
Nasi tumpeng, telur balado, beserta pasukannya sudah rapi tersusun di rantang dan dibawa pulang. Selalu seperti ini, datang dengan tangan hampa dan pulang dengan rantang penuh.
Setelah cape sesiang sampai malam di rumah bunda Shania, Arka, Galexia dan ibu beristirahat.
Galexia tertidur begitu menggemaskan, terkadang tempat ibu dan ayahnya habis di babat jadi tempatnya berputar dan berguling-guling.
"Sha," kini Shania tengah tidur memeluk lengan Arka dengan tangan Arka yang mengusap sayang kepalanya.
"Hm," ia mendongak.
"Masih ada cita-cita yang kepengen kamu capai nanti ?" tanya Arka.
Gadis itu menggumam memikirkan, "emmhh, apa ya ?! Ga tau, engga deh kayanya ! Untuk saat ini Sha, belum punya gambaran apa-apa. Kaya gini aja udah bahagia, ada mas, ada dedek, kuliah juga berjalan baik sesuai rencana."
"Cita-cita mulia mungkin, selain cita-cita aneh kamu !"
"Engga deh kayanya mas,"
"Oh iya, selama ini Sha belum pernah nanya, mas sendiri...ada goals yang belum tercapai ?" tanya Shania balik, tapi matanya sudah mulai menjurus turun, mungkin hanya tersisa beberapa watt lagi.
"Ada. Sha ?" panggilnya.
"Hm,"
"Kalo nanti mas pake tabungan mas buat bangun sekolah gratis untuk anak-anak yang kurang beruntung, kamu ga keberatan kan ? Bikin perpustakaan yang bisa dipakai oleh semua kalangan tanpa terkecuali dan pungutan biaya ? Mereka tetap bisa usaha karena mas bakal siapin wirausaha, biar bisa menghasilkan buat hidup mereka dan pemasukan sekolah." Jadi teringat dengan sosok anak-anak kecil pejuang rupiah yang sering ia temui di jalanan.
"Hm, "
"Karena harta ga akan dibawa mati Sha," kembali ujarnya.
"Hm, iya."
Arka menjelaskan panjang lebar tentang proyek amal ke depannya. Tapi terdengar dengkuran halus di sampingnya sebagai jawaban Shania, pertanda istri nakalnya sudah berada di alam mimpi menyusul Galexia. Memang kebiasaannya, jika mendengarkan seseorang yang tengah berbicara panjang lebar, gadis ini seperti sedang di nina bobo-kan. Jika bukan Arka orangnya mungkin Shania sudah mendapat getokan keras di kepalanya, "dasar bini ga ada akhlak !"
"Mas cerita, malah kamu tinggal tidur Sha.." kekeh Arka.
Arka mengecup kening Shania, "sleepwell lovely wife."
Di lain tempat
"Apes banget gue apes !!!" dumel seorang gadis, pulang dari mengerjakan tugas kuliahnya kemalaman karena asyik bergosip ria tentang teman-teman kampus, membuatnya harus menunggu ojek online yang telah dipesan, rumah temannya ini berada di jalan yang tak dilewati angkutan umum.
"Gini nih, kalo ga bisa ngendarain kendaraan, jaman gini susah !" omelnya lagi celingukan, mana hari sudah malam dan sepi. Ia bergidik ngeri, jangan sampai ada makhluk yang tak diinginkan ikut menemani atau manusia yang kerasukan jin ivrits lewat berniat jahat.
Beberapa kali ia melirik jam di pergelangan tangan dan ponsel di tangannya.
"Nih tukang ojek, kesininya pake motor apa pake bebek sih ?! Lama !!" bahkan tak sekali dua kali leher dan kakinya dicium nyamuk nakal yang kebetulan lewat terus gangguin Inez, si calon korban nganggur.
Dari kejauhan terlihat cahaya lampu motor dan suara bising knalpot mendekat.
"Oh itu kayanya !" ia melirik ponsel memastikan jenis motor sang driver adalah matic.
Niat hati bertanya malah kena semprot.
"Lama banget sih ! Ini motor masih bagus keliatannya tapi ko jalannya lebih cepetan siput !" omelnya, langsung duduk di jok bagian belakang.
"Buruan jalan pak ! Saya udah di gigitin nyamuk dari tadi, untung aja ga jadi vampir !!" sewotnya menepuk pundak si driver. Sontak saja lelaki itu membuka kaca helmnya.
"Heh, nene lampir ! Loe pikir gue ojol ! Turunnn !!! Enak aja main nemplok-nemplok kaya cicak !" sengaknya, Inez terkejut saat melihat wajah si pengendara itu yang tidak lain adalah teman Shania yang sering bertengkar dengannya. Wajah yang menurutnya lebih menyebalkan dari wajah mr.Bean.
