Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Semoga ini yang terbaik


__ADS_3

Tatapan keduanya diputus oleh kedatangan fotografer dadakan yang dipaksa Arka.


"Ini ponselnya mas, "ucapnya.


"Ah iya, makasih ya mas !" Arka mengatupkan kedua tangannya. Shania tertawa.


"Dih, malu maluin !"


Arka meraih kembali kresek roti dan menyerahkannya pada Shania, tak peduli dengan tawa Shania.


"Yu, masuk !" ajaknya masuk kembali ke dalam gerbong kereta.


Shania duduk dan membuka swetternya, dirasa cuaca sudah terasa panas dan gerah.


"Panas banget mas, " ia mengipas ngipasi wajahnya dengan tangan.


"Ikat rambut kamu mana ?" tanya Arka.


"Di tas," jawabnya. Rupanya Arka langsung membuka resleting tas selempang Shania, karena gadis ini kerepotan dengan botol minum di tangannya, disaat Shania tengah meneguk air minumnya, Arka mengambil peran untuk mengikat rambut panjang Shania.


"Makasih mas, "


Kereta mulai beranjak dari diamnya, sedikit demi sedikit mulai menambah kecepatan. Bukan hanya stasiunnya saja yang bagus, tapi pemukiman warganya pun nampak menarik, perkampungan di rawa, lengkap dengan tambak dan rumah gubuk. Mata Shania mengikuti aktivitas warganya yang sedang membersihkan kolam tambak dan merapikan jaring pembatas kolam, sedangkan mulutnya asyik memakan roti mocca. Arka melirik jam hitam di pergelangan tangannya.


Tangannya tak pernah lepas dari ponsel, begitupun laptop yang setia dibawanya kemanapun. Kini ia memasukkannya ke dalam koper bersama pakaiannya dan Shania. Shania bukalah gadis yang ribet, yang membawa banyak pakaian kemanapun, ia cukup simple..tak banyak membawa pakaian.


Jam sudah menunjukkan pukul 4, itu artinya sebentar lagi mereka akan sampai ke stasiun pemberhentian.


"Pasarturi nggeh, " tanya salah seorang penumpang lainnya saat melihat Arka sudah mulai menurunkan kopernya.


"Nggeh bu, " sedangkan Shania, gadis itu merapikan pakaiannya yang terdapat banyak remahan keripik dan roti, dan membereskan sampah bekas makanan.


"Yo, sudah sampai di Pasarturi, perhatikan barang barang, jangan sampai ada yang tertinggal termasuk sampah yang dibawa, terimakasih sudah menggunakan jasa KA Argo Bromo Anggrek, " ucap salah seorang kondektur.


"Udah nyampe, " Shania mengangguk, ia menenteng tas hijau sejuta umat, yang isinya sudah banyak termakan, hingga membuatnya enteng. Sedangkan Arka menyeret koper dan tangan satunya merangkul bahu Shania seakan tak ingin terpisah.


"Rangkulan gini kaya teletubbies mas, " cibir Shania.


"Biar ga kabur, "


"Siapa juga yang mau kabur di kampung orang, ntar yang ada kesasar !" cebiknya.


"Kalo gitu biar ga kedinginan, " alibinya lagi. Sepertinya Arka memiliki banyak sekali alasan untuk diberikan jika Shania mencibirnya. Keduanya berjalan di pinggiran peron, menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Ini kita mau naik apa ke rumah mas ?" tanya Shania mendongak.


"Udah dijemput sama sepupu mas, Nanang namanya, dia masih kuliah."


"Ohhhhh, "


Ponsel Arka bergetar, tertera nama Nanang disana. Ia bertanya posisi Shania dan Arka sekarang.


"Mas !" pekik seorang laki laki, terdengar sedikit cempreng, mungkin jakunnya belum tumbuh membesar sehingga suara bass-nya belum jelas terdengar, entah mungkin memang suara aslinya seperti itu. Pemuda berumur 20 tahunan itu melambai lambai di ambang pintu keluar stasiun. Arka mengangguk dan menunjuk ke arah Nanang, "disana."


Pemuda berambut pendek, dengan kumis tipis dan berpakaian kaus merah maroon dan celana levis biru itu tersenyum hangat, merapikan rambutnya menyambut Arka dan Shania.


"Mas, " ia salim takzim.


"Nang, sudah lama menunggu ?" tanya Arka.


"Ndak, mas..baru !" serunya. Lalu pandangannya beralih pada gadis yang dirangkul Arka, ia terkesiap melihat gadis cantik nan manis ini adalah istri kaka sepupunya. She is too young ! kesan pertama Nanang saat melihat Shania.


"Ayu, mas !!" aku Nanang pada Arka.


"Kenalkan ini Shania, istri mas.."


"Sha, ini Nanang anak pak'lek Parman adik ibu, " Arka menoleh, Shania manggut manggut.


"Shania, "


Bahkan suara Shania menggetarkan kalbu, menurut Nanang. Jangan sampai ia menyukai gadi cantik di depannya. Ayolah hati, bisa kan kerja sama...cewek cantik Surabaya tuh banyak !


