Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Bala bantuan


__ADS_3

Shania sudah memulai dengan alat tempurnya, kebetulan bukan cuma cs demit squad nya yang ia undang, tapi ada Inez juga.


"Sha, ini pada kemana ?!" tanya Inez, jika Inez adalah si tepat waktu, maka pasukan berandal Shania adalah si manusia karet. Janji jam 5 subuh abis saur, mereka datang 5 jam kemudian. Dengan alasan ketiduran lah, anter emak ke pasar dulu lah, nyuci dulu, dan yang paling kelihatan bohongnya yaitu tadarusan Qur'an, yakin ? Iqro aja masih a ba ta tsa. Dan Shania sudah terbiasa akan hal mustahil yang mereka ucapkan.


"Mas pergi dulu Sha, " Shania meraih punggung tangan dan mengecupnya.


"Hati-hati, jangan pulang telat !"


"Engga, jaga dapur kita. Jangan sampai ancur !" ujar Arka membuat Shania tertawa, padahal Arka berucap dengan nada dan wajah serius.


"Beres !"


"Dek, ayah pergi dulu. Assalamualaikum !"


Tak lama setelah Arka pergi, satu persatu dari geng rusuh berdatangan.


"Assalamualaikum, mamak...Malin pulang !" teriak Guntur dari luar mencoba membuka pintu pagar, sepaket dengan suara knalpot rombeng milik Roy, yang katanya sudah di modif. Entah maksudnya di modif biar digebukin warga attau biar disebut keren.


"Siapa itu Sha ?" tanya ibu.


"Biasa bu, bala bantuan !" Shania melepas sarung tangan plastiknya.


"Biar bibi yang buka neng," jawab bi Atun yang sedang membantu meletakkan potongan kacang almond di setiap cookies yang sudah di bentuk di atas loyang.


"Assalamualaikum," ke7 kurcaci snow white itu masuk ke dalam rumah. Mendadak rumah menjadi rame seperti pasar kaget.


"Ngapain si lambe turah ada disini Sha ?" tanya Roy.


"Dih, mulut loe ! Puasa gini, mancing-mancing keributan, kaya petasan korek !" sinis Inez pada Roy seraya mencetak adonan cookies.


"Hay cantiknya onty !!!" Melan, Niken dan Leli malah berebut mencari perhatian Galexia yang sedang digendong ibu.


"Ke kamar mandi dulu Cik Mel, abis dari luar tuh !" Deni menahan tangan ketiganya.


"Hooh lah lupa,"


"Cak..Cik..Cak..Cik...loe pikir gue cicak apa ?!" gerutu Melan.


"Wahahaha rame ya nduk, ada temen temennya bunda mu !" ucap ibu.


"Kaya liat topeng monkyyy ya dek ?!" jawab Shania.


"Noh, si Roy monkyy nya !" jawab Inez.


"Apeh loe, awas Sha..kalo dia yang bantuin dicampurin sianida kuenya !"


"Pluk !"


"Berisik, mulut loe minta dilempar pake lap kompor !" sebuah lap kompor nemplok dengan indahnya di wajah Roy oleh Inez.


"Oyyy ! Loe berdua minta dimasukkin ke kamar pengantin, hah?! Berantem mulu kaya kucing oyen lagi kawin !" timpal Guntur membuka jaketnya dan menghampiri Shania di dapur.


"Loe semua mau bantuin Shania apa mau lenong bocah ?!" Leli dan Niken sudah mengambil sarung tangan dan mulai membantu Shania sesuai arahan sang kepala chepp chepp an.. (chef).


"Gue ngikut jagain dulu Gale ya !" pekik Melan, Shania mengangguk.


"Gue mau belajar bikin kue ahhh !" Roy mendekati kumpulan ibu-ibu yang sedang menggelar di lantai dapur.


"Engga ibu kasih minum sama cemilan ya, soalnya puasa. Pada puasa kan ?" tanya ibu.


"Ga apa-apa bu, bisa ambil sendiri !" kekeh Melan.


"Puasa dong bu !!!"


"Aku lagi engga bu, " jawab Melan.


"Lagi M, " tambahnya.


