
Suara bel rumah berbunyi, pertanda bahwa ada yang datang ke rumah.
"Siapa tuh ?" tanya Melan.
"Tamu, Sha ?" tanya Leli
"Ga tau, gue cek dulu !" Shania beranjak.
"Yank, itu kayanya udah datang !" ujar Inez pada Roy yang baru saja dari toilet.
"Sha, biar gue aja ! Kayanya paket gue," ucap Inez.
"Oh oke,"
"Paket apaan loe ? Buku kam@_sutr@ apa bom ?" tanya Ari tertawa.
"Si@*lan ! Paket buat ponakan gue, ya Gale ?!!" seru Roy mencubit pipi Gale yang digendong Shania.
"Apaan Roy ? Ga usah ngada-ngada !" wanti-wanti Shania.
"Tenang aja Sha," ujar Inez.
Roy ke depan dan menghampiri seseorang, ia kembali dengan membawa pet cargo berwarna pink.
"Tadaaaaa !!!"
"Apaan tuh ?!" tanya Leli.
"Ga usah aneh-aneh nyonk...ntar ponakan gue celaka !" ancam Deni.
"Kagak lah, emang muka gue muka penjahat ya, loe semua ga percaya ?!" tanya Roy.
"Tepatnya sih muka kriminal !" jawab Guntur.
"Kimvriitt," desis Roy, tapi Inez malah tertawa.
"Yank, ihh...gini-gini kamu cinta, tiap hari elusin pipi aku !" ungkap Roy.
"Aneh deh gue, si Inez mau-maunya sama nih ko_lor ijo !" kelakar Ari.
"Disirep kali...disirep..." jawab Melan.
"Disirep pake tatih tayang," jawab Roy so imut membuatnya dihadiahi toyoran oleh Inez.
"Say hallo to Denok, Galeeee !!" seru Roy mengeluarkan seekor kelinci putih dari dalam pet cargo.
"Ihhh lucuuuu !" seru Shania, Melan, Niken dan Leli saat kelinci putih itu melompat kecil mendekati Gale. Awalnya bayi umur 8 bulan itu mengerjap aneh, tapi kemudian ia tertawa senang.
"Bilang apa sama om Roy sama onty Inez sayang ?" tanya Arka.
"Makasih ontaaa, ontiii !" jawab Guntur seimut mungkin ditertawai yang lain.
"Si@*lan !" dengus Roy.
"Ihhh, snowy yank namanya jangan Denok !" ketus Inez.
"Ga usah so inggris yank, ini mah asli dibawa dari Lembang jadi namanya Denok," jawab Roy.
"Ini malah jadi berantem, baru juga jadian masa mau putus ?!" ujar Leli.
"Biarin, biar gue ada temen !" imbuh Guntur.
"Dih, om Gledek ga bener !"
Akhirnya mereka ke teras belakang untuk bermain bersama Gale dan kelincinya. Gale tampak senang dan berseru, terkadang bayi gemoy itu merasa gemas dengan kelinci miliknya.
"Denokkk...denok...!" panggil Roy.
"Snowyyy ihhh !" dengus Inez.
"Ini yang punya kelinci mereka atau Gale sih," bisik Niken kencang.
"Tau !!" anggukan kepala Melan.
"Loe ga mual-mual kaya Shania, Ken ?" tanya Leli, Niken menggeleng.
__ADS_1
"Engga, alhamdulillah !"
"Mas, Sha seneng deh liat dedek seneng...punya temen kaya mereka bikin Sha makin bersyukur, apalagi ditambah punya mas sama dedek," ucap Shania yang berada di dapur menyiapkan makanan bersama ibu dan Arka.
"Alhamdulillah," jawabnya, sedangkan ibu hanya mengulas senyum, akhirnya anak menantunya selalu rukun.
"Mas, ko Sha aneh sih..bisa secepet itu ya Niko insyaf ?! Padahal kemaren nyolot banget sama Sha, ga mau tanggung jawab, katanya belum siap !"
"Alhamdulillah'in aja Sha, Niko bisa dikasih ilham secepet itu ! Iya kan bu ?"
"Iyo, nak." Seperti biasa ibu selalu lembut.
Flashback
Arka mendatangi cafe dimana Niko bekerja, memintanya bicara antara laki-laki bersama keluarganya.
