
Love you to the bone, Sha !
(Mencintaimu sampai ke tulang, Sha !)
Arkala Mahesa
-------------------
Berulang kali Shania mematut dirinya di cermin, melihat keadaan perutnya yang jelas jelas masih datar. 4 minggu, apa yang dia harapkan ? Sebesar balon yang biasa dijual mamang mamang di SD, atau di jalur car free day ?
Mendengar suara mobil Arka yang baru saja datang, membuatnya segera melesak masuk ke dalam selimut.
Shania memilih menghindari pertemuan dengan Arka, seperti yang biasa ia lakukan jika marah, kesal, dan sedang bermasalah dengan lelaki itu, so childish..
"Kamu udah tidur Sha ?" Arka meletakkan segelas susu hangat di meja, lalu ia membuka pakaiannya dan meraih handuk. Seharian bolak balik dan berada lama di jalanan membuat badannya lengket.
"Minum dulu susunya mumpung masih anget," terdengar suara pintu kamar mandi terbuka kemudian tertutup, pertanda Arka masuk ke dalam kamar mandi.
Ada rasa bersalah akan sikapnya yang buruk, tapi hatinya masih di dominasi dengan perasaan kesal dan kecewa. Harus kesekian kalinya ia menelan pil pahit untuk merencanakan ulang masa depannya. Belum lagi, apa anggapan tentangnya ? lonth3 yang kebobolan ? mengerikan !!
Air matanya kembali menggenang di pelupuk. Padahal matanya sudah membengkak, begitupun hidungnya yang memerah.
Arka keluar dari kamar mandi, menemukan Shania dengan bahu bergetar, ia segera memakai kaosnya dan menghampiri Shania.
"Maafin mas, kalo memang mas salah. Mau 'kan perbaiki ini sama sama ? Masih mau berjuang buat sekolah, kuliah dan jadi ibu buat dedek-nya mas ? Mas ga bisa berjuang sendiri," ia berjongkok di depan ranjang bagian Shania, karena gadis itu berbaring menyamping dengan memeluk guling, menutup wajahnya. Awalnya Shania tak mau menjawab bahkan mengusir Arka, tapi Arka terus membujuknya untuk bicara.
"Apa yang bakal mereka bilang tentang Shania ? Sugar baby kah ? Hamil di luar nikah kah ? Atau lebih buruk lagi ?" ia menurunkan posisi guling hingga tampaklah pipinya yang sudah basah, mata sebesar bola pingpong dan hidung semerah badut. Gadis itu bangun dan duduk di ranjang, membuat Arka ikut duduk di sampingnya, menghadap Shania.
Arka menggeleng, "istri Arkala Mahesa. Love you to the bone, Sha !" Arka mendekatkan wajahnya dan mengusap kepala Shania, lalu merapatkan keningnya dan kening Shania.
"Mas pastikan kamu bisa sekolah dan kuliah, mas sudah bicarakan sama pak Wildan," sekedar fyi (for your information) ternyata pak Wildan adalah kaka tingkat Arka dulu saat di almamater kuning hanya beda fakultas, tapi tak ada yang tau termasuk Shania.
"Sebaiknya kamu tidur, udah malem. Besok sekolah, "
Ponsel Shania bergetar, saat Shania sudah terlelap dengan menyisakan sesenggukan. Arka meliriknya, sebuah pesan dari Deni.
Sekilas ia membaca dari notif yang muncul di beranda.
Deni IPS
"Sorry baru bales Sha, saha yang bunting Sha ? dulu gue beliin buat si Meli obat Mxxxxx di apotek, biar ga bunting. Atau klinik abor.. di jl.******"
Rahang Arka mengeras, pompaan darahnya begitu kencang hingga menguarkan hawa panas kemarahan demi melihat isi pesan tersebut, rupanya Arka benar benar perlu mengawasi Shania dengan ekstra.
"Lembutkanlah hati Shania, "
Do'anya di sela sela solat malamnya.
**************
Ponsel Arka akan selalu memantau pengeluaran dari kartu atm Shania, setiap transaksinya akan ia ketahui.
Gadis itu keluar dengan stelan seragam sekolah lengkap dengan kaus kaki putih selututnya.
"Mau susu apa teh manis neng ?"
__ADS_1
"Bikinin Sha susu yang kemarin saya beli bi, " Shania melirik dan mengerutkan dahinya.
"Susu apa ?" tanya Shania.
"Susu ibu hamil, " jawabnya datar.
"Pulang sekolah langsung pulang, kalo 'ga mas yang jemput Dimas yang bakalan jemput !" tambah Arka menarik piring tempe di depannya.
"Iya, " jawabnya singkat.
"Selama kamu hamil, mas larang kamu pake motor,"
"Ada lagi ? kenapa ga sekalian di kunciin aja di kamar mandi ?" ketusnya melahap nasi goreng kesukaannya, kini requestnya nasi goreng campur mie goreng dan telur ceplok setengah matang.
