
Shania menyambar handuk di jemuran. Sambil sesekali bersenandung dan bernyanyi, meskipun suaranya jauh dari kata bikin hati bergetar. Tapi tingkat kepedeannya jauh diatas langit biru.
"Pake air hangat Sha, "
"Siap pak guru ! " pekiknya, langsung nyelonong ke kamar mandi. Arka menggelengkan kepalanya, Shania memang gadis periang, ekpresif. Ia berjanji tak akan membuat ceria itu hilang lagi dari hidupnya. Tingkah Shania memang selalu menjadi mood booster untuknya di saat jenuh dan lelah. Cukup sekali ia kehilangan Shania, sampai sekarang pun ia masih belum bisa sepenuhnya mengembalikan Shania-nya.
**********
Sebelum beranjak tidur, Shania lebih memilih menonton televisi terlebih dahulu, demi matanya dilanda rasa kantuk, susu hangat sudah di tangan dan siap untuk ia minum.
Rupanya Arka baru keluar dari kamar, rambutnya basah dengan wajah segar, pertanda ia pun baru saja selesai mandi.
Stop it, Sha !!! keliatan banget loe tuh mupeng liat mas Kala. Tak tau sejak kapan perasaan aneh dan memalukan itu kembali menghampiri Shania. Apakah ini hari dimana kebangkitan Arkala lovers ? who knows !
Mata Shania tak bisa memungkiri jika lelaki di depannya ini memanglah tampan, untuk ukuran lelaki yang sudah matang, Arka tak terlihat tua. Heran, apa kepintaran membuat seseorang awet muda ?
"Kenapa belum mulai menghafal ?" tanya nya. Shania cemberut, setiap bertemu dan mengobrol pasti tak pernah jauh jauh dari ngobrolin pelajaran. Yang kaya begini nih guru yang minta diempanin ke Lochness .
"Mas tau ga sih kalo pelajaran bukan termasuk topik menyenangkan buat dibicarain kalo lagi ketemu pasangan ?!" alibinya cemberut.
Arka mengangkat alisnya, "terus yang mau diomongin apa ? masalah anak?"
"Ihhh !!!" Shania mendelik seraya memukul mukul lelaki yang baru saja duduk di sampingnya ini, membuat laki laki ini tergelak dan menahan serangan Shania.
"Di kamar udah mas siapkan modul dan kisi kisi, " cuma Arka yang perhatiannya sampai sebegininya. Ingat handsome and killer, tak begitu saja menempel di belakang namanya tanpa sebab. Jangankan pada murid muridnya, Shania saja yang notabenenya adalah istrinya dicekoki dengan pelajaran sepaket kedisiplinan dan ketegasan.
Kisi kisi segambreng, yang kalo di bentangin udah kaya peta dunia, tertempel di dinding kamar demi membuat Shania lebih mudah menghafal. Modul lengkap itu sudah dipastikan buatan Arka, mana mau Shania repot repot bikin modul seablag ablag dan seruwet itu, mengorbankan waktu kebersamaannya bersama si kotak kuning dari rumah nanas.
"Thanks mas, mas yang terbaik !! tapi alangkah lebih baiknya kalo mas kasih Sha kunci jawabannya aja, " Shania mengacungkan jempolnya, jika bisa semua jempol akan ia acungkan untuk Arka. Di tengah tengah kesibukannya ia masih menyempatkan waktunya untuk membantu Shania.
"Kalau mas ga sayang kamu, bisa aja mas kasih kunci jawabannya. Tapi karena mas sayang istri, mas mau istri mas pinter bukan cuma waktu ujian aja, " Arka mencubit pipi gembil Shania yang menatapnya dengan kening mengkerut, ia lantas masuk ke dalam kamar bersiap mengecek kiriman email dari Priyawan.
Demi mama krab, kata kata itu meluncur bebas seperti wahana waterboom dari mulut Arka, hari ini Shania sudah merona untuk ke berapa kalinya.
Sayang...
Sayang....
Sayang....
Gadis itu segera menyadarkan dirinya sendiri, jangan jadi cewek gampangan Sha, biarkan mas Kala tuh mengejar, mendaki, bahkan ngesot buat dapetin lagi loe balik. Loe jadi cewek murah banget kaya daleman !
------------
Kartu ujian sudah berjejer bersama pensil faberkastil dan alat alat tulis lainnya.
Seragam Shania selalu tergantung bersampingan dengan kemeja dan celana bahan Arka.
__ADS_1
"Udah siap ujian neng ?" tanya bi Atun.
"Udah bi, udah dicekokin sama mas Kala."
Shania menyendok nasi merah dan ayam goreng.
"Mas ngawas kelas berapa ?" tanya Shania.
"Kelas X 4,"
"Hari ini ke Route 78 ?" tanya nya lagi.
"Engga, hari ini mas mulai jarang ke cafe, mas lama di sekolah. Mau meriksa hasil ujian, mas juga mau ke kampus dulu," jawabnya. Shania beroh ria.
