Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Extra part 4


__ADS_3

Shania bersama Arka dan kedua anaknya kini berkemudi dari rumah, tak lupa rombongan keduanya mengekor di belakang dengan motor dan mobil lainnya.


"Tumben si Niko mau ngikut ?!" gumam Shania melihat kaca spion ke arah belakang mobil.


"Mungkin ingin berbaur, mas ajak dia biar punya kegiatan positif juga Sha. Daripada kalo libur dia ga punya kegiatan," Shania berohria.


Sebuah daerah tak jauh dari ibukota menjadi tempat Arka membangun sekolah itu.


Terlihat pagar dinding yang membatasi area sekolah dari jalanan utama. Saking tak sabarnya, Gale sampai berjingkrak-jingkrak dan mencoba membuka kaca jendela mobil.


"Kaka awas, kepalanya jangan dikeluarin, nanti jatoh !" ucap Shania.


"Iya momy," jawab Galexia merasai sejuknya udara.


Mobil dan motor berhenti di depan sebuah bangunan permanen yang merupakan kantor dari Pondok.


"Wah, pagi-pagi sudah kedatangan rombongan ?!" seorang laki-laki menyambut kedatangan mereka.


"Pak Hadi !!!"


"Bokap gueee !!!!" mereka turun bersamaan. Tentu saja mereka hafal dan kenal dengan pria ini, terutama, Shania, Deni, Ari dan Guntur.


Pak Hadi memutuskan untuk pensiun dini, ia ingin tinggal di suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dan Arka tak tunggu lama lagi, untuk menawarinya sebagai penanggung jawab sekolah miliknya, ditambah pengalamannya menjadi guru terutama menghadapi anak-anak berandal.


"Bapakkkk !!! I miss youu pakk !!!" pekik mereka termasuk Shania, membuat Galexia dan Andro terbengong melihat ibu natckalnya memeluk laki-laki lain.


"Ayah, momy.." tunjuk Galexia.


"Itu kakek, salim sama beliau," pinta Arka pada Gale.


"Gue dulu !"


"Gue dulu !"


"Gue dulu, kangen sama bokap gue nih !" mereka malah berebut memeluk pak Hadi, membuat pak Hadi kewalahan sambil tertawa.


"Astagfirullah, kenapa saya harus berurusan sama kalian lagi, anak-anak bandel sepanjang sejarah !" pak Hadi mengurai pelukan dan mengusap ujung matanya, terharu melihat mereka, siluet sosok anak-anak berpakaian seragam putih abu melekat, tapi kini..mereka telah berubah.


"Sha, loe peluk aja pak Arka sana !" usir Guntur.


"Engga ah, udah bosen !" jawab Shania.


"Momyyy !!" pekik Gale berkacak pinggang menarik-narik baju Shania.


"Ha-ha-ha, anak loe tuh Sha ! Hussh !" usir Ari.


Di tengah-tengah pelukannya, deheman dari istri pak Hadi memecah euforia mereka dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Di skip dulu kangen-kangenannya, minum dulu ! Ada singkong goreng sama makanan lainnya,"


Mendengar kata makanan mereka langsung melepaskan pelukan dan mengekori bu Hadi ke sebuah bale-bale cukup luas yang terbuat dari bambu di pekarangan belakang kantor, dengan view kebun sayuran siap panen dan sawah yang di pinggirannya teraliri air dari kaki bukit.


"Masyaallah !!!!" gumam mereka.


"Sha baru ngeuh loh, mas. Ini luas banget !"


"Sesuai keinginan kamu," bisik Arka, Shania menoleh, "mas masih inget ?" tanya nya, mengingat dulu celetukan Shania yang bermimpi menginginkan masa tua dengan menatap sawah, kebun dan anak-anak berlarian mengejar ayam.


"Semua keinginan kamu, hingga hal terkecil pun selalu mas inget."


Ia menatap Arka penuh arti, tak tau harus berkata apa mendeskripsikan hatinya dicintai seorang Arkala Mahesa.


"Makasih mas, love you !" bisik Shania, Arka terkekeh, "nanti saja malam love you, love you-nya."


Shania mencubit Arka, "mesum !"


"Fatur dimana pak ?" tanya Arka.


