Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Jiwa emak-emak Shania


__ADS_3

"Loe berdua !" tunjuk Shania.


"Ga usah tunjuk-tunjuk. Nih temen loe ! Nemu di jalan, minta nebeng ! Udah gitu pake jambak-jambak rambut gue lagi !" jelas Roy.


"Ga ikhlas loe ?!" sewot Inez.


"Loe darimana dulu sih Roy ?!" tanya Leli.


"Abis nganter nyokap belanja !"


"Tumbenan banget temen-temen gue kaya manusia !" seru Roy.


"Njirr, dipikir kalo biasanya gue memedi ?!" sewot Ari di kekehi Roy.


"Emang si ko_lor ijo kalo ngomong ga pernah di saring dulu, belum pernah ngerasain mon_congnya di jepret karet !"


"Ka, sorry bisa ngobrol sebentar !" pinta Lukman.


Arka mengangguk lalu keduanya pergi ke belakang.


"Ini gimana ya, band pengiring bintang tamu malah ga bisa dateng, gitarisnya mendadak sakit !" ujar Lukman. Arka hanya mengulas senyum tipis, bukan masalah besar untuknya.


"Ya udah ga apa-apa, disini kan banyak yang jago gitar sama nyanyi. Kenapa harus repot !"


"Ka !" Dimas menunjuk jam di tangannya.


Dimas membuka acaranya, dimulai dari ucapan terimakasih, do'a, dan kata sambutan dari Arka, lalu memotong tumpeng.


Sang bintang tamu adalah penyanyi ternama ibukota, kebetulan dia mengenal Arka.


"Wih ada artis Sha, wedaann lah !" decak kagum Niken.


"Gue mau minta foto lah !" seru Inez.


"Eh Deni kemana ?!" tanya Leli bertanya pada teman-temannya. Tapi disaat si penyanyi mulai bernyanyi, tatapan mereka bukan fokus pada si guest star, tapi pada gitaris yang ada di depan, dekat dengan si artis ibukota ini.


"Deni ?!" gumam mereka tak percaya.


"Ko, ada disitu ? Sejak kapan ?!" tunjuk Niken.


"Ha-ha-ha, bisa banget si kimvritt nempel-nempel sama cewek cantik !" tawa Ari, Roy dan Guntur.


"Deni diminta mas Kala buat gantiin gitaris band yang tadinya mau manggung, tapi mendadak sakit !" jawab Shania.


Tampak si artis itu begitu senang dengan permainan gitar Deni, ia terkadang melirik-lirik pada Deni.


"Deni kalo diliat-liat cakep juga ya Sha !" ujar Inez, membuat Roy melirik.


"Tutup mulut loe, sampe mangap liatnya !" ia mengusap wajah Inez kasar.


"Aduhhhh ihhh ! Ganggu aja !"


"Om Den !!!" pekik Melan, Niken dan Leli.


"Aku padamu om Den !" pekik Ari dan Guntur sambil berulang kali membentuk jari love-nya, sontak para undangan melihat ke arah mereka.


"Ha-ha-ha dasar,"


"Itu, temen-temennya Shania, Ka ?!" tanya Vian, Hendra dan teman kampus, Arka mengangguk. Jangankan mereka, Sifa saja sudah berdiri di depan dengan teman-teman Shania seraya ikut bernyanyi dan mem-video aksi panggung Deni dan artis itu.


"Temen Shania lumayan cantik-cantik Ka, bisalah gue jadiin daun muda juga !" bisik Priyawan, Arka tersenyum.


"Asal loe tahan banting aja," jawab Arka, Nino tertawa.


"Emang modelannya kaya Shania semua ?" tanya Nino to the point.

__ADS_1


"Ga semua juga sih, Shania-nya saya langka !" jawab Arka.


"Beuhhh bucin !"


"Ga apa-apalah yang nakal-nakal gitu gemesin Ka," jawab Priyawan, refleks di tepuk Teguh.


"Awas ntar loe sendiri yang keteteran !"


****


"Kerjaan loe makaannn terus Tur, berapa hari ga makan ?" tanya Ari.


"Ada yang gratis harus di manfaatkan !" jawab Guntur.


"Ga usah pada nanya, si Guntur lagi galau, patah hati dia mah !" jawab Leli.


"Hah ?! Sama siapa Tur ?!" tanya yang lain.


"Berani-beraninya bikin om Gledek patah hati. Kenapa ga sekalian aja patah tulang !" kekeh Roy.


"Ga usah ember loe !" cebik Guntur.


"Guru TK ya Tur ?!" Leli menaik turunkan alisnya.


"Hah ?! Seriusan ?!" tanya Melan.


"Om Gledek bisa jatuh cinta juga ?!" tanya Shania yang menggendong Gale.


"Mau gue samperin atau gue kirim guna-guna Tur ?!" kelakar Ari.


"Ga gitu juga bambankkk !" decih Niken.


