
Sekalem-kalemnya, se dewasa-dewasanya Arka, ia tetap manusia biasa yang penuh rasa egois, ketakutan jika sesuatu miliknya direbut orang, wajar...
"Bukan saya tidak percaya Shania, tapi saya tidak percaya laki-laki. Shania pun hanya manusia biasa, bisa goyah jika si laki-laki lain terus bersamanya tanpa ada yang menengahi atau mengawasi."
"Denger kan ? Seorang yang bijak aja tau, ada saatnya laki-laki harus cemburu. Ga akan lempeng selamanya !" ujar Nino lalu terkekeh.
"Hooh Ka, apalagi Shania masih terbilang kecil, polos. Kalo ga diawasin siap-siap jadi duda. Welcome to the club dude..!" tawa Priyawan.
"Do'a loe Pri. Biar bisa tikung Shania gitu ?" seloroh Teguh.
"Hari gini tuh jamannya bahagiain istri orang bruhhh, ngeriii ! Bukan lagi jaman pelakor doang !" ujar Nino.
Arka melirik jam di tangannya. "Sudah jam 4, Jakarta macet. Saya duluan pulang, udah janji buka puasa di rumah !" Arka pamit.
"Oke Ka,"
"Besok saya kasih THR para pegawai sama Priyawan sesuai kesepakatan kita tadi."
"Sip !" jawab Priyawan, Teguh dan Nino.
"Hampers lebaran jangan lupa Ka, buat beberapa partner bisnis. Pake almond cookies yang waktu di hampers nikahan loe Ka, mantap tuh !" teriak Nino.
"Oke, saya pesan dulu sama mertua !"
Arka mengemudikan mobilnya membelah kemacetan kota, yang sudah menjadi makanan sehari-hari warga ibukota, itu kenapa liburan sangat diperlukan untuk warga ibukota agar mengurangi tingkat stress para warganya.
"Jadi gimana bun ?" tanya Arka di sambungan telfon.
"Sebentar Ka, ini pesan untuk kapan dan berapa banyak. Soalnya toko bunda banyak banget pesanan, sampai sekarang aja udah tutup PO ?"
"Sekitar...."Arka menghitung jumlah pesanan hampers hari raya yang harus ia buat, untuk pegawai dan partner bisnis angkringan, untuk kerabat, dan pegawai Route 78 juga partner bisnis berikut beberapa rekan guru, dan kepsek.
"40, isinya minta almond cookies, manisan nanas in jar, brownies, sagu keju, coklat, pake rengginang rasa ya bun biar sedikit unik, sama sirup."
"Waduh Ka, banyak ternyata ya. Nanti bunda lihat dulu schedule, bunda kasih kabar secepatnya !"
"Oke bun,"
Arka sudah sampai di rumah, rupanya si kecil Galexia sudah menyambutnya di depan pintu rumah dengan wajah cemberutnya digendongan Shania, seakan sedang ingin mengeluhkan rasa sakit suntikan tadi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Ini kenapa memelas gini ?"
"Atit," jawab Shania membuat Arka tertawa, kedua wajah dan tingkah mereka adalah moodbooster untuk Arka. Pengobat dikala rasa lelah mendera.
"Mas ke kamar mandi dulu, abis dari luar. Debu, kotor !" Shania mengekor masuk ke dalam.
Di dalam rumah ibu dan bi Atun sedang menyiapkan makanan untuk berbuka.
"Sudah pulang to,"
Arka pergi bersih-bersih untuk kemudian mengambil alih si kecil Galexia membiarkan Shania mandi juga.
Selepas tarawih, Arka kembali bergelut dengan laptopnya, disibukkan dengan urusan cafe dan angkringan juga kuliahnya. Anak-anak di ANGKASA RAYA sudah memasuki acara pesantren kilat, jadi ia tak begitu sibuk mengajar.
"Assalamualaikum Ka,"
"Iya bun, gimana ?"
"Aduh gimana ya, untuk beberapa list isian bunda bisa sediakan tapi untuk beberapa lagi kayanya toko bunda kewalahan !"
"Oke, apa saja yang bisa bunda sediakan ?"
"Rengginang rasa, nanas in jar, untuk sirup dan coklat kamu bisa beli sendiri. Nah untuk almond cookies, sagu keju sama browniesnya bunda kewalahan,"
__ADS_1
Arka terlihat berfikir, tapi sebuah ide muncul dari bunda.
"Gimana kalo untuk yang itu minta Shania saja yang membuat ?" Arka melirik gadis yang sedang tertawa-tawa menonton acara lawak bersama ibu dan bi Atun.
"Nanti Arka coba tanya deh bun,"
"Buatan Shania malah lebih enak kalo kata bunda, cuma emang dasarnya itu anak males. Moodnya swing, naik turun..mesti di rayu!"
"Oke kalo gitu, bunda siapin saja yang tadi bunda sebutkan biar Arka coba bujuk Sha,"
***
"Ekhemmm !" Arka ikut bergabung.
"Deheman pak ? Mau minum ? Apa mau digarukin pake sikat toilet ?" tanya Shania berseloroh.
"Sha, ada yang mau mas omongin."
