Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Pagi menyapa


__ADS_3

Arka menyudahi uwu moment itu, melepaskan bibirnya, memundurkan wajahnya sedikit demi Shania mendapatkan pasokan udara dan ruang yang cukup, sebelum dirinya menginginkan hal yang lebih lagi.


Mata Shania memicing menatap Arka.


"Kenapa ? mau lagi ?" tanya Arka.


Tangan Shania telah mendapatkan kembali tenaganya, ia melayangkan pukulan di bahu, dan dada Arka.


"Kesempatan banget sih mas ! Modus basi, ga ada kasur lipat !" sengitnya.


Arka tertawa renyah, " apa nanti pas udah di rumah, mas buang aja kasur lipatnya ya ? mas simpen aja di gudang ?!" membuat Shania memukulnya lagi dan membalikkan badan.


"Tau !! Sha mau tidur !" dengusnya.


"Ko tidur, masih sore loh ini !" goda Arka.


"Mas mau aku lelepin ke bak ?!"


ya ampun ! wajah Shania memanas.


Tak tau kapan dan jam berapa Shania bisa tertidur. Yang jelas sekarang ia masih terlelap dengan pulasnya sambil tertelungkup.


Suara adzan subuh berkumandang dengan nyaringnya, mengingat letak masjid memang tak jauh dari rumah Arka. Lelaki itu mukai mengumpulkan kesadarannya, tapi ia tak bebas bergerak, dadanya terasa berat untuk bernafas. Ia mengerjapkan matanya dengan sebelah tangan, rupanya sosok istri nakalnya tengah terlelap nyaman meni ndihnya, pantas saja. Kepala Shania menjadikan dadanya sebagai bantal. Tentu saja si kembar milik Shania menempel di perutnya.


Senyumnya merekah, tangannya mengusap rambut Shania, sebelum akhirnya mendarat di punggung milik Shania.


"Sha, bangun..udah subuh !" ucapnya masih serak. Punggung tangannya beralih mengusap lembut pipi Shania.


"Iya mas, bentar. 5 menit aja, " jawabnya parau.


"Tapi mas mau bangun Sha, kamu berat," jawabnya.


"Mas ngomong apa sih ! kalo mau bangun, bangun aja duluan. Lagian ini liburan ga mesti sekolah, bisa kalee dikasih toleransi, "


"Kamu nidurin mas Sha, "


Demi apa ?! kata kata yang sarat makna dan ambigu itu membuat Shania langsung melotot.


"Ya Allah !" Shania langsung beringsut turun dari badan Arka, dan membalikkan badan, lalu menarik selimut untuk menenggelamkan dirinya.


"Kamu ngapain ?" Arka tertawa tanpa suara. Shania menyembunyikan wajah merahnya di dalam selimut.


"Gue ngiler ngga ya ?" benaknya.


"Jangan tidur lagi, udah subuh !" Arka bangun duluan dan beranjak menuju pintu kamar.


"Kalo udah subuhnya, mas tunggu di depan. Kita nyari sarapan sama sama."


"Kemana mas ?!" Shania langsung bangkit. Cara ini selalu berhasil membuat Shania terbangun.


"Keliling kampung nyari sarapan," jawabnya sebelum hilang di balik pintu.


"Bu, tidak usah masak sarapan banyak banyak. Biar Arka sama Shania beli sarapan di luar, " Arka keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basahnya, ketika ibu akan meraih beberapa jenis sayuran dan lauk lainnya.


"Oh gitu,"


"Sambil ngajak Shania keliling kampung bu, " ibu tersenyum.


"Iya, ajaklah Shania jalan jalan biar ga bosan, " jawab ibu.


Arka hanya menyeruput teh manis hangatnya saja di depan, sementara Shania baru saja keluar dari dalam kamar dengan celana pendek diatas lutut dan swetter rajut miliknya, sweeter itu bahkan hampir menenggelamkan celananya, ia juga mencepol rambutnya tinggi, terlihat seperti gadis gadis Korea namun rasa Indonesia.


Bahaya !!


