Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Beautiful station for beautiful girl


__ADS_3

Beautiful station for beautiful girl


Dan kutatap matanya, 'tuk ku katakan ku cinta....


Arkala Mahesa


 ----------------------------------


Arka menarik senyumannya, tapi bukan saat melihat Shania. Kereta sudah memasuki kawasan stasiun Plabuan di kota Batang.


"Pas banget, jadi kamu udah seger buat liat ini !" Arka memegang kedua bahu Shania, yang sedang menyuapinya snack demi membalikkan badan gadis ini.


Mata Shania membelalak, melihat betapa indahnya pemandangan yang terhampar di depan matanya.


"Maaf kalo kencan kita diatas kereta bukan diatas kapal pesiar, maaf juga kalo mas udah bangunin kamu subuh subuh sampe harus dingin dinginan, biar kamu ga melewatkan jalur Pantura ini."


Shania tak bisa berkata kata, ia hanya bisa berucap, "ini indah banget mas !!" decaknya tak se detik pun ia melewatkan moment meskipun untuk berkedip. Kereta tengah berjalan diatas rel yang berada persis di tepi laut.


"Keren ihh !!" gumamnya. Inilah kenapa tiket Jakarta - Surabaya untuk perjalanan pagi cukup laris diserbu penumpang. Karena salah satunya adalah perjalanan pagi akan menampilkan pemandangan terindah, maha karya dari sang Pencipta. KA Bromo Anggrek pagi akan mengajak para penumpangnya melintasi jalur pantai utara yang dihiasi sawah, perkebunan, hingga lautan. Itu kenapa Arka jika mudik selalu menggunakan kereta api. Beruntung juga pagi ini Arka bisa mendapatkan tiket pulang ke Surabaya, mengingat musim liburan begini pastilah bukan hanya ia dan Shania saja yang ingin mudik dan berlibur.


Rasanya Shania ingin kereta berjalan pelan seperti siput, demi tak ingin pemandangan deburan ombak yang saling berkejaran cepat berlalu. Sepanjang kawasan ini, matanya disuguhi oleh view bentangan pantai utara yang dihiasi tetumbuhan liar hijau yang menyegarkan mata di sepanjang batas pantai. Bahkan saking fokus terpesona dengan pemandangan di depannya sekarang, Shania tak menyadari jika Arka sudah menempatkan wajahnya tepat di samping wajahnya, menumpukan dagunya di pundak Shania, yap ! Arka seakan membuat gerakan impulsif memeluk Shania dengan sebelah tangannya dan menunjuk deretan pantai dengan tangan yang satunya. Jika gadis ini sadar, mungkin ia akan mendorong dan menghadiahinya dengan bogeman mentah kepalan tangan mungilnya di dada Arka.


"Sha mau deh mas, ke pantai ! kapan kapan kita ke pantai ya, mas !" serunya tanpa mengalihkan pandangannya. Shania-nya memang wangi, aroma vanilla ia sesap dengan rakus. Demi apa ? Wangi candu Shania bahkan bisa membuat otak encer Arka belingsatan dan berfikiran jauh, yang pasti membuat jiwa laki lakinya ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan dalam tanda kutip.


"Iya, nanti mas ajak !" ia segera menarik diri, sebelum bibirnya tiba tiba menempel dengan tanpa ijin di depan umum begini, di salah satu bagian favoritnya dari wajah Shania.


"Masih seger kan ? karena sepanjang jalan, nanti kamu bisa liat hal yang bagus lagi, nanti kita turun sebentar buat regangin otot di stasiun Tawang. Pasti kamu bakalan suka !" jawab Arka meraih kue dari kotak makan.


"Masa sih mas ? Ada apa sih ?!!" serunya antusias. Jalan jalan sama pak guru memang selalu berbau pelajaran, tapi ini sungguh menyenangkan. Perjalanan yang tadinya ia pikir akan membuatnya kesal dan bosan, ternyata malah membuatnya ingin mengulangi pengalamannya lagi nanti.


Kereta melaju dan berhenti di stasiun Poncol,


"Mas, itu apa ?! keren deh buat di fotoin !" tunjuk Shania.


"Itu depo/ dipo lokomotif, tempat untuk perawatan dan perbaikan lomomotif kereta, " jelas Arka tengah sibuk membalas chat di ponselnya, yang ternyata sudah bejibun.


Mata Shania menyapu seluruh pandangan yang bisa ia tangkap, dan terulur memotret semua spot indah.


"Tuh kan lupa ! kenapa yang tadi ga difoto ! mas sih ngajakin ngobrol terus !" cemberutnya, menyayangkan pemandangan like heaven, tak dipotretnya. Meskipun ia belum pernah melihat, seperti apa surga. Semoga dengan Arkala ia dapat meraih surganya.


Arah kamera ponselnya terfokus pada lahan kecil yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bang kai gerbong kereta yang sudah tak terpakai lagi.


Tak lama setelah stasiun Poncol, mereka melewati stasiun Tawang.


"Emejing lah ! Keren, mas turun yuu !! Fotoin Sha, buat di pamerin ke Inez !!" matanya kembali berbinar, perjalanan pulang ke Surabaya ini terkesan seperti darmawisata untuknya.


