
Rindu itu berat, dan aku tak mau....
Shania Cleoza Maheswari
-----
Perkataan si sosok the sweetest bad guy di Indonesia itu, ada benarnya tapi ada salahnya juga. Rindu memang berat, tapi jika harus aku saja yang mengalaminya, Shania embuhhh...
"Xia sayang, momy kangen !"
"Dara, neng...Dara...! Xia mah kaya kasar atuh, " jawab bunda di layar pipih miliknya saat melakukan panggilan video.
"Terserah aku bun, anak..anak aku ini," cebik Shania.
"Neng, udah makan ? Jangan kepikiran sama Dara, ada ibu sama bunda disini. Sha disana sembuh aja dulu,"
"Nduk, jangan bebani pikiranmu sama si cantik, ataupun ujian. Sing penting sembuh aja dulu," ibu selalu tau apa yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini. Apakah ibu semacam indigo atau cenayang?
"Iya bu, bunda. Titip Xia ya sampe Sha sembuh, maaf ngerepotin !" Shania mengecup telapak tangannya, dan menempelkannya di layar pipih miliknya, memperlihatkan wajah gemas putrinya, semakin dilihat...semakin Sha rasakan rindu yang menggelayut sebesar purnama.
"Kecup jauh dari momy buat Xia," Shania mengusap sudut matanya beberapa kali, lalu memeluk Arka yang setia menemaninya.
"Kangen dedek mas, " ia menenggelamkan wajahnya di perut Arka.
"Mas tau, mas juga sama. Anak-anak Route 78 suka datang ke rumah kok, buat temenin dedek."
Shania patut bersyukur, selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Sha mau peluk dedek kalo dah sampe rumah, ga mau dilepas !" Arka mengangguk.
"Mas, mau peluk kalian berdua !" jawab Arka.
"Berapa lama Sha harus disini mas ?" tanya Shania.
"Sampe dokter bilang boleh pulang," jawab Arka lagi, membuat Shania berdecak kesal.
"Yee, itu mah Sha juga tau !"
Shania melihat ke arah jendela rumah sakit, saat ini bumi sedang dibasahi rintikan hujan,
Liat kan, langit aja nangis liat momy pisah sama dedek.
"Mas, nemenin sambil ngerjain tugas. Ga apa-apa kan ?" tanya Arka diangguki Shania.
Lalu netranya beralih pada kresek hitam yang tergeletak di bawah meja, mungkin karena tak cukup untuk ditaruh di atas meja kecil properti rumah sakit.
"Mas, itu apa ?" tunjuk Shania.
Arka menoleh, "pisang.." Shania melotot, demi apa...Arka membawa pisang satu sisir.
"Pisang ??!!! satu sisir gitu ? Yang bener aja mas !" Shania terkejut sekaligus mengulum bibirnya, tak habis pikir dengan pemikiran Arka.
"Iya, sengaja. Buat kamu minum obat," jawabnya.
Shania tertawa lepas, mendengar penjelasan Arka. Kapan terakhir Arka melihat tawa Shania ? saat kedatangan Deni cs sepertinya.
"Mas tuh ada-ada aja ih, malu-maluin tau ngga, kan jadi aku yang malu, " kikik Shania mencebik dan memukul pelan tangan Arka.
"Malu sama siapa? Kan mas udah tau !"
__ADS_1
"Sama suster, kalo nanya itu apa gimana, ko aneh..setiap nampan bekas makan aku selalu ada kulit pisang, kaya si ongky ! " terang Shania.
"Bilang aja buah favorit kalo tiap sakit," jawab Arka.
"Dih, masa tiap sakit doang doyannya ! Ngaco !"
"Mas, ga takut di pecat ? Soalnya mas sering minta cuti. Baru aja cuti lahiran dedek, sekarang mas ijin lagi buat urusin aku, "
"Kerjaan masih bisa dicari Sha, tapi istri kaya kamu ga berhak mas sia-sia in,"
"Uwuuuu, sarangheo oppa !" kikik Shania menautkan jari telunjuk dan jempolnya.
"Emang mas setua itu disebut oppa ?" Shania tertawa kembali.
"Dih ga gaul, makanya kalo main jangan nyabutin singkong di kebun pak Raden doang, jadi ga tau oppa tuh apa !"
"Mas, Sha pengen ke toilet, " pinta Shania.
"Yu, mas anter !" Arka menaruh laptopnya dan menggeser kursinya.
Menahan beban tubuh Shania, dan membantunya berjalan menuju kamar mandi dengan tiang infusan yang masih menempel, sedangkan transfusi darahnya sudah dihentikan sejak kemarin. Sedikitnya wajah Shania kembali merah teraliri darah, meskipun masih pucat.
"Dah, mas balik lagi aja. Biar Sha sendiri !" Shania sudah duduk di closet.
"Bisa ?!" tanya Arka, Shania menggaruk belakang telinga tak gatal, ia sendiri kebingungan karena susahnya menurunkan celana.
"Sini !" Arka menggeser tiang sedikit ke samping dan berjongkok di depan Shania.
"Bentaran..bentaran...! Mas tutup matanya dulu deh !" pinta Shania. Arka mengangkat alisnya sebelah.
