
Logo sudah dipatenkan, hingga siapapun kini tak akan bisa memakai dan mencatut nama Pawon Kurawa, jika tidak ingin terkena sanksi pidana atau ganti rugi.
Shania memakai rok rempel selutut berwarna pink dan kaos bergambarkan Pawon Kurawa berwarna putih, begitupun yang lainnya. Hari ini mereka mengikuti bazzar yang sudah Arka daftarkan.
"Siap bersaing mas ?" tanya Shania melingkarkan tangannya di perut Arka.
"Boleh !" jawab Arka, Shania bukan hanya partner ranjang, partner hidup, ataupun teman mengobrol dan bertukar pikiran, ia bisa jadi apapun, termasuk sekarang, temannya bersaing dalam hal positif.
Arka melongo melihat Gale dan Kia yang memakai kaos Pawon Kurawa mengikuti momy-momynya. Sedangkan untuk Andro, ia titipkan pada ibu dan bunda. Memang bukan cuma Arka saja yang harus mengerti, tapi Andro dan Gale pun rupanya cukup mengerti, jika ibunya sosok yang sibuk, namun yang terpenting bagi kedua anak ini, ibu mereka selalu terlihat dari bangun hingga mereka tidur lagi, Shania akan selalu ada bersama mereka.
"Sayangnya momy, jagoannya momy...momy pergi dulu ya. Kalo dedek kangen momy sama kaka, susul aja !" pamitnya.
"Bu, bunda, titip Andro hari ini. Kalo memang rewel bisa dateng aja ke bazzar," pesan Shania.
"Dadah dedekkk, kaka mau ikut momy !!!" pamitnya dengan bangga, harapan gadis kecil itu bisa kemanapun ibunya pergi dikabulkan Shania. Momynya tak pernah pergi kemana pun tanpa dirinya, kecuali toilet dan kamar saat bersama ayahnya.
"Iya nduk, hati-hati."
"Iya neng, neng Dara juga sama oma cantik aja atuh. Jangan ikut-ikutan, disana panas, capek !" pinta bunda, tapi bocah ini menggidikkan bahunya tak mau dan malah bersembunyi di belakang Shania.
"Ga apa-apa bun, mas Kala juga ada disana, Sha juga kan bikin standnya senyaman mungkin, soalnya ada anak-anak."
Jangan tanyakan lagi, siapa yang akan menjadi bintang di bazzar itu, sudah pasti geng kurawa selalu viral dimana pun mereka berada.
Dengan kaos putih yang seragam, mereka mulai menjajakkan nama Pawon Kurawa. Apalagi dengan wajah kece badai, membuat para pelanggan tertarik untuk melihat stand mereka. Cara promosi mereka berbeda dari semua yang ada disini. Terkadang mereka sampai berteriak-teriak hingga berpeluh dan suara serak untuk menjajakkan produk mereka.
Tapi tidak dengan geng kurawa.
"Siap berjuang guys ?!" tanya Shania.
"I'm ready, for money !" ucap Roy bersemangat.
"Iyalah, ga ada money..loe ditendang Inez dari ranjang ! Ha-ha-ha !" tawa Leli.
"Diem loe bontot !" Roy menjitak kepala Leli hingga si bontot itu mengaduh.
"Oh iya, gimana Inez sekarang Roy ? Masih muntah-muntah ?" tanya Shania.
"Masih Sha, lagi nginep di rumah ibu," jawab Roy kecut, pasalnya Inez tak mau disentuh Roy karena rasa mualnya dan lebih memilih menginap di rumah ibunya.
"Ha-ha-ha, sedih gue. Rasain loe ! Kecebong loe, yang bikin loe harus menduda dulu, bujuk deh tuh kecebong biar si Inez mau loe belai !" tawa Ari. Mereka malah tertawa diatas penderitaan Roy.
"Ntar malem juga minta dibelai, yakin deh. Tenang aja !" Shania menepuk pundak Roy.
"Emang se ngenes itu kalo ngidam Sha ? Ko gue ngenes ya, loe dulu gitu sama pak Arka ?" tanya Roy.
"Ga inget gue, tapi kayanya engga deh !" jawab Shania.
"Kaka, kaka duduk aja di sofa ya kalo capek," pinta Shania berjongkok pada Gale.
"Oke momy," jawab Galexia.
Melan dan Niken bergidik melihat para pemilik stand lain sampai berteriak-teriak untuk menawarkan produknya.
"Amit-amit gue, ga mau lah teriak-teriak gitu biar orang-orang pada lirik," decih Leli.
"Sama," jawab Melan dan Niken.