"Ga bawa baju lain ?" tanya Arka, gadis ini hanya menggidikkan bahunya dan duduk di samping Arka meminum teh manis hangat miliknya.


"Assalamualaikum, " Nanang muncul di ambang pintu membuat kedua manusia ini menoleh.


"Waalaikumsalam,"


"Mas, mbak..." ia duduk di kursi samping Arka.


"Sebentar, " Arka melengos ke dalam menyusul ibu di dapur.

__ADS_1


Mata Shania mengikuti pergerakan Arka, dirasa sudah aman. Ia kemudian berpaling pada Nanang yang asyik dengan ponselnya.


"Mas Nanang, Sha bisa minta tolong ngga ? Tapi Sha takut mas ga bisa nolongin Sha, " ucapnya.


"Oh, mau minta tolong opo to mbak ? Kalo memang bisa, aku bantu, " tanya Nanang.


"Beneran nih ? tapi janji dulu, bisa kan ? Please !!" pinta Shania sungguh sungguh menunjukkan wajah menggemaskannya.


"Iyo mbak, bilang aja insyaallah aku bantu, " jawab Nanang.


"Nang, Sha mau nanya. Kalo hubungan mas Kala sama mbak Retno tuh kaya gimana ?" tanya Shania melirik lirik ke arah dapur.


"Waduhh !" ucap Nanang terkejut. Dari reaksi yang diberikan Nanang saja, Shania bisa menarik kesimpulan.


"Dari reaksi mas Nanang, aja Sha udah tau ko ! Cerita aja mas, Sha cuma pengen tau aja," pintanya. Demi rasa penasarannya ia akan mengambil resiko terburuknya, sakit hati atau mungkin cemburu. Cemburu ? ayolah !!


"Nggeh mbak, " Nanang menggaruk garuk kepala tak gatal, pagi pagi sudah dibikin bimbang.


"Siapa mbak Retno mas ?"


Nanang menceritakan siapa Retno secara garis besarnya saja. Namun, rupanya itu tak membuat Shania puas, terlebih lagi ekspresi Retno saat kemarin malam masih menjadi tanda tanya untuknya.


"Mbak Retno mantannya mas Kala ya ?" tanya Shania membuat Nanang terkejut.


"Bukan mbak, "


"Tapi..." lanjut Shania mengangkat kedua alisnya, berharap Nanang melanjutkannya.


"Gebetan, pacar, someone special ? oh..come on !!" Nanang menghela nafasnya.


"Dulu memang mereka dekat. Nanang ga tau sih mbak, ga berani nanya nanya privasi mereka, " jelas Nanang menelan salivanya berat, jika sampai salah bicara maka ia berurusan dengan Arka.


"Oke, makasih mas !"


"Oke aja atau oke apa nih ?" tanya Nanang takut.


"Ya oke, oke doang !" jawab Shania.


"Mbak ga marah kan ?" tanya Nanang, pasalnya nasibnya dipertaruhkan lewat kata oke.


"Mas buruan, Sha laper ih !"


"Iya bentar, "


"Nang, ini daftarnya. Hati hati bawanya. Bolak balik saja, " pinta Arka.


"Siap mas, " Nanang menerima kertas daftar nama dari Arka.


"Bu, kunci motor punya pak'lek mana ? semalam Arka sudah bilang mau pinjem motor,"


"Oh iya, ini !" ibu memberikan kunci motor.


"Emang motornya dimana mas ?" tanya Shania.


"Itu, ikut parkir di samping rumah !" tunjuknya pada motor bebek sejuta umat yang terparkir di teras samping rumah.


"Yang bebek ?" tanya Shania, Arka mengangguk.


"Oke,"


"Bu, Sha mau pinjem sandal !" Shania bangkit dari duduknya.


"Kamu yakin mau pake pakaian begitu ?" tanya Arka.


"Gitu gimana ?!" Shania mengerutkan dahinya.


"Itu !"


"Kenapa ?!" Shania melirik pakaiannya, rasanya tak ada yang aneh, ataupun sobek.


Ibu yang tengah merapikan hampers dengan Nanang mengulum bibirnya. Memang selalu saja ada hal yang diperdebatkan oleh Arka dan Shania setiap harinya.


