Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Gaji mas berapa ?!!


__ADS_3

Arka masuk ke dalam kamar, melihat Shania yang sudah berbaring menyamping dengan selimut yang menyelimuti badannya sepinggang. Lama Arka menatap gadis nakalnya ini, hingga ia menunduk, saat mengingat ucapan Shania tadi.


"Shania mau jadi pemain basket pro !" dengan wajah berbinar.


"Shania ga mau cuma ngurus anak sambil dasteran, " matanya sudah berkaca kaca, betapa mengerikannya bayangan emak emak berdaster sambil menggendong anak bagi Shania muda, itu memang akan terjadi, tapi tidak tahun tahun ini pikirnya.


"Shania pengen kuliah di kampus jas kuning, kalo engga di kampus teknologi di kota kembang, eh...kampus di kota pelajar juga boleh !"


Ia memijit pangkal hidungnya. Tempo hari temannya Teguh menghubunginya,


Bro, jadi ambil magister di kampus jas kuning ?


Yup, Shania tak tau jika Arka memang lulusan salah satu kampus yang diimpikannya, dan rencananya Arka memang akan melanjutkan magisternya disana juga. Itu artinya jika Shania bisa diterima disana, maka mereka akan satu kampus meskipun beda gedung. Tapi jika ternyata Shania diterima di Bandung atau Jogja ? maka mereka akan terpisah ruang dan waktu. Memang sudah lama sudah, butuh 10 tahun untuk melanjutkan magisternya. Berhubung Arka harus banting tulang mencari penghasilan. Tapi tak ada kata terlambat untuk mengenyam pendidikan.


Arka menggelar kasurnya di bawah, merebahkan badannya untuk sekedar menatap langit langit kamarnya. Hanya dalam kurun waktu 2 tahun ia sudah berhasil membangun rumah, saat ia masih bekerja sama dengan Teguh dan sesama teman mahasiswanya menjalankan usaha angkringan di dekat kampus, sampai sekarang. Ia juga membuka Route 78, cafe miliknya sendiri, meskipun ia masih ikut andil mengurus angkringan. Usaha dan kerja kerasnya beberapa tahun berbuah manis. Sampai saat ini Shania tidak pernah membahas penghasilannya, mungkin terlalu polos otak Shania untuk hal hal berbau finansial. Bagi Shania asal makan, dan bisa jajan saja, ia tak banyak bicara. Tidak seperti Alya dulu yang selalu bertanya kegiatannya mencari materi. Mengingat Alya, Arka jadi menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuannya.


Arka sudah banyak bertemu dengan berbagai macam modelan perempuan, tapi ia tak menyangka ternyata ia bisa dikelabui seorang Alya. Kini ia memiliki Shania, si gadis bar bar, nakal namun benar benar polos. Arka kembali bangun, menaruh dagunya di ranjang menatap Shania yang terlelap yang kebetulan menyamping ke arahnya.


Ada segaris senyum terulas di wajah tampan Arka mengingat tingkah konyol Shania jika sedang digoda.


"Good night sweet girl, " Arka merapikan rambut Shania dan membawanya ke belakang telinga.


**************


Arka sudah bersiap dengan stelan olahraganya. Sedangkan Shania baru saja keluar dari kamar.


"Mas, udah siap aja ! tungguin, aku mau ikut juga !" ucapnya segera masuk kembali dan mencari pakaian olahraganya.


"Jangan diacak acak ambil bajunya !" pekik Arka.


"Iya tua...eh tau !!"


"Maaf keceplosan !"


Bi Atun mengulum bibirnya ingin tertawa.


"Mas ga ngopi dulu ?" tanya Shania saat keluar dari kamar sudah lengkap dengan stelan olahraga dan rambut terikat.


"Kan mau lari pagi, ko kopi. Air putih lah !" jawab Arka.


"Oh iya iya !" Shania nyengir mengekor Arka yang sudah beranjak keluar rumah.


"Bye bi Atun ! Shania pergi dulu !" pekiknya tapi tak lama.


"Dughhh !" ia menabrak badan Arka yang tiba tiba berhenti mendadak tanpa aba aba.


"Aww ! mas ihhh !"


Shania memukul punggung Arka.


"Kalo berenti tuh kasih tau kek ! tuh punggung udah kaya benteng takeshi !" omelnya


"Makanya liat liat kalo jalan !"


Shania mengambil ancang ancang untuk pemanasan, ia ingin melatih sendi lututnya lagi agar tidak kaku, dan siap untuk kembali meramaikan dunia per basketan.

__ADS_1


"Tumben mau ikut lari pagi ?!" tanya Arka.


"Dunia per basketan kehilangan atlit potensial kaya aku, jadinya redup. Secara, kehilangan satu bintang yang paling terang !" jawabnya jumawa. Gadis itu berlari duluan.


"Kirain mau pemanasan, buat muterin lapang sekolah !" senyum Arka miring.


"Hukuman maksudnya ? boleh boleh !" seloroh gadis itu.


