Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Pelarian terakhir


__ADS_3

Ckittttttt !!!!!


Brakkkkkk !!!!


"Astagfirullah !!"


"Ya Allah !!!!"


*****


"Bun, Shania ada datang ke rumah ?"


"Nez, Sha ada ke rumah ?"


Satu persatu Arka menelfon orang-orang yang mungkin di datangi Shania saat ini. Bunda yang tengah berada di rumah pun ikut mencari, ia menelfon beberapa orang teman dekat, berkoordinasi dengan Arka tempat mana saja yang biasa Shania datangi dulu, jika ia sedang kesal.


Tak ada satu pun tempat biasa Shania datangi, yang tak mereka datangi.


"Duh aya-aya wae," keluh bunda.


(Duh ada-ada aja).


"Maafin Arka ngerepotin bun," ucapnya mengusap keringat di dahi, setelah hampir 2 jam mencari keberadaan Shania.


"Ga apa-apa, ga sepenuhnya salah kamu. Miskom aja ini mah, "


"Arka mau muter-muter dulu deh bun, siapa tau nemu di jalan !"


"Ya udah kabarin bunda kalo ketemu, bunda juga sambil nyari, yang sabar ya Ka !" keduanya berpisah di jalan.


Arka masuk kembali ke mobil, kejadiannya begitu singkat, Shania memang pribadi yang meledak-ledak, tapi ia tak menyangka ia bisa senekat ini.


"Sha, kamu kemana ?" gumamnya.


Depresi Antenatal, biasa terjadi pada wanita menjelang proses melahirkan. Jika biasanya orang lebih mengenal depresi pasca melahirkan atau biasa disebut baby blues, depresi jenis ini adalah depresi pra melahirkan. Harus diperiksakan lebih lanjut untuk melihat seberapa parah tingkat stress yang dialami si calon momy. Dapat menyebabkan preeklamasia dan komplikasi kehamilan lainnya termasuk perkembangan janin. Pemicunya bisa dari berbagai sebab. Diantaranya, akibat morning sickness, kecemasan seorang ibu, kekhawatiran hubungan dengan pasangan, keadaan sulit, keuangan pasca kelahiran, tekanan emosional dan mental.


Penjelasan dokter Rani cukup menohok dan membuat Arka khawatir setengah gila. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan Shania.


Saat melintasi perempatan menuju Route 78, jalanan mendadak macet parah, Arka sampai beberapa kali membunyikan klakson demi mengetahui apa yang terjadi di depan sana.


Sudah ke berapa ratus kali Arka menghubungi Shania, tapi begitulah penyakit beberapa manusia di muka bumi, ia selalu mematikan ponselnya dengan sengaja untuk menghindar termasuk Shania yang doyan menghindar jika tengah ada masalah.


Seraya menunggu polisi dapat mengurai kemacetan, ia menelfon kembali beberapa orang terdekat berharap salah satu diantaranya mengatakan jika Shania sedang di tempatnya sekarang, tapi hasilnya malah nihil.


Cukup lama ia menunggu, sampai kesal dibuatnya. Akhirnya perlahan-lahan ia dapat melajukan mobil.


Arka sampai membuka kaca jendela karena udara di dalam mobil mulai pengap meskipun ada AC.


"Tabrakan katanya, motor sama mobil Box pengangkut barang salah satu perusahaan makanan !"


"Pengendara sepeda motor tewas di tempat, "


"Iya, mana cewek masih muda lagi !"


"Pake motor apa ?"

__ADS_1


"Motor B..t, ringsek pak !"


"Ya Allah kasian, "


"Umuran anak SMA lah, "


Begitulah obrolan yang tertangkap oleh telinga Arka. Mendadak hatinya mencelos, segenap do'a terbaik ia panjatkan agar bisa mengetuk pintu langit, semoga bukan Shania nya. Pikiran negatif menari-nari, tapi ia yakin itu bukan Shania-nya. Ia memberi sugesti, jika kini Shania sedang duduk dan menyantap ice cream kesukaannya. Atau sekedar duduk menggerutu karena kesal, ia belum jua menjemputnya. Kepalanya hampir meledak saat ini.


"B..t warna hitam, "


Demi apa ? Kini Arka semakin dilanda kekhawatiran yang teramat. Jika sampai itu terjadi pada Shania-nya maka berakhirlah duanianya saat ini juga, tak tau harus berbuat apa, tau tau harus kemana lagi tujuannya untuk pulang.


"Ya Allah, lindungilah Shania dan bayi kami yang tengah dikandungnya." semua ayat yang ia tau ia panjatkan.


Benar saja, di depan sana polisi dan warga tengah mengerubuni tempat kejadian perkara, sebuah motor hitam ringsek tak berbentuk lagi, sepertinya tabrakan banteng, dengan sebuah mobil box yang penyok bagian depannya.


Ditambah gundukan tertutup koran menutupi korban.


"Ya Allah, " gumam Arka miris. Hatinya terasa tersayat demi melihat motor yang sama dengan motor yang pergi dari rumahnya tadi dalam keadaan pengendaranya yang sedang marah. Arka berhenti sejenak dan menepikan mobil untuk bertanya pada pihak berwajib.


"Selamat siang pak, maaf apa boleh saya bertanya ?"


"Siang pak, boleh !"


"Maaf plat nomor sepeda motor yang menjadi korban berapa ya, soalnya saya sedang mencari orang rumah yang kebetulan kendaraannya sama dengan korban ?!" hatinya selalu berharap jika itu bukan Shania nya.


