
"Sha,"
"Ka Dim, gue pengen pulang aja !"
"Ga jadi beli permennya ? ntar dedek-nya ngiler Sha," hibur Dimas.
"Ingetin gue buat engga masuk mall sini lagi !" Shania masuk ke dalam mobil.
"Sha, Alya.."
"Sretttt !"
Shania menarik seatbelt kencang dan memasangkannya memotong ucapan Dimas tentang Alya.
KLIK !!
"Gue mau pulang ka Dim," sepanjang jalan hanya tatapan merendahkan orang orang tadi dan sederet kalimat sumbang Alya yang menari nari di otak Shania. Ia teringat flashback saat sering berseteru dengan Maya.
"Lont3, "
"Apa loe bilang ? jangan fitnah !"
Persis sepertinya dulu bersama Maya.
*******
"Ka Dimas ngapain bawa aku ke Route 78 ?!" sungutnya.
"Gue disuruh Arka, kalo di rumah gue takut loe macem macem, " jawab Dimas menenangkan Shania.
"Shania ga gila ka ! Emang bisa apa Sha di rumah ?"
"Ka Dimas bilang kejadian barusan sama mas Kala ?"
"Kalaupun gue ga bilang Arka pasti bakal tau, Sha."
Shania mengusap lelehan air matanya dari pipi, lalu ia turun dari mobil dan masuk. Ternyata Arka tengah duduk bersama teman temannya dari angkringan di meja pojok kanan dekat dengan jendela sana.
Dimas mengekor di belakang Shania, pandangan Arka menyapu kedatangan keduanya.
"Hay Sha, apa kabar ?"
"Om Pri, om Teguh, om Nino. Baik, Sha ke belakang dulu ya !" pamitnya berjalan lurus tanpa ingin menoleh lagi.
"Bro, bini loe abis nangis ? Kenapa ?" tanya Nino demi melihat mata dan hidung merah Shania.
"Ka sorry, gue ga tau kalo Alya.."
"Ga apa apa, biar saya tangani."
__ADS_1
"Oke kalo gitu Ka, kayanya rapat kali ini udah gitu aja. Nanti ketemu di angkringan aja," pamit Teguh, memberikan Arka privasi mengurus Shania. Arka mengangguk.
"Hati-hati, "
"Yo ! Pamit ya Ka, salam buat Shania !" pamit ketiganya berjabat tangan.
"Nih kunci mobil, Ka."
"Makasih Dim," ucap Arka segera berjalan menuju ruangannya dimana Shania tengah menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan diatas meja kerjanya dengan punggung bergetar dan sesekali terbatuk batuk.
Gadis itu menegakkan badannya dan mengambil tissue menghapus air mata dan lelehan air hidungnya yang membanjiri wajah cantiknya yang sembab, menyisakkan sesenggukan dengan intensitas tinggi. Sudah seperti adonan roti yang didiamkan, bengkak-bengkak.
"Katanya mau beli permen Youpi ?" tanya Arka memutar kursi hingga menghadapnya yang tengah berjongkok tepat di depan Shania, dengan tangan yang mengelus-elus perut Shania, sudah mulai kelihatan membuncit.
"Ga jadi," cicitnya menggeleng mengusap jejak terakhir air di sudut matanya.
"Sha bukan pel acoer mas, Sha ga pernah jual tubuh buat siapapun," kembali sesenggukannya berubah jadi tangisan.
"Mas ga liat orang orang tuh liat Sha ngerendahin, " ucapnya terbata bata.
"Kalo disana ada yang kenal Sha, atau anak-anak BP yang liat gimana ?" Arka menarik kepala istri nakalnya untuk menumpahkan segala uneg unegnya disana.
"Kata katanya itu loh mas, ko bikin nyesek ! Malu !" tambahnya mer emas kemeja yang Arka pakai.
"Allah ga akan ngasih ujian melampaui batas kemampuan hambanya. Kalo dulu kamu bisa menghadapi satu sekolah yang memandang kamu nakal, bandel. Maka kali ini Allah yakin kamu juga bisa,"
"Dulu tuh mas sempet kenal sama anak murid mas yang ga kenal kata malu, ataupun tumbang. Udah berkali kali guru ngasih hukuman berat, yang kadang semua orang ragu. Apa dia mampu ? tapi ternyata bagi dia hukuman itu cuma cemilannya sehari hari. Dia ga peduli sama pandangan meremehkan semua warga sekolah yang menganggap dia cewek nakal, tengil, yang suka bikin onar, dia masih bisa santai aja makan pentol. Tapi sekarang mas kehilangan dia, kamu tau dia siapa ?"
"Dia adalah little momy-nya dedek."
Arka merapikan rambut Shania yang terlihat semrawut.
