
Bagi pembaca yang memang sudah jenuh, sekali lagi mimin ga maksa buat baca ya guys 🤗. Sebagai bentuk penghargaan buat readers tersayang. Dan permintaan yang sudah sampai di pintu rumah mimin. Mungkin sambil mimin menyiapkan alur untuk cerita selanjutnya, mimin kasih beberapa part tambahan untuk momy Sha-sha sama pak guru. Happy reading 🤗
*****
Shania sudah kembali ke rumah. Mungkin karena ini adalah kelahiran yang kedua, jadi ia sudah berpengalaman, tak lama baginya untuk pulih kembali.
Gelar S1 resmi di sandangnya.
Shania duduk di bangku teras belakang setelah menjemur baju milik Andro. Ditangan kirinya, beberapa surat yang baru saja ia terima dari petugas pos. Sedangkan di tangan kanannya, sebuah note dari Niken dan Melan. Ia tak pernah segalau ini sebelumnya.
"Kenapa ?" tanya Arka.
"Engga, Sha lagi galon mas..." Arka mengernyitkan dahi, oke ! Terlalu banyak kosa kata aneh yang dipakai Shania, hingga generasinya harus berfikir lama jika memulai obrolan.
"Galau maksudnya ?" Arka duduk di samping momy 2 anaknya.
"Ini, panggilan dari beberapa resto dan hotel ternama," Shania menyerahkan beberapa lembar amplop coklat dengan lambang resmi dari beberapa restoran.
"Yang ini, pesanan kue kering yang udah berjalan.."
Arka mengangguk, "hm, nambah ya !"
Jika orang berkata, jalan aja semua Sha...yakin ? Shania hanya manusia biasa loh..Shania bukan si laba-laba super yang tangannya banyak harus ngerjain ini dan itu dalam waktu bersamaan sedangkan ia juga adalah seorang ibu dengan 2 orang bocil-bocil yang butuh perhatian ekstra.
"Mas mau tanya, hati kamu lebih cocok yang mana ? Mas ga masalah kalo kamu ga mau lanjut. Toh uang yang mas modalkan tidak kamu terima semuanya ?"
Shania memang tidak menerima seluruhnya uang modal dari Arka untuk usaha yang masih dalam skala kecil. Ia ingin merintis usahanya dari nol, meskipun itu uang suaminya bukan berarti ia tidak mengembalikan, bagi Shania bisnis adalah bisnis tak ada sangkut pautnya mencampurkan hubungan suami istri padahal Arka tak meminta Shania untuk mengembalikannya.
Shania bahkan menolak untuk menyewa tempat di samping Route 78 yang sudah permanen milik Arka, dan lebih memilih mengerjakan pesanannya di rumah. Percaya atau tidak, rumah dan anak selalu menjadi gravitasi tersendiri bagi seorang ibu, kemanapun ia pergi dan apapun yang ia kerjakan, rumah akan tetap menariknya untuk kembali. Berapa pun nominal yang akan ia dapat, tak sebanding saat ia melihat senyum anak-anaknya. Melihat dan menemani tumbuh kembang kedua anaknya tak akan sebanding dengan jumlah rupiah yang masuk brangkas.
"Keberhasilan seorang wanita, bukan diukur dari seberapa hebatnya dia di mata dunia. Tapi seberapa banyak cinta yang terlihat dari suami dan anak-anaknya," jawab Arka mengusap bahu dan tersenyum simpul.
"Mas liat jagoan sama princess mas dulu. Sudah sore, biar sore ini Andro, mas yang seka badannya..." Arka beranjak dari sana.
Beberapa kali surat panggilan itu datang silih berganti, seakan kini mata dunia beralih padanya. Terkadang pilihan sulit selalu datang disaat kita dalam keadaan yang baik, mengacaukan rencana yang sudah dibuat, untuk membuat manusia itu yakin dan berpendirian kuat.
Tawaran besaran gaji mengundang decak kagum Shania. Dengan optimisnya Shania memilih salah satu dari sekian banyaknya panggilan.
