
"Sha, mas disini !" suara itu yang Shania harapkan, bau maskulinnya yang tak pernah luntur meskipun oleh air hujan, yang Shania mau ada di sisi nya. Secara tak sadar inilah kali pertamanya sejak kejadian di cafe dan ponsel Arka, Shania mengharapkan Arka kembali di sisinya.
"Mas udah pulang ?" meskipun mendongak bayangan Arka tak terlihat karena gelap.
"Mas masih basah Sha, " mencoba mengurai pelukan.
"Biarin, Sha takut mas...sesek kalo gelap !" Shania malah mengeratkan pelukannya, Arka membawa lilin dari luar, ia menyalakannya. Sedikit cahaya berpendar dari lilin membuatnya bisa melihat, bahwa yang membuat dadanya sulit bernafas adalah pelukan erat Shania, gadis itu mendekapnya. Seperti ada sengatan aliran listrik statis tertentu yang terjadi, saat Shania memeluknya.
"Udah nyala, mas taro disini lilinnya !" Arka menaruh lilin dengan alas gelas kaca di meja.
Shania melepaskan pelukannya dan meraup oksigen sebanyak banyaknya,
"Mas ujan ujanan ?!" tanya nya menautkan kedua alisnya.
"Iya, tadi kebasahan di jalan, " ia beranjak meraih lilin satunya dan menyalakannya, lalu meraih handuk dan pergi ke kamar mandi. Shania yang masih mengatur nafasnya hanya duduk di tepian ranjang, tak berani bergeser sedikit pun dari depan lilin.
"Neng, mau makan lagi ?" tanya bi Atun dari luar kamar.
"Nanti aja bi, bareng mas Kala !" Shania membuka pintu kamarnya.
"Bibi tadi kemana sih, Shania cariin !" bibirnya memberenggut.
"Tadi mas Arka pulang, neng. Jadi bi Atun bukain pintu gerbang sama pintu rumah, soalnya kan susah air udah masuk ke halaman."
"Oke deh bi, nanti Shania keluar bentar lagi, "baru saja menutup pintu dan berbalik, Arka sudah ada di dalam kamar dengan bertelanjang dada, sontak Shania menutup matanya kembali berbalik sampai terbentur pintu.
"Dughhh ! "
"Awww !!"
"Mas, ih ! seneng banget bikin orang jantungan !!!" omelnya memejamkan matanya. Arka terkekeh tanpa suara.
"Baru dikasih kaya beginian aja udah kaya liat s3tan, gimana kalo..."
__ADS_1
"Aduhhhhh ga usah ngomong 18 +, umur Sha masih 17 !!" potong Shania, wajahnya sudah benar benar panas dan merah, jantungnya berdegup tak karuan. Meskipun ia sering melihat anak anak basket bert3*lanjang dada, tapi itu dari kejauhan, lagi pun bentukannya tidak se yahudd Arka. Jujur saja pahatan Allah yang ini benar benar bikin darah mudanya berdesir kencang.
"Lama lama bareng mas tuh, cuma bikin aku gagal fungsi jantung tau ngga !" omelnya seperti sebuah pujian untuk Arka, Shania meraba raba mencari ponselnya. Ia sampai lupa seketika, dimana menyimpan ponsel yang tadi ia matikan sebelum hujan.
"Cari apa ?!" tanya Arka, tangannya sudah meraih ujung kaos untuk dipakai, tapi mendadak ia beralih ingin membantu Shania yang dengan konyolnya malah berjalan sambil menutup matanya. Bahkan kini malah akan meraba lilin yang tengah menyala.
"Hape aku !" jawab Shania. Arka refleks menarik Shania saat tangannya hendak menyentuh api dari lilin.
"Awas itu lilin, ntar yang ada jatoh ke kasur !" tarik Arka, tak tau Shania yang tidak siap atau tarikan Arka yang terlalu kencang, Shania tertarik hingga menubruk dada Arka, membuat Arka sontak terjengkang ke ranjang bersama Shania.
Dukkk !
"Awww !"
