Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Just simple reason, cause i love you


__ADS_3

Just simple reason, cause i love you....


(Hanya alasan sederhana, karena aku sayang kamu..)


Arkala Mahesa


 -------------------------------------


"Mas langsung ke cafe,"


"Sha masuk dulu, " Shania meraih punggung tangan Arka dan membuka seatbeltnya, tapi baru saja ia membuka pintu mobil, ia berbalik.


"Mas, aku udah boleh pake motor belum ?" tanya Shania.


"Mau kemana ?"


"Biasanya juga ga pernah nanya," cibirnya.


"Mau anter makan siang nanti ke Route 78, " jawabnya lagi, Arka mengangguk.


"Oke, " Shania melangkah keluar mobil.


Sesampainya di rumah, Shania langsung mengganti rok abunya, memasukkannya ke dalam mesin cuci.


"Hemmm, wangi ! bi Atun masak apa ?!" tanya Shania.


"Pesmol neng, monggo...mumpung masih anget, "


"Ikan apa bi ?" tanya Shania.


"Ikan mas, tadi beli di tukang sayur yang lewat depan rumah...mas Arka suka ikan mas, neng !" Shania berohria dengan badan yang ikut bergetar, karena menempel di mesin cuci yang tengah bekerja.


"Bi, Shania makannya bareng mas Kala aja ya, soalnya sekalian mau ekskul basket !" bi Atun mengangguk.


"Jadi ini kotak makannya bawa dua gitu neng ?" tanya bi Atun.


"Jangan gitu bi, biar pisah pisah aja. Kotak yang satu nasi, yang satunya lagi lauknya, ikan sama tumisannya di plastikin aja bi, takut kuahnya nyampur ke perkedel," tunjuk Shania, menggantung roknya di jemuran belakang.


"Oke, neng !" bi Atun mengacungkan jempolnya.


"Sha, ganti baju dulu !" Shania menyambar baju kebanggaannya, gadis itu kini bahkan menciumnya, wangi pelembut pakaian yang menenangkan. Menyisir rambutnya dan mengepangnya mirip elsa lalu memasangkan bandana untuk menahan poninya.


"Neng, udah mau basket lagi ? emang kakinya udah ga kenapa napa ?" tanya bi Atun merapikan ke dalam paper bag.


"Engga bi, justru harus di biasain. Masa mau jadi atlet malah cedera. Sha bawa ini ko !" ia mengangkat deker untuk kaki lalu memasukkannya ke dalam tas biru berlambang ceklis miliknya.


"Ya udah kalo gitu, nih makan siangnya, semangat neng !" seru bi Atun.


"Semangat dong bi, demi cita cita..mau banggain mas Kala !" bi Atun tersenyum getir pada majikan kecilnya ini. So just simple jika pengen banggain Kala, hanya perlu jadi pendampingnya, selalu ada di sampingnya dan mensupportnya, tapi ternyata membanggakan versi anak bocah tidak sampai ke situ otaknya.


Shania menggantungkan paper bag di gantungan motor dan tasnya ia selempangkan.


Klik !


Helm terpasang. Shania melajukan motornya melewati pos satpam yang tampak kosong siang ini, entah kemana perginya kedua satpam kebangaan kompleks ini. Motor yang dilajukan Shania masuk ke jalan besar, bergabung dengan para pengendara lain.


Shania berjalan memasuki cafe, membelah keramaian jam makan siang, menuju pintu dapur.


"Hello rakyat Bikini b*ttom !!!" seru Shania, sontak saja mereka menoleh.

__ADS_1


"Apa kabar nih para pejuang receh ?!" tanya nya, kata kata Shania selalu bisa memancing tawa karyawan disini.


"Neng Shania ! kamana wae, meni awis tepang ! sehat ?" (neng Shania ! kemana aja, jarang lihat).


"Aya teteh, pangestu ! tos tapa ti guha (ada teteh, sehat ! udah tapa di goa)" seloroh Shania, tertawa bersama Mila.


"Ngerti ga, teh Mila sama mbak Shania ngomong apa ?" tanya Arga pada Lukman dengan menepuk pundaknya.


