
"Mas jangan terlalu lama, jangan tidur kemaleman. Sha mau ajak jalan jalan besok !" omelnya disaat Arka tak terlihat ingin menyudahi petualangan keduanya menjenguk dedek.
Pagi pagi sekali Shania dan Arka sudah bangun untuk menunaikan salat subuhnya. Arka yang baru kembali dari mesjid terdekat terlihat menggosok gosok kedua telapak tangannya karena udara dingin menusuk tulang. Jarang jarang ia mandi memakai air hangat, tapi hari ini ia akhirnya menerima tawaran Shania untuk mandi air hangat. Sepertinya jika ia tinggal di Bandung butuh adaptasi lama soal mandi, tentu akan menambah biaya pengeluaran gas.
Secangkir kopi hangat jadi sangat membantu.
"Teh, si ambu yang di depan kompleks masih jualan surabi engga ?" tanya Shania.
"Masih Sha, "
"Mau beli ah, langsung disana !" serunya.
"Mas, ikut engga ?!" ajak Shania.
"Kemana ? Mas baru dari luar, dingin banget."
"Ke Jonggol ! " Shania tertawa.
"Hayu lah pokonya, ikut aja ! Nanti juga disana nemuin kehangatan," Shania menaik turunkan alisnya.
"Karunya atuh Sha, belum terbiasa kayanya. Meni nga'hod-hod (menggigil) gitu !" kekeh teh Yeni.
"Ga apa apa teh, biar terbiasa sama kota Bandung. Kan istrinya mojang (gadis) Bandung, hayu mas !" mau tak mau Arka mengikuti Shania setelah mengganti koko dan sarungnya dengan training dan kaos dilapisi jaket.
"Dingin ya mas ?" Shania memeluk lengan Arka.
"Iya, " Arka malah balik merangkul Shania agar tidak kedinginan, Shania tertawa melihat kondisi Arka. Tapi memang tak dapat dipungkiri, udara disini sejuk, ditambah penampakkan alam yang rata rata di hampir setiap sudut dan sisi banyak pepohonan. Bahkan sinar mentari saja terlihat eksotis mengintip malu malu di balik batang batang pohon besar.
Keduanya sampai di sebuah saung kecil tanpa pembatas ataupun sekat sebuah gerai. Hanya seorang nenek paruh baya yang berhadapan langsung dengan beberapa tungku dan cetakan surabi. Masih memakai kayu bakar sebagai bahan bakarnya.
Shania dan Arka duduk di depan tungku yang membatasi interaksi dengan si penjual, meja kayu kecil dan juga bangku kayu later L mengelilingi tungku perapian surabi sebagai tempat duduk para pelanggan.
"Ambu, surabi endog ngangge oncom 2, sareng nu kinca na oge 2 nya !" ujar Shania, Arka terlihat sedang mentranslate kan pesanan Shania.
(Ambu, serabi telor pake oncom 2, sama yang gula merahnya juga 2, ya ! )
Benar saja, disini memang hangat karena langsung berhadapan dengan hawu atau tungku. Ternyata ini kehangatan yang dimaksud Shania.
"Nemu kan ?! Kehangatan !" kikik Shania.
"Anget lah, langsung di depan tungku," jawab Arka.
"Serabi disini nomer Wahid !! Dijamin mas suka !"
"Mangga atuh neng, " si penjual menyerahkan piring berisi serabi pesanan mereka.
(Silahkan neng,)
Rasa perpaduan gurih, asin, dan pedas menyatu dalam mulut, tak lupa wangi kayu bakar yang menguar semakin menambah nav su makan.
"Mas lapar ?" tanya Shania terkekeh.
"Abisnya dingin," jawab Arka menambah pesanan.
"Abis ini mau kemana ?" tanya Arka.
"Emhhh," Shania terlihat berfikir, jalan jalan tapi bikin otak adem.
"Kemana ya ? banyak pilihan tempat soalnya !" bingungnya.
"Mas kan tamu sekarang, jadi kamu yang harus menjamu," ujar Arka lagi menikmati tiap gigitan serabi.
"Sha ga mau ke Alun-alun ataupun tempat yang rame rame orang, atau cuma belanja belanja, bergumul sama jalanan !"
Shania langsung berbinar, bohlam 10 wattnya keluar dari dalam kepala perempuan itu.
__ADS_1
"Mas tau legenda Sangkuriang ngga ?" tanya Shania.
