Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Helow to the melow


__ADS_3

Karena banyaknya onty onty onlen yang pengen little momy lahiran normal, okelah kita sedikit rubah alur caesar jadi normal. 🤭🤭


 ------


Arka langsung tancap gas, memang tak banyak, cairan merah yang membasahi celana Shania, tapi setidaknya hal itu sudah membuatnya panik bukan kepalang. Ia bukan dokter juga bukan bidan, tapi mendadak ia harus menjadi seorang dokter, pembicara yang hebat dan perawat berpengalaman untuk Shania.


Tak butuh waktu lama, Arka sudah berada di depan bangunan permanen bercat soft pink dan hijau mint juga bergambar ibu yang sedang memeluk bayi dalam dekapannya, di dinding atas gedung bertuliskan


"KLINIK BERSALIN KASIH IBU"


"Ko kesini sih mas ?" bingung Shania, masih belum paham. Apakah orang melahirkan mendadak jadi si patrick atau hanya Shania-nya saja, sebab dari yang ia alami ia tak bisa menyimpulkan jika dirinya akan melahirkan.


"Sini mas bantu, kita periksa kesini..katanya kamu barusan keluar cairan merah," Arka segera membawa Shania.


"Sha tunggu dulu disini, biar mas yang daftar."


Shania duduk di kursi panjang berbahan besi bersama beberapa pengunjung lainnya, entah mereka itu sekedar periksa atau akan melahirkan. Sebab dari beberapanya, Shania melihat wajah-wajah pucat dan berkeringat seperti dirinya juga meringis dan merintih, meskipun sekarang ia tidak sedang begitu, padahal hati besarnya ingin sekali menggaruk tembok klinik atau sekedar menggigit dan memukul Arka karena lelaki itu sangat lama.


Terlihat Arka malah mengobrol dengan pegawai klinik dan salah satu dokter wanita berjilbab.


"Kenapa ga sambil rujakan aja sekalian !!" dumelnya.


Arka terlihat berjalan menghampiri Shania setelah mendapat anggukan dari dokter perempuan itu.


"Sha, ayo udah disuruh masuk !"


"Loh, ko ga antri kaya yang lain mas ?"


"Orang cantik mah di spesialin kaya martabak, " jawab Arka tersenyum.


"Ihh, geje !" decaknya.


"Assalamualaikum cantik, gimana.. gimana nih, sudah sampai mana sakitnya ?" tanya dokter berwajah teduh itu.


"Pinggang Sha panas dok, mules juga tapi ilang timbul,"


"Udah keluar len dir campur darah ?"


Deg...


Bang_ke !!! Shania baru mengingat hal itu, berasa pengen getok kepala sendiri. Kenapa moment sepenting itu bisa sampai terlupa.


"Oh iya, udah kayanya dok. Tadi pagi-pagi, barusan juga keluar da rah seger kayanya," jawab Shania, kakinya tak mau diam dengan menghentak hentak kecil di lantai merasakan mulas dan panas itu kembali.


"Usia kandungan sudah masuk berapa minggu ?"


"38 minggu," jawab Arka.


"Kita tensi dulu ya, mari naik ke atas ranjang," pinta dokter bernama Nabila itu.


Shania mengikuti semua arahan dari dokter Nabila, dibantu Arka.


"Tekanan darah 110/80, normal."

__ADS_1


Dokter Nabila menempelkan thermogun berjarak dari kening Shania, "suhu badan normal 36,4 derajat."


"Oke, silahkan lepas celana da lamnya,"


Shania melotot untuk itu, melirik Arka yang ada di sampingnya, seakan bertanya ada yang bisa dijelaskan ??!!


"Sini, mas bantu !" jawabnya mengalihkan perhatian.


Dengan cekatan Arka membantu hingga Shania toples bagian bawah, dengan malu-malu menutup bagian miliknya.


"Ga usah malu bunda cantik, kita lakukan pemeriksaan dalam ya...kakinya boleh dibuka lebar lalu ditekuk ?"


"Ya, seperti itu...!" serunya.


"Tarik nafas ya bunda cantik, memang sedikit ngilu tapi ga akan lama, " pintanya.


Salah satu tangannya diarahkan ke dalam, hingga membuat Shania terkesiap dan refleks mencengkram lengan Arka yang berada di sampingnya.


"Mas, " gumamnya spontan.


Memalukan Shania !!!


"Ah iya, " ucap dokter Nabila.


"Sudah pembukaan 4 ya, sekitar kurang lebih..." ia melihat jam ditangannya.


"Pukul 10 malam sudah ada suara oek..oek lah," kelakar dokter Nabila.


"Ini semuanya normal, panggulnya pun besar. Bisa lahir normal, insyaallah !"


"Dok, ruangannya sudah siap !" seorang perawat, entah asisten, memakai pakaian serba putih masuk ke dalam ruangan.