"Ahhh, bilang aja pengen nyicip kue mamak Sha-sha !" goda Ari.


"Sembarangan !" desis Melan.


"Ini bener kaya gini Sha ?" tanya Guntur yang mencampurkan setiap bahan.

__ADS_1


"Iya, coklatnya nanti kalo udah adonan telur kaku !" jawab Shania.


"Kaku kaya si Ari yang lagi nembak cewek ?" Ari melempar Guntur dengan cangkang telur.


"Oy !! oy !! tawuran nih !" Roy menengahi. Baru 10 menit mereka disini tapi lap kompor, cangkang telur sudah terbang kemana-mana.


"Ini kue apa Sha ?" tanya Guntur yang kemudian serius me-mixer adonan.


"Brownies coklat,"


"Serius amat Tur, mau jadi acef ya ?!"


"Bukan, emak gue kalo tiap lebaran di rumah bikinnya kue garpu melulu, bosen gue ! Kalo ada kue kering nastar, giliran gue comot tangan gue kena damprat !" semua yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing memperhatikan.


"Kenapa Tur ?" tanya Shania.


"Katanya, belum waktunya dimakan. Nanti toplesnya ga penuh lagi sebelum lebaran. Taro ! Tuh kalo makan yang itu !" tirunya seperti ibunya di rumah ddngan berkacak pinggang.


"Lah, gue dikasih makan kue yang gosong sama yang paroan !"


"Bwahahahahahaha !"


"Emaknya Guntur sadis !" jawab Melan mengajak Galexia bermain.


Bi Atun dan ibu tak henti tertawa.


"Biar ga kosong sebelah toplesnya, aden," jawab bi Atun.


"Hem, ya Allah ! Wangi banget Sha !" ujar Ari. Wangi kue yang khas menguar memenuhi setiap sudut dapur sampai ke ruang tengah.


"Awas iler loe Ri," decak Niken.


"Semut Roy, di jidat loe !" ujar Inez menunjuk kening Roy.


"Mana, susah tangan gue bau amis telor sama adonan cookies."


Inez menyingkirkan seekor semut hitam di jidat Roy, tapi ia lupa tangannya penuh dengan terigu hingga membuat wajah Roy bertaburan terigu seperti mochie.


"Hahaha !"


"Nduk, kayanya si cantik udah ngantuk !" ujar ibu.


"Bentaran ya gue ngelonin dulu Galexia, ibu minta tolong diliatin ya."


"Iya nduk," Shania membawa Galexia masuk ke dalam kamar, tak butuh waktu lama Galexia tertidur lelap setelah melahap makan pagi menuju siangnya.


"Suttt ! Volume mulut kalian kecilin dikit, " pinta Shania.


"Oke, "


"Sha, gue bagian tester dong. Biar nanti layak makan pas dikasiin orang !" jawab Melan.


"Alahhh, bisa-bisanya aja alesan cik Melan !" ledek Ari.


"Ambil aja, di coba, " pinta Shania. Melan dengan gerakan slow motion menggigit kue yang sudah matang seiring yang lain meneguk saliva berat.


"Njir ! Syaitan tuh yang kaya gini. Nyata adanya !" Deni kembali meneruskan kegiatannya yang menambahkan kacang almond.


"Hahahaha, ngiler ya ! Enak Sha, enak banget malah," Melan semakin lahap memakan almond cookies lalu beralih ke sagu keju.


"Kenapa ga dijadiin usaha aja Sha ? Kan lumayan mau lebaran gini ? Gue yakin pak Arka setuju," tanya Leli.


"Ogah ah, capek tau ngga !"


"Halah dari dulu juga dia mah ga mau, kalo bunda nyuruh bantu di toko kue," timpal Inez dengan cebikannya yang khas layaknya presenter gosip.


"Sat ! Panas bege !" aduh Guntur saat Niken menurunkan loyang berisi kue yang telah matang di dekat kaki Guntur dan tak sengaja mengenainya karena fokus mendengar obrolan Shania.


"Haha, sorry..sorry Tur ! Sengaja !" jawab Niken.


"Makanya mata tuh jangan meleng mulu Ken, "


"Loh ko ?! Kue bentukan gue mencong sebelah Sha, padahal gue udah ukur loh !"

