
Arka sudah bersiap dengan pakaian casualnya, koper sudah ia masukkan ke dalam mobilnya.
Sudah 2 jam bocah perempuan ini menangis, hidung dan matanya sampai memerah seperti buah tomat.
"Ayah ga akan lama kan ? sole atau malam nanti pulang kan ?!" ucapnya terbata digendongan Arka dan melingkarkan kedua tangannya di leher Arka. Diusapnya kedua mata Gale yang sudah sembab dengan sayang.
"Gale sudah mau jadi kaka, harus berani, ga boleh nangis, sekolah yang rajin...jagain momy sama dedek yang ada di perut momy selama ayah pergi."
"Hiks...hiks..." masih tersisa tangisan disana, tapi bocah itu mengangguk.
Melihat koper dimasukkan ke dalam mobil, bocah ini bukan tidak tau jika ayahnya akan pergi dalam waktu yang tidak sebentar.
"Belapa lama ? sehali, dua hali, tiga hali ?" hitungnya menunjukkan jarinya.
"Kaka sudah bisa berhitung," Arka mengulas senyum, mengacak rambut anaknya dan mengecup kepalanya lama.
"Gale mau ikut ayah !" sekali lagi bocah ini menangis.
"Kalo kaka Gale ikut ayah, momy sama dedek utun siapa yang jagain. Nenek, opa, oma cantik juga ? Gini aja, setiap selepas kaka Gale sama momy solat isya, ayah video call. Nemenin kaka sampai bobok ?" tawar Arka, Gale mengangguk.
"Janji ?" Gale menunjukkan kelingkingnya. Arka tersenyum dan menautkan kelingkingnya di kelingking mungil anak sulungnya.
"Insyaallah, sekarang kaka turun dulu," pinta Arka menurunkan Gale dari gendongannya.
"Hati-hati le, jaga kondisi. Jangan khawatirkan anak istrimu disini, banyak orang yang jaga," pesan ibu.
"Nggeh bu, titip Shania. Ibu juga jaga kondisi," jawab Arka salim takzim pada ibu.
"Hati-hati Ka, kalo udah nyampe di rumah kabari. Jangan khawatir Shania sama Gale disini. Fokus sama urusanmu biar cepat selesai," ucap ayah, Arka beralih salim takzim pada ayah.
"Titip Shania, Gale, sama ibu Arka, yah," jawabnya.
"Insyaallah," ayah menepuk punggung Arka.
"Ka, jaga kesehatan. Nanti ada Yeni sama suaminya yang menemani disana, biar kalo ada apa-apa bisa minta tolong," ucap bunda.
"Iya bun, makasih atas semuanya." Arka salim takzim pada bunda.
Kini Arka berhadapan dengan istri nakalnya, ibu dari anak-anaknya, menatap Shania lama-lama yang sudah mulai berlinang.
"Saya bukan target mudah untuk digombali, kamu bukan tipe saya,"
"Berusahalah sekuat tenaga kamu, sekuat apapun kamu mencoba bertahan, sekuat itu pula saya akan menolak,"
"Saya terima nikah dan kawinnya Shania Cleoza Maheswari binti Malik Sahari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"
"Dasar gadis ceroboh,"
"Saya tidak mencintainya,"
"Perjanjian pernikahan, kasih waktu satu tahun pak, mari bercerai..."
"Pernikahan bukan main-main !"
"Mari sama-sama belajar saling menyayangi,"
"Shania ga mau hamil !!! Gugurin aja !"
"Love you to the bone,"
"I love you to the moon and back, Shania."
Lamunan Arka tersentak oleh pelukan hangat Shania.
"Mas, jaga kesehatan di Bandung. Jangan lupa telfon Sha sama Gale, Jangan sampai nyusahin orang disana. Disana ga ada Sha, ga ada Guntur, Ari dan anak kurawa lainnya yang selalu siap sedia kalo mas mau apa-apa."
Arka semakin mengeratkan pelukannya. Matanya sedikit blur, seumur-umur ia tidak pernah menangis selain saat bayi dan ketika sang ayah berpulang, tapi hari ini, ia begitu berat meninggalkan dua gadis kesayangannya terlebih Shania sedang mengandung anak kedua mereka.
Arka mengecup kening Shania lama, seperti tak mau melepaskan wanitanya.
"Jaga kondisi selama mas tidak ada, jadi strong momy ya ! Jaga dua malaikat mas," Arka mengusap perut Shania yang masih datar lalu mengecupnya.
"Jangan lupa periksa kesehatan juga, kamu punya anemia," lanjutnya.
"Iya mas, Sha bakalan kangen mas !"
Demi apa ? Kini tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Apa ia batalkan saja kepergiannya ?
"Mas juga, love you Shania.." bisiknya di telinga Shania membuat Shania terkikik geli.