"Fatur lagi mengawasi panen sawi pak,"


"Wahhh, tau gini gue juga mau jadi sukarelawan disini lah pak !" ujar Deni.


"Boleh Den, tapi bilang dulu sama bosmu, nanti jajaran timnya pincang satu," jawab Arka.


"Engga boleh !" tukas Shania tegas.


"Aduhhh, adem banget disini ya Allah !!! Pantes bapak betah disini," imbuh Ari pada pak Hadi.


"Iya nak, kalo sudah tua-tua begini kan lebih baik disini, jauh dari kepenatan kota, kerjanya ya balik lagi ke alam," jawab bu Hadi.


"Assalamualaikum," 2 orang gadis yang bersekolah disini menyapa mereka.


"Waalaikumsalam," keduanya salim takzim. Rupanya selain dari anak-anak putus sekolah yang dibawa Arka dan teman-teman, ada juga anak-anak dari desa sekitar yang kurang mampu bersekolah di sini.


"Bu Shania, kapan mau ngajarin kelas keputrian lagi bu ?!"


"Uhukk, ibu-ibu !" ledek Guntur, Ari dan Deni, mata Shania menyipit tajam.


"Eh, iya. Insyaallah nanti kalau ada waktu. Gimana perkembangan usaha panekuk ubi-nya ?" tanya Shania.


"Lumayan bu, sudah masuk koperasi desa sama sebagian bazzar UMKM !" jawab seorang gadis.


"Wahh, hebat..hebat !" decak kagum Shania.

__ADS_1


"Pelopornya bu Hadi nih," puji Shania.


"Ah, yang punya ilmu kan Shania,"


"Momy !! Kaka boleh kan liat kambing ?!" tanya Gale berlarian di halaman.


"Sebentar, tunggu kaka Fatur ya kak," jawab Shania.


"Assalamualaikum," Fatur, si pemuda yang dulu berjualan koran saat Arka berteduh, kini menjadi salah satu siswa disini dan sesekali menorehkan prestasi gemilang.


"Kak Fatur !!" teriak Gale.


"Hay Gale,"


"Ka Fatur, Gale pengen liat kambing kak, ayo kak !" ajak Gale menggoyang-goyangkan tangan Fatur.


"Ayah, momyy ! Kaka boleh liat kambing ?" pintanya.


"Boleh," jawab Arka.


"Boleh, ayooo !!" ajak Fatur.


"Tur, hati-hati ya !"


"Kia mau ikut, Kia mau ikut !" Kia beranjak dari pangkuan Niko.


"Ayo dek Kia," ajak Fatur.


"Hay, sayang...seneng ayam ya ? Mau ikut teh Mia ?" ajak gadis tadi pada Andro yang mengangguk.


"Bu, pak...boleh saya bawa Andro buat lihat ayam ?" tanya Mia.


"Boleh Mia, hati-hati ya !" Mia dan temannya mengangguk dan mengajak Andro.


"Dedek Mia, aa ituttt !" seloroh Ari.


"Dede mata loe soekkk !" Leli mendorong kepala Ari sampai terjengkang.


Secangkir kopi hitam, air teh manis ditemani singkong goreng, dan pisang goreng jadi sajian menjamu mereka.


Dua bangunan seperti asrama terpisah antara perempuan dan laki-laki terhalang kebun jagung dan singkong menjadi pemandangan berikutnya, sengaja dibuat untuk mereka yang tak punya rumah atau jauh dari rumah. Perpustakaan umum memang tak besar berada dekat kelas-kelas untuk belajar, ruangan-ruangan toilet berderet di samping dapur umum, rumah keluarga pak Hadi dekat dengan kantor di depan.


Sedangkan mushola dan ruang berkegiatan ekskul atau pengembangan diri dekat dengan kelas, terakhir kandang kambing, ayam, dan kolam ikan berada di ujung dekat dengan aliran air.


"Lagi panen singkong sama ubi, mau liat dan ikut manen ? Buat dibawa ke Jakarta ?" tanya Pak Hadi.


"Boleh pak, nih sekali-kali kerjain nih makhluk-makhluk bergelimang dosa !" tunjuk Shania.


...ΩΩΩΩ...


