Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Ambigu, speechless...


__ADS_3

Merinding disko ? Jelas !! Jika ayahnya sampai tau tentang aksi Shania kemarin, sudah dapat ia bayangkan, pria itu akan mengaum layaknya singa logo film tom and jerry.


Terkenal tegas dan galak sejak tahun 1830, lahir aja belum, wahhh...berarti setelah magrib sebelum isya dong 😁


"Mas, kalo ayah marah ?" tanya Shania takut, sepanjang perjalanan rasanya badan Shania menciut bak balon kempes dan nyalinya meleleh menyapu jalanan kota. Dari dulu, Shania memang takut pada ayah. Rasa traumanya dengan sikap keras ayah memang masih membekas sampai sekarang, meskipun kelihatannya Shania pecicilan dan super ajaib, tapi di balik itu jika berhadapan dengan ayah, ia adalah gadis manisnya ayah.


"Ada mas, kenapa harus takut ?" jawab Arka, ia memegang tangan istri nakalnya yang melingkar di perutnya.


"Kita ke klinik dulu, jangan sampai telat. Mas sih tak masalah jika dedek punya adik lagi, tapi dedek masih kecil."


"Iya,"


Selesai dengan urusannya yang menurut anjuran pemerintah untuk program ber-kb agar memberi jarak kehamilan, Arka langsung tancap gas, melesat ke rumah ayah.


Dari luar gerbang rumah tampak sepi, hanya ada mobil ayah dan bunda terparkir di sana.


"Mas, Sha ngumpet di badan mas aja ya ?!" Arka tersenyum.


"Ngapain, emangnya ayah gigit ?"


"Ya engga sih, tapi kalo marah bisa nendang gunung sampe kebalik !"


"Ngaco !"


Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," Arka menggenggam tangan Shania.


"Waalaikumsalam."


Terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk di kursi kebesarannya. Arka mendahului Shania salim takzim.


Percayalah, saat ini wajah gadis ini sudah pias seperti kehabisan darah.


"Ka, Sha..." ucap ayah seperti biasa datar. Shania hanya tak habis fikir, kenapa di tengah-tengah hidupnya yang nano-nano, bisa-bisanya ia mengenal kedua pria kaku ini, yang jelas-jelas adalah dua orang paling berarti di hidupnya. Seperti dirinya tercipta untuk meramaikan kehidupan mereka, secara Arka dan ayah adalah dua laki-laki satu frekuensi, datar, dingin, kaku dan jutek. Mungkin dulu, waktu remaja mereka kebanyakan gaul sama squidward si gurita, atau justru mereka satu geng ? hiyak..hiyak..hiyak !


"Baru ngampus, ngantor, atau ngajar Ka ?" tanya ayah.


"Dari kampus yah, terus jemput Sha.."


"Ayah kapan pulang dari Jambi ?" tanya Arka.


"Kemarin, bandara ke rumah sampai 2,5 jam kejebak di jalan, rekor !" jawab ayah berbasa-basi.


"Macet, gara-gara demo.." imbuh Arka.


"Gleukkk,"


Shania menelan salivanya berat. Atmosfernya mendadak dingin kaya di puncak Everest, diam seribu bahasa itu ternyata ga enak, dia tak berbakat untuk jadi pendiam.


"Ini kenapa, kaya ayam sakit ?" tanya ayah melirik Shania, Arka mengulum bibirnya.


"Dih, ayah... anak cantik dibilang ayam, ga liat nih Sha ga punya jengger /jawer !"

__ADS_1


"Kamu kan kaya gitu kemaren kan, kaya ayam berkokok waktu curhat masalah harga minyak di Senayan ?" benar tebakannya, ayah dan bunda tau.


"Dihhh, dikira ayam berkokok...kalo Sha ayam, berarti ayah indukan ayam," cebiknya.


"Ayah kenapa manggil kesini ?" tanya Shania to the point.


"Lho ko kenapa ? Emangnya kamu ga kangen sama rumah, sama ayah bunda, kenapa cucu ayah ga dibawa ?" tanya ayah. Shania melongo menyadari keblingerannya, efek dari rasa takutnya ia jadi hilang kewarasan. Benar juga apa kata ayah. Tapi sejurus kemudian bunda datang dari dapur.


"Neng !!!! Tingali (liat), anak bunda jadi artis, temen-temen bunda pada liat kamu di berita, geningan anak bunda teh meni shine alias bersinar kaya digosok pake sabun cuci piring pas di liat di tipi !" seru bunda memperlihatkan w.a grup emak-emaknya dengan tangan yang berwarna kuning.


"Ini tangan bunda kenapa kuning-kuning ?" tanya Shania.


"Oh iya !!!" bunda menepuk jidatnya.


"Ai ayah bilang engga sama Arka sama Shania kalo kita nelfon nyuruh kesini mau tumpengan ?" tanya bunda.


"Hah ?!! A..apa ??! Tumpengan ?" tanya Shania membeo. Ambigu, speechless, itulah yang dialami Shania.


"Engga, " jawab ayahnya singkat.


