
"Momy, jangan ke hotel lagi. Pleaseeeee ! Temenin kaka sama dedek di rumah aja, biar ayah aja yang cari uang," bocah 4,5 tahun ini membawa tangan Shania ke pipinya.
Kepolosan Galexia membuat hati Shania terenyuh dan tersayat, permintaannya tak muluk-muluk. Ia tidak meminta mobil lamborghini ataupun meminta Shania membawakan bulan untuknya seperti lagu yang biasa ia nyanyikan di rumah menjelang tidur.
"Iya, kaka sekarang harus sembuh. Biar bisa pulang," jawab Arka.
"Mas, mas ga ke Pondok ?" tanya Shania.
Pondok \= sebutan Shania untuk sekolah gratis yang didirikan Arka.
"Selama Gale sakit mas menyerahkan semuanya sama Hendra dan yang lain," jawab Arka.
"Mau mandi dulu ?" tanya Arka.
"Sha mau ketemu Andro mas," jawabnya.
"Iya, kasian Andro..pasti nungguin kamu. Stok ASI udah abis di rumah Sha," ujar Arka melihat pesan yang disampaikan ibu.
"Kalo gitu Sha pulang dulu mas, Sha juga mandi dulu."
"Iya, biar kaka Gale, mas yang jaga."
Untung saja beban kuliah sudah berkurang. Setidaknya tugas pak guru ini sedikit berkurang, mengajar, mengurus Pondok, lalu mengurus Route 78 dan angkringan yang hanya di balik layar, sesekali ia datang ke sana untuk mengecek apakah semua usaha berjalan dengan semestinya.
Baru saja Shania beranjak, tangannya ditahan Galexia.
"Momy mau kemana ? Jangan pergi lagi mii, jangan tinggalin kaka !" matanya sudah ingin mengeluarkan kembali air mata.
"Momy mau pulang dulu ka, kasian dedek mau ng'ASI. Kan anak momy sama ayah bukan cuma kaka Gale," pinta Arka.
"Kaka sama ayah dulu ya, nanti momy balik lagi," meskipun ragu, akhirnya Gale melepaskan tangan Shania. Sikap Gale membuat Shania merasa bersalah pada kedua anaknya, terlalu sibuk meraih dunia hingga ia melupakan kasih sayang dan kerinduan anak-anaknya.
Seminggu sudah berlalu. Galexia sudah pulang 2 hari yang lalu.
"Mas, Sha masih ada kontrak satu bulan ke depan sama hotel."
"Ya sudah habiskan dulu masa kerjamu, nikmati pencapaianmu, lalu kembalilah pada kami," jawab Arka.
Selama menikah lelaki ini tak pernah egois mementingkan dirinya sendiri. Semua ia lakukan untuk Shania-nya.
*****
"Sayang sekali Shania, kredibilitasmu sungguh membuat pihak hotel terkesan. Pencapaian luar biasa, tidak semua bisa sepertimu. Apakah tidak mau dipikirkan kembali ?" tanya pihak hotel menyayangkan, ditengah banyaknya peminat dan kesempatan langka, ia justru membuang kesempatan itu. Hampir semua chef ingin berada di posisinya sekarang.
"Insyaallah, tidak. Bagi saya sudah cukup pencarian dan pengalaman saya. Waktunya saya kembali pada anak-anak," jawab Shania, manager hotel mengerutkan dahinya, ia kira rumor tentang wakil kepala chef cantik yang sudah menikah ini hanya kabar burung saja, tapi ternyata benar adanya.
"Baiklah, semoga kamu sukses di luar sana. Hotel ini selalu terbuka untuk chef berbakat seperti kamu,"
Dengan jabatan tangan pada semua karyawan di pantry hotel, maka berakhirlah masa kerjanya disana.
"Sha, terimakasih atas kerja samanya. Sebagai partner, saya harap bisa menemukan orang kepercayaan seperti kamu lagi ! Dan semoga kamu sukses di luar sana," jawab pak Dirwan, kepala chef disana.
"Loe mau usaha apa Sha ?" tanya Kiki.
"Sementara mau jalanin usaha kue yang saat ini sedang berjalan," jawab Shania.
"Gue do'ain loe sukses Sha !"
"Kapan-kapan main ke rumah Ki !" selama disini, Kiki lah yang menjadi teman Shania, bukan karena ia tidak dekat dengan yang lain. Tapi persaingan jabatanlah yang membuat hubungan mereka tidak cukup dekat. Tak ada teman segokil dan setia macam geng kurawa.
*****
"Neng, ini mau dibagiin pake kardus aja apa gimana, sama tetangga ?" tanya bunda.
"Iya bun,"
Shania menanggalkan appron dan baju kebesarannya berganti dengan appron bunga-bunga miliknya, aprron kebesaran yang sesungguhnya.
Arka tengah bermain dengan Andro yang baru berusia satu tahun setengah di ruang tengah.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam,"
"Sha !!!! Berasa mimpi jam segini ketemu loe lagi !!!" peluk Niken.
