Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Bertemu kembali


__ADS_3

Ramadhan tahun ini, adalah ramadhan berkesan untuk Arka. Karena ia sudah tak sendiri lagi. Ia tidak hanya bersama ibu ataupun bi Atun saja, ada Shania dan putrinya Galexia. Meskipun sang ayah sudah dipanggil Yang Maha Kuasa, tapi Allah menggantinya dengan 2 orang sekaligus.


"Sha, dedek kayanya mau ng'ASI dulu. Biar itu, mas yang kerjain," ujar Arka yang sedang menimang Xia.


"Wes, biar ibu aja Sha. Kamu ng'ASI dulu Galexia."


Shania mengangguk, dan mengambil alih Galexia dari tangan Arka. Begitulah hecticnya si little momy ini jika mereka sedang sahur. Sungguh perubahan rutinitas hidup yang menjungkir balikkan hidup Shania, jika biasanya dulu ia hanya berleha-leha, untuk bangun pun menunggu dibangunkan bunda dan langsung hap ! Makan. Beda ceritanya sekarang. Si kecil Galexia seringkali ikut terbangun untuk sekedar menemani atau ikutan sahur.


"Mas, besok dedek harus imunisasi.."


"Iya, pulang dari kampus mas antar !"


"Biar sama ibu, nduk ?"


"Boleh bu, soalnya kan mesti daftar terus ngantri. Kalo nunggu mas Kala kelamaan !"


"Ya udah pake taksi aja dulu, nanti pulangnya mas jemput."


Setelah kenyang, biasanya bayi gembul yang rambutnya baru tumbuh lagi setengah itu tertidur kembali.


"Sahur dulu Sha, "


"Iya,"


"Kenapa ?" tanya Arka melihat wajah meringis Shania.


"Engga," gelengan kepalanya.


"Mas, ASI Sha lecet..sakit banget kalo dedek lagi minum !" bisiknya.


"Emangnya kamu ngga olesin minyak zaitun ?"


"Pake, "


"Kenapa to bisik-bisik ?" ibu tersenyum.


"ASI Sha lecet bu, " jawab si manusia terjujur ini santai hingga membuat Shania menepuk punggungnya keras.


"Ga usah kenceng-kenceng, malu ih !" bi Atun ikut tertawa, selama ini belum pernah ia lihat ada yang berani memukul Arka selama bekerja disini, tapi Shania bahkan hampir tiap hari menggeplak begini.


"Oalah, kirain ibu ada apa ? Wajar itu Sha, ndak apa-apa nanti juga ngga. Makin kesini kan dedek makin kuat ng'ASI nya. Tetep diolesi minyak zaitun kan ?" tanya ibu dan Shania mengangguk.


"Yo wes ndak apa-apa ! Yo mangan keburu imsak,"


****


"Masa orientasi setelah lebaran ?" Shania mengangguk dengan mata terpejam, memposisikan dirinya berbaring di samping Galexia yang tertidur dan meciumi kepalan tangan mungil yang berlipat karena gemuk.


"Sejak kapan Riyan suka sama kamu ?" pertanyaan itu berhasil membuat Shania membuka matanya. Kejadian yang sudah seminggu berlalu baru dibahas sekarang, kalo makanan mungkin sudah basi.


"Jadi mau bahas Riyan ? Boleh deh !" tantang Shania, memancing amarah orang puasa memang perbuatan syaitan, tapi tak ada salahnya kan, sebut saja Shania lagi ngisi kegabutannya yang haqiqi sekalian ngabuburit meskipun masih terbilang subuh. Shania hanya penasaran saja, sampai detik ini, ia belum tau batas amarah sang suami seperti apa jika benar-benar cemburu, sudah kepalang tanggung, hajar Sha !


"Riyan mantan terindah Sha, " jawabnya, demi apa ? bahkan jam dinding pun sedang memeletkan lidahnya sekarang dan berkata kalau Shania pembohong yang buruk.


"Walaupun namanya Riyan bukan indah sih," tambah Shania, Arka masih belum bereaksi, semakin membuat Shania penasaran.


"Oh,"


"Dia baik banget mas, kasih-kasih boneka padahal seringnya Sha usilin sampe jengkel, tapi dia tetep baik. Mungkin kalo cowok lain, Sha udah dicekek pake kabel terus dibuang di jalan tol pake koper !"


"Hm,"

__ADS_1


Shania benar-benar ingin tertawa terbahak, tapi ia tahan. Shania tak mau dikira kun tilanak oleh Galexia.


"Eh iya, dia juga jago ngaji sama main gitar loh mas, kaya mas gitu ! Sering gombalin Sha, pake nyanyi-nyanyi gitu....sweet kan mas ?!" Arka tetap tak bergeming seraya menyiapkan buku dan perlengkapan kuliah.


"Terus kenapa bisa putus ?" tanya Arka.


"Ga cocok, " jawab Shania.


"Sebenernya sayang juga sih, " Shania menerawang.


"Percuma dong, dia udah usaha maksimal sampe gombal-gombalin kamu, tapi cuma buat jagain jodoh orang aja !" ujar Arka tenang.


Shania benar-benar meledakkan tawanya membuat Galexia terkejut dan menangis.


"Sha, " warningnya memperingatkan.


"Aduh, maaf sayang. Momy ga kuat pengen ketawa. Liat ekspresi kamu mas. Lempeng banget, jadi bikin Sha resah deh, mas tuh sayang ga sih sama Sha, ko biasa-biasa aja ga keliatan cemburu ?!" jawab Shania menepok-nepok pan tat si gemoynya dan menenangkannya.