"Begitu tuh Nang, kalo di Jakarta pun begitu, " ucap ibu terkekeh, sedangkan Nanang manggut manggut.

__ADS_1


"Udah deh mas, jangan ngeselin ini masih pagi, jadi apa engga nih ? Sha udah laper ! Ga denger apa perut Sha udah pada demo ?!" tanya Shania memelas.


"Ganti dulu celana kamu, "


"Udah masuk kamar mandi, basah !"


"Yang aga panjangan kalo gitu, " Shania mengerucutkan bibirnya lalu kembali ke kamar.


"Wah wah...ternyata pihak mas yang menang !" seru Nanang.


"Berisik !!" jawab Shania dari dalam.


Arka menghidupkan motornya, Shania naik di belakangnya.


"Buruan mas, ntar Sha pingsan nih, kalo ga makan !" omelnya.


"Ga bisa ya, kamu anteng ? Nikmatin aja pacaran pagi pagi, sambil liatin alam, " jawab Arka, Shania mencibir.


"Pegangan ! ini bukan di mobil,"


"Tau, kata siapa kereta !" jawabnya.


Motor melaju melewati jalanan tanah merah, selama mata memandang, tumbuhan teh teh'an menjadi pagar pembatas antara halaman warga dan jalanan. Bukan suara bising klakson mobil om telolet yang terdengar. Namun, suara suara kambing dan hewan ternak warga lainnya yang bersahutan. Bukan bau asap knalpot kendaraan yang tercium, tapi aroma segar khas rumput yang baru saja dipotong. Karena dapat Shania lihat, beberapa warga melintas membawa tumpukan rumput gajah dipundaknya untuk makanan hewan ternak, emejing ! kuatnya.


Bukan warna hijau membentang yang dinampakkan oleh beberapa hektar sawah. Namun warna hijau bercampur kuning keemasan pertanda padi sudah siap panen.


"Sugeng enjang, mas !" Arka mengangguk saat beberapa dari warga menyapa.


Apa dia kata ?! Shania mengerutkan dahinya.


"Disini seger banget ya mas, "


"Kamu suka ?"


"Suka, " angguk Shania.


"Mau tinggal disini ?"


"Engga, "


"Kenapa ?"


"Shania ga bisa bahasanya, nanti kaya orang be* go disini !"


"Terus apa gunanya belajar bahasa Indonesia, kalo ga dipake ?" tanya Arka.


Astaga ! bener banget, Surabaya kan Indonesia juga ! Shania tertawa menyadari kebodohannya.


"Mas mau beli tanah disini, untuk masa tua kita, untuk investasi !" obrolan mereka diselingi guncangan motor saat melewati jalanan yang tak rata bahkan berbatu.


"Terserah mas, Shania ga akan mempermasalahkan harta mas, " jawab gadis itu.


Tak terasa motor sudah keluar dari gerbang desa. Arka menghentikan motornya di dekat jalan besar, di sebuah warung makan, tampak sederhana, namun sepertinya makanan yang dijual enak, terbukti dari banyaknya orang yang makan disini.


"Padhe, Lontong balapnya 2, sama sate Karaknya 1 porsi, nggeh !"


"Nggeh mas, ditunggu yo !"


Arka dan Shania mengambil duduk kursi bangku panjang dekat pintu masuk.


.


.


.


.


.


* Lontong balap : Makanan khas Surabaya, terdiri dari lontong, tahu goreng, taoge, lentho, bawang goreng, kecap, sambal, dan kuah segar.


* Sate Karak : terbuat dari jeroan sapi terutama usus, namun ada dagingnya juga yang diberi bumbu spesial. Dihidangkan dengan ketan hitam sebagai pendampingnya. Bukan sambal kacang yang dipakai untuk melumuri satenya tetapi parutan kelapa yang diberi bumbu atau biasa disebut serundeng dengan cita rasa manis dan gurih. Terdapat pula bubuk kedelai pedas yang ditabur diatasnya.

__ADS_1


(sumber m.liputan6.com)


__ADS_2