"Mari bunda, sudah bisa pindah !" Arka membantu Shania memasuki ruangan rawatnya.


"Bunda sudah makan ?" Shania menggeleng.


"Kalo gitu nanti ada perawat yang mengantarkan makanan, saya tinggal dulu ya,"


Selepas kepergian dokter Nabila, Shania menyarangkan tatapan tajam pada Arka, tanpa bicara apapun ataupun aksi anarkis seperti biasanya.


"Maaf Sha, mas bingung mau bilangnya kaya gimana. Setiap liat ekspresi kamu yang menolak keras bikin nyali mas ciut, terlebih bookingan caesar kita ga bisa lanjut karena satu dan lain hal."


Shania hanya menatap tajam sedari tadi pada Arka tanpa bicara atau melakukan apapun membuat Arka semakin dilanda gundah dan ketakutan.


"Sha, kamu boleh marahin mas, maki mas ataupun mukul-mukul mas kaya biasanya. Tapi tolong jangan diam kaya gini, " pinta Arka, sebutir air mata lolos membawa serta yang lainnya dan perasaan cemas juga sakit dari Shania.


Suara sesenggukan kecil mulai terdengar dari Shania.


"Maafin Sha mas, Sha banyak nuntut sampe mas bingung kaya gini. Sha juga galak, nyebelin, ngeselin, suka bikin naik darah, suka bikin khawatir, " demi apa, kini air mata itu sudah berubah menjadi derasnya hujan di sore hari yang membasahi pipi chubby merona milik istri nakal pak guru.


Demi apa ? kata-kata yang terlontar dari mulut Shania membuat Arka semakin larut dalam ketakutan dan kekhawatirannya, apalagi diselingi ringisan Shania dan kalimat istighfar, mengagungkan nama Allah yang Shania gumamkan. Ia menggeleng seraya mengusap pinggang Shania sesuai permintaan Shania.


"Sha belum jadi istri yang baik selama ini, Sha minta ampun sama mas," Shania meraih telapak tangan besar itu dan menciumnya. Tenggorokan Arka serasa tercekat, sampai tak bisa berkata apapun selain menelan salivanya berat. Jiwa tangguh lelakinya mendadak meluruh hingga ke dasar bumi, mendapati wanita kesayangannya begini.

__ADS_1


Arka hanya meraih kepala Shania dan mencium keningnya lama, hingga merasakan asin di bibirnya karena bekas keringat Shania.


Shania mencengkram kemeja kotak-kotak biru yang Arka kenakan demi mengurai rasa mulas yang semakin menjadi.


Arka menaruh dagunya di atas kepala Shania yang duduk di tepian ranjang, "Sha istri terbaik, kita berjuang sama-sama ya, maafin mas yang selalu bikin rancangan impian Sha gagal. Mulai dari impian jadi atlit dan harus mengurusi pria tua, udah tua, kaku, dingin pula. Maafin mas kalau ternyata prince charming ramah dan baik hati yang kamu idam-idamkan tidak ada di diri mas, maafin mas juga Sha jadi harus ngalamin sekolah di rumah, hinaan orang, sampai kehamilan yang mendadak gini, merebut dunia masa remaja Sha, sampai harus mengalami proses melahirkan di usia yang semuda ini, dan bukan dengan cara caesar seperti maunya Sha, ternyata mas sudah takabur karena merasa hebat, merasa mampu membahagiakan Sha," Shania menggeleng.


Tok..tok..tok...


"Wah, lagi pada ngapain ?" ibu dan bunda mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Aduh lagi pada melow-melow an, " goda bunda.


Mereka langsung merenggangkan diri dengan tangan Shania yang masih berada di pinggang Arka, meremas kemeja flanel Arka.


"Nduk, gimana ?"


"Bukaan berapa Ka ?" tanya bunda.


"Baru 4 bun, "


"Oh, masih lumayan lama kalo gitu."


"Dara, bu.." jawab ibu menimpali diangguki bunda.


"Ka, sudah makan ?" tanya ibu, Arka menggeleng,


"Makan dulu, bukan cuma ibu melahirkan saja yang butuh asupan energi dan tenaga. Tapi calon ayah yang akan menemani pun butuh tenaga, "


Tak lama seorang perawat membawakan senampan makanan untuk Shania.


"Sha makan dulu, biar ada tenaga buat lahirin dedek."


.


.


.


Noted


*Thermogun : alat pengukur suhu yang berbentuk seperti pistol


*Vena : pembuluh darah yang berfungsi mengangkut da rah kembali ke jantung


*Anarkis : tindakan semena-mena yang melibatkan kekerasan.


*Melow : merujuk pada bahasa gaul pada kondisi sedih sendu.


*Dara : Gadis


*Takabur : Sombong, sikap mental yang merasa dirinya lebih hebat, lebih besar dan lebih pintar.


.

__ADS_1


.


__ADS_2