"Ada pak Niko ?" tanya nya pada karyawannya.
"A..ada pak."
Tadi sales panci sekarang siapa lagi nyariin pak Niko ? benak si karyawan. Karyawan tersebut memanggil Niko.
"Astaga !!! Siapa lagi sih !" gerutunya kesal.
"Loe siapa lagi ?! Suruhan si Niken ?!" tanya nya sengak.
"Bisa kita bicara sebentar ? Saya datang kesini bukan atas suruhan siapapun," jawab Arka dengan wajah dinginnya.
"Saya Arkala Mahesa, suami dari Shania Cleoza, ibunya Galexia, perempuan yang tadi labrak kamu dan bawa semua surat-surat penting milikmu."
Raut wajah Niko semakin keruh, "oh jadi loe lakinya si Shania ! Bilang sama bini loe balikkin semua KTP, SIM, ATM, sama credit card gue !"
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas tindakan istri saya, maaf..kenapa istri saya tidak berbuat yang lebih dari itu ! Apa yang mereka ambil tidak seharga dengan apa yang sudah kamu ambil dari Niken, kamu hancurkan masa depan. Kamu renggut harapan dan cita-cita kedua orangtuanya yang sudah mereka gantungkan pada Niken. Lalu dengan mudahnya kamu buang sosok wanita yang kini tengah mengandung anakmu dengan mudah dan rendahnya, sedangkan kamu mencari kesenangan yang lain ? Kamu anggap perempuan itu apa ? Hanya pemuas navssu ?" ucapan panjang kali lebar kali tinggi dan bervolume Arka membuat lelaki ini terdiam.
"Bagi istri saya Niken adalah teman, sahabat, keluarga yang baik. Bagi kedua orangtuanya Niken adalah anak, kebanggaan, dan sebagian hidup mereka."
"Saya sangat menyayangi istri saya, tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk orang-orang disekitarnya. Jika kamu enggan ber-etikad baik maka saya tidak segan membawa aparat untuk membuat kamu membayar semuanya," ucapannya tidak meledak-ledak seperti Shania, namun melalui sorot mata dan ucapan dinginnya mampu membuat Niko berfikir 10 kali.
"Tunggu sebentar," Arka meninggalkan Niko ke arah mobilnya lalu kembali dengan secarik kertas dan materai.
"Married is not disaster, (menikah bukan sebuah bencana) insyaallah Allah akan berikan berkah apalagi ada anugerah disana," (kehamilan Niken)
Niko akhirnya membuat perjanjian jika ia akan bertanggung jawab atas Niken, ada beberapa poin termasuk tindak kekerasan di dalamnya. Setelah itu Arka mendatangi rumah Niken dan memberikan selembar surat salinannya pada Niken.
"Pak," Niken dengan mata berlinangnya.
"Biar yang asli saya yang simpan untuk jaga-jaga. Orangtuamu sudah tau ?" tanya Arka, Niken mengangguk seraya menangis.
"Makasih banyak pak, tadi Niko menghubungi Niken. Kalau nanti malam dia kerumah bersama kedua orangtuanya."
"Alhamdulillah, Allah masih sayang kamu,"
"Kalau bukan karena bapak dan Shania...." ia sudah sesenggukan.
"Sudah Ken, Allah yang menggerakkan hati Niko. Ucapkan terimakasih pada Shania saja, kalau bukan Shania yang bicara saya tidak akan tau," jawab Arka.
"Iya pak, makasih."
"Saya pamit Ken, sudah telat ke kampus. Saya tadi ijin pada pihak kampus hanya sebentar," pamit Arka.
"Iya pak,"
Flashback off
"Iya, nanti kalo ada si Ilham, Sha ucapin.. alhamdulillah makasih !" jawab Shania membuat Arka mengacak rambut Shania gemas. Ibu membiarkan sepasang pengantin lawas ini berduaan dan kembali ke ruang tengah dimana bi Atun tengah beres-beres.
"Ga usah diacak-acak gitu mas. Sha baru sisiran !"
"Nanti mas sisirin lagi," jawab Arka memeluk Shania dan menciumi kepala Shania.
