
Shania bersama Arka masuk ke dalam ruangan, setelah menunggu nomor antrean.
Ruangan yang kedua kalinya Shania masuki, dengan poster berbagai posisi ibu melahirkan, manfaat ASI kolostrum, dan perkembangan anak sesuai usianya tertempel di sepanjang dinding ruangan.
Shania diperiksa dokter, tekanan darahnya rendah, suhu dan semacamnya normal, hanya mungkin berat badannya naik meskipun tidak kentara.
"Kram perut itu biasa terjadi, di usia kandungan trimester awal. Gerakan spontan, ataupun stress pada bundanya bisa menjadi pemicu. Jangan terlalu sering ya, sebab kalo sering bahaya juga, udah bagus loh ini berat badannya naik, good job ! padahal biasanya nih, kebanyakan ibu hamil muda apalagi ini masih sangat muda terjadi yang namanya morning sickness, mual muntah sampai susah buat masuk nutrisi. Tapi momy cantik kita ini hebat !"
"Ini kayanya bundanya butuh healing nih ! stress kenapa cantik ? jangan banyak pikiran ya, kasian dedek-nya, tekanan pelajaran atau karena ga dikasih jajan sama ayahnya dedek ?" goda dokter Rani.
Untuk alasan kedua sangat tidak mungkin, jika hanya karena uang jajan, tidak akan membuat Shania sampai stress, apalagi sangat tidak mungkin jika Arka tidak memberinya uang jajan.
"Posisi bangun tidur, badan dimiringkan dulu ke salah satu sisi, salah satu tangan menumpu. Begitupun kalo dari duduk atau jongkok jangan langsung bangun ya,"
Vitamin, obat tambah darah sudah ditangan membuat Shania berdecih.
"Cih, kenapa mesti obat yang itu sih mas," Arka tau Shania menunjuk pada tablet tambah darah, musuh besarnya.
"Mas kenapa ga ngomong sih minta suplemen nya jangan yang bentuk tablet, tau Sha ga bisa makan obat !" omelnya manyun. Bukan pada dokter Rani tadi, tapi pada Arka yang selalu jadi pelampiasan Shania. Little momy yang satu ini gemasnya bukan main, minta dikresekin terus dibuang ke laut, biar bareng teman satu frekuensinya yang suka menggerutu sambil menggembungkan pipi si Squidward atau mungkin nyonya puff.
"Kenapa bukan kamu yang bilang tadi sama dokter, mas kira kamu lebih suka makan obat dengan cara mas."
Wajah gadis itu memerah, "ishh, itu mah maunya mas !" cubit keras Shania di lengan Arka, malu malu meong, marah marah tapinya suka begitulah Shania.
"Jangan terlalu membebani pikiranmu, kamu cukup belajar dan menjaga kesehatan kamu dan dedek. Biar sisanya mas yang urus," pintanya merangkul Shania.
"Tadi liat ibunya Maya jadi inget bunda, Sha tuh berasa selangkah menjauh dari kematian mas,"
"Kayanya kalo Sha ikutin langkah kaki Sha kemaren terus mas ga ada buat marahin Sha, bukan cuma Maya yang baringan tanpa nyawa, tapi...." Arka memasukkan Shania ke dalam pelukannya.
"Ga usah ngomong macem macem, ucapan adalah do'a. Lagian siapa yang marahin kamu ? Kapan mas marahin kamu ?" tanya nya.
"Dih suka pura pura amnesia, mas jangan kaya gitu. Mas belum tua tua amat, ga inget apa pagi pagi yang ga kasih Sha motor, yang sekarang batasin ruang gerak Sha biar di rumah aja siapa ? yang nanya nanya obrolan Sha sama Deni siapa? Udah gitu mas nanya nya sepaket sama alis nukik, kaya gini...apa namanya itu kalo bukan marah marah ?! mas ga ijinin kamu buat gugurin kandungan ! " tiru Shania tapi bedanya pipi Shania gembil membuat Arka mengulum bibirnya.
"Pipi mas ga menggelembung gitu ko," goda Arka.
"Ihhh, mas mah nyebelin ! kaya netizen, suka bully ! itu body shaming namanya mas !" Shania memukul mukul lengan atletis lelaki matang ini.
"Ayahnya dedek nyebelin banget, tukang bully !!" ada yang berbunga tapi bukan kebunnya pa tani melainkan hati Arka.
"Mau ke Bandung ?" tanya Arka, wajah Shania langsung berubah menghangat.
"Mauuuu ! eh, tapi ntar aja mas, kalo sekarang sayang, lagi padet padetnya jadwal pemantapan, apalagi mau uts. Gimana kalo udah uts aja ?! Jadi mas juga bisa prepare ngurus kerjaan sama kuliah ?" serunya ceria.
"Berarti masih sekitar 1,5 bulanan lagi. Yakin ga kelamaan ?" tanya Arka meyakinkan, pasalnya little momy yang satu ini adalah salah satu makhluk berjuluk wanita tak sabaran.
"Yakin. Kan mas kerja, kuliah, ngajar..kata mas kalo mau pergi pergian mas mesti rescedule jadwal mas yang seabrek itu !" Arka menarik senyumannya, satu persatu hal terkecil mulai berubah, Shania mulai mengerti kesibukannya, mengesampingkan egonya.
"Istri nakal mas udah pinter," jawabnya mengusap pipi Shania membuat Shania tersenyum bangga, meskipun wajah Arka datar datar saja mengucapkannya, dan tanpa pom-pom atau corvetti ultah. Memang sudah stelan lelaki ini begitu dari sono-nya.
