Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Emak-emak berjas


__ADS_3

Shania memasukkan tumbler minum, seperti biasanya di saku tas sebelah kirinya. Cadangan ASI untuk Galexia sudah ada beberapa botol di frezzer. Selain ia pompa, ia juga dibantu Arka yang ikut meminta jatah bagiannya.


"Bu, Sha pergi ya !"


"Hati-hati nduk, ko ibu khawatir ya. Lebih baik ga usah ikut-ikutan lah nduk, biar Arka aja yang ikut !" Shania mengerutkan keningnya lalu sebuah tanda tanya besar keluar dari ubun-ubunnya.


Ikut demo ? Sejak kapan si ganteng kalem tertarik dengan kegiatan berbau rusuh ?


"Mas Kala ? Ikutan demo ?" tanya Shania, apa ia tidak salah dengar.


"Iya, kan kalo ada acara demo gini Arka suka ikut andil dalam menyuarakan pikiran rakyat, wong dulu di kampus Arka ikutan...."belum ibu menyelesaikan ucapannya Arka sudah muncul dari dalam dengan menggendong Galexia, tanda sudah siap untuk berpamitan.


"Anak momy ! Do'ain momy bisa belain kaum bu ibu ya ! Biar uang belanja ga semakin mencekik, biar bisa kebeli bedak sama lipstik. Kali aja kalo Sha yang demo nanti harga minyak jadi 2 ribu seliter !" tawanya dibalas tawa ibu dan bi Atun.


"Hidup neng Sha !!!" balas bi Atun.


"Memangnya selama ini saya ga pernah kasih kamu uang bedak ?" tanya Arka.


"Ya engga gitu mas, bagi ibu rumah tangga kan uang sisa belanja tuh berharga banget, walaupun cuma 2 ribu doang, kan kalo dikumpulin bisa buat beli BMW !" jawabnya ngasal.


"Aamiinn !!" diamini ibu dan bi Atun.


Shania benar-benar seperti anak tk yang mau piknik. Botol minum, bekal cemilan, jaket dan celana panjang pdl benar-benar diperhatikan Arka.


"Mas kenapa ga sekalian nyuruh Sha bawa tikar sama rantang aja, biar abis demo bisa makan-makan sama polisi ?!" bibirnya bisa dikatakan mirip moncong bemo.


Heran deh ! Katanya pengalaman ikut demo, eh...iya tadi ibu mau bilang apa ya ? Jadi lupa, kan !


"Curiga deh !" ketusnya.


"Curiga apa ?" tanya Arka di atas motor.


"Curiga, mas tuh guru SMA apa guru playgroup sih ?! Mas tuh mahasiswa atau ibu-ibu PKK sih ?!" sewotnya hanya dibalas tawa kecil Arka.


"Pegangan yang kuat, nanti kamu jatuh," ujarnya menggeber motor saat jalanan lengang.


"Udah,"


Motor sudah sampai di kampus hijau.


"Hati-hati ! Selepas jam makan siang harus sudah pulang. Ingat ! Barisan paling belakang !!" Shania mengangguk. Jika nonton konser, Arka hanya memberinya tiket festival yang jarak pandangnya jauh, dan sang idola hanya sebesar semut.


Shania melihat kepergian Arka yang semakin menjauh.

__ADS_1


Gelak tawa terdengar dari belakang Shania.


"Mak, loe mau kemana ?! Gue pikir loe mau ngelatih guguk pitbull atau doberman piaraan polisi ?!" tanya Melan.


"Kimvrittt ! Anterin ganti baju lah !" ajak Shania.


Shania bukan tidak persiapan, ia membawa bekal celana kebesarannya saat tawuran dulu. Celana levis hitam yang ada bagian sobek di bagian lututnya kalo kata si bunda udah pantes jadi keset. Ia juga memakai almamater hijaunya dengan dalaman kaos hitam polos dengan kalung choker menghiasi lehernya dan sepatu warrior. slayer berwarna merah putih menghiasi kepalanya sebagai bando dan di pergelangan tangannya.


Tepat pukul 8 pagi mereka sudah memenuhi jalanan di depan gedung DPRD, pasukan warna-warni kampus dari berbagai sudut kota di sekitaran Jakarta ikut berorasi menyuarakan pikiran rakyat, hanya satu mau mereka, DI DENGAR !


Ribuan pasukan polisi dan tentara dilengkapi senjata api, pelindung kepala, dan badan juga tameng menjadi pemandangan lumrah disini. Di depan sana sudah berorasi beberapa pimpinan DPM dari setiap kampus, apalagi kampus kuning yang selalu menjadi tonggak punggawa mahasiswa seluruh Indonesia, disanalah Vian berada, tapi Arka...Shania tak tau.


Spanduk yang meminta pemerintah bekerja lebih profesional lagi digaungkan, jeritan-jeritan pilu masyarakat kecil di teriakan termasuk yel-yel dan nyanyian khas rakyat kecil sebagai bentuk sindiran dan protes.


Cuaca panas menyengat kulit, oksigen yang seakan terbatas meskipun ini adalah ruangan terbuka terasa sesak karena ribuan orang memadati tempat ini, serta bau pembakaran ban sebagai bentuk api semangat yang harus selalu berkobar meskipun nyatanya hanya menambah polusi udara, inilah suasana yang kini Shania rasakan. Peluh sudah bercampur berikut baunya yang berbaur bersama dengan bau polusi.