"Mas ihh, ini Sha lagi megang wajan panas, tampol pake spatula juga nih !" Shania mengacung-acungkan spatula yang dipegangnya.
"Galaknya momy dedek, pantesan laki-laki pada takut !" kekeh Arka menggoda Shania.
"Bukannya bagus ya, biar Sha ga ada yang deketin ?" tanya Shania.
__ADS_1
Arka mengangguk, "iya bagus. Setidaknya kalo mas ga ada, kamu bisa jaga diri."
"Mas kesambet jin qorin-nya Roy ya sekarang, jadi seneng gombal ?!" tanya Shania membuat Arka kembali tertawa kecil, "ga suka emangnya, bukannya perempuan seneng digombalin ?"
"Perempuan mana tuh ?!!!" sewot Shania.
"Nah, terus siapa yang bilang kalo mas kelewat dingin kaya es, kelewat datar kaya penggaris ?"
"Siapa ? Sha ga ngerasa ?!" cebiknya ketus.
"Amnesia lagi ?" tanya Arka tertawa membuat bibir manyun itu ikut tertawa, "ihhhh !"
Terkesan aneh memang, jika orang lain romantis-romantisannya di kamar, atau taman. Mereka berdua justru malah di dapur, depan kompor panas dan masakan yang hampir matang, sampai mereka dikejutkan dengan tawa bala kurawa dari teras belakang.
"Ha-ha-ha !!! Sokorin, makan tuh ta*ik si Denok !" seru Ari dan Guntur senang.
"Denok ! Ko lo malah bokerin gue, bapak loe sendiri ! Gue kutuk juga loe !" keluh Roy.
"Cuci yank !" pinta Inez.
"Idih stress kelinci loe ajak ngobrol, Nez..si kojo (ko_lor ijo) kebelet kawin kali tuh !" cebik Melan berseloroh.
"Kawin...kawin...nikah Cik Mel, bahasa loe kaya minta di ajak ke KUA !" jawab Ari.
"Ajak om pong, bungkuss !" seru Deni.
"Eh ini kalo kelinci boleh ga sih dikasih snack gini ?!" tanya Leli.
"Kasih aja Li, sekalian loe kasih soda-nya biar dia seger !" jawab Ari.
"Seblak Li, pentol kali aja dia lagi pms pengen yang pedes !" tambah Guntur.
"Sue loe berdua !"
"Ehhhh, ntar siang ke butik yuuu !!! cari seragaman !" pekik Shania dari dalam.
"Yuu, butik mana Sha ?" tanya Melan.
"Temen bunda, kali aja dikaaih diskonan !"
"Dibilangin kalo mau yang seragam pake kaos partai," jawab Guntur santai mengelusi si Denok bersama Gale.
"Minta di jorokin ke sumur nih om Gledekk !"
"Lagian ciwi ribet banget, pasti sibuk cari kebaya kalo mau kondangan. Kaya emak gue di rumah, sibuk ke 'kang jahit. Pake aja apa yang ada !" ujar si sadboy.
"Gini nih, kalo ngomong sama cowok galau. Dunia berasa hitam putih !" jawab Leli.
"Justru karena ga ada lagi baju, masa pake yang itu-itu terus. Biar tampak beda !" ucap Shania memekik sambil melongokkan kepalanya.
"Kalo mau beda mah lilitin aja daun pisang, pasti paling beda !"
"Loe kira gue lontong !!" sarkas Shania muncul dari dalam, Deni sudah tersedak keripik sedangkan Arka, Ari dan Roy hanya tertawa melihat perdebatan Malin dan ibunya.
"Sono loe ke Bikini bot_tom !" ujar Shania.
"Mau ngapain mak ?" tanya Guntur.
"Biar di ruqyah sama tuan crab !" jawab Shania.
"Tuan crab alih profesi sekarang gantiin ustadz Dullah ?" tanya Deni.
"Emang si tuan crab bangkrut ? Udah ga dagang krabby patty lagi ?" tanya Roy.
"Engga, kemaren ada lewat depan rumah gue dagang obat," timpal Ari.
"Kalian mabok apa sih ?!" tawa Niken.
Malin kundang beda versi, kalo yang legenda kan ibu Malin baiknya kebangetan, ga pernah ngelawan beda sama yang ini 🤣
.
.
.
__ADS_1
.