
"Ka Alya kayanya lagi sakit," ujar Shania.
Bukan Arka yang menjawab tapi ibu.
"Iya sepertinya, ibu ko pangling ya. Nak Alya tidak memakai jilbab ?" imbuhnya mengerutkan dahi, tak ada satupun dari Arka atau Shania yang ingin menjawab ibu.
"Kurusan maksudnya bu ?" tanya Shania.
"Bukan, berasa apa ya ?!" ibu mengernyitkan dahi.
Selama Ramadhan Route 78 buka pukul 4 sore, bahkan di hari-hari yang sudah minggu ke 2 ini. Cafe sudah mulai rame dengan bookingan buka bersama. Termasuk angkringan yang kebanjiran orderan kue basah untuk takjil, karena dibuka secara online juga. Apalagi ramadhan begini, Arka sebagai managemen keuangan akan disibukkan dengan penghitungan tambahan seperti THR karyawan.
"Mas anter kalian pulang dulu, "
"Mas mau buka puasa di Route 78 apa di rumah ?" tanya Shania.
"Di rumah, mas mau cek cabang kedua dulu Sha, lanjut ke angkringan," ucapnya diangguki Shania.
Setelah mengantarkan kembali keluarganya ke rumah, Arka kembali pergi.
"Hati-hati mas,"
Pertanyaan dan obrolan Shania bersama ibu, bukan tidak memantik simpatinya terhadap Alya, setidaknya wanita itu pernah hadir di hidupnya. Arka bukanlah lelaki tanpa perasaan.
Tempo hari Alya menghubunginya untuk meminta maaf atas semua kesalahannya, termasuk pada Shania. Hanya saja Arka masih belum membolehkan Alya berbicara pada Shania, melihat reaksi Shania yang menolak keras saja sudah dipastikan bahwa istrinya itu tak mau lagi berurusan dengan Alya apalagi berbicara.
Tapi barusan itu, seperti hati Shania mulai merasa iba pada Alya.
"Mas, maafin Alya ya. Terutama untuk Shania, Alya banyak salah..."
"Makasih tidak mem block nomer Alya, Alya menyesal sudah berlaku kasar dan menyakiti Shania. Alya mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya dari mas dan Shania."
"Iya, kami sudah memaafkan," jawab Arka singkat tak ingin banyak berbasa-basi. Bukan karena Arka sombong dan angkuh, tapi lebih karena ia dan Alya sudah bukan siapa-siapa, lagi pun tidak baik Arka berlama-lama bicara dengan Alya, demi menjaga perasaan istri nakalnya.
"Alya sakit mas, kalau tidak keberatan, Alya mau minta do'anya."
"Insyaallah, semoga kamu lekas sembuh,"
****
Setelah menutup panggilan Alya, teman-teman angkringan seperti Nino, Teguh dan Priyawan membicarakan Alya.
__ADS_1
"Yang gue denger, sekarang Alya sakit.Tapi masih simpang siur sakitnya apa ?" ujar Priyawan.
"Loe ga tau Ka ?" tanya Teguh, Arka mengangkat alisnya sebelah dan menggeleng.
"Engga, setelah putus sudah tak ada kontak lagi. Ada pun tadi siang, dia minta maaf termasuk pada Shania, dan bilang dia sakit."
"Emang bener mamen kita yang satu ini, lempeng kebangetan," Teguh tertawa.
"Saya sudah tidak punya urusan lagi, perempuan yang harus saya urusi kesehatannya Shania, Galexia, ibu dan mertua saya."
"Arka laki sejati, ga kaya loe Guh. Laki tapi suka kepo !" tawa Nino.
"Kamvrettt !" sarkas Teguh menggerus puntung rokoknya.
"Mantan emang harus dibuang pada tempatnya. Lagian si Alya juga cowoknya banyak. Ngapain mesti diurusin, dulu gue kira si Alya baik-baik..ehhh ! Ternyata..." ujar Priyawan.
Diantara keempatnya hanya Arka yang lelaki tulen, sedangkan ketiga lelaki ini jika berkumpul bibirnya berubah jadi memakai lipstik. Jaman sekarang bukan hanya emak-emak yang suka ngomongin orang. Tapi lelaki pun memiliki dunianya sendiri, dan isi obrolannya sudah dipastikan tentang perempuan, se ks, uang dan tahta. Apalagi jika isinya seperti mereka, bujang yang hampir lapuk.