"Terus mas mesti gimana ? Mukul-mukul tembok gitu ?"


"Cemburu mas elegan," jawabnya.


Shania kembali tertawa, "oh, jadi bukan cuma baju aja yang elegan, cemburu juga bisa elegan ya ? Baru tau loh Sha,"


"Cemburu tuh ga perlu ditunjukin pake marah-marah. Disitu orang lain bisa tau kalo kita lemah, "


"Terus gimana Sha bisa tau kalo mas lagi cemburu ?!" tanya nya mendekat dan memeluk lelaki itu.


"Kamu ga perlu tau kalo mas lagi cemburu, yang harus kamu tau gimana caranya jaga perasaan dan hati mas,"


"Setiap kamu memuji lelaki lain, disitu kamu sudah membuat mas cemburu !"


Specchless ??? Sudah pasti. Sindiran Arka sudah dipastikan pertanda jika ia marah. Tak harus memukul mem b4 bi buta atau berteriak menghabiskan energi, cukup sentil saja hatinya.


"Mas kasih tau sama kamu, setiap kamu dekat dengan lelaki lain, tersenyum, tertawa bersama lelaki lain atau membayangkan lelaki lain. Disitu mas merasa cemburu."


Tak ada ekspresi penggombal disana, malah terkesan datar saja seperti operator layanan pulsa.


****


"Anak ayah, baik-baik ya."


Arka mengusap dan mengecupi Galexia sebelum pergi.


"Mas, jangan lupa jemput di RS SEJATI, soalnya dokter Nabila hari ini praktek disana !" Arka mengangguk dari dalam mobil lalu pergi.


"Mau jam berapa nduk ?" tanya ibu.


"Bentar lagi bu, Sha mau mandi dulu."


"Yo wes, sana mandi. Biar Galexia sama ibu !" Shania mengangguk.


***


"Nomor berapa nduk ?"


"Ga banyak ko bu, cuma ada 4 orang aja," Shania mendaftarkan nama putrinya lalu menunggu di ruang dokter Nabila.


Kini mereka duduk diantara ketiga balita lainnya bersama orangtuanya.


"Lucu nya !" sapa seorang perempuan yang menggendong balita 1 tahun.

__ADS_1


"Makasih tante," jawab Shania dengan suara menggemaskan.


"Berapa bulan ?"


"Baru juga sebulan ka,"


"Oh, adeknya ?" tunjuknya pada Shania. Ia mengira Galexia adalah anak ibu.


"Anak," jawabnya. Ia berohria namun dengan ekspresi sedikit terkejut. Sedangkan ibu tersenyum simpul melihat Shania yang tak malu mengaku sudah memiliki anak.


"Galexia Adhara Mahesa,"


"Eh, udah dipanggil ! Mari ka," pamit Shania bersama ibu.


Galexia nangis kejer pada awalnya, membuat Shania ikut panik.


"Sakit ya sayang, maafin momy ya !" hampir saja ia ingin ikut menangis. Melihat anak menangis kesakitan begitu, hati ibu mana yang tak ikut tersayat.


"Bu, ini dedek ga apa-apa kan ? Ko Sha ga tega gini ya ?! Apa bulan besok ga usah diterusin imunisasinya? "


"Ga apa-apa mbak Shania, imunisasi yang ini tidak akan terlalu berdampak, yang penting ASInya lancar dan rampus ya ! Justru imunisasi itu penting, bentuk sayang kita sama anak," jawab dokter Nabila, Shania mengangguk.


Tak lama tangisan bayi gemoy nan cantik itu berhenti dan senyap. Ternyata ia tertidur.


"Nanti bekas suntikannya dikompres air hangat saja Sha, biar ga bengkak," imbuh ibu, keduanya kini berjalan keluar dari pintu ruangan dokter Nabila.


Mata Shania menangkap siluet tubuh Alya ada disana, baru saja keluar dati ruang dokter penyakit dalam. Tampilannya begitu kusut, pucat dan lebih kurus.


"Loh ka Alya !" gumam Shania.


"Siapa nduk ?" tanya ibu.


"Itu ka Alya kan bu ?" tunjuk Shania, ibu sedikit terkejut melihat Alya yang tak memakai jilbab.


"Mau menyapa ?" tanya ibu, Shania mengangguk. Pernah bermasalah bukan berarti harus memutus tali silaturahmi kan ? Ditambah tak mungkin di depan ibu, Shania menunjukkan sikap angkuhnya, bisa dipecat jadi menantu idaman nanti.


"Nak Alya, " sapa ibu, jelas sekali ia terkejut, Shania mencoba sibuk melihat Galexia, tak ingin bertegur sapa bahkan untuk sekedar melihatnya. Kejadian dulu masih membekas di benak dan pikirannya. Hatinya masih sakit.


"Ibu, " senyumnya terlihat dibuat-buat.


"Ibu lagi ngapain disini ?"


"Habis imunisasi Galexia, anak Arka, " jawab ibu.


"Oh, selamat ya !" ucap Alya mengulurkan tangannya.


"Sorry, susah !" jawab Shania memperlihatkan tangannya yang sibuk.


"Nak Alya sakit ?" tanya ibu.


"Ah, iya bu ga enak badan !" jawabnya.


"Oh, "


"Sha, ibu..." dari belakang Arka rupanya sudah datang, menelusupkan tangannya ke pinggang Shania. Tau sang ayah datang, Galexia kembali menangis.


"Anak ayah hebat !" Arka mengambil alih Galexia ke dalam gendongannya.


"Al, kami duluan !" Arka berjalan duluan tanpa ingin menoleh, sedangkan Shania menggandeng ibu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2