"B 4XXX XX"


"Oh alhamdulillah, makasih pak !" ada secercah harapan jika itu bukanlah Shanianya. Ia segera pergi dari sana melanjutkan pencarian, kenapa tidak terpikirkan olehnya sejak awal untuk pergi ke Route 78.


Disana, istri nakalnya sedang makan sepotong cake choco lava dan lemon tea di sudut ruangan dekat jendela yang menghadap ke taman luar cafe. Untuk hal ini Arka benar-benar bersyukur.


"Sha, alhamdulillah !" Arka langsung meraih Shania ke dalam pelukannya sementara Shania berontak, karena malu bercampur marah, begitupun pegawai disana, kebungungan melihat tingkah Arka.


"Itu sejak kapan peluk pelukan gitu ?" tanya Lukman pada Arga yang tengah mengelap kaca.


"Barusan. Tumben mas, mas Arka kesambet jin apa, pagi-pagi udah bucin bucinan di depan umum ?!" tanya Arga.


"Kesambet jin teletubbies ! berpelukan !!!" Arga tertawa mendengar jawaban Lukman.


"Lepasin ih !" Shania mencubit dan memukul Arka tapi lelaki itu tak bergeming.


"Awas perut Sha kejepit !"


Lelaki ini melepaskan pelukannya dan membawa Shania ke ruangannya.


"Mas !! apaan sih, pake narik-narik segala. Ngerti ngga sih, Sha lagi marah ?!" omelnya.


Di ruangan Arka terdapat koper milik Shania, rupanya gadis ini mencoba kabur ke cafe. Bukan hotel atau penginapan yang ia tuju.


"Mas sama bunda hampir frustasi nyariin kamu Sha, mas takut kamu kenapa napa !"


"Kenapa ?! Masih peduli ?" Arka mempraktekan teknik membuang napas demi kelancaran sirkulasi darah dan mengatur emosinya. Jangan sampai hal di rumah tadi terjadi kembali.


"Kamu boleh marah Sha, boleh pukul mas semau kamu, tapi jangan pergi pergian kaya gini Sha. Apalagi kamu melibatkan orang lain dalam hal ini, kaya sekarang kamu lagi bawa dedek," terang Arka selembut mungkin, ia ingat apa yang dikatakan dokter Rani tadi.

__ADS_1


"Maafin mas yang sibuk, yang ga ngerti kamu maunya apa, ga ngerti capenya kamu, lelahnya kamu, atau sakit hatinya kamu, "


Hingga berlinanglah sekarang air mata Shania, "Sha tuh maunya di dengerin mas, maunya diperhatiin ! Bukan di dikte, ataupun di ceramahin ! Sha capek, mas tuh ga ngerasain apa yang Sha rasain sekarang ! Sha kadang cape, kadang lelah, kadang sakit pinggang, liat mas malah baik-baik sama perempuan lain, cekikikan ! Sha tuh takut sama lahiran nanti, tapi mas tuh cuma teori teori terus !!!"


Disinilah masalahnya, Shania mengatakannya dengan berapi-api.


"Mas tuh jahat !" sekali pukulan menghantam dada Arka.


"Ga peka !" dua kali pukulan kembali menghantam.


"Sha takut sakit atau bahkan meninggal, " pukulan tiga melemah, dan Arka memeluknya.


"Oke, apapun maunya kamu mas turutin. Kita ambil paket caesar VVIP, asal bisa bikin kamu tenang."


"Anak-anak udah ga ada di rumah, Besok mas bilang sama pihak sekolah untuk tidak menerima kedatangan murid ataupun wali murid ke rumah. Begitupun alamat rumah, mas akan larang sekolah untuk memberikan alamat rumah tanpa persetujuan mas dan kamu,"


"Apa lagi yang bikin kamu kepikiran ?"


"Kemarin tuh mas jadi mentor ketiga anak itu buat ikut cerdas cermat dan mereka menang, Sha." usapan di punggung Shania membuat gadis ini tenang.


"Tiap pagi ikut mas olahraga ya, udara pagi bagus buat kamu."


Arka mengurai pelukannya, dan mengusap jejak air mata di pipi Shania.


"Mas baru kepikiran Route 78 sebagai rute pelarian kamu barusan di jalan,"


"Sha milih kesini aja, kalo gugat cerai mas, Sha punya harta gono gini. Sha mau pilih Route 78 aja, biar bisa Sha gadein buat biaya caesar !" terangnya.


"Jauh banget mikirnya momy-nya dedek," kekeh Arka.


"Pinter kan ?" tanya nya jumawa.


"Pinter banget," Arka setuju.


"Jadi ini berantem kita yang ke berapa kalinya mas ?"


"Ga tau, yang jelas ke depannya pasti lebih banyak lagi masalah yang akan kita hadapi mulai dari yang recehan sampai yang bener bener menguji keutuhan rumah tangga kita," jawab Arka.


"Apa nanti kita bakalan kuat atau justru bobrok di tengah jalan ?"


"Harus kuat, harus kokoh. Disaat nanti mas yang lelah, Sha yang harus kuat,"


.


.


.


Noted:


*Depresi Antenatal : Kondisi dimana ibu hamil merasakan kesulitan, kecemasan, kebingungan serta ketakutan yang berlebihan dan dirasakan hampir setiap hari menjelang persalinan.


* Baby blues : Gangguan psikologis yang dapat dialami oleh bunda pasca melahirkan.


*Preeklamasia : komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya ditandai dengan tekanan darah tinggi.

__ADS_1


*Morning sickness : Kondisi mual muntah yang dialami ibu hamil pada trimester awal.


__ADS_2