Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Sha ditilang polisi


__ADS_3

Tinnn !!!


Tinn !!


"Astagfirullahaladzim," Shania kehilangan fokusnya, sampai sampai, marka jalan ia tabrak dan tak sadar ia sudah memasuki lajur one way. Double kill buat Shania. Pantas saja sedari tadi ia di hujani dengan suara klakson para pengguna jalan lain sepaket dengan wajah tak bersahabat.


Alhasil, hari ini adalah hari yang sial untuknya. Petugas berseragam coklat dengan rompi hijau memberhentikannya. Shania cooperatif, ia menepi.


"Mampussss gue ! udah jatoh ketiban gembok, padahal maunya ketiban duit segepok ! " gumamnya menepuk speedometer.


"Selamat siang !"


"Bisa menunjukkan surat surat kelengkapan dan surat ijin mengemudinya dek, " sangat jelas terlihat jika Shania adalah anak SMA dari seragam yang ia pakai.


"Bisa pak, " jawabnya membuka helm yang ia pakai. Untung saja beberapa bulan yang lalu seusai ia tiup lilin sweet seventeen, ayah menyuruhnya membuat SIM. Meskipun hasil nembak dan tak patut dicontoh, setidaknya ia tak harus mengalami drama mewek di jalan sambil selonjoran dan ngamuk ngamuk di pinggir jalan, atau pura pura pingsan di depan polisi.


Shania menyerahkan STNK, dan SIM miliknya dari dalam dompet.


"Ini pak, "


"Maaf saya tilang, adek sudah masuk jalan satu arah dan melawan arus, adek juga menabrak marka jalan."


Tak habis fikir, ia manusia atau ikan salmon pake melawan arus segala.


Shania hanya mengangguk dan pasrah saja, pikirannya memang sedang kacau saat ini. Tak dapat berfikir. Jika biasanya otak encer si kancil ini akan otomatis bekerja jika sedang dalam keadaan terjepit, kali ini otak si kancil di gondol buaya muara.


"Bisa ditelfon orangtuanya, SIM nya saya tahan ya, ini surat lampiran tilang. Bisa ikut sidang di hari yang sudah ditentukan bersama orangtua atau walinya,"


Shania mengangguk lagi, jiwa nakalnya kini seakan hilang ditelan gunung berapi.


"Adek, jika sedang ada masalah atau sakit sebaiknya diantar atau naik kendaraan umum saja, "


"Engga pak, saya ga apa apa. Maaf ya pak !" Shania memakai kembali helm dan memutar balikkan sepeda motornya.


"Beg*o ! otak gue kacau banget, kena mental gue-nya abis dapet siraman kalbu bu Endah !" dumelnya.


"Duh, mas Kala ngambek ga ya ?! mana ntar malah nyusahin lagi !" ia merutuki dirinya sendiri. Di persimpangan jalan ia kebingungan jika membelokkan stang motornya ke kanan maka ia akan pulang ke rumah, jika berbelok ke kiri maka ia akan pergi ke Route 78.


Ngadu jangan, ngadu jangan..ngadu aja lah ! ia membelokkan motornya ke arah Route 78.


Hatinya jadi dag dig dug, saat melihat mobil Arka masih terparkir disana. Ia celingukan, seperti maling tabung gas melon, demi mendapati Arka yang masih bekerja disana.


"Aduh, mas Kala masih kerja lagi !"


"Oon, kan gue kesini cari mas Kala."

__ADS_1


Shania mendorong pintu kaca, dari luar saja sosok Shania memang sudah terlihat.


Gadis berpakaian seragam SMA yang nampak pas body itu berdiri mematung.


"Mbak ! ngapain cuma berdiri disitu kaya patung Pancoran !" pekik Arga.


"Gue mau gantiin patung selamat datang, loe ga tau ?!" balas Shania. Umur yang tidak beda jauh membuat Shania dan Arga selalu mudah akrab. Shania mendekat, untung saja suasana sore ini tak terlalu ramai oleh pengunjung.


Gadis itu mendekat, menunduk dan memainkan ujung tali tasnya.


"Mas," jarinya menusuk nusuk lengan Arka.


"Kenapa ?" tanya nya.


"Sha, di tilang polisi !" cicitnya.


"Apa Sha ?!!" bukan Arka yang terkejut tapi Dimas dan Arga.


"Kena tilang ? " Dimas tertawa.


"Bravo !!! akhirnya Shania merasakan jadi remaja seutuhnya, ditilang polantas !" lelaki itu bertepuk tangan.