"Nih, pohon yang sudah siap panen !" tunjuk Robi salah satu siswa disini yang menemani Shania dan kawan-kawan ke kebun singkong.


"Sepatu loe buka kimvrit ! Pake gaya-gayaan nyabut singkong pake sepatu," pinta Roy pada Deni.


"Ini nyabutnya gimana ?" tanya Deni.


"Masa gini aja loe ga tau ! Liat nih gue, gini-gini gue si bolang !" ujar Ari jumawa menyisihkan Deni dari depan tanaman singkong.


"Bolang maksud loe bocah ilang gitu, Ri ?" tawa Melan.


"Ayo cobak Bolang dari desa Waka-wakakombobeko !" tantang Shania, gelak tawa tercipta termasuk Robi yang tak bisa menahan tawanya.


"Desa mana itu mak ?" tanya Leli.


"Au," Shania menggidikan bahunya.


Ari sudah mengambil ancang-ancang. Dengan sekuat tenaga ia mencabut pohon singkong tapi hasilnya nihil.


Satu kali ia mencoba sampai urat di pelipis dan lengannya menonjol.


"Bwahahahahahaha, bolang gadungan !" tawa mereka.


"Oke, coba loe Roy ! Yakin gue mah, apalagi loe, melehoy pasti !" tantangnya pada Roy.


"Ayo yank kamu pasti bisa !" seru Inez. Roy berhasil mencabut tapi ternyata umbi singkong malah tertinggal di dalam.


"Ha-ha-ha !" Melan, Niken, Leli, dan Shania sampai terpingkal-pingkal memegang perutnya.


Alhasil mereka harus menggali untuk mendapatkan singkongnya.


"Wihhh, gede-gede Bi !"


"Iya bu, singkong hasil panen disini gede-gede," jawab Robi.


"Biasa dijual kemana ini Bi ?" tanya Deni.


"Biasanya kalo urusan marketing sama pak Hendra, kadang ke pasar, kadang home industri atau kita olah sendiri biar lebih ada harga jualnya," jawab Robi.


"Gilaaa, pak Arka sama kawan-kawan keren lah !" decak kagum Guntur.


"Om gledek, ayo coba giliran loe cabut !"


"Kalo gue mah ahlinya dong," jawabnya, dan benar saja Guntur memang bisa, wajar karena ia memiliki kebun meskipun bukan kebun singkong.

__ADS_1


"Widihhhh om Gledekkk !!!" tepukan tangan mereka.


Karena kaki mereka yang kotor, Robi membawa mereka mencuci di parit irigasi.


"Wohooo, airnya jernih bruhh...kaya cewek pesantren !" pekik Ari.


"Saravvv, terus kalo cewek kota kaya gue dianggap apa om pong ?!" ujar Leli.


"Air PDAM, yang agak kuning sama bau besi !" jawab Roy.


"Ihhh, loe berdua !!" balas Leli mendorong keduanya masuk ke dalam parit jernih itu.


"Sat !! Oyyy !" seru keduanya tercebur ditertawai yang lain.


"Loe semua malah pada ketawa," Roy dan Ari mencipratkan air pada Melan, Niken, Leli, Deni dan Shania. Sedangkan Arka dan Niko sedang mengobrol bersama pak Hadi seraya berjalan berkeliling.


"Oyyy basah lah !" Shania menjauh.


"Sha, kalian apa-apaan. Masa kecil kalian kurang kerjaan," Arka memandang Shania dan yang lain bersama Robi.


"Kurang bahagia mas," ralat Shania.


"Ini nih mas, anak-anak ke_bo nih ! Malah pada mandi basah !" tunjuk Shania.


"Gue ga bawa baju ganti !" rengek Leli.


"Pake punya gue aja Cik, gue ada baju ganti di rumah pak Hadi, kalo sekalinya nginep disini. Atau punya Melan juga ada," diangguki Melan.


"Ka," panggil seseorang dari arah gerbang. Mereka menoleh


"Hendra,"


"Eh kak Hendra," jawab Melan.


"Lagi kesini ?" tanya Hendra.


"Iya Ndra, ada jadwal juga nanti setelah dzuhur !" jawab Arka.


