Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Dialah yang merugi


__ADS_3

Wajah putih Shania sedikit memucat. Padahal ia tersorot matahari pagi, cuaca saat upacara pun cukup hangat.


"Nez, perut gue sakit !" bisik Shania.


"Kenapa ? loe ga sarapan atau gimana ?" tanya Inez.


"Sarapan Nez, tapi kayanya gue mau dateng bulan deh Nez, " jawabnya meringis.


"Upacara udah mau selesai ko Sha, ntar ke kantin aja beli teh manis anget," jawab Inez. Benar saja tak sampai 10 menit upacara telah berakhir.


"Aww Nez, perut gue kram, " Inez membantu Shania berjalan menuju kelas.


"Loe mau ijin sakit aja atau gimana ?" tanya Inez.


"Kayanya gue ke ruangan uks aja dulu deh, mana gue ga pake roti jepang lagi !" dengus Shania.


"Pak !" Inez mengangkat tangannya.


"Iya Inez,"


"Shania ijin ke uks pak," semua melirik ke arah Shania yang sudah memucat dan memegangi perut bagian bawahnya.


"Honey, loe kenapa ?!" tanya Roy.


"Sha, "


"Ga apa apa, perut gue cuma kram aja," jawabnya pada teman teman sekelas.


Inez maju ke depan dan memberitahukan sakit perut macam apa yang dialami Shania. Sedangkan Shania menolak pulang, karena tepat setelah istirahat, pelajaran matematika mengadakan ulangan dan membahas kisi kisi untuk ujian nanti. Ia harus menunjukkan kalau ia bisa mendapatkan nilai diatas kkm pada Arka agar ijinnya mengikuti seleksi atlit bisa di pertanggung jawabkan.


"Ya sudah, silahkan istirahat dulu di uks," jawab pak Fikri, untung saja guru agama ini baik.


"Yu Sha, gue anter.." Shania dibantu Inez berjalan menuju uks. Gadis ini meringis tergopoh gopoh.


"Bentar Nez, sakit banget uy !"


"Sha, kalo emang sakit ga usah maksain di sekolah, pulang aja yu !" bujuk Inez.


"Gue mesti rajin Nez, gue mau ikutan seleksi Dispora DKI, jadi atlit basket, jadi ujian nanti nilai gue mesti bagus, biar diijinin mas Kala," jawab Shania.


"Ya Allah Sha, loe serius mau ikutan itu ?" tanya Inez. Shania mengangguk, "cita cita gue Nez. "


Arka yang akan masuk ke dalam kelas X 5, melihat Inez dan Shania berada di luar kelas, saat pelajaran sedang berlangsung.


"Sha, Inez, " sapa Arka, ia melihat wajah pucat Shania.


"Pak, "


"Eh, ini kenapa ? kamu sakit Sha ? " tanya Arka refleks memegang kening Shania.


"Anu pak, " jawab Inez.


"Perut aku sakit mas, " jawabnya mencicit.


"Tadi pagi salah makan apa gimana ? tapi rasanya bi Atun ga bikin yang aneh aneh, " Shania menggeleng.


"Bukan karena itu mas, "


"Ya udah mas anter ke uks !" Arka melirik ke segala arah, tak ada siapapun selain Inez, dengan sekali hentakan ia menggendong Shania menuju uks.


"Nez, kamu kembali saja ke kelas. Biar Shania saya yang urus, " pinta Arka, Inez mengangguk.

__ADS_1


"Sha, gue duluan !" Inez mengusap bahu Shania.


"Shania, kenapa ?" tanya petugas uks.


"Sakit perutku ka, " jawab Shania.


"Nur, saya titip Shania dulu sebentar, mau ngajar. Nanti saya balik lagi buat cek kondisi Shania, " ucap Arka datar, diangguki ka Nur.


"Iya pak, siap !" jawabnya.


Shania masih meringis menahan perutnya yang seperti dipelintir, tepatnya perut bagian bawahnya.


"Wah, ada angin apa nih, diperhatiin pak guru ganteng, pak Arka terkenal killer loh ! tapi bisa luluh sama kamu, bukannya musuh Sha ?" tanya ka Nur mengerlingkan matanya.


"Ga tau, " jawab Shania singkat.


Ya jelas lah perhatian, laki gue ! benak Shania.


Arka hanya 15 menit di dalam kelas, sisanya ia memberikan tugas dan menyuruh kelasnya mengumpulkan tugas selesai jam pelajarannya.


"Sha, ka Nur tinggal sebentar ya. Mau liat koperasi dulu, " perempuan berjilbab berusia 20 tahun ini menjadi karyawan sekolah di SMA BAKTI PERSADA, Shania mengangguk dan membaringkan badannya meringkuk menyamping di ranjang uks.


Tap tap tap...


Arka masuk ke dalam ruang uks,


"Udah baikan ?" tanya nya.


"Dikit, " jawabnya.