"Itu bukan hal membanggakan Dim, sini ikut !" ajak Arka pada Shania. Rahangnya mengeras, namun pantang untuknya memarahi atau menyalahkan orang di depan orang lain, apalagi itu istrinya sendiri.


"Mas marah ya, maafin Sha !" gadis itu sudah benar benar menunduk tak berani mendongakkan kepalanya.


"Kenapa bisa sampai di tilang, bukankah kamu sudah memiliki SIM, STNK juga ada ?" Arka yang bersidekap terlihat lebih menakutkan dibanding si Flying Dutchman dengan tentakel-nya sedang menyerang Jack Sparrow.


"Sha tadi masuk jalur satu arah, lawan arus, udah gitu nabrak marka jalan. Mas marah ya, maaf.." cicitnya memberikan penjelasan, ia pasrah, mungkin ini adalah hari hari terakhirnya di dunia, jadi say good bye to world.


"Marah ? pasti ! Mas marah. Kamu kalo sakit atau capek, kenapa ga minta dijemput ? kalo kamu celaka terus ada apa apa sama kamu gimana ? ada yang luka ?" Shania mendongak.


"Ya ?!" beonya, Arka sudah berada tepat di depannya. Melihat setiap inci kulitnya, takut jika terdapat luka lecet.


"Sha ga apa apa mas, cuma tadi kurang fokus aja."


Wajah kesal itu berubah menjadi rasa khawatir.


"Maafin Shania mas, udah banyak nyusahin ! maaf udah bikin khawatir," ujarnya tak tau datang darimana keberaniannya hingga kini tangannya telah berani meraih tangan besar Arka dan membawa ke pipi selembut marshmallow.


"Bisa tidak, jangan bikin mas khawatir ? jangan bertindak ceroboh, Sha."


Bukannya menarik tangannya dari pipi Shania, tapi Arka malah semakin impulsif dengan menarik bahu Shania dan memeluknya.


Terdengar degupan jantung Arka yang berdetak cepat dan memburu. Agak lama, mereka berpelukan dengan menyelami pikiran masing masing, dan memahami semua yang terjadi, hingga ketukan pintu menyadarkan keduanya.

__ADS_1


"Mas Arka !"


Mila mengetuk pintu. Arka melepaskan pelukannya.


"Kenapa Mil, masuk aja !"


"Mas di luar ada orang yang mau ngadain acara party di cafe, mau disuruh masuk sini aja atau ngobrol di luar ?" tanya Mila di ambang pintu.


"Di luar rame banget ngga ?" tanya Arka.


"Lumayan rame mas, "


"Disini aja mas, biar Sha ke dapur aja ! mau gangguin Arga !" kekeh Shania, Arka mengangguk. Ia sedikit mencelos, seharusnya moment tadi menjadi moment Shania merasakan cintanya. Tapi terganggu dengan urusan cafe.


Shania menuju pintu keluar, bersama Mila yang berniat memanggil klien.


"Teh Mil, Arga ada di dapur ngga !" tanya Shania.


"Ada. Lagi cuci piring," jawabnya sayup sayup, karena keduanya sudah sedikit menjauh dari ruangan Arka.


 ------------------------------


Shania mencangklok tasnya. Sudah lewat magrib, dan ia belum pulang ke rumah, karena menunggu Arka beres bekerja.


Mobil hitam Arka membelah suasana malam kota, melewati sejumlah jalanan arteri ibukota.


Sampai tiba tiba, ban mobil harus berhenti guna menghadapi kemacetan di depannya.


"Ini ada apa sih ? macet banget !" dumel gadis ini. Shania sudah mengganti kaosnya hanya saja roknya masihlah rok abu.


"Mas lupa, hari ini kan ada JFFF (Jakarta Fashion and Food Festival)."


"Haa?!! bazzar maksudnya mas ?" tanya Shania.


"Iya, lebih tepatnya Festival kuliner. Mas sempat di beri brosurnya dari salah satu teman, acara ini dimeriahkan oleh 117 tenant yang tersaji dalam bentuk booth dan gerobak, menyajikan 200 ragam makanan dari hampir seluruh penjuru nusantara, kaya semacam festival kuliner nusantara gitu !" terang Arka.


"Pantes rame banget ! mas, kesana yuu ! kita makan di luar sekali kali, " ajak Shania, gadis ini selalu semangat 45 jika pasal makanan.


"Semoga masih tersedia lahan parkir, soalnya acara ini diselenggarakan selama 3 hari aja, jadi pasti penuh !" Arka celingukan mencari celah untuk memarkirkan mobilnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2