
Senyum Shania merekah saat melihat makhluk kecil yang selama ini dikandungnya selama 9 bulan dan baru saja ia lahirkan, mata yang masih belum bisa membuka sempurna, bukan hanya karena kerjaannya yang tidur, tapi lebih karena pipi pink layaknya pangkal buah peach itu chubby hingga matanya terlihat seperti menyipit saking gemoynya. Rambut lebat hitamnya mirip rambut orang yang tengah memeluk keduanya, sangat mirip.
Tubuh mungil itu menempel di dada Shania mencari-cari sumber kehidupannya, hingga beberapa kali membenturkan kepalanya ke dada Shania, kesal... bayi gemoy itu bahkan sesekali menangis karena tak dapat menemukan apa yang dicarinya.
"Mirip siapa tuh ! Cepet nyerah, marah-marah ?!" tawa Shania dan Arka.Yang jelas bukan gen turunan Arka. Perpaduan Arka dan Shania yang khas ada pada bayi perempuan berbobot 2,9 kg dengan panjang 49 cm itu.
Rambut tebal hitam milik ayahnya dan wajah imut nan cantik ibunya tapi dengan air muka dan alis milik sang ayah.
"Galexia Adhara Mahesa, "
Shania menoleh tepat ke sebelahnya, wajah Arka yang tengah ia tempelkan di dekat sang bayi yang di dekap Shania.
"Sesuai keinginan kamu, semua pengharapan kita yang setinggi Galaksi ada padanya, Galexia \=Galaksi. Putri kita bisa menjadi seperti Adhara, salah satu bintang terang di malam hari, bintang kedua paling terang di rasi Canis majoris, dalam islam juga punya artian yang bagus, bisa bermakna perawan, dalam bahasa Ibrani artinya terhormat, dengan harapan dia jadi wanita terhormat, penurut dan setia."
"Dedek Xia, kaya orang China mas," tawa Shania meledak, apalagi saat melihat mata anaknya yang sipit layaknya orang dari negri tirai bambu karena terdorong oleh pipinya yang tembem.
Bunda, ibu dan ayah tiada henti mengucap rasa syukurnya.
"Ya Allah, incu bunda meni kaya boneka gini !" gemasnya, bedongan bayinya yang berwarna pink membuatnya tampak semakin lucu.
"Apa atuh panggilannya ?" tanya bunda mengusap badan yang terbalut kain bedong.
"Gale, Xia, Dara ?" tanya ayah
"Ah bunda mah mau Dara aja, "
"Iya bagus bu, "
"Bagusan Gale, " jawab ayah.
Kubu ayah dan kubu bunda & ibu malah ribut soal panggilan nama. Apapun panggilannya yang penting tidak mengurangi do'a dan maknanya.
"Dedek Xia, kaya orang China bun, " timpal Shania.
"Da ini mah bukan made in China atuh, gadis dari tanah JaSun..Jawa-Sunda !" pungkas bunda.
Shania sudah dibawa kembali ke ruang rawatnya. Untung saja klinik ini tak jauh dari rumah, hingga Arka menyuruh bunda, ayah dan ibu untuk istirahat di rumah saja.
"Bu, ibu pulang saja. Biar Shania, Arka yang jaga, ibu kan baru sampai dari Surabaya langsung kesini, pasti capek."
"Nggeh Ka,"
"Bunda sama ayah juga istirahat aja dulu di rumah," pinta Arka.
"Iya bun," Shania setuju.
"Iya Ka," jawab ayah masih memandangi bayi gemoy yang terlelap di samping Shania.
"Neng, bunda ke rumah dulu ya..besok pagi bunda kesini sambil lewat sebelum pulang."
"Iya bun,"
__ADS_1
Bunda mencium kening Shania bersama ayah, dan ibu, lalu pergi.
"Sha, istirahat dulu. Nanti mas bangunkan 2 jam sekali buat ASIhi dedek," pinta Arka.
"Iya mas, Sha capek banget ! Badan Sha kaya abis di jatohin dari atas tebing, tulangnya remuk semua," keluh Shania.
Tangan kekarnya terulur mengusap lembut kepala dan surai berwarna bronze milik Shania, menghantarkan rasa kantuk untuk lebih dalam lagi, hingga Shania yang baru saja menyabet gelar little momy ini terpejam.
Wajah menggemaskan dan tenang like an angel kedua wanita kesayangannya adalah obat, energi, dan sumber kehidupannya sekarang. Tak hentinya Arka bersyukur memiliki keduanya, sesekali mata sipit yang terolesi salep itu, ingin terbuka. Seperti tak sabar ingin melihat dunia.
Lidah kecilnya memelet, menjulur tanda ia mencari sumber kehidupannya dengan gerakan leher yang ke kanan ke kiri terhalang kain bedong. Arka melirik jam, sudah waktunya Shania untuk memberikan kebutuhan hidup si gemoynya.
"Sha, udah waktunya dedek nga-ASI tuh."
Jika biasanya Shania selalu susah dibangunkan dan memberikan beribu alasan agar ia tetap terpejam, sekarang ia begitu berusaha untuk bangun. Meskipun wajah lelah dan ngantuk tak bisa berbohong kalau ia masih sangat ingin tertidur pulas.
"Emang ASI nya udah ada gituh ?" tanya Shania, Arka menggeleng.
"Mau mas coba sed ot ?" Shania sontak melotot segar seraya memukul lengan Arka.