Shania melirik bersama ibu dan bi Atun.
"Opo to nak ? wes kalo mau ngomong, ngomong saja !" jawab ibu.
"Jadi mas mau bikin hampers, minta bunda tapi ternyata bunda hanya bisa menyiapkan beberapa isian hampers saja, ada isian yang kurang. Toko bunda sudah penuh pesanan,"
"Ck, dibilangin juga ! Sha udah bilang sama bunda kalo mau Idul Fitri begini tuh tarik karyawan tambahan cuma buat puasa doang, biar ga kewalahan pesenan dan pemasukan bertambah, jadinya omset berkali-kali lipat," omelnya.
"Mas mau minta Sha yang bikin, "
Shania menoleh ke arah Arka, apakah ia tak salah dengar?
"Bikin kue ?" tanya nya memastikan, Arka mengangguk.
"Berapa banyak ?" tanya Shania.
"Buat 40 hampers," jawab Arka.
"Cekik aja Shania mas, " keluhnya membuat ibu dan bi Atun tertawa.
"Memang isinya apa aja Ka ?" tanya ibu. Arka menjelaskan isian hampers dan apa saja yang tak ada.
"Yuk, ibu bantu ! Membuat kue sudah jadi tradisi lebaran nduk, "
"Bi Atun bantu deh neng,"
Shania menggeleng, "kalo bi Atun nanti ga ada yang bantuin Sha beresin rumah, kalo ibu bantu nanti dedek ga ada yang pegang kalo Sha buat kue,"
Sepertinya Shania akan meminta bantuan pasukan demit. Bukan demitnya Bandung Bondowoso ataupun demitnya Sangkuriang. Tapi demit berandalnya. Pasukan kurawa yang kalo ditawarin bukaan gratis sebagai upahnya pasti mau.
"Oke, tapi nanti jangan lupa THR Sha ya mas, " jawab Shania akhirnya menyetujui.
"Oke, " senyum Arka terkembang.
"Tapi sebanyak itu kamu bisa sendiri ? Kalaupun mas bantu mungkin tetep kewalahan."
"Tenang aja mas, Sha punya pasukan demit ko, sekalian mereka suruh bukber disini !" jawab Shania.
Shania, "Coy !! Tes kejiwaan ??!"
"Hahaha saravvv !" balas Deni.
"Hadirun, masih gini-gini aja. Tetep ganteng, keren dan mempesona !" balas Roy
"Cuihh ! Prettt ! Minggat ke laut sono !" balas Deni.
"Mas Den gitu, ga inget semalam kita ngapain, begitu mudahnya mas Den melupakan neng," balas Roy.
"Anjr*ittttt loe berdua mandi tanah sana, na zisss !" balas Guntur.
__ADS_1
"Sehat alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar !!!" balas Ari.
"Berasa anak SD," timpal Guntur.
"Absen Sha, mata masih dua, tangan dua, kaki dua, cuma pacar yang nol !" balas Leli.
"Promo ! Kenapa ga pake banner aja Li, sekalian pakein tulisan beli 2 gratis 1," balas Roy.
"Lo kira gue detergent apa ?!!! Sini gue sleding loe Roy !" balas Leli.
"Ada apa ini ?" balas Melan.
"Yoo !" balas Niken.
"Besok ke rumah, mau nambah pahala sama bukber ngga ?" balas Shania.
"Asikk, makan gratis nih ?! Kuy gaskeun," balas Roy.
"Yuuu, mauuu !" balas Melan.
"Oke, besok datang ke rumah dari pagi. Bantuin dulu emak bikin kue ya anak-anak !" Balas Shania.
"Siap mak !" bLas Ari.
"Yeee !!! Mama Sha-sha mau bikin kue, berasa kolot banget loe Sha, bikin kue lebaran. Ibu-ibu banget, hahahaha !" timppal Melan.
"Daripada loe, bisanya bikin keributan !" balas Roy.
"Kimvrittt," balas Melan.
"Heh..Heh..heh...mulut-mulut loe, mulut ketan. Ini Ramadhan, ketan harap diiket," balas Deni.
"Boleh gue bawa bekel ngga ntar kuenya ?" balas Guntur.
"Hahahahaha, ini dia emak emak sebenarnya. Sikat Tur, bawa semua toples kosong di rumah yang gede sekalian, ntar diisi di rumah pak Arka !" balas Niken.
"Buat loe apa sih yang engga 😏" balas Shania.
"Asik, mama se xy lagi rayu-rayu mpok leha," balas Leli.
"Saha mpok Leha ?" balas Roy.
"Guntur" balas Deni.
"Guntur," balas Ari.
"Hahahahaha" balas Melan.
"Njirrr..." balas Guntur.
"Kenapa disebut mpok Leha," jawab Leli.
"Abisnya si Guntur kan laki berasa war ia, eh wanita," jawab Niken.
"Fisik bapak kelakuan emak," balas Deni.
"Dede balik aja ah, dibully kalian manusia manusia dur ja na," balas Guntur.
"Udah ga usah pada ribut, pokonya besok ke rumah pagi. Ditunggu !" balas Shania.
.
.
.
.
__ADS_1