
Arka menarik senyuman tipisnya. Baru kali ini, ia mengucapkan alhamdulillah pada seseorang yang membatalkan impiannya, terlebih itu orang terdekatnya.
"Astagfirullah !!! gosong mas !!" teriakan Shania membuyarkan lamunan Arka atasnya, demi Shania yang membalikkan badannya menghadap ke wajan yang berasap.
Shania segera mematikan kompor. Dengan wajah ditekuknya.
"Telor ceplok aja ya mas, " ia tertawa melihat kecerobohannya sendiri.
"Ga apa apa, nanti mas pisahkan dari yang gosongnya. Itu ga semua gosong, nanti jadi mubadzir !"
"Kamu udah ngantuk ?" tanya Arka.
Shania menggeleng, "udah engga, mas tanggung jawab ya, aku ga bisa tidur lagi nih !"
"Mesti ngapain ?" tanya nya.
"Terserah. Bacain cerita kek, atau kelonin aku kek biar aku bisa tidur !" ujarnya menaruh ayam gosong separuh itu di piring, air panas untuk mandi pun sudah siap.
"Astagfirullah, " Arka menggelengkan kepalanya saat otaknya malah travelling jauh, dengan kata kelonin.
Sekali lagi Shania melihat email dati Dispora, meneguhkan hati jika pilihannya tak akan membuatnya menyesal.
Sebuah tangan besar nan dingin mengacak rambutnya, Shania mendongak melihat Arka yang sudah segar dengan satu tangan yang menggosokkan handuk kecil di rambutnya.
"Kalo masih berat, ga usah dipaksain," senyumnya hangat. Itu adalah senyum terhangat yang pernah Arka berikan selama mengenalnya.
Shania menggeleng," Cita cita duniawi Shania masih ada second optionnya mas, tapi cita cita akhirat Sha ga ada pilihan kedua, Shania bakal rugi kalo ga jalanin !" jawabnya.
"Apa ?!" sekarang Arka sudah berjongkok di depan Shania.
"Kewajiban Sha ngurusin suami, surganya Shania disini. Ridho Allah ridho suami, Sha tau mas Kala ikhlas, tapi disini ada hati yang Sha sakitin, ada hak yang Shania dzolimi, ada kewajiban yang Sha abaikan," tunjuk telunjuknya di dada Arka.
"Alhamdulillah, " Arka tersenyum.
"Istri nakalnya mas, sudah mulai berfikiran dewasa."
Bukkk !!! kepalan tangannya mendarat keras di dada kanan Arka.
"Bisa di skip ga nakalnya, Shania udah insyaf !" Arka terkekeh.
"Sha mau kuliah aja mas, pengen pake almamater jas kuning !" matanya berbinar. Arka berdiri, dan berjalan menuju lemari.
Tangannya terulur demi menggeser geser gantungan baju, lalu menarik salah satu pakaian.
"Yang ini maksud kamu ?!"
"Haaa !! daebaek !!!" seketika matanya membelalak, begitupun mulutnya yang membuka seraya turun dari kasur. Arka kembali tertawa kecil melihat ekspresi yang dibuat Shania.
"Mas kenapa ga bilang masuk sana ?!" Shania mencubit pinggang Arka.
"Kamu ga nanya, " jawab Arka.
Yap ! memang kebiasaan Shania tak pernah bertanya, ia selalu tak peduli dengan sekitarnya, egois. Terakhir, sikap egoisnya ini hampir saja membuat kehidupan rumah tangganya berujung pada kehancuran. Shania memegang jas impiannya, mulai dari bahan sampai logo almamater kelak nanti ia lah yang memakainya.
__ADS_1
"Mas, Priyawan, Nino, Teguh...kita bertemu disana." Shania mendongak dan melepaskan usapan di jas, lalu kembali ke atas ranjang.
"Mas ambil S1 disana, sekarang mas ambil magister disana juga !" terangnya duduk di tepian ranjang yang sama dengan Shania.
"Sha bangga, " imbuh gadis itu.
"Mas lebih bangga sama kamu, berpendidikan tidak menjamin seseorang berakhlak," jawab Arka merebahkan badannya di ranjang, dengan kaki yang menggantung. Dengan tanpa paksaan Shania ikut merebahkan diri di samping Arka.
"Sha jauh dari kata berakhlak mas," keduanya menatap langit langit kamar bersama. Tak tau kenapa orang orang senang menerawang plafon rumah, padahal sudah dipastikan di dalam sana tidak ada apa apa, yang ada hanya lapisan genteng rumah dan munhkin sarang laba laba.
"Sama, " jawabnya singkat memejamkan matanya, Shania menoleh ke samping.
"Mas tidur ?!"
"Hm,"
"Mas ih, gelar dulu kasurnya !" Shania mendorong dorong lengan Arka pelan.
"Mas kira udah boleh satu ranjang,"
"Engga sekarang, nanti mas atau aku khilaf gimana ?!"
"Cium cium dikit mah boleh atuh !" ia terkekeh tanpa suara, tetap dengan mata terpejam.
"Takut ngerembet kaya penyakit, awalnya cium nanti kesananya apa coba ??!!" gadis itu terus saja mendorong dorong bahu Arka, tapi lelaki itu sama sekali tak bergeming.
