kuda-kudaan Galexia saat Arka dan kedua kliennya menengok termasuk Niken yang gelagapan mencari nampan dan tasnya.


Arka mengerutkan dahinya melihat Shania yang berjongkok diantara hujanan cup minuman dan nampan.


"Eh mbak, ga apa-apa ?" tanya sepasang kekasih itu.


"Suee....!" gumam Shania ditertawai Niken. Aksi stalker mereka ketahuan Arka.


Pria itu berjongkok di depan Shania yang membatu, "butuh bantuan neng geulis ?"


"Anu ini....ehhh uang logam jatoh !" ucapnya membuat Arka menghela nafasnya.


"Bang Arka kenal dia ?" tanya perempuan tadi.


"Sangat kenal," jawabnya.


"Lagi ngapain momy-nya dedek disini ?" tanya Arka membuat wajah Shania merah layaknya si cepot.


Shania merutuki dirinya sendiri yang sudah berfikir macam-macam pada suaminya. Ia nyengir, menampilkan deretan gigi rapinya.


"Hay mas !!!! Kebetulan banget ketemu !" serunya, Niken menepuk jidatnya.


Shania bangun dibantu Arka.


"Kenalkan Popy, Haris ini istri saya Shania..."


"Ohhh astaga ! Ini istri bang Arka, masih muda ya bang ?" mereka bersalaman berkenalan.


"Sha," panggil Niken.


"Ya,"


"Mas, bentar ya."


"Gue balik duluan ya Sha," ucap Niken.


"Yakin ? Ga mau gue temenin ?" tanya Shania.


"Gue udah gede Sha, lagian gue tau itu cuma alesan loe buat kabur !" jawab Niken membuat Shania manyun.


"Selesain tuh urusan loe sama pria soleh loe !" tawa Niken.

__ADS_1


"Dih, amsyong !"


"Gue balik ya, mau ngomong dulu sama ortu...gue..." Shania memeluk Niken.


"Kalo butuh apa-apa, telfon gue. Loe tau rumah gue dimana," Shania mengusap-usap punggung Niken.


"Thanks Sha,"


"Sama-sama,"


"Gue pamit ya,"


"Pak Arka, Niken pamit !"


"Hati-hati Ken," jawab Arka.


Shania memandang kepergian Niken sampai punggung itu hilang di belokan lorong.


*****


"Kamu ngikutin mas ?" tanya Arka di mobil.


"Engga, ih ! Ga usah kepedean deh," decak Shania.


"Terus ngapain ada disana, sambil ngumpet-ngumpet ? Kamu ga percaya mas ?" tanya Arka to the point.


"Engga gitu mas, cuma kebetulan aja. Pas Sha abis nganter Niken, terus ga sengaja sambil beli nih..." tunjuknya pada keresek berisi cemilan Gale. Untung saja ada cemilan Gale, bisa dijadikan alasan olehnya.


"Anter Niken darimana ?" tanya Arka.


"Dari...." Shania tak meneruskan kalimatnya. Arka beberapa kali melirik antara pada Shania dan jalanan.


"Dari ???" tanya Arka mengulangi kata Shania.


"Ketemu Niko," cicitnya.


Arka menghela nafas lelah, "kamu labrak ?"


"Engga ! Engga sama sekali, Sha kan perempuan berhati malaikat,"


Malaikat maut maksudnya?


Mengingat kelakuannya tadi, setelah ini Shania harus tobatan nasuha, memohon ampun dari Allah dan suaminya.


"Cuma berdua ?" Shania mengangguk.


"Diapain pacarnya Niken ?" tanya Arka menghentikan mobil dan menepikannya demi mendekatkan wajahnya ke wajah Shania.


"Engga diapa-apain mas, cuma..."


"Cuma, astaga !!! Sha udah janji mau cepet-cepet pulang sama ibu sama dedek mas, mereka pasti udah nunggu !" elaknya.


"Sha, kalo mas nanya itu dijawab dulu..." beristrikan gadis semuda dan seperti Shania, memang butuh kesabaran dan rasa menyayomi, tugasnya lah untuk membimbing Shania.


"Cuma di tarik kerah bajunya, terus Sha seret keluar, Sha nyuruh Niken ambil ktp, sim, atm, sama credit cardnya," Shania memainkan kedua telunjuknya.


Arka memejamkan matanya.


"Terus ?" tanya Arka.


"Hah ?!" beo Shania.


Karena Arka tak percaya jika hanya itu saja tanpa adanya pelajaran berharga.


"Sha sleding kakinya udah ko !" jawab Shania.


"Kalo sampe dia dendam gimana ?" tanya Arka.


"Kan ada mas," Shania nyengir.


"Astaga," hembusan lelah Arka.