"Angsal saking pundi, nopo tiang putri teng ibukota, niku ayu ayu kaleh bening ngono tho mas ? Nyuwun tulung pados ke," tanya Nanang terkekeh lalu menaik turunkan alisnya saat kalimat terakhir.


(Dapet darimana, apa cewek cewek di ibu kota, cantik cantik bening begitu, mas ? Minta tolong cariin dong,)


Arka menggelengkan kepalanya dan menarik senyuman miring, demi mendengar pertanyaan konyol Nanang, seraya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil, sedangkan Shania ? jangan ditanya gadis itu langsung melambaikan tangan ke kamera, tak mengerti ucapan Nanang. Sama halnya dengan mendengar kisi kisi rumus trigonometri, bikin puyeng.


"Jangan aneh aneh, disini juga banyak Nang, mau cari yang kaya gimana ?! perempuan semuanya sama, dalemannya masih gitu gitu juga !" kekeh Arka.


"Masuk Sha, " Arka menyuruh Shania masuk duluan ke dalam mobil, begitupun Nanang yang sudah masuk ke dalam kursi pengemudi.


"Blugh !!" bantingan sedikit keras, agar pintu mobil menutup rapat sempurna.


Nanang menyalakan mesin mobil dan memutar stir meninggalkan stasiun.


Sesekali Nanang melirik lirik ke arah kaca spion depan demi melihat Shania dan Arka.

__ADS_1


"Mas, rumahmu jauh ya ?" tanya Shania.


"Engga terlalu, " jawab Arka.


"Besok ajak Sha jalan jalan ya mas, pengen tau aja suasana Surabaya kaya gimana ?!"


"Mau tau suasana Surabaya, atau mau jajan ?" tanya Arka. Shania tertawa renyah, ternyata Arka tau modusnya, gadis itu lebih memilih memandang pemandangan jalanan petang di luar jendela kaca mobil.


"Ihhh ko tempe ! Kaya cenayang, mas anaknya mama Loren yah ?!" seloroh Shania tertawa. Nanang ikut terkikik. Selain ayunya puolll, suaranya indah, Shania juga anaknya senang bercanda. Definisi primadona hati. Jika belum menikah mungkin ia segera menyandang status baru sebagai pebinor. Arka tersenyum, selama mengenal Shania ia selalu mencatat dalam otaknya apa saja kesukaan dan kebiasaan Shania, dan makanan ada di list pertama.


"Mas..mas..." panggil Nanang, Arka menoleh.


"Opo ?"


"Yakin, no nek ning ndeso enten engkang ngoten niki mesti langsung heboh podo gowo kebo kanggo mahar," Arka terkekeh tanpa suara, mendengar kekaguman Nanang, ia akui yang diucapkan Nanang memang benar.


(Yakinlah, kalo di kampung ada yang begini pasti pada heboh mau bawa kerbau segala buat mahar)


"Saben dinten mesti daleme rame, karo wong sing arek ngelamar, aku yo termasuk," Nanang tertawa, termasuk Arka yang ikut tertawa, tapi Shania ? gadis itu kembali menautkan alisnya tak mengerti.


(Tiap hari rumahnya pasti rame sama pelamar, termasuk aku.)


"Mereka tuh lagi ngomongin apa sih ! Asik berdua, gue udah kaya kacang di kue, nyempil di pinggiran !" pipinya menggembung kesal.


"Mas, kalian ngomongin apa sih, dari tadi ketawa tawa mulu ! Jangan pake bahasa Jawa kenapa sii ?! Aku ga ngerti !" cebiknya.


"Bukan apa apa, kata Nanang orang rumah udah ga sabar pengen ketemu sama kamu, " jawabnya berbohong, sedangkan Nanang terkikik mendengar kebohongan Arka.


"Maaf yo mbak, " ucap Nanang.


"Mas, mesti mangke podo heboh nek ndelok garwone sampean, tasih bocah. Nopo malih mbak Retno !"


(Mas, pasti nanti pada heboh deh liat istri mas, masih bocah. Apalagi mbak Retno !), Arka hanya tersenyum mendengar seloroh Nanang. Retno...hm.. ia dan Retno tak memiliki hubungan apapun, sejak kapan pun dan sampai kapan pun. Retno hanya saudara jauhnya yang kebetulan sering bersama saat di kampung dulu.


Frustasi. Shania lebih memilih melihat lihat akun sosial media miliknya dibanding menjadi pendengar setia namun tak paham dengan duduk permasalahan yang dibahas.


Matanya hanya menatap getir, saat melihat Cakra mengupload fotonya yang sudah melakukan seleksi administrasi, terlihat ia yang memegang beberapa lembar skrining tes kesehatan di Dispora bersama beberapa ratus anak lainnya yang lolos.


"Gue udah memilih, semoga ini yang terbaik !" gadis itu memejamkan matanya, menutup sosial media dan mematikan ponselnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2