Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Ujian


__ADS_3

Beberapa hari, beberapa minggu menjadi sangat cepat karena tak pernah ia hitung.


"Mas, acara tujuh bulanan nanti selesai UN aja. Takutnya aku masih riweuh (ribet, hectic, sibuk) !" ujar Shania mulai menyiapkan segala perlengkapan alat tulis. Perjuangan selama 3 tahun dipertaruhkan selama 4 hari saja, meskipun tahun ini tak sepenuhnya nilai UN yang menjadi acuan kelulusan. Tetap saja, Shania ingin semuanya sempurna.


"Iya, ibu juga rencananya datang ke sini."


"Mau pake acara adat gitu ?"


"Terserah."


"Siapa aja yang dateng mas ? " tanya Shania.


"Cuma orang terdekat saja, Sha maunya kaya gimana ?"


Jika ditanya maunya Shania seperti apa ia pun tak tau, karena jujur anak muda sekarang boro-boro kepikiran acara 7 bulanan, yang ada di pikiran Shania ya.. ujian, persiapan kuliah, dan melahirkan nanti.


"Mas, lahiran tuh katanya sakit. Sha ga mau sakit mas, " tiba-tiba ketakutan menyerang si calon little momy ini.


Jangankan Shania yang masih sangat muda, perempuan yang sudah matang pun jika menghadapi proses melahirkan pasti akan takut.


"Insyaallah Allah akan melancarkan proses melahirkan dedek nanti, " jawaban Arka tak serta merta dapat menenangkan hati Shania yang mengalami syndrom dadakan ibu ibu hamil. Tak ada proses melahirkan yang tak sakit, karena disitu letak perjuangan mencari surganya Allah, pertaruhan hidup dan mati seorang perempuan demi melahirkan penerus kaumnya. Tak main main balasan yang Allah berikan, itu kenapa ibu memiliki hak kemuliaan lebih besar dibanding ayah.


"Ya udah biar diurus bunda aja mas," ujar Shania.


"Nanti ngerepotin bunda, Sha."


"Bunda justru nanyain mas, katanya mau pake adat jawa apa sunda? walaupun sebenernya ga beda jauh, masih sama sama juga,"


"Ya udah biar nanti mas bicara sama bunda, " jawab Arka.


*****


Shania menarik nafas. Memberikan afirmasi positif untuk dirinya sendiri. Jika masalah otak dan menghafal aman terkendali, beda dengan perasaan dan nyalinya.


Jika dulu datang ke sekolah ia biasa cuek bebek, meskipun ia tau jika ujungnya pasti dihukum, it's no problemo untuknya. Sekarang beda keadaanya, swetter, jaket sudah tak dapat menutupi perutnya yang sebesar balon ultah.


Apa perlu ia meminjam kostum badut mampang agar tak terlihat, karena sedikitnya penampilan Shania akan membuat hati siapa saja yang melihat menohok.


"Takut?" tiba-tiba saja sebuah tangan besar dan hangat menggenggam tangannya yang mendadak dingin. Shania mengangguk seraya menelan saliva berat.


"Mas antar sampai ruang guru," yap ! Shania memang terpisah dari siswa lainnya demi menghindari keributan dan hal yang tidak diinginkan. Tapi untuk sampai disana ia harus melewati selasar kelas siswa.

__ADS_1


Sekali lagi mentalnya ditempa disini. Shania turun dari mobil bersama Arka, sepasang anak manusia lintas generasi saling berpegangan menuju ruang guru.


Tatapan hampir semua yang disana sudah pasti menyorot padanya. Shania terkadang menutupi posisi perutnya dengan papan dada dan tas.


"Shania !!!" pekik teman teman satu kelas yang sama sama sedang ujian.


Shania menoleh dengan rasa panik, saat beberapa siswi itu mendekat.


"Semangat Sha, big hug buat calon momy !" peluk mereka, Shania sampai membelalakkan matanya tak percaya. Tidak semua ketakutannya menjadi kenyataan.


Ingat kan ia tentang apa yang ia tanam apa yang ia tuai, Shania memang nakal, selalu membangkang dan melanggar, tapi tidak menjadikannya seseorang yang memperlakukan teman dengan seenaknya, Shania baik, Shania ramah, dan terlebih lagi ia setia kawan. Maka itu yang ia dapatkan sekarang atas apa yang sering ia lakukan dulu pada orang lain.


Air matanya meleleh, "thanks guys !"


