Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Cara lain biar sadar


__ADS_3

Arka mengangguk pada Hendra dan Vian. Mereka kini berada di halte dekat dengan kampus hijau.


"Kita ikutin maunya si brenk_sek !" ujar Arka berapi-api. Biasanya si mister tenang ini akan kalem dan bersikap datar, beda halnya dengan sekarang, saat ketentraman rumah tangganya diusik maka singa jantan pun akan mengaum.


"Ka, loe yakin Shania ga akan kenapa-napa ?" Arka tak yakin, entah apa yang dilakukan Vano pada Shania-nya, Arka tak tau nasib istri nakalnya seperti apa sekarang, yang ia dengar dari sambungan telfon terakhir, Shania sepertinya pingsan, kepalanya terasa mendidih ingin menghantam sesuatu.


"Mas janji ini yang terakhir Sha, " benaknya.


"Den, dimana ?!" tanya Arka.


"Pak, gue sama yang lain lagi mantau. Tapi jangan kelamaan, Sha kan ga bisa di tempat gelap. Takutnya kekurangan oksigen, "


"Saya tau, saya kesana sekarang !"


Vian adalah ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) kampus almamater kuning, ia juga berhubungan baik dengan ketua DPM almamater hijau.


"Sha !!! Sha, sadar Sha !!" Riyan kebingungan, bagaimana cara membangunkan Shania. Ia memakaikan jas miliknya di bagian rok Shania yang sedikit terangkat. Ia menghargai Shania adalah perempuan baik-baik.


"Oyyyy !!! Buka pintunya !" ditengah-tengah usaha Riyan meminta tolong, pintu di dobrak dari luar oleh beberapa orang senior.


Brakkkk !!!!!


"Riyan !!!"


Gumam beberapanya tak menyangka melihat Riyan bersama Shania yang tengah tergeletak dengan baju basah karena peluh dan jas milik Riyan yang menutupi bagian bawah Shania.


Disana selain ada para panitia, ada teman-teman Shania, Arka dan kawan-kawan, juga Vano.


"Loe berdua, ga nyangka gue !" ujar Vano.


"Yan, gue tau loe suka sama Shania. Gue pikir kalian...tapi ternyata kalian sejauh ini !" tuduh si mulut kompor yang minta di ledakkin pake minyak tanah.


"Shania !!" Arka langsung menghambur meraih Shania di lantai.


"Sha !!" pekik teman-temannya.


"Vano !!! Sini loe anj*** !!! Ga nyangka gue, loe temen tapi tega !" Riyan meraih kerah baju Vano hendak menjadikannya pelampiasan amarah yang sudah memuncak pada laki-laki rasa perempuan ini, tapi dilerai yang lainnya. Tak sangka saja, ternyata selain tak layak hidup di bumi, Vano pun tak layak dapat kesempatan dari Riyan untuk menjalin pertemanan, makhluk macam dia mestinya dibakar hidup-hidup.


"Santai Ri..ini kenapa ?! Kenapa loe bisa sama adik tingkat di gudang dalam keadaan begini ?" tanya Kevin ketua DPM kampus hijau pada Riyan.


"Bilang aja jujur Ri, loe sama Sha ada hubungan kan ? Cinta lama bersemi kembali ?! Loe bilang masih suka sama Shania ?" mulut ularnya melebihi perempuan medusa.


"Ba_ cOt loe ! Gilak, loe s3_tan !


"Harusnya loe tanya nih kaumnya Nabi Luth, ngapain dia jebak gue sama Shania di dalem gudang !" amarah Riyan menggebu-gebu.


"Jaga mulut loe Yan, ngapain gue jebak loe sama Shania, apa untungnya buat gue ?!" sarkas Vano.


"Loe suka kan sama lakinya Shania ?!" tuduhan menohok Riyan membuat semua melotot tak percaya.


"Jangan biarin dia pergi Kev," pinta Riyan menghempaskan badan Vano ke belakang.


