
Selepas pulang dari acara anniversary, Shania langsung bersih-bersih, mengurus Galexia yang sepanjang hari dicubiti dan digendong sana sini.
"Dede udah ma'em tinggal nyu_su !!" seru Shania pada bayi gembulnya saat memasangkan celana usai menyeka Galexia.
Shania bukan ibu lemah lembut, ia terkesan ibu yang heboh dan aktif, membuat Galexia selalu tertawa dan mengikuti gerakan aktif sang ibu, Shania.
Shania melompat ke atas ranjang bertumpu lutut dan tangannya membuat area sekitar Galexia berguncang, dan Galexia tertawa terbahak-bahak kesenangan.
"Nih momy gigit kaki dedek, momy jadi zombie ! Momy gelitikin !!" Shania meraih kaki mungil itu dan menggelitikinya, kembali Galexia terbahak, Arka yang baru keluar dari kamar mandi ikut tersenyum mendengar tawa putri kecilnya itu. Istri nakalnya ini memang tak ada capeknya, sepertinya batre Shania selalu penuh.
Shania merebahkan dirinya di samping sang putri dan berbalik menyamping meng'ASIhinya.
"Mas, udah ini mau ngapain ?" tanya Shania.
"Mau ngapain ? Engga ngapa-ngapain. Memangnya kenapa ?" tanya Arka.
"Mas ini kan masih weekend, ajak Shania kencan dong ! Sha belum pernah pacaran anak muda !" Arka menaikkan alisnya.
"Pacaran anak muda? Memangnya antara anak muda sama yang sudah tua apa bedanya ?" tanya Arka.
"Emhh, ga tau..soalnya Shania belum pernah ngerasain pacaran, belum ngerasain jadi tua juga ! Makanya Sha tanya mas," kekehnya.
Jika Arka adalah laki-laki baperan mungkin ia sudah menjadikan kepala Shania gantungan kunci mobilnya. Untung saja laki-laki ini cuek, dikatain tua pun biasa saja.
"Masa ?" tanya Arka tak percaya.
Shania melepas mulut Galexia yang sudah tertidur dari sumber kehidupannya.
"Iya, cuma tau dari katanya doang !" jawab Shania.
"Mas tau ngga sih, ayah selalu larang Sha buat punya pacar, kalo ada laki-laki ke rumah pun, udahnya Sha langsung disidang seharian !" Shania duduk di tepian ranjang begitupun Arka yang mendengarkan Shania di sampingnya.
"Jadi kalo ayah keluar kota, kamu puas-puasin nakal ?" tanya Arka, Shania mengangguk.
"Biasa tuh bareng geng kimvritt, cuma mereka yang ngerti perasaan Sha, selain bunda." Gadis ini sedikit sendu mengingat dulu begitu kerasnya sang ayah.
Berawal dari memiliki perasaan saling mengerti dan satu frekuensi, akhirnya persahabatan mereka terjalin sampai sekarang.
"Yu !" ajak Arka bangkit.
"Kemana ?" Shania mendongak.
"Katanya mau diapelin ?!" ujar Arka.
"Dedek ?" tanya Shania.
"Ada ibu," demi mewujudkan keinginan Shania yang tak pernah jauh-jauh dari kata sederhana, Arka tak pernah merasa lelah.
"Oke, Sha ganti baju dulu !" antusiasnya.
Shania langsung menuju lemarinya, dan meraih celana levis panjang juga swetter putih miliknya, mengusapkan bedak, liptin juga eyeliner agar terlihat segar, menjepit rambutnya dan memakai tas selempangnya.
Memang manusia hanya bisa berencana dan kali ini bukan hanya Tuhan yang ambil alih nasib keduanya, tiba-tiba saja Gale terbangun dan langsung menangis.
"Mas, dedek nangis.." sebagai seorang ibu naluri Shania terlatih untuk mencari sumber masalahnya.
"Ihhh, dedek ga cs ahhh, masa momy udah dandan cantik begini disuruh ngurusin poop !" keluhnya, melihat wajah kecut ibunya bayi gemoy itu malah berhenti menangis dan tersenyum.