Shania jatuh menimpa dada Arka. Gadis itu sontak membuka matanya yang sudah membulat sempurna, mata bening nan bulat seperti kucing membuat Arka membeku seketika demi terpana olehnya. Belum lagi bibir tipis merah delima nan lembab, membuat sisi kelaki lakiannya yang sudah bertapa selama 19 tahun lalu sejak mi mpi ba*sahnya saat berusia 14 tahun bergejolak dan menggedor gedor benteng pertahanannya. Pantas saja waktu itu Cakra sampai menelan salivanya berat, rupanya gadis ini memang berbahaya. Hanya dengan melotot polos dan membuka mulutnya sedikit saja sudah membuat laki laki kehilangan akal.
"Kyaaaa !!!"
Shania memukul dada polos itu lalu bangun dari atas tubuh Arka. Salahkan Shania yang posisinya rawan ini, lapisan terakhir Arka ini hanya selembar handuk. Pa*ha nya menggesek bagian inti milik Arka membuat si empunya sedikit meringis, saat Shania bergerak.
"Mas ihhhh, apa apaan main tarik aja !!" sewot Shania.
"Tangan kamu hampir nyentuh api, kalo sampe lilinnya jatoh ke kasur gimana ? nanti kebakaran !" jawab Arka yang ikut bangun dari ranjang. Shania masih mengatur irama jantungnya yang lagi diskoan sepaket wajah merahnya. Belum juga reda, ia sudah diserang badai sitoki dari dalam tubuhnya, alias panas dingin yang begitu hebat. Shania mematung tapi tak berapa lama ia berteriak.
"Aaaaaa !!!" bi Atun yang mendengar teriakan Shania sontak terkejut dan menggedor pintu kamar Arka.
"Neng, Mas Arka ada apa to ?!" tanya bi Atun khawatir. Arka membekap mulut Shania, persis seperti kejadian pahit yang membuat keduanya terikat tali pernikahan.
"Ga apa apa bi, " jawab Arka.
Arka mengunci Shania yang menempel dan terpojok di dinding.
"Berisik, ga usah teriak teriak, " ucap Arka. Mata Shania sudah melotot, demi apa.. jantungnya sudah lepas dari tempat seharusnya ia berada.
__ADS_1
"M..mas...handuknya melorot !" ucapnya terbata menunjuk ke arah bawah. Oh mermaid man dan barnacle boy help me !!!
"Awas !!!" desis Shania mendorong badan Arka yang seperti buto ijo.
Shania memegang dadanya, "oh god ! jantung gue !" tapi dengan santainya Arka malah memakai kaos di depan Shania dan celana selututnya sambil menertawakan tingkah lucu Shania.
"Mas tuh harusnya aku laporin ke KPAI tau ngga ! sama ka Seto ! udah menodai mata aku, ngasih tontonan ga mendidik" sungutnya berapi api.
"Ga mendidik gimana, yang tadi tuh anatomi tubuh manusia, edukasi buat kamu, " jawabnya kalem.
"Tapi ga segamblang itu, kan Shania sawan !" Arka sudah meledakkan tawanya.
"Dikasih yang 4D malah sawan, harusnya kamu terimakasih sama mas, kamu tuh the one and only yang mas kasih pengetahuan, dengan hati ikhlas ! "
"Mas Kala ikhlas, Shania yang engga !" desisnya kesal.
Wajah tenang kaya air danau namun menyimpan kengerian yang hakiki di dalamnya, fikir Shania.
"Lapor saja, mereka ga akan berkutik sama buku kecil hijau dan coklat punya mas sama kamu !" jawab Arka menggeser bahu Shania untuk membuka pintu.
"Baru berapa minggu aja udah liat kaya begituan, besok besok nasib gue gimana ?!" gerutu Shania lirih, terdengar Arka.
"Besok besok, mas kasih pelajaran proses terjadinya pembuahan !" kerlingnya pada Shania, sontak membuat gadis ini refleks meraih bantal dan di lempar ke arah Arka yang dengan sigap menangkapnya, ia seperti sudah menemukan hidupnya kembali, menggoda Shania membuat senyawa dopamin, oksitosin, serotonin dan endorfin dalam tubuhnya kembali bereaksi.
"Ga denger !!! ga denger !!!" Shania menutup kupingnya dan berlalu keluar kamar disaat Arka sudah berhasil membuka pintu kamar, membuat Arka kembali tertawa renyah.
.
.
.
* dopamin, oksitosin, serotonin dan endorfin adalah senyawa kimia yang dapat mendorong semua emosi positif dalam tubuh (hormon bahagia).
__ADS_1