"Tau. Gunung Tangkuban Parahu ?" jawabnya, jika Shania lupa mari kita ingatkan kalau Arka adalah seorang guru, meskipun ia adalah guru kimia, oh ayolah ! Legenda Indonesia, Sangkuriang, Dayang Sumbi, Si Tumang, anak yang menyukai ibunya sendiri, siapa yang tak tau ?
"Mas udah pernah kesana ? Buat liat gunungnya ?" Arka menggeleng.
"Kalo gitu masa sekolah mas ngebosenin ! Selamat !! Hari ini tour guide cantik bakalan nemenin kamu buat jalan jalan ke gunung Tangkuban Parahu, Yeee !!!" serunya bertepuk tangan heboh sendiri.
"Sekarang ?" tanya Arka polos mirip serabi yang ada di depannya.
"Taun depan, nunggu erupsi ! Ya sekarang lah !!" desis Shania.
Gadis ini berdiri, "mas bayar dulu serabinya !" Arka mengeluarkan uang dari dalam sakunya.
"Berapa bu ?" tanya Arka.
"20 ribu kang, "
"Cie dipanggil akang, " Shania menyenggol nyenggol Arka setengah berbisik saat keduanya tengah menunggu uang kembalian.
"Makasih bu, "
"Nuhun ambu,
"Sami sami, sawangsulna !" kerutan di sudut matanya menunjukkan keramahan.
"Hayuu atuh jalan akang gendang !" ajak Shania menggandeng tangan Arka menyelipkan jemari miliknya di sela sela jemari Arka. Perbedaan yang sangat jelas, antara jemari putih dan lentik milik Shania menyusup masuk diantara jari jari besar Arka.
Keduanya kembali menyusuri jalanan beraspal menuju rumah, dalam keadaan pagi yang masih menyisakan warna gelap malam.
"Pake mobil ?" tanya Arka bersiap siap.
"Pake becak, ya iya atuh masa mau naik onta," teh Yeni yang mendengarnya tertawa renyah.
"Ish, teh gimana kata A Ridwan ?" tanya Shania memasang sepatu sneakernya sedikit kesulitan karena perutnya, pada akhirnya Arkalah yang membantu memasang simpul tali sepatu Shania.
"Oke, udah sip ! tinggal otewe aja, nanti disana ada kang Urip yang kasih tiket !"
"Asikkk, mau liat Bulan !" jawab Shania berseru.
"Ngapain ga ada kerjaan liat bulan terus ? da bulan mah masih gitu gitu aja belum berubah jadi cilok !"
"Idih, gitu tuh yang ga pernah romantis romantisan. Ga tau ya, Sha mau ukur jarak bumi ke bulan. Soalnya ada yang pernah bilang katanya begini, love you to the moon and back !" tiru Shania membuat Arka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum hangat.
"Ah ga ada kerjaan aja bolak balik ke bulan cuma buat ngukur cinta," meledaklah tawa Shania sampai gadis itu mengeluarkan air matanya.
"Cinta mah is money, tetep aja ga ada money cuma makan cinta mah teu wareg !!" (ga kenyang)
"Ih cewek matre, " cibir Shania.
"Iya atuh da beli skin care mah ga bisa pake bpjs," teh Yeni melanjutkan acara sapu menyapu halaman yang banyak berserakan daun-daun berguguran dari pohon rambutan.
"Teh itu tuh pohon masih sering berbuah engga ?" tanya Shania masih menunggu Arka mengambil kunci mobil.
"Masih, suka dibagiin aja lah. Ga ada yang makan soalnya,"
Shania mengangguk anggukan kepala.
"Mau pada kemana ini teh ?" tanya nya merapikan lidi lidi sapunya agar sejajar di bagian atas dengan cara menepuk nepuk.
"Mau liat bukti sejarah si tumang !"
"Tangkuban Parahu ?" tanya teh Yeni.
"Yoyoy !" jawab Shania.
__ADS_1
"Oh hati hati atuh, "
"Sip, kalo teh Nengsih udah dateng w.a. aja ya !"
"Oke, "
"Teh jalan dulu," pamit Arka masuk ke dalam mobil.
"Iya sok hati hati di jalan," teriaknya.