__ADS_1


"Loe ukur pake apaan Den ? Pake hati nurani ?" tanya Melan ditertawai yang lain.


"Ini bentukan sagu keju gue juga malah abstrak gini, ga kaya yang dibentuk Shania sama bi Atun," Ari membandingkan bentuk kue miliknya dengan milik Shania juga bi Atun.


"Hahaha, kue bentukan loe ko kesannya kaya ee' sih Ri ?!" ledek Leli.


"Bukan gitu nak, begini nih !" ujar ibu mengajarkan Ari.


"Loe ngeyel kalo dibilangin peak ! itu ketipisan !" di sudut lain Roy malah bersitegang dengan Inez.


"Loe yang peak, makanya loe tipisinnya jangan pake tenaga dalam !" jawab Inez tak mau kalah.


"Ulang, ulang ahhh !" Inez merebut rolling pin dari Roy dan mengembalikkan adonan lalu mengulanginya lagi.


"Dih, " Roy yang kesal dengan sengaja mengambil terigu dan menempelkannya di pipi dan kening Inez.


"Kimvritt !" tak mau kalah Inez pun melakukan hal yang sama.


"Ck, ini 2 makhluk astral. Emang ga cocok kalo disatuin gini," decak Guntur.


"Cocoknya disatuin di pelaminan Tur, " imbuh Ari.


"Oyyy ! Ancur dapur gue !" teriak Shania menjewer keduanya.


"Ini Sha, si mulut rombeng !" tunjuk Roy dengan wajah penuh tepung.


"Dia Sha, si petasan korek !" tuduh Inez sama halnya dengan wajah Roy yang putih.


"Mel, jangan makan mulu ! Bantuin juga, lama-lama tuh kue abis loe cemilin ! Rugi pak Arka !" sewot Ari.


"Iya ahhh !" Melan mendekat ke arah toples yang siap diisi oleh kue-kue cantik buatan Shania cs.


Dari arah luar terdengar deru mesin mobil Arka, menandakan si empunya rumah sudah datang.


"Assalamualaikum !"


Arka sampai menghentikan langkahnya melihat para pasukan entah darimana datangnya tengah berada di dapur yang sudah acak-acakan dengan pakaian yang penuh noda putih juga bau kue yang khas.


"Astagfirullah !" gumamnya.


"Hay pak !" sapa Melan, Niken dan Inez. Bukan kekacauan yang jadi fokus utama Arka, tapi melihat dunia terbalik disini. Para gadis tengah menyusun kue sedangkan yang pemuda sedang bergulat dengan adonan kue. Badan tatto an dan kelakuan bandel ternyata tak mengurangi kebaikan Deni, Guntur, Ari dan Roy. Arka yakin mereka memang anak-anak baik pada dasarnya, hanya salah pergaulan saja.


"Ka sudah pulang, liat anak-anak muridmu ikut bantuin !" ucap ibu.


Arka mengangguk, "Saya bersih-bersih dulu ya !" Shania ikut mengekor dibelakang Arka untuk menyiapkan pakaian bersih.


Saat masuk ke kamar ternyata Galexia sudah terbangun, "eh anak momy udah bangun ! Ko ga nangis sayang ?!"


"Mas, belum ada buat takjil nanti ?!"


"Oh iya mas lupa, tadi mas beli buat bahan takjil sama bukber dari cafe sama angkringan,"


"Oke, "


Arka datang bersama si kecil dari dalam kamar.


"Guys ! Sebagian bisa tolong gue angkatin barang dari bagasi. Amunisi buat bukber !" seru Shania.


"Yeee !! Pak Arka terbaik !" seru mereka senang.


"Gue aja Sha !" Melan dan Leli langsung beranjak.


"Sha, biar mas aja ! Kamu pegang dedek !" Arka sampai terlupa sesuatu yang ia sembunyikan dari Shania di dalam mobil.


"Oh, ya udah."


Shania yang sudah berjalan bersama Melan dan Leli menghentikkan langkahnya.


"Mel, Leli..tolong bantu saya ya !" pinta Arka.


"Iya pak, "


.

__ADS_1


.


__ADS_2