"Udah ga jaman teriak-teriak gitu," jawab Shania.
"Geser dulu," pinta Deni pada Ari.
"Sip !" jawab Guntur, "udah pas nih, ga ngalangin produk !"
"Oke, siap ?!" tanya Shania deni mengangguk.
Deni memetik senar gitar, bersama Guntur dan Ari yang bernyanyi sambil mengiringi lagu akustik.
Arka yang masih membantu mengawasi bersama beberapa karyawan dan teman-temannya sampai menoleh, bukan hanya pelanggan yang tertarik dengan cara promosi mereka, tapi pemilik stand lain pun sampai menengok ke arah mereka.
Aroma khas butter dan vanilla menyeruak keluar dari stand Shania membuat siapa saja pelanggan yang berkunjung ke bazzar pasti mengunjungi stand milik Shania, seperti lebah yang hinggap di kelopak bunga. Tak butuh usaha ekstra dan waktu yang lama, berhubung kue Shania sudah laku dan viral di pasaran, orang-orang jelas tau dengan produk Pawon Kurawa.
"Eh, itu Denial itu kan...!" tunjuk para pengunjung.
__ADS_1
"Itu kue yang viral itu kan," ucap mereka lagi.
"Itu kue viral, yang punyanya tuh yang cantik itu kan,"
"Berarti ini Pawon Kurawa yang asli, kan kalo yang asli yang ada Denial sama ka Shania-nya."
"Ketemu artis,"
Begitu yang terdengar oleh Arka.
"Ka, gileee...bini loe laris manis !" Priyawan yang baru selesai melayani pembeli menepuk pundak Arka.
Arka mengangguk setuju, "iya."
"Anak loe juga jadi penarik pelanggan Ka, Gale..." tambah Teguh.
"Ga nyangka aja gue, berasa baru kemaren Shania tuh cuma bisa ngerengek pengen putu ayu. Sekarang udah jadi pelaku bisnis aja. Laris pula..." aku Nino.
Shania dan yang lain sampai kewalahan menerima banyaknya pengunjung yang tertarik dan membeli produknya. Tak sedikit juga dari mereka yang meminta foto bareng dengan Shania, Deni dan personel geng Kurawa. Shania memang sudah merekrut pegawai, tapi pegawai bekerja di bagian dapur dan packing, sedangkan untuk promosi begini, mereka sengaja melakukannya sendiri. Bukankah para pelanggan ingin melihat sosok si pemilik dan yang menjadi icon produk ini selain daripada produk itu sendiri, itu adalah strategi promosi yang sudah lama.
Arka tersenyum melihat keberhasilan Shania dan kawan-kawannya.
"Silahkan kaka-kaka. Kaka Gale juga suka kue buatan momy, enak lohhh !" ucap Galexia ikut membantu mempromosikan.
"Ihhh, lucu banget siii !"
"Makasih," jawab Galexia. Tak sedikit yang ingin berfoto dengan Galexia juga.
"Kaka Shania, ka Deni...boleh minta fotonya ?" seorang pemuda meminta berfoto setelah membeli produk mereka.
"Boleh !" jawab Shania ramah. Tanpa sadar seseorang di sebrang sana sudah menatap tajam melihat itu. Belum kilatan kamera mengabadikan moment mereka, seseorang menghentikkan aktivitas mereka.
"Stop sebentar !" pinta Arka menghampiri.
"Kenapa mas ?" beo Shania dan si pemuda itu.
"Ini tangannya ga usah nempel-nempel sama istri saya!" ucap Arka membuat si pemuda itu nyengir.
Setelah beberapa jepretan foto, beberapa orang itu mengucapkan terimakasih.
"Mas ih, malu-maluin !" Shania mencubit pinggang Arka.
"Mas ga suka orang-orang apalagi laki-laki deket-deket sama kamu," ucapnya dingin.
"Cieee cemburu," Shania mencolek lengan Arka. Arka kembali ke stand miliknya tapi saat kembali ia membuat gerakan kedua jarinya sedang mengawasi Shania, Shania langsung terkekeh dan menghormat pada Arka.
"Kenapa Sha ?" tanya Melan.
"Pak bos marah, gue foto-foto sama laki !" jawab Shania tertawa.
"Gitu-gitu pak Arka mpok cecif Sha," kikik Leli.
"Itu tandanya dia sayang," timpal Guntur.
"Udah mau abis kan, gue mau jalan-jalan dulu bentar. Wahyu kapan bawa stok kue lagi. Jam segini udah mau abis, takut nanti makin sore makin rame ?!" tanya Niken.
