Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
ekstra part 3


__ADS_3

Dapur Kurawa dirubah lagi jadi Pawon Kurawa, dengan gambar sosok animasi wayang Kurawa memakai baju chef pink dan memegang rolling pin, menjadi logo produk kue-kue Shania.


"Astaga, ck..ck ! Kalo bala Kurawa denger auto pada bangkit dan turun ke bumi, pamornya loe giniin, sejak kapan palu gada rubah jadi rolling pin ?" decak Guntur.


"Sejak...barusan kita cetak !" tawa Melan.


"Sha, pesenan langsung lewat wa kita apa mau langsung ke loe ?" tanya Leli tengah menscroll sebuah layar di laptopnya.


"Wa kalian aja, khusus wa bisnis dong, biar ga ganggu privasi," jawab Shania.


"Oke," jawab Leli.


"Bahan baku kalo jumlah banyak mendingan belanjanya di pasar deket rumah gue Sha, gue kenal tuh toko kue terbaik di pasar !" ujar Guntur.


"Beneran dong om gledek sifatnya emak banget, suka main ke pasar !" tawa Melan.


"Boleh kuy ! Ntar kita survei dulu !"


"Kalo Pawon Kurawa menjanjikan gue bisa resign dari kerjaan !" jawab Ari.


"Aamiin, semoga sesuai harapan !" Diamini oleh semuanya.


Arka mengulas senyuman, melihat anak-anak berandal ini malah menjanjikan untuk masa depan cerah.


...****************...


Perjalanan usaha Shania dan kawan-kawan berjalan lancar, malah semakin bertambah setiap harinya, kini Leli dan Melan memiliki banyak reseller dibawah naungan mereka. Apalagi setelah semuanya tertata rapi atas bantuan Arka. Promosi, iklan di sosmed gencar dilakukan oleh geng kurawa mencantumkan nama besar Shania, nama Deni yang sempat viral karena dulu berpacaran dengan artis pendatang baru, ditambah namanya yang melambung karena jago bermain gitar hingga terkadang mengisi sebuah acara juga tak lupa logo kurawa yang menjadi hoki mereka.


Mengandalkan teknologi, ilmu saat mereka kuliah, kemampuan momy Gale juga ide-ide segar dari geng kurawa berdasarkan survei konsumsi masyarakat di Indonesia, mereka melakukan gebrakan viral di sosial media dengan kreasi kue dan pastry buatan mereka, produk mereka selalu laris dan digandrungi gen baby bommers, gen x, gen y, gen z, maupun generasi alpha. Karena selain enak, Shania juga mengeluarkan produk sehat.


"Sha, kalo makin banyak gini kita bikin outlet Pawon Kurawa, biar yang ga bisa pesen via online langsung ke outlet."


"Ini kayanya kita mesti rekrut karyawan deh Sha, kita kewalahan sumpah !" ujar Inez, selama ini Shania hanya dibantu Inez, dan Niken.


"Iya bener Nez, dapur gue juga ga kuat nampung banyak-banyak gini," jawab Shania.


"Sewa ruko deh Sha, gimana ?" tanya Niken.


"Gue setuju Sha," Roy datang dengan membawa sebuah map, ia tersenyum-senyum.


"Ga usah senyum-senyum sendiri loe, gaje !" tukas Leli.


"Kenapa yank ?" tanya Inez.


"Nih, surat dari BPOM, kita lolos. Produk dari kita aman !" jawab Roy.


"Yes !!" seru Shania.


"Assalamualaikum !" Leli dan Melan masuk.


"Waalaikumsalam,"


"Loh, ini om pong, om Den, sama om gledek kemana ? Cuman ada om mesum doang ?!" tanya Leli.


"Kimvritt om mesum ! Ga ada nama lain apa !" sarkas Roy mencomot kue kering dari toples.


Rumah tenang Arka kini sudah disulap jadi dapur, kantor sekaligus gudang produk Pawon Kurawa.


Poster-poster produk andalan dari Pawon Kurawa tertempel di dinding ruang kerja Arka dan dapur. Sedangkan teras belakang menjadi tempat bermain Gale, Kia, dan Andro.


"Ehekk...eheek....huwaaa!" ditengah perbincangan, suara Andro menangis memecah rapat mereka, membuat mereka berhamburan menuju teras belakang.


"Eh, anak gue mewek !" Shania berlari menuju Andro yang ternyata sudah ada ibu duluan disana.


"Kenapa bu ?" ibu menoleh dan tersenyum.


"Ini loh nduk, liat !" pinta ibu.


"Astaga !!! Dedek diapain sama kaka Gale ?" tanya Shania mengulum bibirnya melihat wajah Andro seperti badut penuh dengan bedak dan make up mainan milik Galexia.


"Eng...itu momy, kan dedek Andro itu ceritanya datang ke salon kaka sama Kia, jadi kaka dandanin !" adu Galexia sementara Kia hanya memainkan kedua telunjuknya mengikuti kepemimpinan Gale.