"Gagal keren ahhh !" omel Shania namun seraya membersihkan pampers Gale dan mengganti yang baru setelah men-ceboki.
"Mas, tungguin di luar deh..biar kamu berasa di jemput pacarnya !" jawab Arka.
"Sha mau pake motor ya mas !" Arka mengangguk. Pacaran anak muda yang ngirit memang impian absurd Shania lainnya.
Tapi memang sepertinya Tuhan belum mengijinkan mereka untuk berpacaran, Mendadak langit kota Jakarta dilanda hujan. Padahal rencananya mereka hendak jalan-jalan memakai motor.
"Giliran dedek bobo lagi, malah ujan !" Shania sudah cemberut, membuat Arka mencubit pipinya gemas.
__ADS_1
"Belum rejeki,"
"Apa karma Sha yang gebukin copet tadi ya ?!" tanyanya manyun di ambang pintu.
Arka terkekeh, tak tega melihat wajah cemberut Shania, ia berinisiatif untuk pacaran di rumah saja.
"Gimana kalo pacarannya diganti di rumah aja, kan biasanya anak muda juga banyak yang pacarannya di rumah. Acara nonton bioskopnya ganti aja di rumah ?" tanya Arka. Shania mengangguk.
"Gagal nih jalan-jalan jajannya ?" tanya nya mengomel.
"Yu masuk !" ajak Arka.
"Lho, ndak jadi keluar Ka, Sha ?" tanya ibu.
"Hujan bu," wajah Shania memelas.
"Kan ada mobil ?" tanya ibu.
"Sha pacarannya pengen naik motor bu, biar kaya anak-anak muda gitu.." Ibu tersenyum.
"Yo wess, anak muda juga pacarannya banyak yang di rumah !" jawaban ibu sama dengan Arka.
Shania menyimpan tas selempangnya, mengganti celana levisnya dengam celana pendek yang lebih nyaman. Tak apa, karena di rumah hanya ada Arka saja laki-lakinya.
Shania melihat Arka tengah berjongkok di depan meja tv.
"Lagi ngapain mas ?" tanya Shania yang baru keluar dari kamar.
"Mas punya beberapa referensi film lama tapi menurut mas seru. Kamu bisa pilih, apa yang kamu suka !" Shania langsung berbinar, ia segera menghampiri Arka dan melihat-lihat koleksi film milik suaminya. Ada petualangan, thriller, horor, perang, romantis, komedi. Cukup lengkap. Tak sangka pak guru yang doyannya marah-marah ini update soal hiburan.
"Film biru ngga ada ya mas ?" tanya Shania langsung mendapat serangan tajam dari Arka berupa tatapan tajam dan cubitan di kedua pipinya oleh Arka.
"Ha-ha-ha, bukan film biru itu mas, maksud Sha smurf gitu ! Kan biru-biru, avatar ! Ihh, mas aja yang pikirannya ngeres !" tawa Shania.
"Avatar ada," tunjuk Arka.
"Ini," tunjuknya.
"Boleh," Sha pernah nonton tapi malah ga selesai gara-gara...." Shania menghentikan ucapannya mengingat kejadian dulu saat nonton bersama geng kurawa dan berujung moment terkamvrett.
"Gara-gara apa ?" tanya Arka, Shania menggeleng.
Arka mulai memasangkan colokan kabel dvd ke tv, dan memasukkan kasetnya.
Shania bebenah, mematikan lampu ruang tengah dan menyiapkan cemilan. Karena ibu dan bi Atun sudah masuk kamar. Mungkin karena kecapean setelah acara anniversarry Route 78 seharian ini.
"Biar lebih berasa horornya mas !" greget Shania. Volume tak terlalu kencang, takut mengganggu penghuni rumah yang lain.
Shania duduk bersama Arka, ia langsung melingkarkan tangannya di lengan Arka dan menyenderkan kepalanya di bahu kekar milik suami gurunya.
"Mas, jangan tidur ya ! Kan ga lucu lagi kencan gini malah ditinggal tidur !" Shania mewanti-wanti. Arka tertawa, ia menjepit pipi Shania.
"Bawel,"
CUP !
Arka mengecup bibir Shania singkat. Film mulai berjalan memutar adegan demi adegan.