"Oh iya kan sekarang mah jamannya cinta ditolak medsos bertindak ! Kaya anak alay !" jawab Ari.


Deni turun dari panggung, tak sedikit kaum hawa yang ingin berswafoto dengannya saat akan menuju meja teman-temannya.


"Keren om Den," dijempoli Ari.


"Dapet ngga tuh foto bareng dia ?!" tanya Niken.


"Jangankan foto, nomornya aja dapet !" jawab Deni santai.


"Hah ?!! Masa, buaya sejatii !" ditepuki teman-temannya.


"Mana gue minta ?!" pinta Melan.


"Ini kenapa lagi manusia satu ?" tanya Deni melihat Guntur yang diam.


"Om Gledek putus cinta !" jawab Roy.


"Ditolak tepatnya," ralat Leli.


"Loe udah berapa kali ditolak, sampe frustasi gini ?!" tanya Deni.


"Mau gue siapin tali ga Tur ?!" tanya Shania.


"Keren ! Mamak paling keren, anaknya galau dia orang pertama yang nyiapin tali !" puji Ari.


"Gue siapin karbol aja deh, siapa tau bunuh dirinya mau live streaming sambil mukbang karbol !" tawa Roy.


"Gue bagian tahlilannya aja lah," santai Ari.


Keempat gadis itu tertawa.


"Kimvriit emang loe pada," Melan tertawa, ia sampai tersedak kuah soup zupa-zupa.

__ADS_1


"Om Gledek, cewek ga cuma satu !" ujar Niken diangguki Leli.


"Siapa tau ntar dapetnya naik level Tur, ditolak guru TK dapetnya guru SD !" ucap Inez.


"Tau, tuh om Gledek. Lagian Tur, baru ditolak sekali aja loe langsung loyo, tanya deh pak guru kimia loe itu !" tunjuk Shania pada Arka yang tengah merokok dan mengobrol bersama teman-temannya di luar cafe.


"Kenapa emang ? Pak Arka pernah ditolak cewek ? Masa sih gue ga caya, orang seganteng dan semapan pak Arka aja ditolak cewek, apalagi gue ?!" tanya Roy.


"Loe mah dilepeh !" jawab Guntur bersuara, sedetik kemudian mereka semua tertawa.


"Orang galau nyebelin juga ya kalo jawab," Roy meraih kepala Guntur dan menjepitnya dengan ketiak.


"Ga usah gelut disini oyyy !"


"Nduk, sini si cantik biar ibu bawa !" pinta ibu.


"Oh boleh bu,"


"Sha, loe tuh bersyukur tau ngga dapetin mertua baik banget gitu !" ucap Inez, diangguki Shania.


"Iya, bersyukur banget."


"Eh iya, gue penasaran loh. Cewek ga tau diri mana yang nolak pesona guru ganteng kaya pak Arka ?!" tanya Niken, Shania menaikkan alisnya sebelah, sementara Inez tertawa.


"Siapa ?" beo Niken.


"Temen loe ini lah !" jawab Inez menunjuk Shania.


"Hah ? Bukannya loe yang ngejar-ngejar pak Arka ya dulu ?!" tanya Melan.


"Itu sih awalnya," jawab Shania.


"Sampe berkali-kali malah !" jawab Inez lagi.


"Gue keluar lah, mau ngerokok !" ujar Deni sudah mengeluarkan sebatang rokok.


"Ikut om Den !!!"


"Gue pun !!!"


"Sha, gue balik ya ?!" ucap Inez melihat jam di tangannya.


"Oh loe mau balik sekarang Nez ?" tanya Shania, Inez mengangguk.


"Gue anter sampe luar deh."


Roy, Deni, Guntur berbaur dengan Arka dan kawan-kawan termasuk ketiga teman perempuan Shania yang baru saja keluar untuk menghirup udara segar, sedangkan Shania sedang berdadah-dadah ria dengan Inez. Tapi suasana itu mendadak berubah heboh.


"Copet !!! copet !!!" seorang perempuan di pinggir jalan berteriak histeris. Kedua orang laki-laki berlarian.


"Copet ?!" gumam Shania, naluri perempuannya bekerja, jiwa bar-barnya ikut keluar.


"Sha !!! Lempar !" pekik Deni. Karena posisi Shania lebih dekat dengan jalan raya saat mengantar Inez menaiki ojolnya.


Shania segera melepas heelsnya dan melemparkannya ke arah dua orang laki-laki itu.


"Si@*lan !!" Shania berlari mengejar copet dengan mengangkat dressnya.


"Shania, astagfirullahaladzim !!" ucap Arka berdecak melempar rokoknya, begitupun teman-temannya ikut menghambur mengejar.


"Mak, tunggu Malinnnn !" pekik Guntur.


Kini bukan Shania saja yang berlari tapi para laki-laki pun mengejar copet bersama Melan, Niken, dan Leli yang ikut berlari.


.

__ADS_1


.


Emak-emak riweuh (heboh) ngejar copet guys !😋


__ADS_2