"Ncep kita sudah kembali dari perantauan !" jawab Leli.
"Li, loe ga kerja ?" tanya Shania.
"Cuti gue, biar bisa ketemu loe !" Leli mengambil piring kecil dan mengambil kering tempe.
"Bun," nyengirnya saat mencomot. Bunda dan ibu sudah tak aneh lagi dengan aksi comot mencomot geng kurawa.
"Lapar ? Sama nasi kuningnya nduk," tawar ibu.
"Ntar aja lah bu, bareng sama yang lain."
"Roy mana Nez ?"
__ADS_1
"Belum balik, bentar lagi kayanya. Udah gue suruh langsung kesini kok !" jawab Inez, sudah 1,5 tahun menikah tapi mereka belum dikaruniai anak.
"Sha, gue tawarin di grup arisan gue ! Mereka tuh butuh tester," ujar Niken menemani anaknya di ayunan belakang.
"Ah, biasa ibu-ibu mah gitu Ken, nyomot..nyomot aja testernya. Udah gitu pesennya banyak mikir !" keluh bunda.
"Kalo temen Niken engga gitu bun, nyoba pada langsung suka..ya pesen deh ! Kalo engga, Niken jegal baliknya diperempatan !" tawa Niken.
"Serem banget Ken," jawab Leli.
"Assalamualaikum !!!" Melan baru saja tiba dari sekolah.
"Waalaikumsalam,"
"Telat bu guru ?!" tanya Shania.
"Iya nih, ampunnn deh gue ! Anak murid gue bandel-bandel banget !" keluhnya, Arka melirik dan tertawa.
"Mas tuh lagi ngeledek Sha ya ?!" ketusnya memekik.
"Sadar neng ?! tanya bunda ditertawai ibu.
"Engga," jawab Arka.
"Tawanya itu loh bu, ngeledek banget !" keluh Shania.
"Pak, Melan pengen tuker jadwal ngajar Mel lah pak, ke hari minggu. Minggu-minggu ini Melan sibuk seminar !"
"Konfirmasi saja sama Hendra, Ken."
"Oke pak, paling semangat gue kalo disuruh ngehubungin kak Hendra mah !" seru Melan.
"Gas cik Mel..pepet terus !!" seru Shania dan Leli.
"Mas, kaka Gale jemput sana di masjid. Malu tau dianterin mulu sama anak DKM," pinta Shania.
"Iya, nanti mas jemput !"
"Bawa Andro sekalian, biar jalan-jalan. Menghirup udara sore !" jawab Shania.
"Bilang aja loe ga pengen ribet Sha, bisa aja emak-emak ngelesnya!" sarkas Leli ditertawai Shania dan Niken.
"Bontot berbakat jadi ibu loh !" ujar Niken.
Arka membawa si kecil Andro untuk menjemput sang kaka ke masjid kompleks. Seiring datangnya makhluk-makhluk bergelimang dosa lainnya.
"Om Den, apa kabar mas bruhhh ?!" tanya Shania bertos ria dengan teman cassanovanya yang baru ditinggal sang pacar artis karena berselingkuh dengan rekan sepekerjaannya.
"Baik Sha, sadar loe sekarang. Kemaren-kemaren kemana, ninggalin anak-anak sama laki ?" Shania berdecih dan manyun.
"Amnesia !" jawab Shania.
"Mak, kangen gue sama loe ! Syukur kalo loe dah siuman, Sha !" tambah Ari.
"Aturan mah si Malin yang kerja lupa waktu, ini malah emaknya," desis Ari.
"Yank, rumah dikunci engga. Awas kelupaan kaya tetangga di bobol maling ?" tanya Roy pada Inez.
"Engga, udah dikunci kok !"
"Dih, pede banget. Gue aja kalo jadi maling ogah, maling di rumah loe. Apa yang mau diambil, kagak ada yang bisa dijual !" ujar Guntur duduk di sofa tengah.
"Kimvrittt loe !"
"Oyy...oy...paruh loe harap dikontrol ! Ada anak nih," sewot Niken.
"Paruhh, loe pikir gue bebek apa !" jawab Roy ditertawai Ari, Guntur dan Deni. Akhirnya sudah sekian lama ia tak bisa tersenyum, keluarga kurawa memang tempat untuk kembali, dan rumah Arka adalah basecampnya.
"Pakein headset neng, kalo ngobrol sama mereka mah ga jamin ga khilaf."
"Suruh dengerin boneka hafidzah punya Gale gih, Ken. Bawa aja di ruang mainan !" usul Shania. Memang benar kata bunda, makhluk-makhluk bergelimang dosa macam mereka selalu khilaf.
"So, rencana loe kedepan gimana Sha ?" tanya Guntur.
"Seperti yang dulu pernah kita rencanakan. Kebetulan gue punya tabungan, gaji gue kemaren bisa gue pake buat modal !"