Kevin sudah mengambil posisinya, tampak keren, gagah dan top lah pokonya di kalangan mahasiswa. Ia berorasi yang terdengar kurang jelas di telinga Shania, yang jelas merdeka pokonya !


"Gila ! Keren oyyy ! Ga kebayang gue bisa ikutan kaya beginian juga ! Berasa jadi anggota 3 musketeer tau ngga, yang belain hak rakyat kecil ! Kaya prajuritnya bung Tomo !"


"Loe ngomong apa sih, jaka sembung bawa golok..." jawab Shania.


"Ga nyambung geblekkk !" timpal Deni.


"Ikut kayanya !" jawab Deni.


"Sha, katanya loe mau ikut menyuarakan curahan hati emak-emak ?!" tanya Roy.


"Ga berani ah gue, loe tau kan mas Kala kaya apa ? Dia mah lurus banget jalan ninjanya, ga kaya gue yang kebanyakan belok !" jawab Shania, tapi baru saja ia berucap, bahkan mulutnya masih basah, Shania sudah ditarik Widya, sekertaris BEM di kampusnya.


"Sha, gantian ! Kevin lagi istirahat, giliran loe Sha, gue yakin loe bisa ?!"


"What ?!!!" Shania ditarik beberapa orang mahasiswa dari kampusnya ke depan, sedangkan ketiga makhluk berjuluk teman sejati menertawakannya puas.


"Ayo mak Malin !!!! Suarakan jeritan hati istri dan ibu rumah tangga, loe wakil emak gue di rumah Sha !!" pekikan mereka saja yang paling kencang, tapi raga mereka hilang bak ditelan bumi.


"Si@*lan ! Bisa kena ceramah 7 hari 7 malam ini mah gue-nya !" dumel Shania.


Widya menyerahkan selembar kertas berisi poin-poin penting yang harus ia bacakan selama berorasi, seumur-umur baru kali ini ia berbicara lantang di depan ribuan orang.


Panik ngga ?! Panik ngga ?! Paniklah !


"Anggap mo-nyet Sha !!" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Kevin memberikan pengeras suara pada Shania, "semangat Sha, suarakan pikiran rakyat !"


"Suarakan, suarakan, mata loe soek ! Yang ada gue di pites laki, bukan cuma uang bedak yang ilang tapi atm gue auto dipensiunkan !"


"Shania ?!!!"


Bukan cuma seorang, beberapa orang yang mengenal Shania mengerutkan dahinya, terlebih seseorang dari ujung sana.


Shania berdehem, anggap saja ia sedang ceramah pada Gale. Harus se pede itu, pede aja dulu...masalah benar atau tidak bagaimana nanti


Shania mulai berorasi di depan dengan suara lantang dan menggebu-gebu, terasa betul di dalam darahnya gejolak jiwa muda. Cuaca terik tak ia rasakan lagi. Bahkan saking semangatnya, gadis yang penampilannya stylish, cantik, apalagi dengan rambut bronzenya melempar kertas ke sembarang arah dan mengeluarkan uneg-uneg pribadinya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga yang menjerit dengan keadaan negara sekarang, yang katanya kaya tapi harus berhutang, yang katanya kayu dan rotan saja bisa jadi tanaman tapi nyatanya banyak yang kelaparan. Di akhir orasinya Shania mengelap keringat dengan lengan jasnya dan mengajak mereka bernyanyi.


"Jangan menambah beratnya beban wong cilik !!! Cukup rinduku padamu saja yang berat !!!"


"Cieeeeee !!!! Witwiwwww !!!"


"Bersihkan sistem pem_erinta_han dari kotornya hati yang serakah !!!"


"Gue atas nama kaum istri dan ibu rumah tangga, dengan ini menyatakan KEBERATAN dengan keputusan yang diambil pihak neg ara !!!"


"Allahuakbar, Merdeka !!!" tak lama gelak tawa terdengar.


"Jangan gantung nasib rakyat setinggi kamu menggantungkan jemuran celana basah !!!"


"Hidup emakkk !!!" pekik genk kurawa memancing teriakan teman yang lain. Arka sampai menepuk jidatnya sendiri, terlebih teman-temannya yang malah bertepuk tangan bahkan ada yang melempar bunga pada Shania.


"Hari-hari esok adalah milik kita, terciptanya masyarakat sejahtera, Terbentuknya tatanan masyarakat, Ind*on_es^ia baru tanpa orba....."


(Marjinal _ Buruh Tani)


Suitan kagum dan pujian untuk Shania bergema dari para mahasiswa penjuru Jakarta dan sekitarnya. Jangan remehkan emak-emak muda, jika sudah begini, ketua BEM saja kalah keren. Karena bukan semata-mata demo untuk keren-kerenan, tapi merupakan cuitan dari lubuk hati yang paling dalam.


"Shania !!!! Aku padamu !!!" suara pekikan teman-teman Shania termasuk beberapa teman dari kampus lain yang mengenal Shania saat di SMA maupun SMP.


"Woahhh, siapa tuh ?! Kampus ijo ya ?! Cantik men !" mata Arka mengilat, bukan cuma satu, dua saja kalimat itu ia dengar.


"Astaga, ck !" sedangkan Vian dan Hendra tertawa puas.


"Senjata makan tuan, Ka ?" tanya mereka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2