"Kabarnya si Alya kena HIV, "
"Hah ?!! Yang bener No ?" tanya Teguh, bola matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Kalo kaya begitu kan nyerangnya sistem imun, nah dia komplikasi sama TBC," jawab Nino si reporter berita. Voalah ! Ternyata Arka memiliki teman layaknya Inez.
"Kebanyakan dipake atau gimana ?" si bibir polos tanpa saringan milik Priyawan meloloskan pertanyaan random.
"Ga tau gue, Hihh ! Jadi ngeri, bukannya dulu loe mau nyomot Guh ?!" tanya Nino.
"Ogah, Ka..loe pernah nyicip ?" pertanyaan Teguh jelas tertuju untuk Arka.
"Engga," jawab Arka.
"Yakin ? Si Alya ga pernah goda-goda loe gitu, atau loe nya yang kuat iman ?"
"Ahh, ga mungkin kuat iman. Masa Shania yang bocil aja bisa sampe hamil, itu mah si Alya nya yang ga gencar !" tawa mereka kencang mendapatkan gelengan kepala Arka. Allah masih menyayanginya agar tak terjebak dengan Alya. Sempat dulu saat berdua di rumah Alya, gadis itu berlaku agresif bukannya Arka tak tergoda, tapi ia malah jadi tak suka dengan perempuan yang menyodorkan tubuhnya begitu pada laki-laki. Dulu ia pikir Alya hanya begitu padanya, dan memaklumi karena kondisi yang sepi, tapi memang Arka saja yang tak tau jika dibelakangnya Alya melakukan lebih dengan orang lain. Seharusnya ia sadar lebih awal, entah karena ia begitu sibuk jadinya tak peduli.
"Shania kuliah dimana Ka ?" tanya Priyawan.
"Kenapa, loe masih belum nyerah mau pepet istri Arka ?" tanya Nino menggoda sambil terkekeh, sontak saja dihadiahi pukulan Priyawan.
"Bank_ke, engga lah ! Gue ga segila itu !"
__ADS_1
"Di almamater hijau, fakultas teknik jurusan tata boga,"
"Ga jadi bareng ?" tanya Nino.
"Engga, rejekinya disana.."
"Wah, hati-hati dude. Bini lagi kinclong-kinclongnya. Meleng dikit, di pepet orang !" jawab Teguh.
Arka setuju, memang Shania-nya berbahaya. Selalu saja banyak pemuda yang siap berbaris untuknya. Apalagi jika tau Shania memiliki banyak kelebihan, hanya tertutup oleh sikapnya yang terkadang nyeleneh, tapi justru itu yang kebanyakan laki-laki sukai.
"Adek sepupu gue kuliah disana juga tuh, fakultas teknik juga kalo ga salah !" jawab Teguh.
"Siapa Guh ?" tanya Arka antusias.
"Yuna, baru semester 2."
"Oh, bisa nanti saya minta tolong Guh ?" pinta Arka. Nino dan Priyawan tertawa.
"Baru kali ini gue liat Arka ga pede gini, sampe butuh bantuan. Mau stalkerin bini bruh ?" ledek Nino.
"Mau sewa mata-mata, Shania kan gitu..suka tebar pesona tanpa sadar. Kaya loe dulu kan Pri ?" imbuh Teguh.
"Asem loe ! Itu dulu, sebelum tau kalo Shania bini Arka,"
"Cuma buat jaga-jaga," jawab Arka.
"Jaga-jaga biar apa Ka ?" goda Nino.
"Biar ga dicomot pemuda !" tawa Teguh.
"Shania terus yang disorot, terus apa kabar sama dude kita yang satu ini, apa di kampus ga ada yang ngedip-ngedip ?" tanya Priyawan.
"Ngedip-ngedip, dikira tuh cewek cacingan ?! atau lampu sen ?!"
Bagi Arka tak ada lagi yang lebih cantik dan menggemaskan dari Shania.
.
.
.
__ADS_1