"Ha-ha-ha, gue pikir ojol ! Abisnya jaket loe sama sih, emang pantes juga sih kaya ojol !" tawanya.
"Loe liat-liat dong jangan asal nemplok sambil marah-marah ! Buat apa ada mata kalo ga dipake !" sewot Roy.
"Heh mulut pentol mercon ! Namanya juga orang buru-buru, lagian di anggap ojol loe asyik-asyik aja, ga nolak. Ngomong kek, kan loe punya mulut ! Mulut tuh dipake!" jawab Inez tak kalah sengit membalikkan kata-kata Roy.
"Gini nih kalo cabe-cabean perempatan Kemang, jam segini keluyuran di pinggir jalan. Gue tebak abis ditinggal cowok di pinggir jalan ya ?!" tawa Roy meledek.
"Si@*lan ! mulut loe gue sumpel juga nih pake sepatu !" Inez sudah melepaskan flatshoesnya hendak menyarangkan ke arah mulut Roy.
"Idih, cabe bar-bar ! Lagian ngapain loe disini malem-malem sendirian. Lagi uji nyali apa uji berkala ?!"
__ADS_1
"Kimvrittt, loe kira gue kendaraan !" Inez kembali menyarangkan tas selempangnya pada bahu dan kepala Roy yang mengaduh.
"Loe kan angkot tanah abang ! Berisik ! Mana galak kaya kernet preman," tawa Roy makin tergelak, senang betul ia mengganggu teman Shania yang satu ini.
Inez kembali memandang ponselnya, ia mengaduh kecewa.
"Yahhhh, ko pesanan dibatalkan ?!" rengeknya panik.
"Terus gue pulang gimana ?!!!" gadis itu merengek.
"Sokorrr ! Nah kan karmanya galak sama gue, jadi kaya gitu !" tawa Roy. Inez tak memperdulikan perkataan Roy, ia mulai berjalan sampai menemukan jalan besar dan angkutan yang akan membawanya pulang. Roy bukan manusia tak berhati.
Tak tega, ia menemani dengan menjalankan motornya pelan di samping Inez yang berjalan. Untung saja ia memutuskan melewati jalan ini sehabis pulang dari acara nongkrongnya.
"Ngapain loe masih disini ?! Pergi sono ! Husss !" usir Inez.
"Dih ngusir, ini jalan umum mbak ! Bukan jalan milik loe, suka-suka gue !" jawab Roy.
"Ya udah, kalo gitu loe duluan jalan ! Ga usah barengan, ntar dikira loe lagi ngemis-ngemis sumbangan dari gue lagi," sungut Inez.
"Ngomongnya seenak udel ! Muka artis di bilang gembel !" Roy mendorong pelan bahu Inez dan hampir membuat gadis itu terpeleset ke selokan.
"Ehhh, issshhh !!" Inez mengepalkan tangannya di udara.
"Yu naik," ajak Roy tak tega melihat keringat mulai bermunculan dari pelipis Inez, mana hari sudah malam.
"Ga usah, gue bisa jalan sampe rumah !" jawabnya.
"Beneran ?" tanya Roy memastikan, setaunya Inez adalah gadis yang cukup manja.
"Bener ! Udah sana, sana !" usirnya. Roy menyalakan dan melajukan motornya perlahan menjauhi Inez, Inez cukup terkejut...menyesal yang pastinya, kenapa pake gengsi segala, kan jadi rugi sendiri.
"Ihh, beneran pergi ! Cowok apaan, ngebiarin cewek sendirian malem-malem," dengusnya menghentakkan kaki kesal, kesal pada Roy, kesal pada dirinya sendiri. Ia mendumel seraya menendang-nendang udara di depannya. Malam semakin gelap dan memperlihatkan aura mencekamnya, membuat Inez bergidik ngeri.
Nyalinya hanya tinggal sebesar biji cabe, ingin rasanya Inez menangis meraung-raung sambil duduk melantai dan ngesot di jalanan seperti macan yang lagi sakit gigi, tapi tak akan ada yang mendengar, semua nomor yang ada di kontaknya mendadak tak aktif dan tak ada yang mengangkat panggilannya, mungkin karena hari sudah larut.
Tapi di tengah buliran air mata yang hampir saja jatuh membasahi pipi Inez, dari arah belakangnya terdengar suara klakson motor matic. Dengan cengengesan khasnya, Roy menertawakan tampilan Inez yang sudah seperti korban kdrt, begitu mengenaskan. Sebenarnya gadis ini imut, manis dan enak dipandang hanya saja mulutnya ini beuhhh ! Kaya pentol mercon favoritnya sama-sama pedes ditambah ia terkenal biang gosip.