"Kagak, siapa pangestu ?" tanya Lukman balik, Arka hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Mas, makan siang datang !!" Arka menyipitkan demi melihat stelan yang dipakai gadis ini.


"Basket ?" tanya nya, Shania mengangguk seraya nyengir kuda.


"Bukannya tadi cuma ijin nganterin makan siang ?" Arka menyelesaikan tugasnya dan mematikan mesin roasting, mulai menggiling biji kopi, dan memasukkannya ke dalam mesin pembuat espresso.


"Emang nganterin makan siang kan ?" ringisnya menggoyangkan paper bag di depan wajahnya.


Arka menaruh segelas espresso di nampan yang akan dibawa Dimas, melewati portal antara dapur dan dalam cafe dimana Dimas dan Risti sudah menunggu.


Arka mengelap tangan yang sudah di cucinya, dan menanggalkan appron, membawa Shania ke dalam ruangannya.


"Bye guysss !!" Shania melambaikan tangannya.


"Kapan kamu ijin basket sama mas ?" tanya nya dingin. Sepertinya basket, akan menjadi olahraga yang Arka benci sekarang. Padahal dulu ia sangat menggemarinya.


"Emang ga boleh ya, kan bentar lagi Sha mau daftar, jadi harus di biasakan lagi mas, " jawabnya mulai menautkan alisnya heran dengan sikap plin plan Arka.


"Lututmu baru aja cedera, udah mau basket lagi ?"


"Mas gimana sih, katanya ijinin aku buat daftar, tapi akunya pemanasan malah dilarang !" Shania menghempaskan pan* tatnya di kursi. Arka menghela nafasnya dan duduk di kursinya.


"Nih makan dulu ! biar ga plin plan, Sha juga sengaja mau makan siang disini ! mau nemenin mas makan !" serunya, seperti hal ini adalah sesuatu yang membanggakan dan patut diberi reward, may be money or accept the proposal of Dispora??! yeah !!


Satu persatu tangan Shania menuangkan tumisan, pesmol dan perkedel di tempat makan Arka. Sedangkan miliknya, hanya tumisan dan perkedel.


Arka menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa ga pake pesmol nya " tanya Arka.


"Katanya mau jadi atlit, ikan bagus loh !" cibirnya.


"Tau, tapi Shania ga bisa makan ikan mas."


"Kenapa ?" apa lagi yang tidak bisa gadis ini makan, selain obat tentu saja.


"Banyak duri halusnya kaya pelakor ! jadinya suka nyangkut di tenggorokan,"


Arka menautkan kedua alisnya apa hubungannya duri ikan dengan pelakor, ada ada saja.


"Jadi kamu ga bisa misahin daging sama duri halusnya ?" Shania mengangguk yakin.


Arka mengambil ikan miliknya dan memisahkan antara daging dan duri halus, lalu menaruhnya di tempat makan Shania, membuat gadis itu melongo, kesannya ia seperti adik kecil yang butuh disuapi.


"Makan, " Arka kembali menyuapkan nasi bagiannya.


Shania menurut dan mulai memasukkan ikan dalam suapannya, lidahnya memilah apakah terdapat benda asing yang sangat mengganggunya setiap menikmati daging ikan, tapi hasilnya nihil. Apakah lelaki di depannya semacam superhero, atau justru doraemon ? yang selalu bisa membantu nobita. By the way nobita seperti cerminan dirinya loh !


"Enak mas, Sha suka !" gadis itu semakin bersemangat untuk makan. Saat suapannya sudah hampir habis, ia melirik jam tangan. Pas ! ada selisih waktu agar ia tidak merasakan sakit perut karena baru saja makan dan akan melakukan olahraga.

__ADS_1


"Mas, aku pinjem laptop dong !" Shania mengeluarkan semua persyaratan pendaftaran.


Arka mendorong laptop ke depan Shania.


"Biar mas yang isiin, kamu dikte kan saja, " ucapnya.