"Jijik gue sama dia !" decihnya.


"Sha, sadar Sha ?!" Arka membawa Shania ke atas bangku dibantu Deni, Roy, dan Melan.


"Gue ambil minyak kayu putih sama air minum !" ujar seorang panitia perempuan.


"Pak, Shania pingsan. Katanya sesek ! Di dalem ga ada ventilasi !" jawab Riyan berjalan mendekat, Arka terlihat mengeraskan rahangnya tanda tak ingin ada kata damai dengan siapapun yang sudah membuat Shania begini.


"Sha, sayang...bangun !"


"Vian, loe urus tuh ! Anggota BEM kampus Se-Jakarta. Ada yang begitu, harusnya loe malu !"

__ADS_1


"Kev, bisa kita ngobrol sebentar !" Vian mengurus masalah ini bersama Hendra, dan Kevin. Tak lupa mereka menggeret pula Vano.


"Tunggu ! Kenapa gue jadi tersangka, harusnya loe makasih sama gue, gue yang kasih tau loe, kalo bini loe ada main di belakang sama Riyan ?!" ujar Vano tak terima.


Arka menoleh, rupanya kepala Vano perlu ia hantam dengan kursi besi agar tak perlu lagi bermain drama di depannya.


"Mel, bisa tolong pegang dulu Shania ?" aura Arka sudah kelam dan gelap. Tangannya mencengkram kerah baju Vano dan menyeretnya, memberi ruang keleluasaan untuk tangannya memberikan pelajaran berharga untuk Vano.


"Ka, Ka...jangan main hakim sendiri !!" tahan Kevin, Vian dan Hendra.


"Pak Arka serem kalo dah ngamuk !" bisik Melan.


"Gimana ga serem lah bininya di bikin pingsan, mana disukain sesama pedang, " jawab Roy.


"Bukan lagi perlu dihantam, emang tuh kaum Luth kalo bisa di buntungin !" ujar Deni masih mencoba membangunkan Shania.


"Apanya ?" tanya Roy dan Melan bersamaan sambil menoleh.


"Kompak banget nih anak ma emak bawang,"


"Kimvrit !"


"Kamu pikir teror kamu pada Shania tak ada cela ?!" Arka melayangkan bogemannya pada Vano.


"Kamu pikir dengan kamu fitnah istri saya, saya bakalan percaya dan dekat dengan kamu ? Kadar keimanan saya masih kuat, saya masih waras untuk menyukai lawan jenis !"


"Kamu pikir saya tak sadar tatapan kamu, beberapa kali pertemuan dengan saya ?!" kembali ia meninju wajah Vano.


"Ka, udah Ka..ntar mati anak orang ! Kita serahin ini sama hukum yang berlaku !" pinta Vian menahan Arka yang diliputi kemarahan, ia meringis saat melihat 2 hantaman saja sudah membuat wajah Vano seperti roti yang siap di panggang, mengembang dan bengkak-bengkak.


"Ka, sorry atas sikap yang tidak kita duga ! Bisa kita bicarakan ini baik-baik ? Gue atas nama kampus hijau minta maaf," tambah Kevin membujuk Arka dan mencoba melepaskan cengkraman Arka dari Vano.


"Gila ya, jangankan kaum hawa, kaum Luth aja sampe suka sama pak Arka. Padahal dia dingin loh, datar !" ujar Melan.


"Ini si Sha ga bangun-bangun. Yang ambilin kayu putih lama banget !" imbuh Melan.


"Ahaaa ! Gue punya cara lain, kalo lagi darurat gini," Roy menaik turunkan alisnya.


"Kalo kayu putih ga ada, masih ada ini !" tukasnya melepaskan sepatu.


Sebuah kaus kaki hitam ia layangkan di atas hidung Shania, membuat Deni, Melan dan beberapa panitia yang ada disana tertawa.


"Wah, parah loe !" ucap seorang panitia.