"Bentar, gue kontak Wahyu, udah dimana. Yang laris apa ?" tanya Shania.
"Almond cookies, sama chessecake caramel, eh tapi creme brulee juga abis Sha," jawab Melan mendata satu persatu.
"Oke !"
Shania duduk di sofa, mengeluarkan kotak bekalnya. "Kaka makan dulu, sama Kia juga ya, sini momy suapin !" Shania mengeluarkan sendok dan garpu dari plastiknya.
"Ayahhh !!" teriak bocah itu saat Arka masuk ke dalam stand Shania.
"Kaka udah makan ?" tanya Arka.
"Ini baru mau disuapin momy," jawab bocah itu.
"Ko kaka Gale doang yang disuapin momy," jawab Arka.
"Ayah ?" tanya Arka menoleh pada Shania.
__ADS_1
"Apaan sih mas, manja !" Shania mendorong pipi Arka, malu ditatap menggoda oleh Arka.
"Yeee, ayah juga mau disuapin momy. Suapin ayah mom !!!" seru Gale.
Shania menyendokkan nasi dengan sendok yang berbeda daru Gale dan Kia untuk Arka.
"Ekhemmm, ga bener ini. Anak-anak diliatin mesra-mesraan emak bapaknya lagi pacaran. Sini anak-anak biar gue aja yang suapin !" pinta Niken, Shania tertawa.
Niat hati menyuapi anak-anak berujung malah menyuapi Arka.
Hari beranjak menuju sore, dan langit mulai menggelap, matahari yang sudah lelah kini kembali ke peraduannya.
Semua produk ludes terjual, hanya menyisakkan beberapa kotak saja.
"Woahhh capeek gue ! Ga nyangka gue bisa sukses besar gini Sha," ujar Ari.
Ari bahkan telah resign dari pekerjaannya untuk fokus di Pawon Kurawa.
"Besok survei outlet Sha," ujar Deni dan Guntur.
"Oke,"
"Jam 8 pagi Sha," diokei Shania.
Gale sudah tertidur di jok belakang.
"Andro sama ibu udah pulang belum mas ?" tanya Shania.
"Belum, kita jemput dulu."
Setelah menjemput Andro dan ibu mereka kembali pulang ke rumah, seharian mencari rupiah sesuatu yang menguras tenaga.
"Udah sampe ya ?" tanya Gale saat tubuhnya terangkat dan digendong sang ayah.
"Udah, kaka kalo mau bobo, bobo aja nanti mukanya di seka momy," jawab Arka.
"Tapi kaka belum gosok gigi, ayah ?!" mata sayu yang terantuk-antuk itu mulai segar.
"Ya udah, kalo gitu kaka gosok gigi dulu," Arka menggendong putri sulungnya ke dalam.
...**********...
"Keuntungan kali ini berlipat ganda mas, orang-orang juga tau yang mana Pawon Kurawa yang asli," ucap Shania senang.
"Iya momy, kaka juga seneng ! Besok kalo momy jualan lagi kaka mau ikuttt !" ucap bocah itu.
Galexia dan Andromeda duduk di karpet, dan belum mau tertidur, padahal ini sudah masuk waktu tidur kedua bocah ini.
"Tapi kalo promosi kaya tadi sampe foto-foto gitu mas ga ijinin lagi," sahut Arka.
Shania tertawa, gemas melihat sikap cemburu Arka yang terkesan seperti bocah.
"Iya mas, Sha kaya artis ya mas," kekehnya, melihat Shania cekikikan sementara ia harus menanggung cemburu membuat Arka ingin menggodanya. Arka bangkit dari sofa dan dengan sekali gerakan menggendong tubuh Shania, bukan ala bridal style tapi menggendong layaknya kuli panggul sedang menggendong sekarung beras,
"Aa...mas !!! Ihhh, turunin !" pekik Shania, sontak saja kedua anaknya ikut berseru.
"Ayah !!! Kaka juga mau, kaka juga mau !!!" teriak Galexia, si kecil Andro juga tak mau kalah.
"Ayah, dede ituttt !!!"
"Karena momy berani-berani deket sama laki-laki lain, let's go hukum momy !!!" seru Arka pada kedua anaknya.
"Mas ihhh !" pukulan Shanja di punggung tegap Arka.
"Let's goooo !!!" pekik Andro dan Gale.
"Ayahhhh, kaka mau digendong juga nanti !!!" Gale dan Andro mengekor di belakang Arka yang membawa Shania ke kamar, sementara ibu dan bi Atun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keluarga absurd ini.
.
.
.
__ADS_1