Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Bakat [di]pendamnya chef Shania


__ADS_3

Arka tampak seperti umur 27an, dengan gaya casualnya, ga rela....


"Ati ati mas, salam sama pak Dekan !" Shania mengantar Arka di ambang pintu.


"Emang kenal ?"


"Engga, kali aja ntar kenal ! salam aja dulu, kenalannya nanti kalo dah masuk sana !" kikik Shania. Arka mengacak rambut Shania yang tergerai bebas dan mengusap pipi gembil Shania. Ternyata selain bisa basket dan bikin kesel orang, Shania berbakat jadi pelawak juga.


"Ati ati di rumah, "


"Iya, paling berantem ama panci 'ma wajan !" jawabnya.


"Mas pergi, assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam, " Shania melambaikan tangannya melepas Arka pergi, lalu menutup kembali pintu.


Ia ada janji temu dengan oleh oleh dari ibu dan mbak Tias, bareng bi Atun.


"Bibi oh bibi !!"


"Come on kita unboxing oleh oleh bi !!"


*********


"Mas, Sha boleh kan ke rumah bunda sama Inez buat kasih oleh oleh ?"


"Boleh,"


Ijin dari paduka suami sudah di dapat, oleh oleh sudah di pisah pisah antara untuk bunda dan Inez, saatnya berbagi, karena kata ustadz berbagi itu indah, seindah pelangi di bola matanya.


"Bi Atun ga apa apa kan nunggu di rumah, Shania bentar ko !" ujarnya basa basi, karena tanpa jawaban bi Atun pun, gadis ini sudah meraih helm, sungguh emejing istri pak guru ini, definisi waktu sangat berharga baginya.


"Iya neng, hati hati aja di jalannya !"


"Iya bi, " gadis itu membawa tas selempangnya.


Shania melajukan motornya setelah sebelumnya menggantung paper bag oleh oleh di depan.


Ia menelusuri jalanan kota seperti biasanya. Hanya bedanya, kini rumah bunda bukan tempatnya untuk pulang dan tidur, meskipun tetap tempatnya untuk pulang.


Ia melewati lapak Indomarco yang tak pernah berpindah, begitupun stand pentol mbak Uli yang masih gitu gitu aja, termasuk mbak Uli yang masih begitu begitu saja, tetap manis, tetap gendut dan tetap hawt.


"Mbak Ul...liiiiii !!!" pekik Shania, tak menghiraukan pandangan orang orang di sekitarnya, mungkin saja menganggapnya aneh, tapi ia tak peduli. Ia hanya menganggap mereka patung.


"Sha !!!!" keduanya berpelukan layaknya kekasih yang baru dipertemukan setelah lama jauh terpisah.


"Sha, tega ya kamu ! baru kesini, mbak kira kamu 'dah metong !" jawabnya.


"Sorry mbak, Sha sekarang tinggal di rumah yang di Melati Residence," jawabnya.


"Di rumah siapa Sha ?"


"Rumah cowok keren mbak, cowoknya aku," jawabnya.


"Bohong banget !" cebiknya tak percaya.


"Mbak, aku mau pentol yang pedesnya sedeng ya, jangan pedes pedes, cukup omongan istri tua aja yang pedes pentolmu jangan..nanti aku atit iyut !" selorohnya.

__ADS_1


"Boleh neng geulis !"


Setelah berkangen kangen ria dengan mbak Uli, Shania melajukan lagi motornya menuju rumah bunda.


"Assalamualaikum, bunda ! Oh bunda ! Where are you, bun ?!"


"Aya naon, what happend?! si geulis bunda tos uih ti Surabaya (udah pulang) ?" ucap bunda dari dapur, dengan plastik segitiga berisi cream chesse. Sepertinya bunda sedang menghias sebuah cake.


"Bun, dibawain oleh oleh sama menantu dari besan !" Shania menyodorkan paper bag pada bunda, setelah menyuruh Inez ke rumahnya.


"Alhamdulillah, rejeki mertua sholeha !" jawabnya.


"Idih, " cibir Shania.


"Ga tau ya, ini nih the best mama mertua tahun ini, bunda Lia !"


"Bunda lagi bikin pesenan kue ? dibawa lagi ke rumah ?" tanya Shania.


"Iya, alhamdulillah pesenan banyak. Makanya kamu terusin usaha bunda, bunda ga bisa percaya sama orang lain, termasuk mbak Dina. Kamu keluarin lah bakat terpendamnya, jangan dipendem terus da bakat kamu teh bukan tauco ! " pinta bunda merayu anak gadisnya.


"Engga ah, ga mau jadi tukang kue ! Sha ga suka yang manis manis, soalnya Sha udah manis, takut diabetes !"


"Coba tolong terusin ini, bunda belum lohor (dzuhur) ! " pintanya memaksa Shania menerima cream chesse.


"Ih si bunda, kan Sha ga tau bunda mau bikin apa," protesnya.


"Liat aja gambarnya di meja, " Shania berdecak, tapi tak urung melakukannya.