__ADS_1
"Love you too mas," balas Shania.
Arka mau tak mau melepaskan pelukannya.
"Mas pergi dulu Sha. Ayah pergi dulu ya kaka. Bu, ayah, bunda, Arka pergi dulu, assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam,"
"Ayah hati-hati !!!" pekik Gale, Arka berbalik dan tersenyum menghormat pada Gale.
"Siap tuan putri !" jawab Arka.
Mobil Arka semakin menjauh dari rumah dan menghilang dari pandangan.
****
Dan seperti janjinya, setiap selepas menunaikan salat isya, Arka selalu menghubungi kedua gadis kesayangannya.
Terlihat dari layar ponselnya kedua wanitanya dengan masih memakai mukena.
"Ayahhh !!!" pekik Gale.
"Assalamualaikum, kaka, momy, dedek..." ucap Arka.
"Waalaikumsalam ayah," jawab keduanya.
"Ayah, tadi di sekolah kaka jatuh," adunya. Seperti itu jika setiap Arka menelfon, selalu gadis kecilnya yang bicara panjang lebar dengan durasi yang lama, sampai terkadang Shania dan Arka sendiri tak ada waktu mengobrol selain saling memandang satu sama lain lewat layar ponsel untuk mengobati rasa rindu.
Hari ini Arka begitu sibuk, selain karena ia yang memang tengah mengerjakan tugasnya, Arka juga tengah membangun sekolah gratis di daerah dekat Jakarta sesuai impiannya. Sudah 2 tahun belakangan ini ia mengerjakan project amalnya itu, mengumpulkan donatur, perijinan dan tentunya dana. Jika sesuai rencana, sepulang ia dari sini, sekolah itu akan beroperasi.
Shania tau, bahkan Shania adalah mata, telinga dan tangannya di sana. Bersama beberapa teman mahasiswa dan pelaku bisnisnya, Arka membangun sekolah gratis. Meskipun di kampus pun jabatannya yang membantu sekertariat kesenatan hanya sementara hanya sebagai tenaga bantuan saja, berhubung ia yang sedang mengambil program S2 tak bisa mengikuti berbagai kegiatan kepanitiaan seperti layaknya saat ia mengambil S1. Karena kiprahnya dulu yang begitu diakui ia kembali dimintai bantuan sebagai pembimbing di kesenatan. Setidaknya, itu mempermudah Arka mencari donatur dan rekanan dalam project amalnya.
"Momy, kenapa ayah belum telfon ?" wajah menggemaskan itu cemberut dan berlinang air mata.
"Mungkin ayah masih sibuk, nanti juga telfon. Kan biasanya juga gitu," jawab Shania.
Sampai bocah perempuan itu tertidur dengan mendekap ponsel sang ibu, Arka belum juga menelfon.
Drrtt...
Drrtt....
"Assalamualaikum mas," Shania mengarahkan kamera ponsel dan menyimpannya di depan meja karena ia yang masih bergulat dengan sisa pekerjaannya. Wajah cantik istrinya menghiasi layar ponsel membuat Arka tersenyum.
"Waalaikumsalam, maaf mas telat telfon. Hari ini mas sibuk Sha,"
"Ga apa-apa mas,"
"Gale sudah tidur ?" Shania mengangguk.
"Hari ini Gale berantem sama temennya mas," lapor Shania.
"Berantem kenapa ?"
"Gara-gara temennya usil, terus bilang Gale gendut," kekeh Shania.
"Cuma karena dibilang gendut ?" tanya Arka, tapi sedetik kemudian keduanya berkata bersamaan.
"Kaya Sha !" ucap keduanya, Shania lalu tertawa.
"Tadi nangis, sampe ketiduran. Nunggu ditelfon mas kaya lagi nungguin diapelin pacar," tawa Shania. Tak lama ia bersin-bersin.
"Hatcim !"
"Sha, kamu sakit ? Wajah kamu pucat, suara kamu serak gitu ?" tanya Arka khawatir, terlihat raut wajah lusuh dan lelah Shania.
"Iya mas, Sha kena flu. Sha cuma capek aja mas," jawabnya.
"Sudah ke dokter ? Sudah minum obat ?" tanya Arka.
"Udah mas, Sha sekarang ga bandel ko. Sha tau sekarang kewajiban Sha tuh penting banget, Sha ga boleh manja, ga boleh lama-lama sakit."
Arka tersenyum, gadis manjanya sudah dewasa.
"Maaf mas ga ada disana, buat bantuin kamu minum obat," selorohnya.
"Dih, mesum ! Maunya mas itu mah,"
"Gimana Bandung ?" tanya Shania.
__ADS_1
"Sejauh ini masih sama, dinginnn ! Jadi semakin rindu sama momynya Gale," jawab Arka.
