
Shania menghentikan motornya di depan pagar, menggeser dulu pagar besi berwarna hitam itu, agar kuda besinya bisa masuk dan parkir di carport.
Mobil Arka tak ada disana, itu tandanya laki laki itu memang belum pulang.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam."
"Neng, mukanya pucat. Sakit ?" tanya bi Atun.
"Engga bi, cuma masih ga enak perut aja. Ditambah kayanya Sha lagi dateng bulan sama capek juga. Sha pengen rebahan aja bi, ngantuk berat !" jawabnya menaruh sepatu di rak dan berlalu masuk kamar.
Shania langsung melempar badannya ke ranjang, kepalanya kembali kleyengan, dan perutnya seperti ingin mengeluarkan isinya.
"Huwekkk !!! pedesss !" gumamnya yang berlari ke kamar mandi kamarnya. Salahnya tadi menyantap baso terlalu pedas, mengikuti hormon m3ns truasi nya.
"Bi, minta teh anget dong !" Shania duduk lemas di kursi meja makan.
"Neng, pucet banget. Sakit ? Telfon mas Arka ya ?" khawatir bi Atun menaruh punggung tangannya di kening dan leher Shania, namun tak panas.
"Engga bi, jangan ! kasian mas Kala lagi di kampus kayanya,"
"Ya udah bi Atun buatin teh manis panas,"
"Makasih bi, "
"Neng, apa sebaiknya neng periksa ke rumah sakit aja, biar jelas penyakitnya apa ?!" tanya bi Atun memberi saran.
"Entar aja bi, Sha males sama bau etanol !" Shania menyeruput teh manis buatan bi Atun yang langsung membuat perutnya hangat.
Shania juga mengambil botol jamu yang sudah ia beli tadi, karena rasa mulesnya masih ada dan itu mengganggu.
"Neng minum apa ?" tanya bi Atun menyiapkan makan siang majikan kecilnya.
"Pelancar datang bulan bi, "
"Ohhh ! Bibi kira apa,"
"Sha mau mandi aja bi ah, biar seger !" jawabnya, semoga saja rasa tak enak badannya akan hilang dengan mandi, ditambah sudah masuk ashar juga.
"Lho ko ! " ia mengerutkan dahinya, seingatnya tadi roti jepang pertamanya penuh dengan si tamu, tapi setelah ia ganti dengan yang kedua malah bersih sebersih hati seorang bayi.
"Aneh banget ! masa datang tamu cuma beberapa jam doang ?!" ia semakin dibuat heran.
"Ini badan gue kenapa sih ! Gue tuh sakit apa cobak !" Shania kini mulai bertanya tanya ada apa dengan dirinya ? Dengan badannya ?
Gadis ini melihat pantulan wajahnya di cermin, tampak ia yang memang pucat. Segera ia beranjak menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas ke dalam kamar.
Apalagi yang akan dilakukan anak kaum milenial, jika bukan bertanya pada mesin pencari, mbah guugle.
Penyakit dengan gejala
-tak enak badan,
-mual,
-penda*rahan sebentar,
-selalu ingin makanan pedas, -lemas.....
Matanya membelalak demi mendapat jawaban dari mesin pencari.
"Astaga ! Ga mungkin lah, ngaco nih si mbah !" mendadak hatinya berdebar hebat, takut jika itu yang memang terjadi padanya.
Ia mengingat ingat peristiwa sebelumnya, apa pernah ia atau Arka kecolongan.
__ADS_1
"Ga mungkin, " ia berkali kali bergumam dan menggelengkan kepalanya seraya menggigiti kuku jarinya karena panik. Pikirannya melintasi ruang dan waktu, ia bahkan sudah menuliskan daftar apa saja yang harus ia siapkan jika kuliah nanti, Arka pun sudah siap membantunya menyiapkan modul, ia bahkan rela sampai bertanya tanya pada teman sekampusnya meskipun beda jurusan, demi mendapatkan gambaran UTBK dari SNMPTN untuk jurusan Psikologi.