"Ihhh ! Itu mah maunya mas, Bisa-bisa keterusan kalo mas yang ng'ASI mah !" Arka terkekeh.
****
"Air ASI memang masih belum ada, kira-kira 1 sampai 2 hari baru ada, tapi inisiasi menyusu dini diperlukan untuk merang sang ASI pertama yang mengandung kolostrum."
"Jangan lupa makan makanan yang bergizi, biar nanti ASI nya bergizi juga buat si dedeknya,"
"Selalu mengganti pem ba lut dengan yang baru ya, obatnya jangan lupa diminum,"
Tak butuh waktu lama, siangnya Shania sudah pulang. Bahkan di klinik, Shania menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu.
****
"Ya Allah neng !! Cantiknya, dedek bayi !" seru bi Atun menyambut ibu yang menggendong baby Galexia.
Sedangkan Shania di bantu Arka berjalan ke dalam, tapi baru beberapa langkah turun dari mobil, badannya sudah terangkat ke udara, Arka menggendongnya.
"Mas, ih ! Ga bilang-bilang mau gendong !" cebiknya tapi merona, pasalnya jarang-jarang Arka menggendongnya jika bukan ia yang minta.
"Sekarang udah ga terlalu berat kalo gendong," jawab Arka membawa Shania ke dalam rumah.
"Nduk, ibu sudah minta Atun memanggil tukang jamu yang biasa lewat setiap hari di depan kompleks untuk kesini, selain obat-obatan dari dokter. Ada baiknya dibantu sama ramuan herbal, biar cepet kering lukanya."
"Jamu ya bu ? Hm, ga apa-apa lah masih bisa ditolerir kalo jamu," jawabnya.
Shania masuk ke dalam kamarnya yang tampak berbeda dari terakhir ia tinggalkan, ada bantal bantal kecil tertata di tengah-tengah ranjang beserta alas kain lembut.
"Makan dulu Sha, biar ASI nya bisa cepet keluar. Ibu sudah buat sayur daun katuk, " pinta ibu.
Terkadang kalau makan Shania selalu menyisihkan sayuran hijau miliknya di pinggiran piring, tapi sekarang...sepertinya daun-daunan hijau akan selalu hadir menyapa lidah dan kulit lambungnya demi Galexia.
__ADS_1
"Mas ga kuliah ? Ga ngajar ?" tanya Shania.
"Engga, mas ambil cuti untuk 3 hari," jawabnya menaruh tas peralatan dari dalam mobil.
"Ka, jangan lupa untuk aqiqah..diurus dari sekarang, biar nanti tidak serba mendadak," ibu mengingatkan.
"Nggeh bu, lagi diurusin. Arka minta tolong sama rumah Aqiqah saja buat urus kambing sama catheringnya. Untuk urusan Syukuran pengajiannya, Arka minta tolong Dimas dan Mila,"
Shania yang sudah selesai makan sedang menggendong Galexia di dekapannya duduk si sofa bersama bi Atun.
Sesekali ia tertawa gemas melihat putrinya, "lucu banget ! Liat deh bi, kalo tangan Sha ditempelin di sini..dia nyariin kesini dikiranya ASI kali ya bi, " serunya.
"Iya neng, "
"Uluhhh lucu banget nguapnya ! wangi mulutnya, beda sama mas Kala, nguapnya nyebelin ! Kaya pengen tabok gitu," bi Atun melirik mengulum bibirnya pada Arka yang berada di meja makan dekat mereka, sama halnya dengan ibu. Sedangkan Shania sendiri seperti sedang tak melakukan dosa sudah mengucapkan itu.
"Nyebelin-nyebelin tapi kamu seneng kalo dicium, " jawab Arka.
"Ih, ga malu umbar-umbar aib di depan ibu sama bi Atun," cibir Shania.
"Ayah kamu dek, malu-maluin !" ucap Shania pada Galexia meskipun bayi belum genap berumur 24 jam itu tak mengerti apa yang dikatakan ibunya.
"Assalamualaikum !!!!" suara beberapa manusia tak berakhlak yang mereka kenal menghampiri gendang telinga.
"Aduh, dek siap-siap sembunyi ini. Genderuwo, nenek lampir, nenek gayung, Grandong dan sejenisnya datang..." gumam Shania gusar.
"Mas, mereka tau darimana Sha udah lahiran ?" tanya Shania.
"Bukannya kamu yang bikin story ?" tanya Arka.
"Iya gituh, kapan ?"
"Biar mas yang buka," Arka melengos menuju pintu depan.
"Mas, kasih warning dulu ! Mereka kan makhluk akhlakless !" pekik Shania.
.
.
.
.
Noted
*Incu : Cucu (bahasa sunda)
*Kain bedong : Kain yang membalut badan bayi yang baru lahir untuk mengurangi refleks kaget yang biasa terjadi pada bayi baru lahir.
* Kolostrum : Susu yang dihasilkan oleh kelenjar susu pada akhir masa kehamilan, yang banyak mengandung gizi dan zat-zat pertahanan tubuh, seperti vitamin A dalam jumlah tinggi dan kandungan immunoglobulin, warnanya kekuningan dan kental.
__ADS_1
* Aqiqah : Pengurbanan hewan dalam syariat islam. Sebagai bentuk rasa syukur manusia terhadap Allah SWT.
* Akhlakless : bahasa gaul ga punya akhlak