"Oke mas, " Shania mulai mendikte sementara Arka mengetik, mulai dari nama, alamat, sekolah, tinggi badan dan beberapa ratus kolom yang harus diisi guna mengisi formulir pendaftaran secara online. Termasuk sertifikat dan piagam Shania.


"Ini udah semua bener ?" tanya Arka.


"Udah mas," hanya tinggal mengklik kirim saja, tapi rasanya sedikit berat. Mengingat kemungkinan besar Shania lolos seleksi, tak sengaja Arka sempat mendengar tempo hari di sekolah, beberapa dari pihak club basket swasta ternama maupun dari perguruan cabang olahraga basket menghubungi pihak sekolah guna mengetahui alamat dan identitas Shania untuk menawarinya bergabung, setelah kejadian pertandingan yang menyebabkan lutut gadis itu cedera.


Ia menoleh pada istri kecilnya yang terlihat masih memeriksa datanya dengan detail sekali lagi.


Ada rasa tak rela yang menggantung di langit langit hati Arka.


"Udah mas, " mata bulat itu menoleh padanya, begitu bening dan menggemaskan. Benar kata Dimas bening kaya air galon.


"Oke, bismillah !" gumam Arka.


"Bismillahirahmanirrahim, " Shania menutup wajahnya dan menghentak hentak kaki panik.


Klik !


Send succesfull !


Shania memekik tertahan, ia lantas melihat lagi ke laman bawah blog tadi, apa saja fasilitas yang akan di dapatkan saat peserta lolos seleksi.


Matanya semakin berbinar demi melihat fasilitas yang ia dapat sebagai atlit.


Venue Internasional, asrama yang Representatif, ac, kamar mandi, laundry, dan sebagainya. Bahkan perlengkapan pribadi seperti pakaian pun disediakan disini, terlebih lagi uang saku setiap bulannya. Dan tentunya kesempatan untuk latih tarung di luar negri, itu artinya ia bisa melebarkan sayapnya di kancah Internasional. Binar mata kagum dan bahagia tidak sejalan dengan mata redup Arka, ia harus ikhlas... Shania harus bahagia, masa depannya tak harus dasteran sambil gendong anak di usia mudanya, terlebih potensi diri yang dimiliki gadisnya ini, tapi apa ia sanggup ? come on dude ! kamu manusia, yang masih memiliki ego.


"Mas, udah jam 2..Sha ke sekolah dulu. Anak anak udah pada ngumpul !" membuyarkan lamunan Arka, ia melirik jam berwarna biru baby berlabel G shock yang tampak lembut di kulit softnya.


"Mau mas antar ?" Shania menggeleng.


"Ga usah, Shania ga mau repotin, mas lagi kerja ! ini kotak makannya bawa pulang sama mas ya, kalo bisa cuci dulu, biar bi Atun ga nyuci !" kekeh Shania, Arka mengangguk.


"Hati hati, " ujar Arka. Shania sudah menyampirkan tasnya, tapi langkahnya tertahan.


"Mas, makasih banyak ! sudah mau mengerti dan support Sha, " ucap gadis itu kembali menghampiri untuk meraih punggung tangan Arka, bersiap salim takzim.


"Dulu Sha pikir mas tuh, laki laki jutek, dingin, kaku, mustahil lah buat baik sama orang !" tawa Shania dihadiahi jeweran dari Arka.


"Tapi ternyata mas baik banget, ga ada maksud tertentu kan mas ?" Shania menyipitkan matanya.


"Suudzon, " cibir Arka di balas tawa renyah Shania.


"Apapun alasannya mas bisa berubah gini, Sha cuma mau bilang makasih banyak, " gadis itu sudah menunduk, dengan alas punggung tangan Arka.


"Just simple reason, " (hanya alasan sederhana)


"Cause i love you, " (karena aku sayang kamu)


Tenggorokan gadis itu sampai tercekat, ia bahkan jelas jelas tak dapat menegakkan kembali lehernya yang seperti berubah jadi batu seperti malin kundang, meskipun Arka tidak berteriak secara lantang seperti yang dilakukan Cakra, tapi sukses membuat hati Shania menohok.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2