"Udah ga usah mewek ah, mana ada Shania mewek !" ujar mereka. Pagi pagi di hari ujian nasional serasa seperti acara sungkeman, haru biru.


Shania duduk di depan layar komputer.


"Bismillah," gumamnya. Sepertinya bunda mesti tumpengan, kapan lagi anak nakal ini berdo'a sebelum belajar, apa sekarang wetonnya ? atau memang anak nakal itu sudah sadar sesadar-sadarnya ?


Begitupun berandal squad, mereka sudah siap. Tak pernah mereka sesiap ini dalam menghadapi sebuah ujian, bahkan si kotak kuning yang akan bekerja di rumah krabby patty pun kalah siap.


"Gue berasa jadi orang bener tau ngga ?!" ucap Roy jumawa.


"Byurrrr !!!" Niken sampai menyemburkan minumnya.


"Gileee ! Baru kali jawaban tuh kaya seliweran di otak, wedyannnn lah ! pak Arka emang best, " imbuh Ari.


"Silahkan log in, ibu kasih waktu untuk log in 10 menit,"


"Bismillah, semoga do'a emak gue semalem nyampe ke langit !" Guntur menengadahkan tangannya ke atas.


"Pffttt, " tawa teman temannya yang duduk di sebelahnya.


"Ape loe ketawa ? Mau taruhan ngga ? kalo gue lulus terus bisa kuliah, loe mesti nari kuch kuch hota hai di lapang ?" tantang Guntur.


"Dih, loe aja sono !" jawabnya.


"Mas harus ke kampus, nanti pulangnya di jemput Dimas," Shania mengangguk.


"Hati-hati,"

__ADS_1


"Keep spirit, my little wife !"


(Semangat, istri kecilku !)


Kecupnya di puncak ubun-ubun Shania lalu pergi tanpa menoleh ke belakang lagi meninggalkan Shania yang duduk seraya terbengong.


Apa dia kata ?


Mata pelajaran pertama selesai, Shania menarik nafasnya lega.


"Sudah ?" tanya pengawas, beberapa kali ia melirik perut Shania, entah tak percaya atau sedang mencibir, tapi Shania tak peduli.


"Udah, "


"Setelah ujian dan lulus mau ngurus anak aja ?"


Kepo banget.


"Sambil kuliah."


"Oh, yakin ?"


"Insyaallah, bukannya kehamilan dan mempunyai anak bukan suatu penghalang buat mengejar pendidikan dan cita-cita, pak ?" tanya Shania. Shania sudah terbiasa dengan keraguan orang orang akan dirinya. Gadis itu sudah terbiasa dengan penghakiman orang orang yang menganggapnya terlalu bermimpi, ataupun memaksakan. Ini hidupnya, selama orang orang terdekatnya mendukung Shania, orang luar minggir dulu ! Karena gadis ini tak akan peduli dengan ucapan ataupun pandangan mereka.


Shania meraih tumbler dan meminum infused water yang sudah ia buat sebelumnya, campuran mentimun, jeruk nipis, strawberry dan daun mint. Jam istirahat pergantian mata pelajaran hanya setengah jam. Shania memanfaatkannya untuk nyemil , selain otak yang butuh asupan energi, dedek juga perlu tenaga untuk menemani momy-nya ujian.


Sayang sekali guru guru di sekolahnya harus dirumahkan, untuk menghindari kecurangan dalam ujian nasional. Ruang guru terasa sepi tidak seperti biasanya. Sejenak Shania melirik meja Arka dulu, yang sekarang sepertinya ditempati guru lain. Flashback, dimana dulu ia pernah menyimpan kotak makan berisi roti selai yang melegenda tak ada kata romantis bucin ala gadis ganjen melainkan ia seperti sedang menjelaskan darimana roti selai itu berasal. Gadis itu tertawa kecil.


Terkadang Shania harus menegakkan badan atau sekedar meregangkan otot karena bayi di dalam kandungannya sudah sejak tadi ngajakin main basket membuatnya berulang kali merasakan ngilu.


.


.


.


Noted


*syndrom : kumpulan gejala klinis gangguan kesehatan tertentu.


*weton : hari kelahiran menurut penanggalan jawa.

__ADS_1


*infused water : air detoks, air yang diresapi dengan rasa buah buahan segar, sayuran dan rempah-rempah. Air sehat ini dipercaya dapat mendetoksifikasi (pembuangan racun) berkat kandungan nutrisi dalam buah, sayur dan rempah.


__ADS_2