
Jika disebutkan saat ini jiwa Shania berkobar layaknya rambut Goku merah menyala dan berapi, double kill untuk yang duduk di atas singgasana kebesaran sana.
Byurrrr !!!
Ayah menyemburkan kopi panas yang baru saja bunda buat.
"Ihh, ko malah di buang-buang ? Tau bikinnya capek !" bunda duduk samping ayah. Bagaimana ia tak kaget, baru saja turun dari pesawat, dan baru saja sampai rumah, habis kena macet karena demo mahasiswa yang berlangsung, menyebabkan sejumlah jalan arteri di ibukota dilanda kemacetan, kini ia harus melihat putri semata wayangnya sudah seperti gambaran bung Tomo masa kini sepaket dengan aksi koar-koar emaknya.
"Itu Shania kan bun ?" tunjuk ayah. Bunda menyipitkan matanya.
"Allahuakbar !!!! Neng, naha aya didinya ?!" tapi tak lama bunda tertawa, ia sudah tak aneh dengan kelakuan anaknya yang magic. Bunda sudah kenyang wara-wiri ke ruang BK dan kantor polisi jika kalian lupa.
"Shania ikutan demo ?" ayah langsung meraih ponselnya, ternyata biang kemacetan yang membuat kepalanya langsung botak adalah anaknya sendiri. Tangannya memijit nomor si neng natckal ini berikut mantu kalemnya, sedangkan bunda masih sibuk menggelengkan kepala dan tertawa.
"Bi !!! Coba sini liat, neng Sha aya na tipi (neng Sha ada di tipi) ! Ini mah harus di kasih tau ke tetangga !" pekik bunda. Ayah dan Arka memang bernasib sama, cowok kalem yang menyukai ketenangan tapi berjodoh dengan istri magic.
Tak satupun dari anak dan mantunya yang mengangkat panggilannya, maklum saja mereka saat ini sedang ada di situasi yang tak kalem.
******
Shania turun dari mobil demonya dibantu Widya dan beberapa teman kampus diiringi tepukan tangan, sebuah mobil baraccuda melintas sebagai kendaraan patroli. Sebegitu menakutkannya kah para mahasiswa tanpa senjata ini, harus memakai mobil seperti itu.
Saat situasi mulai tidak kondusif, para polisi dan tentara menyemprotkan gas air mata pada para pendemo. Karena tidak dipungkiri, demo begini selalu disusupi oleh para apatis negara.
"Mak !!! Keren !!!!" Jangankan teman satu kampus, kini Guntur, Ari, Leli, Niken dan Inez ada di dekat Shania.
"Mak Malin, kaulah panutanku mak. Kami emak-emak se-kecamatan Babakan betawi mengucapkan terimakasih dan Merdeka !!!!" ujar Guntur.
"Si@*lan !"
"Aduh, perut gue mules. Bukannya chaos brayyy ! Tapi malah ngakak njirr !"
"Sha, udah pantes lah loe lolos jadi caleg !" ucap Riyan.
"Jangan !!!!" pekik berandal squad.
"Dih, kompak banget !"
"Kalo Shania jadi caleg, ntar emak-emak ngikutin gaya slengean dia. Emak gue ntar di rumah kerjaannya tawuran mulu, anak ma suami ditelantarin !"
"Eh Juki, itu mah lain cerita dodol, lagian gue ga pernah nelantarin mas Kala sama Gale ! Mereka prioritas utama," Shania menoyor kepala Ari.
Disaat mereka asik bercengkrama tiba-tiba dari arah belakang terjadi kerusuhan.
__ADS_1
"Eh, ada apa tuh ?!" mereka menoleh.
"Ada kerusuhan oyyy !!!" pekik yang lain. Mata Shania membelalak, ditambah pihak aparat semakin menambah semprotan gas air matanya, membuat jarak pandang semakin minim. Shania menurunkan slayer merah putihnya untuk menutupi hidung.
"Kayanya yang jadi biangnya bukan mahasiswa !!!"
Berandal squad berhamburan namun saling berpegangan mencari tempat aman. Shania berada di barisan paling belakang bersama Guntur sedangkan Deni paling depan melindungi yang lain.
"Uhukk...uhukkkk !!!"
Jarak pandang semakin kabur, suasana semakin chaos. Hanya bisa dilihat kobaran api menyala di sudut-sudut jalanan. Kaca- kaca mobil yang terdengar pecah dan asap pekat. Jalanan tak sekondusif tadi pagi, terbilang kotor dan banyak sampah.
Di tengah kebingungan, pegangan Shania terlepas dari jas Melan. Ia dan Guntur terpisah dari rombongan.
Prankkkk !!!!! Sebuah mobil yang kacanya dipecah tepat berada di depan Shania dan Guntur. Refleks, mereka melindungi diri sendiri.