"Kayanya mas harus beli rantai buat kamu, biar ga kabur-kaburan sama berulah."


"Ihhh, mas tega !"


"Kalo mau bertindak jangan sendiri," Arka melajukan kembali mobilnya.


"Mas antar kamu pulang, setelah itu mas ke kampus !"


Shania mengangguk.


"Dan jangan kemana-mana lagi !!"


******


Beberapa hari kemudian, Niken meminta geng kurawa untuk berkumpul di rumah Shania, membuat mereka bertanya-tanya. Belum lagi Roy yang mengajak Inez untuk ikut serta, semakin membuat mereka kebingungan.


"Ini ada apaan sih ? Ko roman-romannya picisan !" Melan mencebik kesal karena pertanyaan yang berujung candaan dari Ari.


"Kaya mau konferensi meja bundar tau ngga," jawab Guntur yang fix jadi sobat ambyar, sadboy sejak ditolak si guru TK.


"Ini lagi tuyul dua, tumbenan amat akur ?! Jalan bareng, damai, tentram, udah gencatan senjata ?!" tanya Deni pada Inez dan Roy.

__ADS_1


"Hooh, padahal Israel masih perang loh. Kalian ko udah damai aja ?!" terus saja mereka menggoda makhluk yang dari tadi dempet-dempetan kaya lagi di kopaja.


"Gue jadian sama Inez ?!" imbuh Roy memegang tangan Inez, keduanya saling melirik, cinta yang masih anget-angetnya mah emang maunya nempel terus kaya amplop sama selembar uang biru di kondangan tetangga.


"Kodok loncat !!!" latah Melan saat Guntur menyemburkan air minumnya karena terkejut.


Krikk....


Kriikkk.....


Tapi sedetik kemudian mereka tertawa, "ha-ha-ha...apa gue bilang kan. Benci jadi cilok !" jawab Ari.


"Cinta peakk !" toyor Leli.


"Sudah kudugong !" ujar Deni.


"Kudugaaaaa !" ralat yang lain.


"Gue cuma mau bilang, loe berdua temen gue, akur-akur deh, kalo ntar loe berdua berantem...jangan lari ke gue !" ujar Shania tak ingin ikut ambil pusingnya.


"Tapi...."


"Tapi apa Sha ?" tanya Inez.


"Tapi gue mau pejenya aja lah !" kekeh Shania disetujui yang lain.


"Uhhh, urusan makan aja nomer wahid !" imbuh Roy.


Niken sedari tadi diam, membuat Shania memegang pundaknya memberikan kekuatan.


"Ken,"


"Oh iya Ken, loe sendiri mau ngomong apa ?" tanya Deni seraya mencomot keripik.


Niken menghela nafasnya panjang, ia menaruh selembar foto usg di meja membuat kepala teman-temannya ikut melongok ke arah meja.


"Apaan nih ?"


"Foto rontgen ?" tanya Roy, Inez menoyor kepala pacar barunya.


"Itu usg yank,"


"Uhukkk sayanggg !" ledek Ari.


"Loe ?!" tunjuk Deni, Melan, dan Leli.


"Gue hamil," cicit Niken.


"OMG !!!" pekik para gadis.


"Siapa yang hamilin loe Ken ? Si kimvrittt ?!" Deni, Guntur dan Ari sontak bangkit dari duduknya dengan wajah marah.


"Santai bro...santai..." Shania menenangkan.


"Dia mau tanggung jawab ko guys, pas kita datang ke restonya itu Sha, besoknya dia datang ke rumah sama orangtuanya,"


"Beneran kan ? Loe ga boong kan Ken ? Kalo sampe dia macem-macem dia berurusan sama kita !" jawab Deni.


"Insyaallah," jawab Arka dari arah belakang mereka dengan membawa Gale.


"Loh, udah bangun?" tanya Shania.


"Iya, denger aunty sama om-omnya datang," jawab Arka.


"Jadi kapan kamu nikah Ken ?" tanya Arka ikut bergabung.


Niken kembali merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah undangan dan ditaruh di meja.


"Minggu depan ?!!!" pekik mereka.


"Dadakan ?!!!" Melan merengut.


"Gue belum siapin kebaya !" seru Shania.


"Gue juga !!!" jawab Leli.


"Heboh amat ciwi-ciwi," decak Roy.


"Seragaman yooo !"


"Warna apa ?!" tanya Inez.


"Pake aja kaos partai, " jawab Guntur sontak di hadiahi tatapan permusuhan dari para ciwi.


"Kan katanya mau seragam," lanjutnya.


.


.


.


Buat yang suka bucin bucinan anak SMA kuyy mampir di kisahnya anak mimin Sin lainnya, barangkali suka... Terimakasih dukungannya ya guys big lope lope bertaburan 💕💕

__ADS_1



__ADS_2