"Yu naik, ga tega gue...udah kaya hantu perawan ditinggal kawin !"
"Mau ngga ? Atau kali ini bener-bener gue tinggal nih ?" tawarnya. Inez akhirnya naik ke atas jok belakang Roy.
"Thanks," cicitnya.
"Bukan gue pengen dipegang-pegang nih, tapi kalo loe ga pegangan ntar loe jatoh, gue lagi yang disalahin sama loe pukulin !" Inez dengan ragu memegang jaket Roy.
Mereka berhasil keluar dari jalanan sepi itu dan mencapai jalan besar, dirasa kini pegangan itu sudah seperti pelukan, dan pundaknya yang terasa berat seperti ketempelan hantu penunggu pohon asem, Roy melirik kaca spionnya.
Rupanya angin malam ini, terasa begitu bersahabat membuat gadis ini memejamkan matanya.
"Si peakkk, dia malah mo lor !" Roy menahan tangan Inez di perutnya agar gadis itu tak jatuh.
"Si cabe tangannya alus banget kaya tangan bayi," gumam Roy.
Ada hawa hangat yang tiba-tiba saja menyerang hati, jantung dan kantung empedunya.
Hayooo lohhhh ! Jangan-jangan....
*****
Roy, Shania, Melan dan Deni tengah berada di kantin.
"Pedesss ihhh !!!" imbuh Melan saat mencoba baso milik Shania, emak muda yang satu ini memang jagonya pedas duet maut Inez.
"Wah si mak tuh pengen digetok centong sama pak Arka. Kasian ponakan gue Sha, kalo loe makan pedes," ujar Deni.
"Gale udah makan juga, jadi ga terlalu sering ASI, aman lah. Dia mah strong baby, kaya bapaknya !" jawab Shania.
"Pedes gila, hampir aja gue keselek basonya ! " Melan sampai mengipas-ngipaskan tangannya di depan mulutnya, sudah satu gelas jus jeruk ia habiskan.
"Ah lebay," jawab Roy.
__ADS_1
"Keselek baso, tenggorokan loe segede apa bisa keselek baso ?!" tanya Deni.
"Cih, loe berdua udah cek IQ belum sih ? Jangan-jangan IQ loe berdua lagi tiduran di kasur !" decak Shania.
"Sembarangan ! Gini-gini gue cucu B.J Habibie," sanggah Roy.
"Pffttt...ha-ha-ha !"
"Ngimpi !"
"Apa hubungannya baso sama IQ ?!" tanya Roy.
"Loe bilang keselek baso tenggorokan segede apa ? Nih, gue nanya, sama loe berdua !" Shania menunjuk baso di dalam mangkuknya.
"Ini apa ?!"
"Baso," jawab kedua pemuda ini, Melan belum apa-apa sudah tertawa melihat kelakuan mereka bak anak tk yang sedang belajar abjad.
"Sekarang gue potong," Shania memotong-motong basonya menjadi bagian-bagian kecil.
"Terus ini namanya apa ?"
"Baso juga lah cuman loe potong-potong !" jawab keduanya.
"Nah kan, mau kecil mau gede tetep aja namanya baso ! Jadi ga penting keseleknya segede apa, mau keselek segede gini, tetep aja namanya keselek baso ! Ga mungkin tiba-tiba berubah nama jadi keselek sapi gelo_nggo_ngan !!"
Melan menjedotkan kepala Deni dan Roy saat Shania selesai menjelaskan.
Dughhh !
"Biar tambah encer otaknya !" tawa Melan.
"Sat !"
"Kimvrittt !"
"Roy !" suara gadis itu membuat keempatnya menoleh.
"Inezzz ?!!" gumam keempatnya.
"Gue mau balikkin jaket loe, udah gue cuci," Inez menyerahkan paper bag berisi jaket hijau yang sudah bersih dan wangi.
"Uhuukkk...uhuukkk !!!" Shania terbatuk keselek sapi gelo_nggo_an.
"Ini mata gue ga salah kan ?!" tanya Deni.
"Periksa sana ke dokter kandungan !" jawab Melan.
Ketiganya langsung mengarahkan pandangan pada Roy.
"Incredible !!!" (menakjubkan)
"Loe ngapain kesini cabe ?" tanya Roy.
"Cabe ?!!!" Shania kembali melongo lalu ia beranjak.
"Uhuukk, kebelet gue ahhh. Minun mulu ! Loe berdua jangan pergi sebelum gue balik !" pekik Shania mencari toilet.
Brakkk !
Dughhh !!
"Awww !"
"Eh, sorry loe ga apa-apa ?! Sini gue bantu !"
Shania tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
.
.
__ADS_1
.
.