"Pagi pak Slamet !!"


"Neng Sha ! baru ketemu, kemana aja ?!" sapa pak Slamet.


"Ada pak, abis bertapa di goa cari wangsit !" jawabnya ngasal sambil berlari.


"Duluan pak !"


Saat melewati tetangga depan ia pun tak kalah menyapa.


"Pagi bu Wulan ! hay mas Reksa ! libur ngampus bantu ibu nih !!" sedangkan Arka di belakangnya mengekor dengan sesekali membetulkan topi yang dipakainya.


"Pagi Sha !" senyum ramah ibu paruh baya yang sedang mengiris tanamannya.


"Hay Sha ! tumben lari pagi !" jawab Reksa, tetangga mahasiswanya.


"Iya mas, biar sehat !" Arka menarik kerah swetter Shania untuk kembali berlari.


"Aduduh mas ih, jangan ditarik tarik gitu ! kaya anak kucing aja !" omel Shania.


"Kebanyakan ngomong, " jawab Arka.


"Kamu yang anti sosial sama tetangga, " jawab Shania.


Shania menghentikkan larinya, berhenti sejenak dan hanya berjalan.


"Kenapa ? capek ?" tanya Arka tersenyum miring.


"Enak aja, engga lah ! masa calon atlit baru segitu dah capek, lutut aku ngilu mas, aku berenti dulu deh !" jawabnya duduk di bahu jalan. Arka berhenti dan malah berbalik, ia duduk samping Shania.


"Kaki kamu lurusin kalo duduk, " Arka memegang sendi lutut Shania.


"Ashhh," ringis Shania.


"Masih sakit ?" tanya Arka lagi, Shania mengangguk, "dikit."


"Terus gimana ? mau balik ?"


Shania menggeleng, "engga, paling karena belum biasa aja, " Arka menyodorkan sebotol air mineral dan membuka segelnya.


"Makasih, "


Gleuk...gleuk...gleuk...


Arka membuka topinya dan memasangkan di kepala Shania.


"Pake. Udah mulai panas," ucapnya.

__ADS_1


"Basah, keringet kamu mas ih !" Shania menggeleng mencoba melepaskan, tapi Arka menahannya.


"Kan bisa tinggal mandi, keramasan nanti pas sampe rumah, lagian keringetku ga bikin najis, " jawab Arka. Shania kembali berdiri, menggoyangkan lututnya.


"Yu, udah ga sakit !" ajaknya.


"Sha, kamu ga mau nanya nanya gitu tentang kerjaan mas ?" tanya Kala sambil berlari kecil. Gadis itu mengerutkan dahinya.


"Kan dah tau, mas Kala guru kimia, mas Kala juga owner Route 78," jawab Shania.


"Ga pengen tau penghasilan mas sebulan berapa ?" tanya Arka lagi.


Shania menggeleng, "ga penting, " bahunya menggidik.


"Yang penting mas Kala bisa nafkahin aku, ngasih aku makan, jajan, biayain sekolah aku !" jawabnya so simple.


Arka mengunggingkan senyumnya, benar apa yang di pikirkan Arka, Shania memang se simple itu.


"Kamu ga pengen dibeliin apa gitu ?" tanya Arka lagi, biasanya perempuan memiliki wish list sendiri, yang harus dikabulkan oleh pasangannya.


"Emhhh, belum kepikiran !" jawab Shania lagi. Arka menggelengkan kepalanya.


"Kalo kata ayah, jangan mau dikasih laki laki, laki laki itu bahaya. Kalo diterima suka minta dibales, pasti ada maunya !" dan jawaban itu membuat Arka tertawa.


"Oh ya, tapi coklat dari Cakra kamu terima ?!" senyum miring Arka.


"Kalo itu mah ga sengaja ! kan kata mas juga, kalo di depan banyak orang terima aja buat ngehargain, "


"Kalo minta sama mas kan wajar ?! mas suami kamu, " timpal Arka lagi.


"Mas Kala maksa banget pengen aku mintain, emang udah siap kalo nanti aku minta berlian, mobil sport ?!" tantang Shania.


"Siap, kenapa engga ?!" mata Shania melotot, seraya menutup mulutnya yang sudah terbuka.


"Yang bener mas ?!! seriusan ?!" wajah melongo Shania sukses membuat Arka tertawa dan mengusap kasar wajah gadis itu.


"Ishhh, tangan mas kotor ! kalo ntar muka aku jerawatan gimana !"


"Seriusan sih mas, jangan becanda ! emang gaji mas berapa ?"


Arka malah pergi, meninggalkan Shania dengan segudang rasa penasarannya.


"Mas ihhh ! tanggung jawab !!!" cebiknya kesal.


"Tangung jawab apa, diapa apain juga belum !" jawab Arka jauh di depan.


"Ga mungkin kan gaji guru bisa buat beli berlian !!" pekiknya tapi tak digubris Arka.


"Mas Kala !! ngeselin banget !"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2