
Shania menaruh cangkir kopi di meja depan Arka, samping laptop, "mas, liat aku !!" pinta Shania menunjukkan pakaian yang ia pakai dengan riangnya, ia bentangkan pakaian yang dipakainya di depan Arka.
Arka terkekeh, "katanya ga mau dasteran ?" Arka kembali menangkup dagunya dan menatap kembali ke arah laptopnya.
"Not bad ! bagus engga ?!" pada daster selututnya bercorak batik parang percampuran warna ungu, hitam dan hijau.
"Bagus, kaya ibu !" Shania yang sudah nyengir lebar seketika cemberut dan duduk di samping Arka, melepas sendal bulu yang ringan. Tak disangka sandal bulu pink itu mendarat mulus di pa*ha Arka.
"Ko kaya ibu ?! tua dong !" sewotnya.
"Maksudnya rumahan banget kaya ibu, kalem kalem keibuan," ralat Arka mengusap bekas tamparan si sandal bulu, bukankah jawaban Arka adalah kode ? tapi kode tingkat dewa begini mana Shania paham. Shania kan si gadis dengan tingkat kepekaan yang di bawah garis, alias mengkhawatirkan.
"Bilang aja emak emak ! pas banget mas, udah gini tinggal ngunyah sirih ya mas, nongkrong di depan rumah tetangga sambil nyinyirin orang," sungutnya. Arka tak menanggapinya lagi, karena percuma saja, yang ada sandal itu kembali mendarat di sekujur badan Arka. Hanya saja ia ingin tertawa dengan pernyataan gadis di sampingnya ini yang menurutnya selalu lain dari yang lain lebih menjurus ke absurd dan kocak atau mungkin anak muda yang kritis, mengemukakan pendapatnya sesuai fenomena masyarakat di Indonesia.
"Kamu nyaman pakenya ? " tanya Arka.
"Emhh, lumayan ! dingin, semriwing !" kekeh Shania.
"Dapet darimana ?" tanya Arka.
"Dikirim bunda, katanya oleh oleh dari temennya yang di Jogja, tapi kekecilan, jadi dikasiin Shania, " jawabnya lagi.
"Mas lagi apa ?" tanya Shania penasaran.
"Bikin soal, untuk ujian." Ketikan jemari Arka tak ada hentinya. Setelah selesai membuat laporan keuangan Route 78, lalu angkringan kemudian soal soal ujian beserta jawaban berikut kisi kisi untuk murid muridnya. Arka masih memiliki satu urusan lainnya.
"Besok pulang sendiri ya, mas mau ke kampus buat ngurus administrasi ambil magister, " ia menoleh pada Shania.
"Mas jadi ambil S2 ?" tanya Shania.
"Jadi. Pak Erlangga udah sehat. Jadi kerjaan mas ga terlalu berat, cuma ngajar kelas X sama bantu bantu kelas XII dikit, Route 78 ada Dimas sama Mila. Angkringan ada yang lain, kerjaan mas cuma di belakang layar sekarang."
Arka memijit pangkal hidungnya dan menyeruput kopi buatan Shania.
"Mas, bikin soalnya jangan yang susah susah. Nanti aku ga bisa jawab ! aku nyontek dong isinya mas, " pinta Shania memajukan kepalanya, berharap bisa melihat kunci jawaban, tapi Arka justru mendorong keningnya pelan.
"Ga bisa, mas sesuaikan sama pelajaran dan materi tiap angkatan, sesuai porsinya masing masing ! ini gampang ko, kalo kamunya belajar !" jawaban formal begini, yang membuat bibir ala emak emak kalo lagi ngiri sama tetangga Shania kambuh.
"Gampang buat mas, susah buat aku !" bibirnya menyungging, ia lebih memilih menyalakan tv dan menonton sinetron yang lagi happening, ceo yang nikah sama pembunuh adiknya, lama lama bucin.
"Dih, kesian banget ! lakinya sadis lama lama bucin tuh, udah ketebak lah !" omel Shania meraih toples keripik.
Arka yang terganggu oleh tingkah Shania, tak bisa tak melirik. Seketika lelaki itu tertawa kecil.
"Kenapa ?" tanya Shania.
__ADS_1
"Kalo kaya gini kamu emang mirip ibu ibu komplek, cocok tuh jadi ketuanya ibu ibu grup gosipan, kayanya kamu lebih berbakat buat di posisi ini, " Shania melotot demi mendengar pendapat Arka tentangnya.
"Ihhh, engga banget !" seru Shania mencebik.
"Mas tuh, yang tinggal sarungan sambil maenan burung !" sarkasnya.
Arka menutup laptopnya, seharian ini penat dengan pekerjaan seabreknya, ia benar benar butuh hiburan dan relaksasi.
"Jadi, mas sarungan kamu dasteran ?" Arka ikut mencomot keripik dari toples yang di pegang Shania. Shania meledakkan tawanya, hingga tergelak puas. Membayangkan the most teacher sarungan sambil maenan burung.