Setelah makan dengan memancing ikan terlebih dahulu di kolam ikan, Melan mengambil jadwal mengajarnya disini, secara sukarela, begitupun Arka, Hendra. Kebanyakan tenaga pengajar pulang pergi alias tidak menginap, kecuali pak Hadi, dan ada 3 orang lainnya.


"Anak-anak kemana Sha ?" tanya Inez.


"Tidur, di kamar anaknya pak Hadi," keduanya duduk di belakang bale di antara anak-anak yang sedang belajar.


"Loe kangen ya Sha," tanya Inez, diangguki Shania.


"Banget Nez, gue kangen liat mas Kala lagi ngajar gini !" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Arka yang tengah mengajar.


Disana Niko, Deni dan yang lain memiliki kesibukannya sendiri-sendiri.


"Pak Arka pasti ngeluarin dana yang ga sedikit ya pak ?" tanya Deni saat mengobrol dengan pak Hadi dengan menatap jauh ke arah dedaunan pohon cengkeh yang riuh karena tersapu angin sembari menyesap vapenya.


"Pak Arka tidak sendiri Den, ia berhasil menggaet beberapa pengusaha muda ternama di Jakarta, bahkan sekembalinya dari Bandung, ia mendapatkan donatur baru. Bukan kaleng-kaleng, pengusaha RPH yang punya peternakan sapi di Pangalengan. Tuh !" tunjuk pak Hadi ke arah samping kandang kambing.


"Itu calon kandang sapi, donatur baru juga tak segan mengirimkan karyawannya untuk mengajarkan anak-anak disini beternak dan memberi peluang usaha baru. Anak-anak yang sekolah disini bukan hanya bisa belajar tapi juga bisa menghasilkan uang untuk mereka dan keluarganya di rumah," terang pak Hadi.


"Ck, salut sama pak Arka !"


"Jadi selain dari mahasiswa dan tenaga pengajar bersertifikat ada pula pengajar keahlian yang langsung dari orang-orang terlatih," lanjut pak Hadi. Deni, Niko dan Guntur mengangguk paham.


"Sayuran disini juga bagus-bagus !" ujar Niko.


"Iya, seperti yang bapak ucapkan tadi, donatur yang mengucurkan dananya disini bukan hanya memberikan materinya saja, tapi pula sama-sama membangun sekolah dengan memberikan ilmu dan orang-orang terlatihnya. Ini awal mula kebun, sawah dan peternakan dari dua orang donatur dari sebuah pesantren yang tidak mau disebutkan namanya, hanya bapak, pak Arka dan mas Hendra saja yang tau. Sesekali mereka sering berkunjung kesini juga untuk sekedar melihat keadaan disini,"


"Termasuk agama ?" tanya Guntur.


"Iya, termasuk agama," angguk pak Hadi.


Roy dan Inez sedang berjalan-jalan menikmati alam berdua, sedangkan Ari, Melan, Niken dan Leli tengah membantu bu Hadi di dapur memilah-milah singkong dan ubi.


Beres mengajar, Arka masuk ke dalam ruangan kantor Pondok, mengecek pendataan yang sudah disusun rapi oleh pak Hadi.


"Darrr !!"


Shania memeluk Arka dari belakang, "serius banget, mas lagi liat apa ?!"


"Data para donatur, kapan-kapan mas mau adain silaturahmi sekalian laporan tahunan," jawabnya.


Shania melihatnya satu persatu, tertera nama Armillo Dana Aditama, Alvian Jihad Kurniawan, Ramadhan Restu Al-Kahfi, Fateh Al-Razzam dan masih banyak lagi.


"Impian mas sudah terwujud," ucap Shania, kini Arka berbalik dan memeluk Shania dari belakang.


"Iya, satu kebaikan untuk seribu kebaikan, bukan hanya mas, tapi mereka," tunjuk Arka pada list yang dipegang.


"Makasih karena kamu selalu mendampingi mas sampai di titik ini Sha, mau menerima segala kekurangan mas. I Love you Shania," Arka sudah menyatukan wajah keduanya, deru nafas keduanya beradu.


"Huwaaaaa !!!!"


"Andro," Shania dan Arka menghambur.


.


.

__ADS_1


__ADS_2