Shania segera meraih dompet dan mengeluarkan uangnya, menyambar kunci motor dan keluar dari kamar.
"Neng, mau kemana ?!" pekik bi Atun.
"Ke depan dulu sebentar bi !" jawabnya terburu buru.
Tak tau seperti apa sekarang perasaannya, yang jelas ia berharap semoga apa yang ada di pikirannya tak terjadi, bukannya ia mau menolak rejeki. Tapi jelas ia belum siap untuk itu.
Bukan hanya satu, tapi beberapa buah ia beli dengan merk berbeda. Akhirnya Shania pulang dengan membawa tespeck.
"Neng Sha !" sapa pak Slamet.
"Pak, duluan ya !" Shania mengangguk, sangat jelas kali ini ia tak berminat untuk mengobrol dengan satpam komplek itu.
Gadis itu masuk dengan hati yang sudah menggebu karena penasaran tapi juga takut. Keringat dingin yang membasahi kening pun tak ia hiraukan.
Ia masuk ke dalam kamar, sejenak ia duduk di tepian ranjang tempatnya kini tidur bersama Arka. Matanya memanas demi mengingat jika sampai cita citanya harus kembali kandas sebelum ia berjuang. Yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa bisa begini ? Selama ini, yang ia tau Arka selalu memakai pengaman jika akan melakukan hal menyenangkan dengan Shania.
Dengan memantapkan hatinya, Shania melangkah menuju kamar mandi dengan membawa alat tes kehamilan yang ia beli.
*************
"Mas, dimana ?!" terdengar dari ujung telfon sana suara Shania bergetar tertutupi suara guyuran shower dan menangis sesenggukan.
"Kenapa Sha ?" Arka yang baru saja keluar dari kampus menuju parkiran mengerutkan keningnya.
"Mas bisa langsung pulang engga, "
"Kamu sakit ? atau apa ?"
"Pulang aja sekarang !!" Shania mematikan sambungan telfonnya.
Mobil Arka masuk ke halaman.
"Bi, Shania mana ?" tanya Arka khawatir.
"Neng Sha di kamar mas, "
Arka segera berjalan cepat masuk ke dalam rumah, ia membuka pintu kamar dan mencari Shania.
"Sha, " panggilnya, terdengar suara shower yang menyala dari dalam kamar mandi.
"Sha, kamu di kamar mandi ?" terdengar suara sesenggukannya disana, meskipun tersamarkan suara gemericik air.
"Sha, " Arka membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
"Ya Allah ! Sha, kamu ngapain disitu ?!" Arka mematikan showernya dan menangkup badan Shania yang menggigil sambil menangis.
"Ga usah pegang pegang !!" sarkas Shania menolak, ia bahkan mendorong Arka.
"Kenapa ?"
Shania mengambil sebuah tespeck yang hasilnya menunjukkan jika ia positif hamil.
Shania memberikan tespeck itu ke tangan Arka dengan kasar. Shania bukan tidak tau pengetahuan mengenai hal ini.
"Mas liat aja sendiri !!! Katanya ga akan kebablasan !" bentaknya. Arka melihat tespeck dan mengerutkan dahinya.
"Astagfirullah, kamu hamil Sha ?"
Ini bagai mimpi buruk bagi Shania.
"Menurut mas ?!!"
__ADS_1
"Sha ga mau ya mas, Sha masih pengen sekolah ! Sha pengen kuliah !" jawabnya tak berniat mengurangi intonasi bicaranya yang membentak di depan Arka, emosinya sudah menggebu gebu, wajahnya saja memerah.
Antara bahagia dan sedih, Arka kembali memastikan jika memang hasilnya adalah positif.
"Sha mau gugurin mas, "
"Astagfirullahaladzim, Sha ! jaga ucapanmu, " Arka terkejut mendengar keinginan Shania.
"Sha belum mau hamil mas !"