"Lucu kali ya mas, pindah ke kampung yang deket deket kaki bukit gitu, cuman makanin rebus ubi sama goreng singkong kalo pagi pagi ! jauh dari hiruk pikuk kota, rumahnya dikelilingin sama alam yang bagus, anak anak pada lari larian ngejar ayam," ucap Shania tertawa, membuat Arka mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu mau kaya gitu ?" tanya Arka.
"Emhhh, tapi kayanya susah deh kalo buat sekarang. Sha udah biasa sama kehidupan yang serba instan !"
"Bisa karena biasa, kalo dibiasain pasti bisa, " jawab Arka.
"Udah ah mas, Sha ngantuk. Makasih ya mas, Sha udah bisa lepas dari insomnia." Shania beranjak menuju kamar.
Membujuk Shania memang harus pelan pelan, jika tidak ingin ia berontak. Harus karena hatinya sendiri yang tergerak bukan karena paksaan, ia tau watak Shania. Seperti selama ini, ia selalu membangkang aturan sekolah karena itu adalah bentuk protesnya akan kerasnya didikan sang ayah.
****************
"Sha, ko gue liat pak Arka buru buru banget tadi balik, bukannya masih jam sekolah ya ?" tanya Inez.
"Iya Nez. Mulai nanti kenaikan kelas, mas Kala cuma ngajar kelas X doang, paling bantu bantu dikit kelas XII, soalnya kan pak Erlangga 'dah balik."
"Loh kenapa ? " terlihat jelas kekecewaan di wajah Inez, pastinya itu mewakili wajah wajah siswi yang jadi fans fanatiknya si handsome and killer satu itu.
"Mas Kala ambil magister Nez, " Shania menggulung mie dan melahapnya.
"Hebat ! loe jadi sering ditinggal dong Sha, " bibir Inez menekuk.
"Oh iya, gue belum bilang sama loe ya Nez."
"Bilang apa ?" tanya Inez menautkan kedua alisnya.
"Gue lolos seleksi Dispora DKI !!!" seru Shania.
"Seriusan ? loe mau jadi atlet Sha ?" Shania mengangguk yakin, absolutely.
"Loe yakin Sha ? jadi atlet kan udah kaya bang toyib ! ga pernah balik !" sewot Inez.
"Dih, sewot amat tuh bibir !" Shania mencomot bibir Inez yang monyonk tak karuan.
__ADS_1
"Terus gimana sama pak Arka ?" tanya nya lantang langsung di bekap Shania.
"Bisa ngga, tuh mulut ga kaya toa ?!" pelototnya.
"Iya sorry sorry, maksud gue Mr. A!" Inez meralat.
"Mas Kala setuju ko, malah dukung gue !" jawab Shania mencoba meyakinkan diri, meskipun hatinya mulai tak yakin.
"Beneran ? salut deh buat pak Ar...maksudnya Mr.A...Mr.A.." Shania sudah siap dengan mata melototnya jika sampai Inez keceplosan lagi.
"Tapi itu cita cita gue dari dulu Nez," nada bicara Shania mulai melunak, tangannya hanya mengaduk aduk mie goreng di depannya.
"Mr.A bilang apa coba ?" tanya Inez.
"Dia bilang...keinginan gue keinginannya juga, bahagianya gue bahagianya dia juga, " Shania semakin menunduk.
"Terus loe iyain aja gitu ? kalo gitu disini yang berkorban cuma Mr. A dong!" Inez melahap mie kuah miliknya yang ditaburi begitu banyak rawit, sepedas kata katanya tadi.
"Maksudnya ?"
"Dia rela berkorban buat kebahagiaan loe, loe sendiri kaya gitu ngga ? ada ?! loe nanya keinginan dia ?"
Hap !! sruputtttt ! huhaaaa,
"Pedes, njirrr !" Inez melahap lembaran mie terakhirnya dan meneguk teh kemasan.
"Usia 30an, mau maunya ditinggal istri, laki laki mana sih yang mau ditinggal istri, ga diurusin. Harusnya kan usia doi lagi asik asiknya ngajak main anak, manja manjaan sama istri, apalagi ya..kaya kata loe barusan. Dia sibuk, kuliah, cari nafkah. Udah kaya ga punya istri, ga takut dia cari lagi istri di luar apa ?" Kata kata Inez memang pedas, seperti pentol mbak Uli level 15, yang jika dimakan langsung bikin mata dan hidung berair.
Shania menghentikkan kunyahannya, demi menyelami kalimat Inez. Melintas di pikirannya tentang Arka.
"Mas cape harus ngulang, mas ga bisa kasih kebahagiaan buat kamu, anggap saja dengan mendukung dan men support kamu adalah kebahagiaan yang mas kasih, cara mas mencintaimu"
............
"Kamu mau tinggal di desa, "
..............
"Keibuan, kaya ibu !"
............
"Apa yang jadi keinginanmu adalah keinginan mas, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan mas, "
.........
__ADS_1
"Jangan jadikan mas dan hubungan kita menjadi penghalang untuk kamu meraih cita citamu,"
Eyes are the window to the heart (mata adalah jendela hati), tak bisa berbohong, meskipun bibirnya berucap tegas ada sorot berharap dan kekecewaan. The tongue may hide the truth, but the eye...never ! (Lidah mungkin menyembunyikan kebenaran, tapi mata...tidak pernah !).