"Oke, kayanya perlu pake katalog deh Sha, biar lebih gampang kita tawarin ke orang. Sebagian orang langganan loe dari Niken sama Melan bisa jadi testimoni bagus tuh,"
"Pasti, bakalan butuh banner, promosi, sementara gue usaha di rumah aja dulu. Kalo pesanan berkembang pesat, baru dipikirin lagi bikin ouletnya."
"Harus punya merk dagang sendiri Sha. Temen gue ada kenalan Sha, kita daftarin merk dagang punya loe !" jawab Roy.
"Bukan punya gue, tapi punya kita !"
"Gue mau bikin nama dapur Kurawa ! Kita bikin gebrakan-gebrakan baru biar viral !"
"Oke, gue bikin IG nya ya ?!" seru Leli.
"Cari logo dong !"
__ADS_1
"Ga mau dapur momy Sha gitu neng, masa meni kurawa ? Sararieun teuing alias ngeri ih !" jawab bunda.
"Justru disitu uniknya bun, karena di dapur kita bukan cuman ciwi-ciwi aja yang ada di balik pantry. Tapi para noh para kurawa Mahabarata !" tunjuk Shania pada teman laki-lakinya.
"Pandawa kek Sha, biar gantengan dikit !" keluh Ari.
"Loe semua rakus kaya kurawa, sangar pula !"
"Mana ada pandawa tatooan ! Pandawa apaan ngomongnya kimvritt, sukanya malakin sama tawuran !" timpal Leli.
"Kita cowok sangar ter sweet loh Sha," imbuh Guntur.
"Ya udah pakein aja Kurawa baju balet, kan sweet tuh !" jawab Melan.
"Ngomong sama mereka mah ga akan ada yang waras om pong. Otak cik Melan ma bontot kurang se sendok gara-gara broken heart !" jawab Roy.
"Apaan loe !! Enak aja !" Melan dan Leli menimpuk Roy dengan bantal.
"Assalamualaikum !!!" pekik seorang bocah.
"Aduhh, capek banget kaka, momy ! Kepala rasanya mau pecah !!!" keluhnya lebay namun menggemaskan, ia melemparkan badannya di sofa dengan wajah memelas dan pasrah.
"Ha-ha-ha. Ponakan gue kenapa nih ?! Datang-datang langsung drama queen begini ?!" tawa Guntur.
Bocah perempuan berjilbab ungu berenda ini menyeret tas kuda poninya sepaket dengan omelannya.
"Assalamualaikum," salam Arka.
"Waalaikumsalam,"
"Coba cerita sama om gledek, kenapa itu kepala kaya mau pecah ? Ada yang timpuk kepala Gale pake palu apa gimana ?!" tanya Guntur.
"Engga gitu, om gledek !" tawa Gale.
"Tadi tuh di pengajian kaka di tes hafalan surat Al-lahab, tapi kaka salah terus. Suruh diulang terus..ulang terus," sungutnya, "sampe kepala kleyengan kaya mau pecah. Kan jadinya kaka haus, pengen es krim !"
Meledaklah tawa Shania dan yang lain.
"Sha anak loe mah bisa-bisaan dia aja," dengus Roy.
"Bilang aja Gale pengen beli es krim ! Pake muter-muter di tes Al-lahab segala," cebik Guntur.
"Yu om ! Ga mau kan kepala ponakan om yang cantik dan imut ini pecah ?!" tanya Gale dengan puppy eyes-nya.
"Bisa ae nih bocah ! Pak, pasti ini Shania kaya begini ya kalo di rumah ?!" tanya Ari pada Arka, dibalas tawa Arka.
"Hm, persis ibunya !" jawab Arka.
"Ihh, engga ya mas !" sewot Shania.
"Ini mah pasti gen emaknya. Ga ada yang dibuang ! Persis banget !" ujar Ari.
"Aku ikut, Kia juga mau es krim !" pekik anak Niken dari ayunan.
"Eh, ada Kia !!!" seru Gale.
"Kaka Gale !" balas Kia.
Deni bangkit dari duduknya, "yuuk ! Yang mau es krim ikut om Deni !" ajak Deni.
"Asikkk !!!!!" Gale dan Kia ikut mengekori Deni.
"Ha-ha-ha, om Den ! Kapan menduda, bininya kemana pak. Tau-tau diekorin anak 2 ?!" tawa Leli puas.
"Noh atu lagi si Indro bawa !" ujar Roy.
"Anak gue Andro, Donooo !!!" ucap Shania tak terima.
.
.
.
Noted :
*Kredibilitas : Kualitas, kemampuan seseorang.
*Tester : penguji
*Testimoni : Pernyataan tertulis atau lisan yang berisi kepuasan atau ketidakpuasan.
*Banner : media promosi untuk menawarkan sesuatu.
*Outlet : Gerai
*Broken heart : patah hati.
*Sararieun teuing : takut banget.
__ADS_1