"Kamu ada salah makan ?" tanya Arka duduk di samping ranjang uks, Shania menggelengkan kepalanya.


"Bukan mas, sakit perutnya beda kasus," jawab Shania.


Shania menaikkan kedua alisnya, " ko mas tau ?! mas sering ngintip ya !" tanya Shania.


"Ada di bab reproduksi, pelajaran biologi dari kelas 4 SD sampai SMA juga sering keluar, " jawab Arka, apa karena ia seorang guru makanya bahasanya selalu formal dan serius, atau memang karena orangnya saja yang kaku.


"Kenapa tehnya belum diminum ?" tanya Arka saat melihat teh manis di meja samping masih penuh, begitupun sebutir obat ibuprofen atau pereda nyeri. Ia menyunggingkan senyuman miring khasnya.


"Masih panas, " cicit Shania.


"Ga bisa minum obat kalo ga ada pisang atau biskuit ?"


"Ga usah ngetawain, "


"Mau mas bantu ? mumpung sepi, " Shania melotot, "ga usah ngaco deh !"


"Siapa yang ngaco, kan biar sakitnya reda. Biar mas tutup pintunya ?"


"Mas maju, Sha siram nih pake air teh panas !" ancamnya. Arka mengeluarkan sebuah botol kaca berukuran 200 ml. Sebuah merk ternama jamu herbal sehat datang bulan.


"Nih ! mas tau, kamu ga bisa makan obat tablet."


Shania benar benar terkejut. Arka bahkan tau hal hal se sensitif ini.


"Mas tau darimana ? ini juga dapet darimana ?" tanya Shania sedikit terkekeh tak percaya, jarang sekali laki laki yang mau mengurus hal memalukan begini.


"Mas guugle, terus beli pake aplikasi tadi, mas tau kalo sakit perut kamu bukan penyakit salah makan."


"Atau kamu mau obat yang itu, pake cara waktu malem malem ?" Arka sudah menyeringai menunjuk obat tablet yang masih terbungkus plastik berwarna silver.

__ADS_1


Shania mendelik tajam, "mas mau Sha jorokin ke got ?!" ia merebut botol berisi jamu itu dari tangan Arka dan meminumnya.


"Uhhh galaknya, " kekeh Arka, tak tau saja semalam Arka kembali mencuri good night kiss sebelum ia benar benar tertidur, dan itu rasanya sungguh sangat manis juga memabukkan. Arka bahkan sampai tak bernafas agar tak mengganggu macan yang tengah tertidur karena ulah nakalnya.


Andai Shania tau, mungkin Arka akan habis jadi kentang tumbuk di pukuli gadis nakal ini.


"Kalau masih sakit perutnya, sebaiknya pulang saja, mas antar. Biar nanti mas balik lagi ke sekolah ?!" Shania menggeleng.


"Engga, nanti pelajaran terakhir ada mtk, bu Juju mau kasih kisi kisi buat ujian, ada latihan ulangan juga. Sha ga mau ketinggalan, Sha mau dapet nilai diatas kkm, biar bisa ikutan seleksi dengan tenang, tanpa mikirin remedial, " jawabnya.


Hati Arka kembali mencelos, ia selalu kalah bila disandingkan dengan seleksi Dispora.


"Sha mau ke kelas lagi mas, " Shania berniat turun, setelah meneguk hampir setengah gelas teh hangat.


"Makasih mas, " ucap Shania.


"Sama sama, " tangannya terulur membantu Shania, tapi matanya terpaku melihat rok Shania.


"Sha tunggu !"


"Kenapa mas ?"


"Kamu sudah pakai pembalut ?" tanya Arka.


"Udah mas, " jawab Shania menatap kebingungan.


"Kayanya itu sebelum kamu pakai pembalut, rok kamu kena noda merah," jawab Arka lagi.


"Hah ??! mana ??!" Shania sudah menoleh noleh ke belakang, demi melihat rok bagian belakangnya. Benar saja, satu pulau merah tercetak jelas di bawah resleting rok.


"Aduhhh, Sha telat pakenya mas..gimana ini ?!" Shania panik.


"Pake kemeja mas saja, yang semalam kamu tinggalkan di dalam mobil, di jok belakang," jelas Arka menawari.


"Boleh deh mas, "


"Tunggu sebentar mas ambilkan, "


Shania menatap punggung Arka yang mulai menghilang di balik pintu uks.


Tak sangka.. lelaki kaku, dingin dan datar yang tak bisa menggombal itu begitu perhatian dan peduli. Alya sangat merugi kehilangannya.


Arka kembali dengan kemeja kotak kotak miliknya semalam, lalu memasangkan di pinggang Shania.


"Mas, " sendunya.


"Hm, "


"Makasih.."


"Sama sama, " jawabnya datar


"Kamu jalan duluan, biar mas jalan di belakang kamu," ujar Arka.


"Iya, "


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2