__ADS_1
"Mas, Shania udah ga nakal ya !"
"Sha kangen sama bunda," ujarnya.
"Ya udah mampir dulu ke rumah bunda ?" Shania mengangguk.
"Tapi Sha juga mau rujak ya mas, " tak ada ngidam yang aneh aneh untuk Shania. Seperti ngelusin 'pala pria botak atau nyari durian musang king tengah malem sampe Medan.
"Iya, nanti nyari di jalan."
Klik !
Seatbelt terpasang, Arka memang dingin di luar jarang tersenyum. Tapi ia lembut di dalam, selalu memperlakukan Shania dengan lembut terkecuali saat sedang marah. Kaya mochie ice cream, kalo sudah sayang lumer deh...
"Assalamualaikum ! Sepedaaahhh !!" salamnya memekik.
"Sepada," ralat Arka.
"Bunda !!! bunda..oh bunda..!"
"Gandeng (berisik) !" bunda menjawab dari arah dapur.
"Baru pulang ?" tanya bunda.
"Engga, baru pulang dari rumah sakit. Abis kontrol !" jawab Shania melengos ke dapur membawa bungkusan rujak untuk dipindahkan.
"Bageur (baik) ! cuma Sha tadi kram perut bun. Bunda tau engga Maya yang suka berantem sama Sha," Shania duduk di samping Arka sambil membawa piring berisi rujak, bunda ikut mengekor duduk seraya membawa note, kacamata, dan pulpen. Sepertinya bunda tengah menghitung sesuatu.
"Bi ! minta bikinin minum buat Arka," pinta bunda.
"Ga usah bun, biar Sha aja ! mas Kala soalnya beda selera kopinya, kaya mbah dukun, ga suka yang manis manis, soalnya udah ada Sha yang jadi pabrik gulanya !" obrolan mereka terjeda oleh Shania yang membuatkan kopi.
"Ih pede !!" cebik bunda.
Bunda tersenyum, melihat Shania yang sudah mulai bisa bertanggung jawab.
"Gimana Ka kondisi si utun sama momy nya yang bangor (nakal)? "
"Bagus bun, Sha juga ga ngalamin morning sick, berat badan bertambah. Cuma tekanan darah rendah, Arka ngajakin Sha ke Bandung. Mungkin Sha butuh liburan, bun."
"Oh iya, bagus atuh ! biar nanti Arka juga kenal sama sodara yang di Bandung, kapan rencananya ?" tanya bunda.
"Sehabis uts aja bun, Sha sendiri yang minta."
"Ya udah, pake aja rumah bunda yang di Bandung. Rumah yang sengaja bunda sama ayah beli buat kalo mudik atau main ke Bandung."
Arka mengangguk, "ayah kemana bun ?"
"Ayah belum pulang, mungkin sebentar lagi."
__ADS_1
Shania datang kembali dengan secangkir kopi,"
"Bunda inget Maya ?!" tanya Shania kembali.
"Maya...Maya yang sering berantem sama kamu ? Maya yang bedaknya camerok siga kesemek (cemong kaya buah kesemek)? Anu pake blush on kandel siga tos ditonjok (yang pake blush on tebel kaya abis di tonjok)?"
Shania ingin tertawa tapi takut dosa, atas kejujuran ibunya.
"Iya bun, tadi jam 9 lebih 20 meninggal bun," sendunya menusuk potongan buah dengan tusuk sate dan mencelupkannya pada bumbu gula merah.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, kenapa bisa gitu ?" bunda terkejut.
"Maya hamil bun, terus digugurin ternyata komplikasi." Mata Shania kembali memanas, akhir akhir ini ia sangat melow dan perasa.
"Ko bisa ? Sama pacarnya ? Ga mau tanggung jawab ?" tebak bunda.
"Tadi liat ibunya sedih banget, berasa inget bunda," ucap Shania.
"Maafin Sha sempet berfikir buat gugurin juga," suaranya bergetar dan Arka mengusap kembali punggung Shania.
Bunda menarik Shania ke dalam pelukannya, "ga apa apa, Sha ga sendiri. Sha harusnya bersyukur punya suami yang tanggung jawab, masih ada bunda sama ayah," jawab bunda ikut mengusap sudut matanya.
"Masalah sekolah, kuliah ga usah khawatir," tambahnya.
Ayah datang, hanya Arka yang menjawab salam ayah. Karena kedua perempuan ini tengah menikmati suasana haru dengan saling berpelukan.
"Kenapa ini pada peluk pelukan, Ka ? Sampe salam ayah ga dijawab ?"
Arka hanya mengulas senyumnya.
"Dari rumah ? Ko masih pake seragam ?" tanya ayah.
"Dari RS yah, habis kontrol. Kebetulan tadi Shania kram perut, jadi langsung ke RS," jawab Arka.
"Oh, ceritanya lagi ngadu ini ke bundanya ?" goda ayah.
"Siapa yang ngadu ? Engga ya !" cebik Shania kembali melahap rujaknya.
Setelah melepas kangen pada bunda dan ayah, akhirnya Shania dan Arka memutuskan pulang.
"Jangan lupa itu dimakan, bolu-nya dipakein cream lemon, jadi ga bikin eneg ! Jangan pentol terus yang dibelinya," pekik bunda, bukan cuma bolu saja, mereka pulang dengan beberapa kresek berisi masakan bunda, sayur, buah. Seperti sedang akan berkemah di tengah hutan belantara. Kasih sayang ibu memang sepanjang masa dan seheboh itu.
.
.
.
.
__ADS_1