"Tumpengan dalam rangka apa bun ?" tanya Shania.


"Kan anak bunda teh udah bermanfaat buat orang sekitar, anak bunda juga jadi artis mendadak, alhamdulillah...baru kali ini anak bunda teh bener !"


Shania bukan lagi melongo, ayah sudah tersedak kopinya dan Arka benar-benar tertawa. Ia benar-benar percaya jika Shania adalah titisan bundanya. Jadi tujuan ayahnya memanggil bukan karena mau memarahinya tapi karena si bunda lagi tumpengan, syukuran karena ia ikut demo.


"Astagfirullah ! Selama ini emang Sha ga pernah bener gitu ?" manyunnya.


Dan kalimat ini memancing tawa kedua lelaki ini meskipun hanya tawa kecil.


"Maksud bunda Sha bukan orang selama ini ?!" tanya Shania.


Menanggapi Shania dan bunda memang harus dengan ketabahan yang hakiki.


"Ahhh udah ah, lieurrr !" tepis bunda melenggang ke arah dapur.


"Mas, ayahhhh ! Masa si bunda bilang Sha bukan orang !" rengeknya.


"Ayah kangen sama Dara, kenapa ga dibawa kesini atuh ?!" tanya ayah.


"Lupa, dikira ada hal penting apa ! Ternyata cuma mau manggil karena lagi tumpengan, " jawab Shania.


"Ga tau si bunda, ga penting kaya gini pake harus tumpengan segala," jawab ayah.


"Kira-kira masih lama ngga ? Biar mas bawa dedek sama ibu kesini pake mobil, Sha ?" tanya Arka.


"Bawa cucu bunda, Ka !!!" pekik bunda dari dapur.


"Iya mas, udah lama juga kita ga kesini !" Arka mengangguk, dan ijin untuk pulang dahulu.


Sementara Arka pulang, Shania ikut ke dapur menemani bunda dan bibi yang tengah memasak, tepatnya recokin sama nyicipin masakan.


"Dikirain Sha, ayah mau ceramahin Sha soal kemaren Sha ikut demo," ujarnya seraya mencomot mentimun dan sambal.

__ADS_1


"Kenapa harus diceramahin, yang harusnya diceramahin tuh yang diatas, bagus kamu berani bersuara !"


"Iya neng, bibi sampe bilang sama keluarga di kampung, kalo majikan bibi ikut demo buat bela nasib dapur rakyat kecil,"


"Oh iya, bu Rt juga kemarin sampe bilang makasih loh ! Emang neng ga liat berita ?" tanya bunda.


Shania menggeleng, "engga, mendingan liat spo_ngebob ! Lieurr liat berita mah, bawaannya pengen ngacak-ngacak orang !" jawabnya.


"Neng, ai mau ketemu sama anggota dewan tuh bajunya yang bener ! Dibilangin itu celana tuh buang ! Udah mirip keset, kirain celana eta udah dibuang dari dulu ?!"


"Dih, ga mungkin dibuang lah bun ! Sembarangan, celana gaul dibilang keset."


"Masa iya, mau demo make-up an dulu !"


"Tapi ketang, anak bunda mah udah cantik dari sana-nya nurun dari bunda," jawab bunda penuh percaya diri, Shania memeletkan lidahnya membuat gerakan muntah.


"Neng, kenapa tadi ditelfonin ga diangkat ?" tanya bunda.


"Hapenya dijabel lagi sama mas Kala," gerutunya.


"Lha ! Kenapa ? Ada lagi yang ganggu ?" tanya bunda.


"Banyak, yang ngajak kenalan !" jawab Shania, Bunda tertawa..rupanya Arka dingin-dingin nyeremin, posesif, kaya ayah Shania jika menyangkut orang tak dikenal.


Sejak kemarin, tidak sedikit nomor tak dikenal menghubungi Shania, entah itu sekedar mengirimkan pesan, atau menelfonnya mengajak berkenalan, hingga membuat ponsel yang semula sudah Arka berikan kini diambil lagi oleh si penguasa alam berjuluk suami itu.


"Bunda juga banyak nomor ga dikenal neng, akhir-akhir ini !" jawab bunda.


Shania melirik serius, "beneran bun, ngajak kenalan juga ? Terus ayah gimana ? Cemburu ?!" tanyanya excited.


"Bukan, nomor yang nawarin pinjaman online,"


Bunda tertawa melihat wajah kecut Shania.


"Neng !!!! Mau kemana ?" tanya bunda.


"Ke Hutannnn !!!! Mau berguru sama Sinto gendheng, biar kebal ngadepin orang kaya bunda !" pekiknya menuju lantai atas, dimana kamarnya dulu.


.


.


.


Noted :


*Geningan di kalimat diatas semacam kalimat spontan seperti Lha dalahhh jika di jawa.


*Lieur : pusing.


*Dijabel : diambil, ditahan.


Kira-kira kalo mimin kasih selipan cerita geng kurawa, para readers keberatan ngga sih ? 🤔

__ADS_1


__ADS_2