Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Panggil saya mas


__ADS_3

Arka menyerahkan senampan kentang goreng, sandwich tuna dan coffe float.


"Makasih om Kala !" seru Shania menirukan Ori, meraih sandwich setelah membasuh tangannya dengan hand sanitizer. Kala harus kuat mental menghadapi Shania, mari bertaruh, siapa yang duluan menyerah, nona...batinnya.


"Setelah habis, kita pulang ! ibu sudah di rumah, Lukman juga sudah datang, jadi saya bisa mengurus kamu, " jawabnya.


"Uhukkk !!!" Shania terbatuk mendengar kata mengurus.


"Makannya pelan pelan, nih minum !" bukan pasal cara makan, justru Shania terkejut dengan ucapan Arka. Tapi seakan tak merasa berdosa, lelaki ini kalem kalem saja.


"Shania bisa urus diri sendiri, ga perlu diurusin pak Kala !" Shania men cup kan nama Kala khusus jika dirinya yang memanggil, seperti Ori.


Arka menjauhkan gelas coffe float dari jangkauan Shania. Membuat Shania kesulitan meraihnya.


"Ngapain dijauhin sii !" dengusnya kesal.


"Susah kan, untuk minum saja susah, apalagi untuk mengurus diri sendiri, ga usah so mampu !" jawab Arka.


"Pak Kala nyebelin, kaya sinchan !" umpat Shania.


"Kamu pecicilan kaya masha !" jawab Arka membuat Shania melotot.


Arka sudah akan menggendong Shania, saat keduanya sudah memutuskan untuk pulang.


"Awas ! Shania bisa sendiri, " ucapnya. Arka menjauh dan menyeringai, melihat sejauh mana gengsi gadis ini membumbung tinggi, apa bisa menembus genteng cafe hingga ke langit ke tujuh.


"Duh, pake so so an lagi !" gumamnya dalam hati.


"Masih mau ngikutin gengsi ?" tanya Arka yang mengekor di belakang Shania, baru juga beberapa langkah tapi Shania sudah kesusahan.


"Bantuin !!!" ketusnya sengit. Arka tertawa, si gengsi ini ternyata jatuh juga.


"Makanya ga usah so, " jawab Arka.


"Pak Kala ga peka banget, udah tau perempuan tuh pengennya dipaksa !" sungutnya.


"Turunin pundaknya ! ini tangan Shania sakit, bapak ketinggian ! kaya pohon bambu !" kembali galaknya. Arka tertawa mendengar ocehan Shania, tapi ia bersyukur akan itu, karena dengan itu ia tau jika Shania dalam keadaan baik baik saja.


"Jadi orang ko lempeng banget, kaya jalan tol !" omelnya lagi.


"Oke saya catat, kamu maunya dipaksa !" jawab Arka, memapah Shania tapi sejurus kemudian ia menggendong Shania.


"Assalamualaikum, " ternyata ibu sudah di rumah, itu terbukti dari sandal yang ada di luar dan pintu yang sedikit terbuka.


"Waalaikumsalam, "


"Ya Allah nak, kenapa kakinya ?" tanya ibu.


"Jatuh bu, tadi waktu tanding basket, " ringisnya, ibu melirik Arka dengan tatapan interogasi, seakan mengisyaratkan kenapa bisa terjadi? tapi Arka diam menunduk.


"Sini ibu bantu, jadi kenapa bisa begini ?" tanya ibu, Shania mulai bercerita panjang kali lebar saat bersama ibu di sofa ruang tengah, mengadukan kejadian yang baru saja terjadi padanya, seperti pada ibunya sendiri.


"Bagaimana keadaan pakde bu ?" tanya Arka ikut duduk di sebrang ibu dan Shania setelah mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Ibu sedikit meredupkan raut wajahnya.


"Inilah nak, yang mau ibu bicarakan sama kalian berdua," ibu mengusap lembut punggung Shania.


"Kenapa bu ?" tanya Shania ikut memandang cemas ibu mertuanya.


"Ibu sepertinya akan kembali ke Surabaya, mengurus pakde, pakde kena stroke. Sementara kamu tau sendiri, pakde mu sudah lama bercerai dari istrinya, nak !" jawab ibu memandang Arka redup.


"Ya Allah, stroke bu ?" ibu mengangguk.


"Setidaknya ibu bisa lega meninggalkan kamu, yang sudah menikah..ibu yakin kamu dan Shania akan baik baik saja, menjadi keluarga samawah, meskipun diawali dengan keterpaksaan." Shania dan Arka saling melirik.


"Jadilah suami yang bertanggung jawab, kasihilah istrimu, dan bimbing Shania, "


Sedetik kemudian mata sayu dan menenangkan ibu berpindah ke Shania. Wajah yang sudah banyak kerutan di wajahnya itu, tersenyum menenangkan penuh makna.