Ia melihat sebuah cake ulang tahun 2 tingkat. Dari tampilannya, sepertinya yang ulang tahun adalah anak perempuan berumur 5 tahun karena lengkap dengan lilin angka 5. Gadis itu duduk di kursi lalu melihat kertas bergambar kue tart bernuansa pink dan biru, berhiaskan princess. Tangannya mulai menari diatas kue tart dengan cream chesse-nya. Selama beberapa belas menit ia memberikan sentuhan tangan terampilnya.


"Tuh kan ! bunda bilang juga apa, kamu tuh cocok jadi baker, cocok jadi tukang kue !"


"Kamu mah gitu, suka merendah buat meroket, tau tau udah di bulan aja !"


"Oh, mau jadi konsultannya orang orang kena mental ?" tanya bunda.


"Engga kena mental juga bun, si bunda ih ! Kena mental nih calon psikolog !" jawab Shania memberikan sentuhan terakhirnya di kue tart yang sudah cantik itu.


Ting tong !


"Assalamualaikum !"


"Shania, " Inez masuk nyelonong setelah bibi membukakan pintu.


"Inez, sini Nez !" pinta bunda.


"Widih chef Shania lagi bantuin bunda, cantik Sha ! Sayang ih.. bakat ga dikembangin !" Inez setuju dengan bunda.


"Bener Nez, " kini bubda angjat suara lagi.


"Engga, gue eneg sama bau telor ! sama dapur, pengen jadi psikolog !" jawab Shania melepas sarung tangan plastiknya.


"Tuh Nez, oleh oleh buat loe di meja !" tunjuk Shania.


"Asikkk, makasih lohhh buat pak Arka sama buat ibunya !" Shania mengangkat alisnya.


"Dih, sama gue engga ?"

__ADS_1


"Kan loe numpang mudik doang, " Inez cekikikan.


"Sok atuh Nez, nyemil tuh ! bunda bawa colenak dari Bandung sama banyak lah, ada peuyeum, ranginang, opak, wajit, wajit angleng. Sok ambil aja !" bunda mempersilahkan Inez.


"Iya bunda, nanti Inez ngambil sendiri, " jawab Inez antusias, tentu saja ia senang berkunjung ke rumah Shania. Ini dia salah satu alasannya.


"Ini yang paling gue suka kalo ke rumah loe Sha, kalo abis dari Bandung suka banyak makanan enak enak, gue suka sama wajit Sha !" serunya, membuat Shania merotasi bola matanya.


"Serah loe deh Nez, "


Inez membuka toples wajit dengan bungkus kertas merah, kuning hijau, ia pun meraup wajit dengan bungkus daun jagung kering.


"Sha, tempo hari gue liat Maya Sha," jawabnya.


"Dimana ?" tanya Shania.


"Di Rovers night club, "


"Bukannya dia pindah ya ?" tanya Shania, kali ini ia membuka bungkusan pentol dan memindahkannya ke mangkuk, memakannya dengan ranginang / rengginang sebagai pelengkap.


"Pindah apaan ?! cuma buat formalitas doang, menghilang dari kasus, abis itu balik lagi !" jawab si mrs. kepolovers ini.


"Ko bisa ," Shania mengeliarkan peluh karena pedasnya kuah pentol.


"Kabarnya nih ya, dia pernah gugurin kandungan Sha !"


"Hah ?!! yang bener ?!"


"Loe masih sering keluar bareng genk kelas X loe ga Sha ?" tanya Inez lagi, sepertinya seminggu ia libur sekolah banyak sekali kejadian yang tak ia ketahui, atau justru kejadian lama namun ia tak pernah tau.


"Kenapa emangnya ? terakhir kali gue sama Deni dan yang lain pas ke angkringan mas Kala, sejak itu anak anak belum ada kontak kontakan lagi, "


"Deni kan sering pake cewek nakal, terus make obat juga Sha ! dia pasti tau kasus si Maya, "


"Ohhh ! kalo itu mah udah lama gue tau Nez, bukan cerita baru ! ga tau juga Nez, gue ga pernah kepo masalah orang soalnya, "


Memang Deni terbilang berandal, Shania tau itu. Tapi selama mengenalnya Shania cukup bisa jaga diri, ia memang bandel, sering melanggar aturan sekolah, tapi ia tidak senakal itu.


"Bentar lagi masuk Sha, udah ada plan buat ngampus ?"


"Ada, gue mau masuk almamater kuning. Gue sekarang mau mikirin gimana caranya masuk kuliah aja Nez, udah insyaf gue, ga mau nakal nakal lagi..mau ke jalan yang benar aja."


Inez tertawa demi mendengar Shania bicara seperti itu.


"Yahhh ! kecewa dong, anaknya pak Hadi insyaf, sekolah sepi !" tawa Inez.


"Mau ngejar cita cita Nez, "


"Pak Arka kemana Sha ? Kerja ?"


"Udah mulai masuk kampus Nez, " pentol di mangkuk akhirnya ludes meskipun dengan kepayahan.


Obrolan mereka ngaler ngidul, sampai berpindah tempat ke halaman belakang dan kamar Shania. Jika sudah berdua begini, pasti lupa waktu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2