"Kenapa ga diambil semua aja ?! Bisnis oke, kerja juga oke, keluarga jalan..." ia memberikan motivasi untuk dirinya sendiri.
"Mas, Sha mau coba jalan semua aja ! Kan enak tuh, kerja dapet cuan..bisnis juga jalan dapet cuan, keluarga oke, Sha ada ibu, ada mas, ada bi Atun," jawabnya.
"Yakin ?" tanya Arka.
"Yakinlah, mas aja bisa kenapa Sha engga ?! Sha masih muda, stamina masih oke !" jawabnya penuh percaya diri, lupa kalau dirinya sudah takabur.
"Oke," jawab Arka.
Dan akhirnya Shania sepaket dengan kalimat percaya diri dan ijazahnya kini membawa serta namanya di dalam jajaran chef di sebuah hotel bintang 5.
Tuntutan, durasi waktu, kesempurnaan adalah hal biasa yang harus ia penuhi sehari-harinya. Berkat kemampuannya yang mumpuni, ia diakui oleh kepala chef dan para customer hotel. Namanya setara dengan chef-chef kelas atas.
"Sha, meja 3. Minta milk tea custard sama caramel creme brulee. Meja 5, tiramisu !" Baru saja ia rehat dan akan membuka ponselnya, kepala chef sudah kembali menugaskannya.
"Oke chef," jawab Shania kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Ponselnya bergetar sesekali. Forum geng kurawa sedang ramai-ramainya dengan kabar jika Deni diselingkuhi pacarnya. Belum lagi panggilan dari Gale dan ibu yang harus ia nomor 2 kan.
__ADS_1
Shania berlari cepat selepas pulang bekerja, masih dengan seragam chef hitamnya dan pin wakil kepala chef di dada kirinya.
"Bun, kaka Gale mana ?!" ia sesenggukan.
"Dara di dalem, neng."
"Widihhh, wakil kepala chef !" decak Guntur, Roy dan Inez.
"Mak, loe belum ganti baju ?" tanya Guntur.
"Belum, ga sempet. Buru-buru kesini pas liat wa," ada segurat penyesalan di wajah cantik Shania, berat badannya merosot.
"Mak, Gale mewek terus tuh ! Ga mau sama siapa-siapa. Maunya loe mak," ujar Guntur.
"Ya udah deh Sha, kita balik ya. Tadi ga sengaja maen aja. Ternyata liat Gale sakit," ucap Inez.
"Makasih Nez, Roy."
"Gue ditelfon pak Arka buat si gemoy. Tumben banget ga mau ma gue Sha, biasanya Gale nempel banget sama gue," jelas Guntur.
"Gale kalo sakit rewel Tur, thanks ya, udah anter."
"Ya udah, gue balik deh lagi panen di rumah," jawab Guntur.
"Sorry selalu ngerepotin ya Tur," jawab Shania.
"Sha, loe udah kaya keluarga gue. Gale udah kaya ponakan gue sendiri. Ga usah sungkan. By the way dapet pesen dari Niken katanya cek wa loe. Saking sibuknya loe Sha, sampe wa aja ga loe cek, gue balik ya."
"Momy...mau sama momy !!!" teriakan merengek bocah gembul itu, tangannya terpasang infusan.
"Iya sayang, momy disini. Apanya yang sakit nak ?" Shania masuk ruangan rawat inap Gale dimana ada bunda di dalam, siapapun tak bisa menenangkan Gale kecuali Arka.
Deg !
Seperti ombak yang menghantam kuat dan menghancurkan hati Shania berkeping-keping. Shania menoleh pada Arka dan bunda.
"Iya sayang, momy kan disini sekarang. Kaka Gale harus disini dulu, biar sembuh," jawab Shania.
"Gale ga mau makan Sha, kalo bukan kamu yang suapin."
"Kaka belum makan ? Kenapa ?" tanya Shania mengusap kening hingga kepala Gale.
"Kaka mau disuapin momy, dedek Andro juga ga mau sama bibi di rumah...momy," adu Gale. Hatinya semakin hancur, ruangan ber ac ini pun terasa sesak untuk Shania.