"Jadilah istri yang senantiasa menutupi aib suami dan menjaga kehormatan suami mu nak, kalau sudah waktunya penuhilah kewajibanmu, sempurnakan ibadah dan agamamu, saling mengasihilah. "


Shania menelan salivanya berat, bagaimana jika ibu tau, kalau ia berniat meminta cerai pada Arka, bumi seakan gonjang ganjing dan terbelah untuknya. Obrolan ibu kali ini berat, seberat ongkos angkot dari Indonesia ke Jerman.


"Jadi kapan ibu kembali ke Surabaya ?" tanya Arka memecah keheningan diantara mereka, yang sedang sibuk dengan pikiran masing masing.


"Mungkin lusa atau 3 hari lagi, tapi melihat kondisi kamu kaya gini bikin ibu tak yakin," jawab ibu.


"Shania ga apa apa bu, ada pak Kala ko !" jawab Shania meyakinkan mertuanya, meskipun ia harus menarik ucapannya di cafe.


"Ko masih panggil bapak ?" tanya ibu seketika membuat Shania malu.


"Mas, abang, atau biasanya tuh kalo anak muda tuh manggilnya apa tuh, hubby, sayang, cinta.." jawab ibu membuat Shania sontak tertawa.


"Engga bu, aneh aja..geli !" jawab Shania.


"Ya sudah, kamu sebaiknya istirahat saja..nanti ibu buatkan makan siang, "


"Iya bu, makasih," Arka membawa Shania ke dalam kamar.


"Panggil saja saya mas, bapak terlalu kaku," tiba tiba ucapnya.


"Yahh ??" Shania mendongak.


"Sudah saatnya kita saling belajar lebih dekat lagi, agar tidak kaku." Ia teringat ucapan Arka tadi, kenapa setelah ibu Arka bicara, ia jadi merasa bersalah begini.


"Yang kaku pak Kala ya bukan aku !" kilah Shania.


"Shania ga biasa manggil itu, " tolak Shania.


"Kalo gitu biasakan mulai sekarang," ucapnya seperti sebuah perintah.


"Dih, maksa !" imbuh Shania.


"Kan tadi kamu yang bilang kalau perempuan maunya dipaksa, "


"Kapan ?!"

__ADS_1


"Tadi di cafe, selain inginnya dipaksa ternyata kamu juga inginnya saya ketuk kepalanya ya, pura pura lupa," cerocos Arka.


Shania mendelik dan berdecak.


"Iya MAS !!!" jawabnya galak.


"Mau mas ambilkan baju ganti, atau mau mas seka badannya ?" tanya Arka.


"Whattt ?!!" mata Shania sudah hampir keluar dari tempatnya.


"Engga, Shania bisa sendiri ! enak aja, pak...mas Kala menang banyak kalo gitu !" sewotnya.


"Keluar, Shania mau ganti baju !" dorongnya di bahu Arka.


"Mas, siapkan dulu air hangatnya. Nanti kamu bisa mandi sendiri, mas juga siapkan bangku untuk kakimu, " treat (perlakuan) yang Arka berikan padanya membuat Shania diam seketika. Mulai dari menyiapkan air hangat dan menyentuh airnya dengan siku seperti air hangat untuk bayi, menyiapkan bangku kecil untuk menopang gips kakinya. Dan tak lupa handuk kimono yang disampirkan di samping Shania, benar benar membuat Shania memandang takjub, meskipun Shania selalu nyolot dan sewot, tapi Arka tetap memperlakukannya dengan baik, kalau soal ucapan, memang Arka sekaku itu, sudah dari lahirnya.


"Bajumu sudah mas siapkan di atas ranjang, kalo sudah selesai panggil saja mas, " Shania membulatkan matanya dan melirik ke arah Arka.


"Mas Kala nyentuh nyentuh daleman aku ?!!!" dengan tanpa dosanya Arka mengangguk.


Bukk !!


Shania memukul dada Arka.


"Ihhh, aku ngerasa di lece hin !" jawabnya sewot sambil manyun.


"Sudah, ga usah dimasalahkan, atau mau mas mandikan sekalian ?" tanya Arka, semakin membuat Shania melotot dan menggigit bahu Arka.


"Awww !" ia mengaduh.


"Makin ngaco, siram tuh otaknya pake asam sulfat !" sarkas Shania, membuat Arka tertawa renyah.


Arka menaruh Shania di tepian bathtub lalu menutup pintu kamar mandi.


"Mas keluar, kalo sudah selesai panggil saja, " ucapnya dari balik pintu kamar mandi.


"Embuh, " gumam Shania lalu menarik ujung kaosnya hingga sudah tersingkab ke bagian bH. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Arka kembali membuka pintu kamar mandi


Ceklek


Pintu kembali terbuka, Shania tergelonjak kaget.


"Mas Kala, ih !!!" Shania mencipratkan air pada Arka.


"Makanya kalo ditanya jawab,"


"Iya mas !!! iya !!!! ahh, "de sah Shania kesal.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2