"Ga usah siapin bekal, biar nanti mas beli aja, " ujarnya.
"Oke, "
Keduanya masuk ke dalam mobil,
"Kamu sudah siap siap, buat ujian sama buat seleksi ?" basa basinya. Obrolan ini membuat keduanya berada di situasi tak nyaman.
"Udah," jawabnya singkat. Apa lelaki ini tak mengerti jika Shania tidak nyaman dengan kata seleksi itu sekarang.
Baru saja Shania akan membuka mulutnya, Arka sudah kembali berkata, membuat mulut Shania langsung menutup.
"Mas, jangan cape cape. Mas jangan lupa makan, "
"Kamu juga. 3 mingguan lagi mas sudah ngampus. "
Hati Shania mencelos mendengar itu, rasanya ia sudah nyaman bersama Arka, meskipun terkadang Arka itu kaku nya kelewatan.
"Sha, mas mau minta maaf atas semua sikap mas dulu sama kamu, yang sudah menolak kamu. Semoga kamu sehat dimana pun kamu berada, " tangan besar itu terulur demi mengusap kepala, turun melewati surai Shania dan bermain sejenak di pipi, lalu berakhir menggenggam tangan Shania, memandang Shania untuk saat saat terakhirnya sebelum keduanya akan disibukkan dengan kegiatan masing masing, bahkan mungkin akan jarang bertemu dan sulit untuk bertemu.
"Mas, bisa ga jangan ngomongin ini. Jangan bikin mood orang ancur kenapa sih ?!" berkali kali suaranya bergetar. Arka mengangguk mengerti, karena ia pun memang tak nyaman dengan ini.
"Berdo'a dulu sebelum mengerjakan,"
"Iya mas, Sha masuk dulu !" Arka mengangguk, menatap Shania yang keluar duluan dari dalam mobil.
Selama beberapa hari ujian keduanya jarang bertemu, hanya bersama saat berangkat sekolah, dan sisanya mereka bertemu saat malam hari, saat Shania sudah siap dengan piyama dan susu hangatnya, beserta modul yang sudah Arka buat, keduanya hanya berkomunikasi via ponsel. Terasa ada yang hambar kali ini, ada yang hilang dari keduanya, sebuah kebersamaan. Mungkin akan lebih buruk dari ini jika ia memutuskan untuk meneruskan cita citanya ng'asrama jadi atlit, mereka akan jadi dua sosok asing karena akan sangat mungkin ponsel menjadi barang sitaan pihak asrama.
Seperti malam ini, Arka pulang larut dan Shania sudah merebahkan dirinya di kasur.
"Bi, Shania sudah tidur ?"
"Barusan udah masuk kamar mas, "
__ADS_1
"Oh, "
"Mau bi Atun bangunkan mas ?"
"Waduh, jangan bi..biarkan aja. Sudah masuk waktunya tidur, kalo dibangunin nanti dia ga bisa tidur lagi, Sha punya insomnia bi.."
"Mas Arka malam banget pulangnya, "
"Iya, hari ini kerjaan numpuk bi. Hari terakhir ujian jadi sibuk !"
"Mau bi Atun panaskan temen nasi mas ?"
Ceklek
"Bi, biar Sha aja yang manasin temen nasi nya, bi Atun tidur aja !" Shania keluar dari kamar.
"Iya neng, kalo gitu bibi masuk ya," bi Atun meninggalkan keduanya masuk ke dalam kamar.
"Sha, belum tidur ?" tanya Arka.
Shania menggelengkan kepalanya.
"Sha bikinin teh manis anget ya mas atau kopi ? mas mau mandi atau ganti baju aja ?"
"Teh manis aja, mas mau mandi, "
"Sha masakin airnya dulu kalo gitu," Arka mengangguk, sudah berapa hari ia tak mengobrol begini dengan Shania, sejak obrolan permintaan maaf Arka.
"Makasih Sha, " Arka masih berada di belakangnya, lelaki itu memberanikan diri mendekati Shania yang berada di depan kompor lalu dengan gerakan cepat memeluk Shania dari belakang menyesap aroma pucuk rambut Shania, tak peduli gadis itu akan marah, atau seperti biasa memukul mukul dadanya, lebih baik begini...ia merindukan pukulan pukulan Shania, ia rindu ocehan gadis ini.
Hemmm...sudah berapa lama mereka tak bersua.
Yang jelas ia merindu....
Shania menghentikan kegiatannya dan berbalik dengan mata berkaca kaca.
"Mas jahat tau ngga !!" ia memukul mukul dada Arka.
"Mas ga kasih Sha kesempatan buat ngomong ! mas mau Sha pergi ? Sha tuh mau batalin seleksi Dispora !!!" ucapnya sesenggukan.
.
.
.
*Lochness : monster air dalam mitos.
__ADS_1
*faberkastil : merk pensil ternama plesetan.