"Iya, sekarang kaka makan dulu ya ! Momy suapin ?" Gale mengangguk.
Tubuh mungil yang terlihat pucat itu rupanya terindikasi gejala DBD.
"Neng, bunda mau cek Andro dulu. Kasian ibu di rumah kalo sendirian, cuma sama bi Atun," ujar bunda. Andro memang berwatak sama seperti Arka, manut..namun tetap saja ia adalah anak pada umumnya yang aktif, banyak tingkah.
"Iya bun,makasih."
Gale tertidur dengan memeluk tangan Shania, membuat air mata Shania jatuh mengalir deras. Shania melepaskan tangannya sedikit demi sedikit dari pelukan Galexia, ia merogoh ponselnya dan memeriksa pesan dari Niken.
"Sha, pesanan bu Wati ditambah 20 toples almond cookies, deadline sabtu,"
Shania menghela nafas lelah dan kembali memasukkan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Makan dulu Sha," sebuah tangan menyentuh pundaknya sayang.
"Mas, maafin Sha."
Air mata kembali lolos, Shania menghambur ke pelukan Arka. Mungkin ini adalah bentuk protes Galexia untuknya, bentuk teguran dari Allah atas dirinya. Raganya sudah lelah, teramat lelah.
Arka menyimpan paper bag makan siang bertuliskan Route 78 di meja.
"Ga ada yang perlu dimaafin Sha, kamu istri terbaik. Ibu ter the best," tangisan Shania semakin deras.
"Kamu hanya lelah Sha, semua yang kamu ambil ada konsekuensinya, sayang."
"Mas, Sha capek," adunya.
Arka mengusap sayang, membawa Shania duduk di kursi rumah sakit. Jika kalian berfikir mereka duduk selonjoran di sofa itu salah. Karena disini mereka duduk di kursi single samping Gale, dengan Shania yang duduk di pangkuan Arka.
Shania menundukkan kepalanya di pundak Arka.
"Mas selalu dukung apapun yang kamu lakukan. Apapun keputusanmu, karena apapun yang kamu alami, akan jadi pembelajaran tersendiri buatmu."
"Istri mas jadi kurus, makan dulu yuk !" ajak Arka, Shania mengangguk, "suapin !" rengeknya.
Arka tertawa, "bayi besar mas lagi manja !"
"Pesanan kue nambah lagi mas, Sha takut ga keburu."
Arka menyuapkan nasi beserta lauknya ke mulut Shania.
"Terus gimana rencana kalian yang terbengkalai dulu ? Buat bisnis kue, kenapa ga dikembangkan ?" tanya Arka.
"Sha takut gagal mas, ga bisa jamin hidup mereka !" jawab Shania.
"Jadi istri nakal mas yang suka dengan tantangan hilang kemana ?" tanya Arka.
"Kamu coba dulu sendiri, dengan bantuan Niken dan Melan. Setelah dirasa cukup besar, kamu bisa minta tolong yang lain, hitung-hitung ini jadi kerjaan sampingan buat mereka. Untuk masalah produksi, Niken sama Inez kan cuma ibu rumah tangga. Kenapa ga minta mereka yang udah terjamin kualitasnya dulu waktu bantuin kamu ?"
Senyum Shania merekah, kenapa ia bisa melupakan rencana mereka saat di ruang rawatnya dulu. Melupakan impian kecil para kurawa somplak hanya karena tawaran menggiurkan di luar sana.
"Sha pengen ngundurin diri mas dari hotel, Sha ngerasa Sha sekarang jauh sama anak-anak. Sha jauh sama geng kurawa mas,"
"Melepaskan semua pencapaian kamu ? Yakin ?" tanya Arka. Shania tak pernah semantap ini sebelumnya.
"Yakin !"
Shania melakukan panggilan grupnya
"Guys !!! Setelah Gale pulang ke rumah ya ! Gue mau syukuran !"
"Asiap Sha !!! kompak mereka.
"Mak Malin is come back !!!!!" seru Guntur.
.
.
.
__ADS_1
.
Go momy sha-sha !!!!!