"Boleh, kalo kamu mau !" jawab Arka.
"Mas Kala nyebelin ih, " bibirnya manyun.
"Demi kebaikanmu sama dedek, " Shania hampir bergidik mendengar kata dedek, rasanya baru kemaren ia belajar naik sepeda dan mengeja, sekarang sudah akan memiliki seorang bayi.
Shania makan sambil memainkan ponselnya, pesan dari Deni baru ia baca. Raut wajahnya berubah drastis, apalagi saat ini Arka tengah menatapnya tajam, seperti saat kejadian ia yang tertidur di perpustakaan dan Arka menghukumnya.
"Siapa ?"
"Deni, "
"Ngapain ?"
"Tumben mas nanya ?"
"Bukan apa apa cuma ngobrol biasa," bohongnya, Arka menyunggingkan senyuman miring.
Ternyata masih ada rasa takut di diri Shania.
"Mas harap kamu ga bertindak yang aneh aneh, apalagi yang membahayakan kamu sama dedek !" Arka menekankan kalimat terakhirnya.
"Iya mas, " Shania mengangguk lalu melanjutkan sarapannya. Untung saja Shania tidak mengalami morning sick yang hebat. Hanya di awal awal saja, meskipun rasa tak enak badan tetap ada.
Arka meraih pucuk kepala Shania dan mengecupnya setelah Shania salim padanya.
"Sehat sehat, " ujarnya. Shania tak bergeming hanya mengucapkan salam.
"Inez !" pekik Shania memanggil temannya itu dengan berlari.
"Sha, "
Keduanya melewati koridor kelas IPS.
"Sha, " panggil Deni.
"Apeh ?!" jawab Shania.
"Wa semalem udah di baca ?"
"Udah, "
"Siapa ?" tanya Deni mengimbangi jalannya dengan Shania.
__ADS_1
"Tetangga gue,"
"Yang mana Sha ? perasaan tetangga rumah loe emak emak semua !" tawanya.
"Si@*lan loe, loe nya aja ga tau. Pokonya ada lah !"
"Terus gimana ? berapa bulan ?" ia menaik turunkan alisnya.
"Ga tau, ga jadi Den.. mau dikawinin aja sama emaknya !" jawab Shania tak ingin memperpanjang lagi masalahnya, apalagi Inez sudah mengerutkan dahinya, sebentar lagi pasti mulutnya akan memuntahkan berbagai pertanyaan.
"Oh, iya lah mendingan merit aja kalo cewek mah, daripada begitu taruhannya nyawa !"
"Ya udah deh Sha gue balik ke kelas dulu !"
"Yo bye !" jawab Shania, yang kemudian menoleh.
"Kenapa " tanya Inez.
"Ga apa apa, ayam tetangga is dead !" jawab Shania, membuat Inez manyun dan memukul punggung Shania.
"Awww...awww ! kasalll ih, kaya tembok yang belum di aci !" seloroh Shania.
Karena candaan mereka Shania dan Inez tak melihat jalanan, hampir saja mereka menabrak tong sampah di depannya. Gerakan refleks Shania adalah menghalangi perutnya dengan tangan, entah karena naluri ibunya atau memang ia yang sudah mulai bisa menerima kenyataan.
"Astagfirullah, ampir aja ! ini tong kenapa ada disini sih !" tangannya menepuk tong sampah setinggi perutnya.
Inez tertawa, "loe yang oon, tuh tong emang dari jaman penjajahan udah disitu !"
"Tua dong, sama kaya loe !" tawa Shania.
"Njirr ! saravv !"
"Sha, gue ketemu si Maya loh kemaren !"
"Gila, udah mobil maenannya sekarang. Loe kalah sama dia Sha ! loe masih motoran, eh iya motor loe kemana Sha ?"
"Biarin aja lah, kalo mau gue pake aja mobil mas Kala ke sekolah, ada di rumah, lagi disekolahin dulu biar pinter. Kali aja ntar pas gue mau pake, udah jadi motor rossi !"
"Cih, pada punya sugar daddy lah gue apa kabar yang cuma kacang tanah ?! Rebahan di bawah,"
"Loe mau sugar daddy ?" tanya Shania.
"Ntar gue kenalin sama babeh gue, pak Hadi !" Shania berlalu masuk ke kelas.
"Njirrr, ga ada yang lebih tua lagi ?!"
Shania akan menikmati setiap harinya di sekolah ini, karena saat hari berganti, itu artinya waktu ia disini hanya tinggal menghitung minggu saja. Penyesalan memang tak datang di awal, ia menyesali setiap waktu yang ia habiskan untuk madol atau kabur saat jam pelajaran. Semuanya memang tak ada yang kebetulan, begitulah Tuhan memberikan pelajaran pada setiap hambanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1