"Mas, kalo udah ini Sha takut ke kamar mandi. Mas bangun buat liatin Sha ya," bisiknya.
"Takut apa ?" tanya Arka.
"Takut hantu lah mas, masa takut mas !" pukulnya di lengan Arka, sesekali gadis itu menyembunyikan wajahnya di bahu Arka saat adegan mendebarkan, hingga Arka membawanya ke pelukannya dan mengusap-usap bahu Shania.
"Dulu waktu nonton bioskop sama anak-anak yang cerita filmnya kisah nyata itu mas, Deni bawa pacarnya..." tiba-tiba rahasia itu terlontar dari mulut Shania.
"Terus,"
__ADS_1
"Kita nonton sama-sama. Sha duduk di bangku pas sebelah Deni sama Melan."
"Pas di tengah-tengah film, pas si hantunya muncul di tengah derasnya air hujan sambil mera_ngkak, Sha sama Melan denger suara lain mas !"
"Suara apa ?"
"Ko suaranya decakan gitu, kirain air bocor atau apa gitu, ehhh..taunya Deni lagi kissing sama pacarnya mas,"
"Sha sama Melan cuma bisa diem, mereka yang ciuman Sha yang malu sampe membatu !" lanjutnya.
"Deni sudah biasa begitu ?"
Shania mengangguk, "dulu sih. Udah gitu adegan maju lagi, pas filmnya lagi horor-horornya, musik serem pada teriak ko ini malah men_ the sahh, si@*lan si Deni !"
Arka tertawa, melihat wajah Shania yang sewot karena kesal.
"Si Deni gree_peh gree_peh pacarnya mas, Sha sama Melan keluar dari bioskop diketawain yang lain, gara-gara tremor mas."
"Katanya Sha sama Melan penakut ! Padahal kita tremor bukan karena takut hantu !" jujurnya.
"Astaga," Arka tertawa.
"Kata si Deni sih wajar bagi dia yang memang pacarannya udah jauh, Sha tau mas Deni tuh baik, menghargai perempuan tapi pergaulannya dulu yang bikin dia kaya gitu, termasuk pacarnya yang memang sama-sama begitu juga,"
"Ayah ada benernya juga sih mas, pacaran anak sekarang banyaknya yang ngeriii," aku Shania.
"Tapi kalo Sha mau coba mas mau," Shania menoleh terkejut, tak menyangka pak guru satu ini bisa berkata begitu.
"Ihh, kita kan judulnya lagi pacaran ini, masa mau gree_peh gree_peh ! Nenek bilang berbahaya !" tolak Shania.
"Pacaran kita kan udah halal, lagian ini di rumah Sha, ga ada yang liat" jawab Arka celingukan layaknya maling ayam.
"Ih pacar Sha maksa," decihnya tertawa.
Tanpa menunggu lama lagi Arka menarik dagu Shania dan menyarangkan bibirnya di bibir manis sang istri, soul kissing yang tidak menuntut tapi penuh sayang.
"Gimana rasanya ?" tanya Arka, wajah mereka masih menempel.
"Pedes," jawab Shania.
Arka tertawa, ia lupa ia baru saja makan keripik berbumbu.
"Pedes mas !" tepuknya di dada Arka.
Di sela-sela tawa Arka, tanpa di duga Shania meraih leher Arka dan mengalungkan kedua tangannya lalu menyerang bibir Arka.
"Tapi Sha suka pedes," tambahnya lagi.
Pag_ utan bibir mereka sudah terlepas, tapi wajah mereka masih berjarak beberapa inci, rupanya adegan horor sang hantu yang menampakkan wujudnya tak mengganggu aktivitas sepasang kekasih di depannya. Sia-sia sudah akting yang totalitas, karena buktinya kedua insan ini malah asyik berduaan di suasana gelap.
"Mas, "
"Hm,"
"Ga mau gree_peh gree_peh Sha ? gree_pehin dong ! " pintanya.
Arka tertawa, "nakal ! Untung udah nikah, bahaya kalo pacar kamu bukan mas orangnya !"
"Di kamar yuu !" ajak Arka.
.
.
.
.
__ADS_1
.