"Ngapain harus tutup mata, lupa ? Kalo mas udah liat semua, udah jelajahin, keluar masuk jadi penghuni tetap ?" membuat Shania mencibir dan manyun.
"Lagian untuk saat ini mas belum bisa sentuh kamu, kamu masih dalam masa nifas," lanjutnya.
"Sha pengen ikutan puasa boleh ngga sih ?" ujar Shania seraya menyiram toilet dibantu Arka.
"Boleh, kalo kondisi kamu sudah pulih, konsultasi dulu sama dokter ya, mas ga mau ambil resiko sekecil apapun !"
Keduanya kembali ke kamar. Demi mengusir rasa bosan, Shania melihat-lihat ponselnya, mendapati grup demit demit Menteng sangat berisik, ia menganga melihat jumlah pesan yang belum terbaca, termasuk whatsapp per orang yang menanyakan keadaannya. Arka sengaja melarang mereka untuk berkunjung dahulu, selain fokus mereka untuk ujian tapi memang agar Shania bisa istirahat banyak.
Roy : mamposss aja tuh, kurma kan, rasain busuk, busuk deh tuh di bui !
Leli : pengen banget gue bejek-bejek mulutnya si Bemo deh tuh !
Niken : suttt !!! nih emak malin kundang pada lagi sumpah serapah, ga usah di denger gaes !
Melan : Bukan untuk ditiru bocil !
Ari : emak Cinderella lagi pada ngamuk, tiarap !!
Guntur : Hah ?! maling kotangg, Ken ? Dimana ?
Deni : Di hatimu abang !!
Niken : Saravvv njirrr !
Ari : Tuh maling kotanggg lagi nyemil seblak !
Roy : saravvvv, gue mah spesialis ce lana da lam !
__ADS_1
Leli : dih ga sangka gue punya temen temen klepto kabeh !
Guntur : Hah ?! korban crypto ?! Udah ga jaman mainan crypto sekarang, jamannya ban dar to g3l, atau ludo !
Roy : Gue bom juga mata loe Tur,
Melan : Yang nyimak jangan lupa makan yang banyak, jangan lupa bahagia, kasian ponakan emesh gue Sha, ditinggal-tinggal.
Leli : Semangat momy Sha-sha...
Deni : Gws Sha,
Ari : Jangan lupa tersenyum Sha,
Guntur : Jangan lupa pake daleman Sha,
Roy : Sat ! Apaan pesen loe, minta ditabok pak Arka.
Shania : Thanks guys, lope lope seladang paman Mc. Donal !
Shania cekikikan membaca sederet pesan mereka. Ia menghela nafas lelah. Sekolah kembali ramai oleh kabar Bimo yang terjaring razia nar koba tepat sehari sebelum UAS di salah satu jalanan saat para polisi tengah patroli malam.
"Hari ini hari terakhir mereka UAS," gumamnya.
Arka melirik Shania, ia tau betul berkali-kali Shania harus mengurut dan berlapang dada mengorbankan kesekian kalinya harapan yang sudah ia gantung setinggi galaksi, seperti do'a keduanya yang disematkan pada si kecil Galexia, kandas.
"Mas yakin akan ada pelangi setelah hujan, " ujarnya membuat segaris tipis senyum getir Shania tercipta.
"Insyaallah mas. Yang Sha pengen, sekarang sembuh terus ketemu dedek, Sha ga kuat nahan kangen."
"Mas, ini ASI Sha udah bocor. Ka Dimas kapan ambil stok ASI ?" tanya Shania. Beruntunglah Galexia, ASI Shania tetap mengalir lancar, setelah berkonsultasi dengan dokter dan terapi zat besi yang Shania jalani, Ia tetap bisa memberikan ASI untuk bayi gemoynya itu. Tanpa harus mengandalkan susu formula yang Arka berikan.
Arka mengambil Breast pump sepaket dengan cooler bag, dan minyak zaitun untuk mengolesi ujung milik Shania agar tetap lembab.
Shania meminum susu hangat ibu me nyu sui nya lalu mulai memompa jatah makan malam milik Galexia.
.
.
Terhitung sudah hari ke 4 Shania dirawat di rumah sakit, dokter memasuki ruangan Shania pada sore hari. Mengecek ini dan itu, dengan sederet cek darah yang selalu Shania lalui.
"Besok sudah boleh pulang, tapi masih harus bedrest ya. Diusahakan jangan melakukan kegiatan berat terlebih dahulu. Harus dijaga pola makannya,"
Ucapan dokter bagai angin segar untuk Shania, benar-benar kalimat yang ingin Shania dengar sejak 4 hari yang lalu.
.
.
Noted
* The sweetest bad guy : pemuda nakal termanis.
* Indigo : orang dengan indra keenam.
*Klepto / kleptomania : gangguan kontrol impuls yang menghasilkan dorongan tak tertahankan untuk mencuri.
* Breast pump : alat untuk memompa ASI
__ADS_1
* cooler bag : tas dengan lapisan almunium foil untuk memelihara suhu panas atau dingin dalam waktu tertentu.
*bed rest : istirahat di tempat tidur, tanpa melakukan kegiatan berat ataupun yang melibatkan pekerjaan fisik.