Tak lama Shania tersadar, bukan desisan atau decakan tapi ia terbatuk dan hampir muntah.


"Uhukkkkk !"


Arka menoleh bersama yang lain.


"Kan ! Apa gue bilang !" jawab Roy.


"Kimvritttt !! Bau bank_ke apa nih ?!" ucap Shania lemah.


"Gue pengen ketawa ngakak tapi takut dosa !"


"Sha, "


"Urus tuh anak buah ke senatan loe !" Arka mendorong Vano ke tanah yang langsung di bantu Kevin dan beberapa anggota senior lainnya lalu dibawa ke ruang DPM mereka.


"Ga ada cara yang lebih manusiawi apa ?!" baru saja Shania sadar, senior yang membawa kayu putih itu kembali dengan botol hijau minyak kayu putih dan segelas air putih hangat.


"Uhhh, telat ! Shania dah bangun !"

__ADS_1


"Yang penting loe bangun Sha, gue pikir loe bisa bangun kalo dah dapet kecupan pangeran tampan ?! Tapi gue sadar kalo gue ci_pox yang ada gue babak belur !" jawab Roy.


"Haha, dipikir snow white !" jawab Melan.


"Pusing pala gue !"


"Sha, alhamdulillah !"


"Mas," ia masih menyisakkan sesenggukannya memeluk Arka.


"Sha pikir, Sha bakalan mati di gudang gelap gitu kaya tikus mas," cicitnya.


"Tinggal gue kresekin Sha, terus gue kubur di halaman samping bareng pohon pisang !" jawab Deni.


"Si@*lan loe !"


"Sha, loe ga apa-apa kan?" tanya Riyan.


"Thanks Yan, gue ga apa-apa !"


"Kalo mak malin udah ngumpat gini, itu tandanya dia udah baik-baik aja !" ujar Roy.


"Ya udah, kalo gitu gue ke ruang senat dulu ! Mau urus masalah ini, kalo engga tuh si brenk_sek bisa bikin alibi sendiri, " pamit Riyan.


Arka mengusap kepala Shania.


"Mas ternyata Vano..."


"Suka sama mas, dia coba jebak kamu, fitnah kamu, coba bikin mas cemburu ga jelas sama kamu..mas udah tau Sha," jawabnya masih berjongkok.


"Mas..ta..u ?" gumam Shania melongo.


"Darimana mas tau, sejak kapan ?" tanya Shania.


"Dia bilang sama mas kalo Riyan sama kamu jalin hubungan spesial di belakang mas, dia sering hubungi mas fitnah kamu di belakang mas. Tapi kalo masalah dia yang belok, Yuna yang bilang, banyak juga temen-temen dia yang bilang, mas juga pernah mergokin dia di salah satu club malam sama pacar-nya dan....." Arka tak melanjutkan penjelasannya, ia rasa tak penting dan dijamin Shania akan bergidik ngeri.


"Wah, emang bener ga waras tuh orang !"


"Pantes aja, dia liatin gue dari atas sampe bawah, parah !" ujar Deni menggelengkan kepalanya.


"Lagi bayangin, pusaka punya loe gede ngga mas Den," kekeh Roy.


"Selamet gue engga !" Roy mengelus dadanya.


"Itu artinya loe ga menarik !" tawa Melan.


"Sat !"


"Pala Sha masih pusing mas, kimvritt loe Roy, tuh kaos kaki abis kelelep di air rendeman bang_kee apaan ?" tanya Shania.


"Bang_ke orang dzolim !! Masa sebau itu sih Sha," ia mencoba menciuminya sendiri.


"Salah satu bahan bakar gas air mata itu Sha, baunya bikin mewek !" timpal Melan.


"Udah kuat buat pulang ?" tanya Arka, Shania mengangguk.


"Sha kangen Gale mas, ASI Sha udah kenceng, kasian Gale nunggu lama.." jawabnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2