"Tapi sekarang beda keadaannya mas,"
"Apa bedanya ? mas pernah bilang kan kemarin, kamu hanya perlu belajar dan jaga kesehatan. Biar sisanya jadi urusan mas."
"Kita skip kejadian tak terduga barusan, anggap saja itu adalah salah satu ujian Sha untuk jadi strong women. Kenapa mesti ciut saat Alya bilang kamu wanita ga bener. Terus apa gunanya cincin yang melingkar di tangan kamu, pajangan ?" tanya Arka.
"Kasian dong dedek mau permen tapi ga dibeliin momy nya," bujuk Arka.
"Iya, padahal Sha pengen banget. Mana minuman yang baru dibeli baru beberapa sedot Sha minum," keluhnya.
"Sha takut kalo nanti semua anak BP tau kalo Sha lagi hamil,"
"Mereka memang harus tau, tapi tidak sekarang. Mereka memang harus tau kamu istri mas, tapi bukan sekarang. Hanya tinggal menunggu sampai kamu lulus, demi kelancaran pencapaian kamu menuju cita cita kamu, mas ga mau merenggut kembali asa mu !"
Shania bisa kembali tersenyum cerah. Dimas memang ahlinya menggombal, dan akrab dengan siapa saja orang baru. Tapi tidak dengan Arka, ia terkenal dingin untuk semua orang di luar. Jangankan untuk dekat, untuk kenalan saja mungkin mereka akan malas saking reaksinya yang cuek. Mungkin hanya ibu, Shania juga keluarganya saja yang tau dan dapat merasakan betapa so sweetnya lelaki ini.
Cukup Shania saja yang dapat merasakan betapa lelaki ini amat lembut dan penyabar.
__ADS_1
"Sudah makan siang ?" tanya nya kembali ke mode datar.
"Belum, Sha ga mau makan nasi."
"Mau dibikinin sandwich tuna, kentang goreng sama jus strawberry ?" Shania jelas mengangguk cepat.
Itu semua pesanan kesukaan Shania saat menjadi pelanggan disini, sebelum ia menikah dengan Arka.
"Masih mau beli permen ?" tanya Arka melihat Shania lahap menyantap makanannya.
"Mau, tapi mall nya jangan yang tadi. Mas jangan pernah bawa Sha ke mall yang tadi," jawabnya.
"Maaf, Sha jadi ganggu meeting mas tadi."
"Udah selesai."
Shania menghabiskan makanannya hingga tak bersisa. Nafsu makannya memang baik hingga Arka tak perlu repot repot membujuknya makan, sejak dulu Shania memang tak pernah ribet, selalu simpel, begitupun calon bayinya yang ada di perut Shania. Atau mungkin sejak dari dalam kandungan saja sudah mengenal paham buah tak jatuh jauh dari pohonnya.
"Udah sore, sekarang aja. Biar ga pulang kemaleman !"
Shania begitu excited memilih milih berbagai jenis permen jelly yang terpajang begitu memanjakan mata. Mulai dari yang berbentuk jeruk, yang ditaburi remahan gula pasir halus menggulung, ataupun bentuk bentuk lucu lainnya.
Arka menarik senyumannya melihat pemandangan ini, hatinya ikut menghangat.
'Cause you are the reason....
Bertahan sejauh ini, karena Shania orangnya. Gadis yang patut ia perjuangkan, bukan Arka tak mau membela Shania, ataupun mencari dimana Alya berada. Jika ditanya apa yang ingin sekali dia lakukan sekarang adalah mencari dimana Alya berada, lalu menyeret rambutnya ke depan umum dan mempermalukan wanita itu hingga ia malu sampai anak cucunya. Atau sekedar menampar dan memukul Alya. Tapi Arka kembali berfikir seribu kali, semua di dunia ini ada sebab akibat dan resikonya. Arka tak ingin semakin memperkeruh suasana dan mencari cari Alya seperti ia adalah manusia paling penting di dunia ini, bagi Arka...Alya tak lebih dari kerikil kecil yang tak perlu ia cari cari dan urusi. Sejauh masih aman terkendali ia tak akan membalas.
Yang ada wanita itu akan semakin merasa menang karena seorang Arka mencarinya. Ia percaya jika kebenaran dan kejujuran selalu Allah tunjukkan nantinya, dan tebak siapa yang akan malu pada akhirnya. Masih ada yang harus ia lakukan sekarang yang lebih penting.
Membahagiakan Shania-nya.
"Udah ?" tanya nya.
"Udah mas,"
"Berapa mbak ?" tanya Arka.
"Seratus lima puluh ribu, mas."
"Pulang sekarang ya ?" pinta Arka, dan Shania mengangguk dengan wajah cerahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya guys, mimin selalu double update bahkan triple, tapi mungkin Noveltoon sedang gangguan. Jadi mohon bersabar ya. Orang sabar disayang pacar 🤣🤣