Mobil keluar dari halaman rumah perjalanan tak pernah suntuk, meskipun beberapa kali mereka menemukan titik kemacetan, apalagi ini adalah weekend. Mobil melewati jl. Sukajadi, terus berpacu hingga melintasi Amazing Artgames sebuah tempat wisata dengan lukisan 3D yang membuat kita seakan berada di dalam lukisan jika berswafoto. Lalu mobil melewati kampus ternama di Bandung, UP*I. Disana laju kendaraan mulai tersendat karena ramai oleh para pelancong.
Disinilah beberapa tempat wisata Lembang berada, bisa mereka lihat antrian yang mengular dari The Great Asia Afrika dan Farm house, padahal 2 tempat wana wisata tersebut baru saja membuka loket tiket masuk.
"Ga mau kesitu ?" tanya Arka menunjuk ke arah luar jendela mobil, Shania menggelengkan kepalanya.
"Bosen, lagian di dalem malah bikin pusing mas. Kebanyakan buat tempat foto foto, apalagi yang itu, jalannya jauh, mendaki gunung lewati lembah, Sha kan lagi hamil. Bisa brojol pulang dari sini !" ia menunjuk ke arah luar jendela.
"Jadi kamu seneng ya berbau alam ?"
"Lagi pengen nyari yang tenang tenang mas, ga banyak orang !" jawab Shania. Perjalanan lumayan jauh, tapi tak menjadikan itu membosankan karena mata mereka dimanjakan oleh beberapa tempat wana wisata yang berderet di sepanjang jalanan Lembang, memang benar, banyak pelancong luar atau dalam kota yang memilih Lembang sebagai tempat berlibur. Alam yang masih asri membuat otak yang penat karena beban pekerjaan bisa menjadi fresh kembali. Volume kendaraan saat weekend akan berkali kali lipat menuju JABAR.
Hawa sejuk pohon pinus mereka rasakan menyentuh kulit me-recharge otak dan pikiran dengan kesegaran hutan pinus saat melintasi Bandung Tree Top, Orchid Forest, dan Wisata hutan pinus 16 di daerah Cikole.
Dimana kawasan wisata hutan pinus itu biasa dijadikan tempat untuk camping. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 15 menit keduanya sampai di tempat wisata Tangkuban Parahu.
Karcis masuk sudah di dapat, mobil melaju melewati sebuah terminal untuk penyewaan kendaraan.
Bau belerang/ sulfur belum begitu terasa.
"Mas, parkir aja disitu deket masjid ! liat kawah nya sambil jalan jalan," pinta Shania.
"Iya," Arka memarkirkan mobilnya sesuai permintaan nyonya lalu keduanya keluar.
"Tuh kan mas, bentukannya kaya perahu kebalik ?!"
TWA Tangkuban Parahu
Sebuah gapura dengan tulisan diatas di hiasi seekor macan dan burung di kanan dan kiri.
"Itu kawah Ratu, " Shania menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas, melihat kawah yang masih mengepulkan asap sulfurnya jauh di bawah sana.
Arka memberikan sebotol air mineral pada Shania, "jangan terlalu lama ya disini nya. Takut bau sulfur, kasian dedek."
Shania mengangguk, mengiyakan tanda setuju.
"Kalo ini kan mitos legendanya anak yang suka ibunya, terus karena ga percaya kalo Dayang Sumbi tuh ibunya dan si Sangkuriang tetep kekeh pengen lamar, maka Dayang sumbi bikin persyaratan. Minta perahu gede sebelum pagi, eh karena keburu pagi terus perahunya belum jadi, akhirnya ditendang makanya jadi kebalik dan ngebentuk gunung, kalo sekarang sih cinta ditolak uang bertindak, medsos juga ikutan nyerang !" cerita Shania sambil memandang lurus ke arah kawah dan sekelilingnya, merasakan terpaan angin yang menyejukkan.
Jika melihat alam begini, seketika otaknya kembali bersih kaya abis di pakein pemutih, kembali fitri.
"Tapi Sha lupa berapa ya ketinggiannya, " Shania menoleh.
"2084 meter diatas permukaan laut," jawab Arka.
"Nah itu, mas tau ?!"
Shania menoleh, "mas.." gadis itu memposisikan badannya menghadap Arka, tangannya terulur meraih tangan Arka lalu membawanya ke pipi dan mengecupnya.
"I love you at 2084 mdpl, mas !" celetuk Shania.
Arka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, tanpa menjawab dengan kata ia menarik Shania untuk lebih dekat dengannya, mengusap pipi selembut marshmallow itu, sedangkan sebelah tangannya menggenggam tangan Shania.
.
.
__ADS_1