"Sha, loe ga apa-apa ?" tanya Guntur.
"Engga," Shania menyipitkan matanya dan setia menggenggam lengan Guntur. Kericuhan memang hanya terjadi di distrik kampus hijau, entah karena orasi Shania yang membakar semangat dan memantik jiwa rakyat kecil atau bagaimana ia pun tak mengerti. Yang jelas kini kampus lain pun ikut membantu mencari sumber masalah dan menyelamatkan para mahasiswa kampus hijau.
"Shania mana ??!!!" mata elang Arka menusuk ke arah berandal squad.
"Maaf pak, Shania ma Guntur kayanya ketinggalan di belakang, Deni sama Roy lagi nyari balik," mereka menunduk.
Seorang aparat bertubuh tegap berdiri disana melihat anak buahnya mengamankan situasi.
"Prabu, Shania..istri saya masih disana, dia tertinggal !"
"Ck, yang tadi orasi dan jadi sorotan ?!" tanya nya, Arka mengangguk.
"Cari !! Saya bantu cari juga, " tambahnya lagi.
"Hati-hati Ka," Arka mengacungkan jempol diatas dan masuk ke dalam kepulan asap dengan jas kuningnya.
Disaat yang lain sedang sibuk mencarinya, Shania dan Guntur tengah duduk di salah satu bahu jalan.
"Capek gue Tur, udah lah diem aja dulu ! Sampe ntar asepnya ilang !"
"Engap mak !"
"Ntar lah gue laper, loe ga rasain apa teriak-teriak di atas bikin suara serek ?!" Shania membongkar tasnya dan mengeluarkan roti sandwichnya, membagi dua dengan Guntur. Memang wedaaan.. emak Gale, bisa-bisanya orang lagi chaos dia malah duduk santai selonjoran sambil nikmatin roti sandwich kaya orang lagi tamasya.
"Anggap aja kita lagi piknik, nontonin perang !" Guntur tertawa.
__ADS_1
"Berandal sejati !" mereka tos kepalan tangan.
"Loe ga takut dimarahin pak Arka, Sha ?!" kini keduanya malah mengobrol, layaknya di forum gosip. Memang hebat ! Tak terganggu dengan situasi mencekam di depan mereka.
"Takut sih, cuma kan doi ga ada disini, jadi aman lah !" Shania menaik turunkan alisnya.
Guntur menelan salivanya,
"Terus itu siapa Sha ?" tunjuknya ke depan mereka, Shania mengarahkan pandangannya ke depan, matanya membelalak seperti akan keluar dari tempatnya. Disana sudah berdiri seorang laki-laki tegap dengan stelan yang sama seperti ia lihat tadi pagi, celana jeans navy, jas kuning, slayer hitam dengan sablonan tulisan Shania dan jam tangan sport pemberian Shania 2 bulan yang lalu.
"Astaga dragon !!!!" ia hampir tersedak salivanya sendiri. Andai kata nyata, ia ingin sekali meminjam jurus seribu bayang milik Naruto, ataupun meminjam lampu wasiat milik aladdin untuk menghilang dari sana sekarang. Ia berharap doraemon ada disini sekarang untuk meminjamkan pintu kemana saja.
"Sha, itu pak Arka bukan naga, " jawab Guntur.
"Mamposs gue Tur," gumamnya. Ia semakin mendekat. Matanya tajam menyorot langsung ke arah retina mata Shania, dengan membawa tameng milik teman polisinya sebagai alat untuk berjaga-jaga, ia menghampiri Shania dan Guntur yang asyik piknik'an.
Hal tak terduga Shania dapatkan, tangan Arka terulur untuk menjewer kuping Shania.
"Aduduhhhh !! Ampun, sakit mas !"
"Pulang !" ucapnya menggeret Shania dan Guntur untuk keluar dari sana.
"Udah selesai kan pikniknya ? Udah selesai orasinya ?" sindir Arka.
Kuping Shania berdengung,
"Orasi, ko mas tau ?" tanya nya, tapi sejurus kemudian ia menelan air lu_dahnya berat. Jangan-jangan Arka memang disini sejak awal....
"Otak loe di gadein kemana Sha, loe ga tau laki loe sekertaris BEM jas kuning ? Ya pasti ada disini lah !" bisik Guntur membuat Shania menoleh cepat ke arah samping belakang.
"Serius ?!!" tanya nya, nyali Shania semakin menciut, hingga kini sudah meleleh di atas jalanan aspal ini.
"Bini macam apa loe mak ? Abis loe sekarang !" tawa Guntur.
"Kita hitung nanti di rumah, berapa pelanggaran yang kamu langgar !" dengan tangan yang menggenggam kuat bahu Shania. Arka memang merangkul Shania dari samping.
.
.
.
.
__ADS_1