"Mas cepetan aku udah ngantuk ih, mendingan mas makan dulu," sewotnya.
"Kalo ngantuk ya tidur !" jawab Arka.
"Sha belum bisa merem, kalo mas ga angkat badan dari ranjang, buru !!" sengitnya, sambil menarik narik lengan Arka dengan posisi bersila di samping Arka.
Dengan gerakan cepat, Arka bangkit tapi sebelum benar benar pergi ia mengecup kening Shania, menghantarkan hawa panas yang menjalari setiap urat sa*raf dalam tubuh Shania.
Sebuah sengatan aliran panas, yang mampu membuat darahnya mendidih seketika. Karena kecupan itu bukan tanpa arti.
****************
Shania mengepang rambutnya, membuat tangannya mengangkat ke atas termasuk seragamnya yang ikut terangkat.
"Seragam kamu ga ada yang lebih gedean dikit apa ?!" tanya Arka.
Shania menggeleng, "sengaja Sha kecilin ke tukang jahit, bunda sih sering marah," aku nya.
"Astagfirullah neng !!!! eta seragam baru beli udah kaya seragam ukuran anak smp lagi, meni bedegong ai dikasih tau teh !!! (astagfirullah neng, itu seragam baru beli udah kaya seragam ukuran anak smp lagi, bandel banget kalo dikasih tau)" Shania mengikuti gaya bicara bunda sambil tersenyum bangga.
"Terus kenapa masih dilakuin ? mau mancing mancing kemarahan pak Hadi ?" tanya Arka.
"Engga, emang pengen aja ! kalo pake seragam yang gede tuh, kaya pake seragam hasil pinjeman."
"Biar ayah tau, kalo Sha ga suka dikekang !"
Benar perkiraan Arka, Shania memang satu contoh anak remaja yang berontak dengan sikap keras orangtua.
__ADS_1
"Tapi siapapun laki laki yang melihat akan merasa terpancing," tak dapat dipungkiri leku kan tubuh Shania memang t.o.p untuk seorang remaja yang tengah ranum dan mekar, di dukung oleh kulit putih mulusnya dan wajah yang tentu saja cantik.
"Ini tuh udah yang paling panjang mas, asalnya malah lebih pendek, lebih ngepas, lagian udah sesuai sama aturan sekolah ko 5 cm diatas lutut, baju juga bisa dimasukkin ke rok."
"Tenang aja mas, ga akan ada yang berani macem macem sama Sha, "
"Kenapa ?" tanya Arka menaikkan alisnya.
"Soalnya punya bodyguard ! kalo sampe macem macem, kamu !! sebutkan rumus 10 macam senyawa kimia, tanpa liat tabel periodik !!" menirukan gaya Arka mengajar. Ia menggelengkan kepalanya.
"Kalo niruin orang, pinterrr ! tapi kalo disuruh ngerjain soal ke depan, banyak alesan," ia mencubit pipi Shania seraya berlalu keluar kamar.
.
.
Rupanya kabar dan berita selalu lebih cepat tersebar seperti virus. Kabar jika Shania meraih posisi pertama diantara list siswa yang mendaftar menjadi atlet Dispora, sudah diketahui oleh semua siswa di sekolah, bukan hanya satu dua yang mengucapkan, termasuk para guru. Mendadak Shania jadi artis sekolah kali ini bukan karena kenakalannya.
"Selamat ya Sha !"
"Hebat kamu Sha !"
"Udah ketebak sih, kalo Shania pasti dapet !"
Shania hanya tersenyum kaku, mendengar dan mendapatkan berbagai ucapan selamat, padahal baru juga formulirnya saja yang diterima, belum seleksi yang lain. Tapi list nomor satu itu dan penerimaan sebelum jadwalnya, bukankah menunjukkan jika Shania memang sudah pasti memiliki tempat spesial dengan kemampuan mumpuni ?
"Pak !!"
"Eh Shania, selamat ya Sha..semoga kamu bisa membawa harum nama sekolah di kancah nasional maupun internasional !" pak Nirwa menyodorkan tangannya dan memberi tepukan di bahunya.
Shania tersenyum getir, "pak, Shania mau nanya,"
"Nanya apa Sha ?"
"Kalo udah di accept gitu, terus kita ga datang waktu seleksi, apa nanti gugur ?" tanya Shania.
"Sepertinya begitu Sha, memangnya ada masalah ?" tanya pak Nirwa selaku guru olahraga sekaligus menjabat wakil kepala sekolah di bidang humas.
"Sha mau batalin ikut seleksi pak," pak Nirwa mengangkat kedua alisnya dan membulatkan matanya.
"Loh, kenapa ?!! sayang itu, kesempatan emas, jangan disia siakan !"
Karena mereka tidak tau, batinnya mencelos.
"Shania cuma pengen fokus sekolah sama kuliah aja pak, mau nemenin bunda kasian kalo nanti ditinggal terus, soalnya ayah kerjanya keluar kota terus," alasan yang kurang bisa diterima logika menurut sebagian orang.
.
.
.
.
__ADS_1