"Boleh, mas juga ingin ke toilet dulu !" jawabnya. Ketika kereta berhenti di stasiun antik bernuansa kolonial, keduanya memutuskan untuk turun sejenak. Tak ada penolakan dari Shania saat Arka menggenggam tangannya lembut dan membawanya turun dari kereta.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju kamar mandi.


"Sha juga mau ke toilet mas, " keduanya masuk ke dalam toilet yang berbeda, meskipun Arka keluar lebih dulu, laki laki ini menunggu Shania.


"Udah ?" saat gadis ini baru saja keluar dari pintu toliet, ia mengangguk.


Penciuman Shania tergoda oleh aroma mocca dari salah satu booth yang menjual roti fresh from the oven yang ada disana. Seketika perutnya bertabuh, padahal di sepanjang perjalanan gadis ini tak berhenti mengunyah.


"Mas, Sha pengen itu !!" Arka mengarahkan pandangannya pada toko yang di tunjuk Shania.


"Ya udah kamu tunggu disini, biar mas beli."


Shania mengangguk, saat Arka menjauh untuk membeli roti yang diinginkan Shania. Gadis itu mengedarkan pandangannya dengan tangan yang memegang tali tas selempangnya.


"Ihhh...bener bener keren ini mah !" tembok putih yang kokoh serta jendela dan pintu kayu dengan sisi atas berbentuk setengah lingkaran tampak merias sisi pinggir peron.


"Mas, mocca sama keju 1 ya !" pinta Arka.


"Baik mas, ditunggu sebentar !" jawab ramah karyawan yang memakai appron hitam dan topi senada.


Arka kini tengah menunggu pesanannya, melihat seorang gadis yang beberapa waktu lalu sudah mencuri hatinya di depan sana. Seorang gadis dengan dress bunga bunga kecil hijau selutut dan swetter rajut senada juga sendal flatshoes sedang menatap kagum bangunan yang ia pijaki. Gadis yang mampu membuatnya bertekuk lutut, karena belum pernah ia merasakan ini, bahkan pada semua wanita yang pernah bersamanya sebelum sebelumnya.


"Beautiful station for beautiful girl"


Arka meraih ponselnya, memotret pemandangan yang menurutnya mengalahkan pemandangan indah manapun yang pernah ia lihat.


"Ah, iya..ini uangnya !" jawab Arka menerima keresek putih berisi paper bag yang membungkus roti hangat rasa mocca dan keju.


"Nih," Arka menyodorkan kresek putih itu, Shania langsung menyambarnya, memasukan hidungnya ke dalam mulut kresek demi menghirup aroma wangi roti.


"Emmhh wangi !!"


"Mas, fotoin aku dong disini buat kenang kenangan !" pinta Shania. Banyak sekali mintanya seperti orang ngidam, sekali kali mengerjai orangtua, menyuruh nyuruh suami tak apa kan, tak akan membuatnya langsung tercebur ke lembah api neraka.


Arka menurut dan menerima ponsel Shania. Arka mundur agak sedikit jauh, agar view stasiun ikut tertangkap mata kamera.


"Bentar mas, masa aku sambil bawa bawa kresek roti !" gadis itu kembali memberikan kresek roti pada Arka.


Gadis itu memasang pose manis dan menggemaskan, membuat jantung siapa saja lelaki akan bergetar dibuatnya, pantas saja Cakra sampai sebegitunya mengejar Shania.


"Pake aba aba mas, jangan diem aja !" pekik Shania diangguki Arka.


"Siap ya, 1..2..3..."


Cekrek...


"Udah mas ?" tanya Shania, Arka mengangguk, tapi ia malah menahan Shania.

__ADS_1


"Sebentar, tunggu disitu aja !" Arka menyapa seorang pengunjung disana, dan berbicara sambil mengatupkan kedua tangannya. Shania sampai mengerutkan dahinya,


"Lagi ngapain sih ?" gumamnya.


Selanjutnya si pengunjung itu tersenyum dan mengangguk, lalu menerima ponsel milik Arka. Arka menyimpan dahulu kresek roti dan mendekati Shania.


"Mas ngapain ?" kerutan di dahinya bertambah.


"Liat mas, " Arka membawa tangan Shania agar badan Shania mengarah padanya. Kini keduanya saling berhadapan. Arka memegang dagu Shania dan mengangkatnya, hingga kini mata keduanya saling pandang. Seakan waktu berhenti untuk keduanya.


"Siap ya, 1...2...3..."


Jantung Shania tak bisa lagi dikontrol oleh sang empu. Demi apa keduanya malah saling pandang dan terhanyut di awkward moment ini. Karena jujur keduanya sudah sangat gugup tapi pun menikmati.


Seiring terdengarnya alunan lagu dari salah satu gerai makanan yang ada disana.


I'm in love


Ini yang kurasakan


I'm in love


Saat berjumpa dirinya


Dan kutatap matanya


'Tuk ku katakan ku cinta...


I'm in love


Kupegang erat tangannya


I'm in love


Tak kan kulepas selamanya


Hingga tiba saatnya


'Tuk ku katakan ku cinta....


(Yang kurasa _ Reza Darmawangsa)


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2