"Astaga, kaka Gale...itu dedek Andro diapain ?! Kaya badut !" seru Leli tertawa melihat wajah memelas Andro yang belepotan.


"Kaka Gale, kaka Kia, dede Andro kan jagoan..Iron man, superhero..ga ada superhero yang di dandanin," jawab Roy.


"Sini, boyyy sama om Roy !"


"Bentaran, gue bersiin dulu muka Andro !" Shania membawa Andro ke sofa tengah dan membersihkan wajah anak keduanya dengan tissue basah dengan telaten.


"Sha, pak Arka mana ?" tanya Melan.


"Dimana lagi kalo bukan di Pondok," jawab Shania, jika ada waktu luang maka Arka akan mengajar di Pondok.

__ADS_1


"Ke Pondok yu Sha," ajak Leli.


"Ajak Melan tuh, dia kan ngajar juga disana !" jawab Shania.


"Gue juga jadi pengen tau yang mana sih yang namanya Hendra," ujar Niken.


"Kan loe semua dah pada tau, kak Hendra kan sering ketemu kita,"


"Ngapain loe semua pengen tau kak Hendra ?" tanya Melan.


"Ga usah pura-pura loe, emang kita ga tau apa, loe lagi deket sama siapa ?!" kecut Leli.


"Ahh, deket-deket doang. Giliran udah deket di php in !" tawa Roy, memang selalu begitu kisah cinta Melan tapi ia tak pernah menjadi sadgirl.


"Kurang aj_ar loe !" sarkas Melan.


Deni datang dari pintu depan, dengan wajah sedikit keruh.


"Kenapa om Den ? Asem banget mukanya, ditolak cewek ?!" tanya Niken.


"Ga ada sejarahnya seorang Denial ditolak cewek !" jawabnya jumawa.


"Gue cuma mau nunjukkin sama kalian ini !" Deni menunjukkan laptopnya dan feedback seorang konsumen yang bisa dibilang negatif dan memasukkan foto toples kue dengan logo hampir mirip dan kue yang hampir mirip juga dengan buatan Pawon Kurawa.


Para personel geng Kurawa mendekat dan melihat laptop Deni.


"Geser dikit napa oy ! Ga keliatan nih gue-nya !" sarkas Leli mendorong Roy dan nyempil di ketiak Deni.


"Ini apa sih, si bontot !" Deni menepuk jidat Lelicia.


"Gue ga inget bikin bentukannya kaya gini Sha," ujar Niken.


"Gue juga, kayanya ini bukan produk kita deh, logo nya juga beda tuh !" tunjuk Inez.


"Kayanya kita mesti patenkan produk sama logo kita Sha," usul Roy.


"Bener Roy, loe bisa urus ngga ?!" tanya Shania.


"Oke," jawab Roy.


"Tapi ini gimana, ga mungkin kita biarin Sha, kalo makin banyak nama Pawon Kurawa bisa jelek ?!" tanya Melan.


"Gue tanya Mas Kala deh, ga bisa dibiarin juga nih. Enak aja !" Shania geram, ada beberapa oknum mengatasnamakan nama besar Pawon Kurawa atas produk yang mereka buat dengan produk yang kini tengah viral dan laku keras di pasaran.


"Itu langsung aja bales om Den, suruh si customernya datang ke Pawon Kurawa. Biar di klarifikasi, rating bisa jelek nih !" Deni mengangguk.


"Hah ?! Masa sih ?!" tanya Shania.


"Kenapa loe ga bilang Li ?" tanya Deni.


"Ini gue bilang om Den,"


"Loe bilangnya telat, kenapa baru sekarang, ck..bolottt !" toyor Deni.


"Ihh, om Den jahat banget dorong-dorong kepala gue ! Gue lupa lah, lagian awalnya gue biasa aja mungkin ada yang niru biar laku aja, tapi ternyata separah ini efeknya,"


"Ini namanya udah pencemaran nama baik," ujar Niken.


"Assalamualaikum !" Ari datang bersama Guntur.


"Wah, lagi pada ngapain nih ?! Nonton bok_3p ya ?! Gue ikutan dong ! Udah lama engga," seru Guntur sontak dihadiahi tatapan tajam semuanya.


Ari tertawa, "Ha-ha-ha, mamposss kan loe ! Makanya tuh ba_cot loe sekolahin biar pinteran dikit !"


"Kimvriitt,"


Plukkk !


Bantal sofa mendarat di wajah keduanya dari Shania.


"Loe berdua sekali lagi ngomong kasar gue hukum jalan bebek dari depan kompleks !"


"Eh astagfirulah, lupa gue ! Nih si kacang, ngajakin berantem. Lagian loe semua serius banget, lagi pada ngapain ?!"


"Ada yang jiplak nama Pawon Kurawa om gledek. Udah gitu rasanya ga enak terus dipakein pengawet !" jawab Leli.


"Hah ?! Mana, mana ? Si@..." Ari tak melanjutkan umpatannya saat mata Shania dan Niken menusuk.


"Bwahahahaha, kalo mulut tong sampah ya gitu mak," ejek Leli.