"Idihhh, mas mesum terus !" cebiknya lalu tertawa.
"Rindu memang menyiksa, saat ini mas tersiksa rindu Sha..." ujarnya.
"Mas lagi nyanyi apa puisi ?" tawa kecil Shania.
"Lagi kangen kamu, istri nakal mas."
"Kangen pak guru juga," jawab Shania.
"Maaf kalo minggu-minggu ini mas belum bisa ke Jakarta,"
"Ga apa-apa mas, Sha ngerti mas sibuk. Sha mau nunjukin sesuatu sama mas," ucap Shania.
"Apa ?" tanya Arka. Shania mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Tadaaaa !!!!" selembar foto usg kandungan.
"Baby wowo mas !" seru Shania.
"Alhamdulillah, sehat kan ?"
"Alhamdulillah, sehat dong !" jawab Shania.
"Mas disini cuma 4 bulan, tapi berasa kaya bertahun-tahun," ucapnya, kini ia tau dan merasakan apa yang disebut rindu, sayang, dan mencinta, jika dulu ia selalu bermain logika, mengatakan laki-laki kebanyakan berlebihan dan lebay saat berkangen-kangen ria dengan pasangannya alias bucin. Tapi sekarang ia tarik kata-katanya, kini ia merasakan betapa rindu itu menyiksa hati dan pikirannya.
"Disana ada murid kaya Sha, ga mas ?" tanya Shania.
"Ada, mirip kamu sama genk kamu."
"Hah ?! Beneran ? Cewek apa cowok ?" tanya Shania.
"Cowok," jawab Arka.
"Ha-ha-ha, alhamdulillah !" Shania mengurut dadanya.
"Siapa namanya ?"
"Azkara,"
"Salam buat Azkara ya mas, bilangin makasih banyak dari Sha sudah hadir disana buat mewarnai hari-hari mas sama aksi dia, setidaknya dia bakalan selalu ngingetin mas sama Sha, akhirnya mas merasakan jadi pak Hadi !" kekeh Shania, Arka menggelengkan kepalanya.
Mereka menghabiskan waktu malam mereka dengan bicara ngaler ngidul layaknya sepasang kekasih yang tengah bucin-bucinnya.
"Sha, love you till the end..."
"Too mas, love you polepel mas ! Lope lope sekebon singkong," jawab Shania.
"Sudah malam, mas matikan telfonnya ya. Kamu harus istirahat,"
"Iya mas, besok pagi telfon lagi. Kasian kaka nungguin mas kaya nungguin dapet kupon sembako dari kecamatan," pinta Shania.
"Iya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arka menutup telfonnya.
Seiring berjalannya waktu, sepasang manusia yang tak saling mengenal, kini justru saling mencinta. Melewati kerasnya ujian kehidupan bersama. Arka bukanlah sosok manusia sempurna layaknya nabi, begitupun Shania. Keduanya adalah tempatnya dosa dan kekhilafan, tapi semua yang terjadi membuat keduanya sama-sama belajar. Perjalanan mereka masihlah sangat panjang kedepannya. Dan atas nama cinta, keduanya bisa saling menguatkan.
END
Akhirnya kisah neng Sha yang natckal dan pak guru yang kaku sudah berada di penghujung jalan. Terimakasih banyak teruntuk para readers yang sudah setia menemani keduanya, dari awal hingga akhir, mengikuti kisah layaknya pasang surut air laut. Mimin mengucapkan terimakasih atas dukungannya selama ini buat ISTRINYA PAK GURU ? Untuk seikat bunga mawar merah, secangkir kopi hangat, tiket kereta, hingga tips koinnya. Neng Sha, pak Guru, dan geng kurawa mengucapkan banyak-banyak terimakasih, hatur nuhun, matur suwun, thank you.
Maaf jika ada kata atau tulisan yang kurang berkenan di hati dan belum sesuai ekspektasi para pembaca, cerita ini masih jauh dari kata bagus, keren, dan sempurna, mimin masih belajar dan terus belajar. Jangan samakan dengan kenyataan ya guys, karena semua yang ada disini murni hasil kehaluan mimin yang haqiqi.
Oh ya dan untuk visual, maaf banget kalo mimin tidak bisa menyajikan visual pemeran neng Sha dkk. Karena jujur mimin belum menemukan gambaran yang cocok sesuai imajinasi mimin. Takutnya juga malah mematikan imajinasi para pembaca, jika tidak sesuai.
Akhir kata, mimin ucapkan sampai jumpa di karya mimin selanjutnya ya, siapa tau setelah ini mimin akan mengupas kisahnya om Gledek putra petir yang ternyata anak juragan jengkol atau anak-anak sengklek bin berandal mimin lainnya..upsss !🤫ðŸ¤
.
.
.
.
__ADS_1