"Ganti dulu bajumu, nanti kamu sakit," pinta Arka demi melihat Shania menggigil.
"Engga mau. Biarin aja lah Sha sakit. Biar cepet keluar nih janin !" ia melompat-lompat dan memukul-mukul perutnya, namun Arka langsung menahannya.
"Shania !!" Arka mengeraskan rahangnya. Arka menarik paksa Shania dari dalam kamar mandi, tanpa mendengar protes keras yang dilayangkan gadis itu, bahkan penolakan Shania pun tak membuatnya goyah sedikit pun.
Arka membuka paksa baju yang Shania kenakan. Saat ini ia lebih baik menutup mulutnya, meladeni Shania hanya akan memperburuk keadaan, badan yang lelah akan gampang terpancing, ia tidak mau jika sampai terpancing emosi dan melakukan yang tidak diinginkan.
"Mas mau ngapain ?!!!" Shania terlihat berusaha menolak perlakuan Arka, tapi tenaga lelaki itu memang tak pernah kalah. Shania sudah memukul mukul Arka, tapi Arka tak bergeming ia tetap mengganti pakaian Shania yang basah. Seperti seorang ibu yang mengganti pakaian anaknya.
"Mas tuh jahat ! Kenapa lakuin ini sama Sha, katanya sayang, bulshitt !" gadis itu menangis sembari memberikan pukulan di dada dan cengkraman di kemeja Arka, dari wajahnya saja Arka tau jika Shania sudah menangis lama.
"Mas minta kamu duduk, bicara baik baik. Kita cari solusinya !" Arka menangkap tangan Shania dan membawanya duduk di ranjang.
"Gampang mas, kita gugurin dulu janinnya. Mumpung baru ketauan, mumpung masih kecil, "
"Gampang banget kamu ngomong Sha, ga takut dosa ?!" Arka mulai terpancing emosi oleh kata kata Shania.
"Mas sih seneng, aku yang ga seneng !" lawannya.
"Shania !!" kembali Arka mengeraskan rahangnya.
"Mas yang salah ! kenapa bisa sampe kaya gini !" bahunya bergetar, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan meluruh ke lantai.
Arka ikut memposisikan dirinya di samping Shania, berkali kali ia menghela nafas, tarik...buang ! perlu kesabaran ekstra jika ia tak mau sampai kepalanya pecah.
Ia memeluk Shania, meskipun awalnya Shania menolak keras.
"Sha ga mau dipegang apalagi dipeluk, mas pergi dari sini !" ucapnya terbata.
Arka terima, badannya menjadi samsak tinju Shania. Asalkan Shania tak kabur darinya, asalkan Shania tak menyiksa dirinya sendiri.
"Kamu boleh mukulin mas sepuas kamu, asal jangan siksa diri kamu sendiri dan calon anak kita. Kamu boleh tuntut mas kalo kamu merasa mas memang salah," ucap Arka mengelus rambut Shania yang basah.
"Mana ada suami yang dituntut gara gara hamilin istrinya sendiri, ngaco ! " omel Shania.
"Nah itu kamu tau, dimata hukum maupun agama, mau kamu hamil pun ga salah."
Sepertinya mulai saat ini Arka harus extra mengawasi Shania, takut takut kalau Shania akan nekat menggugurkan kandungannya, darah dagingnya.
"Tapi Shania mau kuliah, "
"Kamu masih bisa kuliah Sha, masih banyak jalannya untuk bisa kuliah, kita ke dokter ya biar tau berapa usia kandunganmu," ajak Arka.
"Engga !" s3tan memang selalu bisa menelusup dimanapun ada celah diantara orang orang beriman, entah hati dan pikiran yang tengah kacau, hingga terlintas di pikiran Shania tentang kata kata Inez baru baru ini, sewaktu bertemu di rumah bunda.
"Kabarnya dia baru baru ini gugurin kandungan, Sha,"
.
.
.
.
__ADS_1