"Si bontot enaknya diapain Ri ?" tanya Guntur.


"Gue kasih ke engkong Muin, tetangga gue yang duda kolot doyan gadis bocil nyebelin kaya si bontot !" tawa devil Ari.

__ADS_1


"Buruan, gue iket kakinya !" tukas Guntur.


"Gue bekep mulut sama iket tangannya," sahut Ari.


"Dih, apaan loe berdua ?! Berani deket-deket gue hajar loe ! Om Den, tolongin gue !" Leli menarik-narik lengan kemeja Deni.


"Ribut mulu loe bertiga, berisik !" Decak Melan.


......................


Shania membuat kopi seperti biasanya untuk Arka, dan dengan setia ia duduk di pangkuan suaminya.


"Kaka sama dedek udah bobok ?" tanya Arka, Shania mengangguk. Hanya di malam saat kedua bocah itu tertidur saja waktu Shania dan Arka bisa berduaan.


"Kenapa ?!" tanya Arka mendongakkan wajah Shania. Perempuan itu mengalungkan kedua tangannya di leher Arka.


"Mas, nama Pawon Kurawa dicemarin orang. Di luaran sana ada yang bikin produk yang sama, tapi pake nama Pawon Kurawa juga, cuma bedanya si kurawanya ga pegang rolling pin. Udah gitu mereka rasanya bikin rating kita turun, mana pake pengawet bahaya lagi mas, alhasil kita yang malah di komplain, sama dicap jelek, takutnya merajalela di pasaran mas," terangnya mengadu.


Arka tersenyum mendengar keluhan Shania, ia menarik tengkuk Shania dan menempelkan wajah keduanya.


"Kalo gitu patenkan nama kalian, ikutin bazzar sebanyak-banyaknya. Biar orang-orang tau mana produk yang asli dengan kualitas baik," Arka beralih membuka laci mejanya dan menyerahkan beberapa lembar formulir untuk Shania isi.


"Mas memasukkan nama Pawon Kurawa, sama angkringan punya mas ke acara-acara ini," tunjuk Arka.


Shania meraih beberapa lembaran kertas dari tangan Arka.


"Ini ?" Arka mengangguk.


"Rencananya mas mau bilang besok, tapi kayanya sekarang juga ada bagusnya. Gimana sama label halal dan BPOM ?" tanya Arka.


"Beres,"


"Kalo gitu logo juga patenkan sekalian. Biar nanti kalau ada apa-apa kita bisa nuntut oknum-oknum yang bermasalah,"


Shania mengangguk, "makasih mas,"


"Jadi cuma masalah itu ? Kamu bisa minta customer kamu sama reseller kamu, buat jamin keaslian produk kalian. Kalo yang asli itu ya dari kita ini, customer juga tau kan alamat Pawon Kurawa yang asli dimana ?"


"Makanya udah lama mas suruh kamu buka outlet, biar mempermudah orang-orang tau kemana beli yang asli ! Kalo satu outlet laris, kamu buka outlet cabang lain, biar bisa menjamur dan mempersempit pergerakan oknum pemalsu produk Pawon Kurawa, orang-orang juga bisa lebih mudah belinya, bisa dimana aja ga harus ke rumah," jelas Arka.


"Iya mas,"


"Obrolin itu sama yang lain, setidaknya kalian harus keluar modal buat bikin outlet dan transportasi pengiriman produk, belum lagi karyawan. Itu harus kamu pikirkan dan hitungkan," Shania malah tertawa mendengar penjelasan Arka.


"Ck, malah ketawa !" Arka menjiwir hidung Shania dan mengecupnya.


"Mas lagi jelasin kaya gitu, bikin Sha inget ke jaman-jamannya mas lagi ngajar dulu,"


"Mas, Sha kangen !" Shania menyerukkan wajahnya di leher Arka.


"Sha kangen liat mas ngajar," tambahnya.


"Bukannya barusan udah ?"


Shania mengulas senyuman.


"Mas, besok kan weekend. Sha pengen nengok Pondok lah ! Sekalian refreshing bareng anak-anak. Liat kambing sama ayam !" seru Shania.


"Boleh, besok kita ke Pondok. Tapi sekarang kita berlayar dulu !" Arka mengedipkan matanya.


"Dih, apaan tuh ?! Pake berlayar segala, berlayar kemana ?"


Arka menggendong Shania ke kamar mereka.


"Anak-anak ?!"


"Anak-anak kan di kamar mereka masing-masing."


"Sha takut Andro bangun minta ASI, "


"Nanti juga nangis," pandangannya sudah mengelam dengan kabut gai_rah.


.


.


Noted :


*gen baby boomers : generasi yang lahir pada tahun 1946 hingga 1964.


*gen x : generasi 1965 sampai 1980


*gen y : generasi 1981 sampai 1996.

__ADS_1


*gen z : generasi 1996 sampai 2010.


*generasi alpha : generasi yang lahir pada tahun 2010 hingga 2025 mendatang.


__ADS_2