
Masa MOS sudah berjalan selama 5 hari. Dan hari ke 6 ini adalah hari terakhir, maka isi acara pun kebanyakan adalah games dan unjuk bakat setiap camaba dari setiap jurusan fakultas.
Sudah dipastikan jika jurusan FIO, yang ditampilkan adalah bakatnya dalam berolahrga.
"Sha, kita mah nyanyi-nyanyi aja lah," ajak Dian teman satu jurusannya.
"Biar lebih seru campur aja sama anak teknik lain. Ada temen- temen gue Di," jawab Shania. Shania bukan modelan gadis dengan sejuta bakat, ia memang berbakat dalam hal basket dan membuat kue, tapi jika untuk bernyanyi, suara ga bagus-bagus amat, layaknya Isyana Sarasvati.
"Oke, yang penting kita ada tampilin sesuatu buat wakilin jurusan tata boga,"
Shania meminta Deni dan Roy menemani mereka bernyanyi di depan panggung mewakili fakultas teknik. Penampilan mereka mendapat sorotan dan tepukan tangan dari semuanya. Memang pada dasarnya kharisma anak-anak bandel ini kuat, maka dimanapun mereka berada, nama mereka selalu berkibar, di akhir lirik Shania dan Dian juga memberikan sebuket bunga untuk kajur yang sudah menjadi pembimbing kelas mereka termasuk merchandise hasil patungan mereka sebagai rasa terimakasih mereka.
"Makasih ka Riyan,"
"Makasih ka Denok,"
****
"Penampilan loe bagus Sha, suara loe bagus !" ucap seseorang di belakang Shania, ia menoleh.
Apa lelaki ini sedang menggombal atau justru mengejek, jelas-jelas suaranya terdengar biasa saja.
"Thanks, padahal kata orang suara gue biasa aja, not special !" jawabnya datar. Sebisa mungkin Shania tak pernah memberikan celah pada siapapun orang baru yang berpotensial akan merusak rumah tangganya, mau dikata cewek paling jutek pun ia masa bo*doh.
"Sha, gue harap loe terima ini, kali ini aja," ia memberikan sekotak coklat dengan tempat berbentuk love.
"Sorry banget ka Vano, tapi gue lagi diet,"
Vano mencengkram pergelangan tangan Shania yang hendak pergi tanpa Shania duga.
"Gue udah baik-baikin loe, gue udah coba dengan segala cara buat deketin loe, jangankan buat respect ataupun lirik gue, bahkan cara bicara loe aja dingin sama gue, ga usah so jual mahal dan bikin gue makin penasaran sama loe Sha !" ia menarik Shania membuat Shania tersentak menubruk badannya.
"Awww !!! Lepas !" sarkas Shania menarik tangannya tapi Vano tak mudah melepaskan tangan Shania begitu saja.
"Ga ada yang nyuruh loe buat minta respect dari gue atau deketin gue !" tajam mendelik, Shania tak mau terintimidasi oleh Vano.
Senyum Vano miring, ia menatap bibir pink milik Shania, "gue rasa rasain punya cewek lebih enak,"
"Buggghhhh !" lutut Shania menghantam pusaka milik Vano membuat Shania memiliki kesempatan untuk kabur, di sela-sela langkahnya Shania berbalik dan mengacungkan jari tengahnya pada Vano sambil tersenyum miring. Jika dulu lawannya selalu perempuan, kini rivalnya adalah laki-laki yang entah apa alasan Vano, sampai saat ini yang bisa Shania tangkap adalah Vano menyukainya, entah benar atau tidak, hanya saja ada yang kurang ia mengerti dengan Vano tak tau apa, atau jangan-jangan si peneror itu adalah Vano.
Seketika Kampus menjadi ramai, bukan hanya karena acara unjuk bakat yang diadakan pada hari terakhir MOS sebelum nantinya acara penutupan.
Rupanya almamater hijau kedatangan tamu tak diundang, dan itu membuat heboh pasalnya jas yang mereka pakai bukan almamater hijau.
Shania berjalan bersama Deni, Roy, dan Melan menikmati hembusan angin siang yang memang sejuk disini karena banyaknya pepohonan.
"Gila aja tuh orang kalo gitu Sha, loe mesti ati-ati takut dia nekat !" ujar Melan, saat Shania menceritakan semua kejadian bersama Vano tadi.
"Tenang aja, ada kita Sha. Lagian cik Mel, hal kaya gini udah makanan Shania sehari-hari !" jawab Deni.
"Sha," senggol Melan.
"Wah, kaka gue dateng kesini pake almamater kuning, kerennya !" seru Roy, netra mereka tertuju pada ketiga laki-laki berjas kuning di parkiran.
"Cie, diapelin almamater kuning !"
"Yang kurang tuh warna merah, biar jadi pelangi !" jawab Deni.
"Mas Kala ngapain kesini ? Hmm, mau pamer pake almamater kuning nih ye !" decih Shania.
"Sha, kenalin ini temen mas, Hendra sama Vian."
__ADS_1
Shania bersalaman dengan keduanya.
"Oh ini istri Arka, kenapa ga ikut di almamater kuning sama Arka?" tanya keduanya.
"Soalnya otak Sha cuma nyempil segede upil," celetuk Deni ditertawai yang lain termasuk teman-teman Arka.
"Pukk !" Shania menggeplak perut Deni.
"Sekali lagi ngomong kaya gitu bukan cuma perut loe yang gue geplak ! Tapi otak loe yang secuil gue lempar bareng e'e cicak !"
"Santai mak, "
"Sha, kita lagi ada project bareng, jadi mas ada urusan sama mereka di Route 78, sekalian jemput kamu dulu !"
Vian dan Hendra mengekor menggunakan motornya masing-masing, sedangkan Arka dan Shania menaiki mobil.
"Mas, ada yang mau Sha omongin."
"Apa ?"
"Tadi kaka tingkat Sha..."
Shania menceritakan semua kejadian bersama Vano pada Arka, terlihat rahang Arka yang mengeras dan deheman tanda jika laki-laki ini tak nyaman saat Shania disentuh Vano. Arka sengaja tak mau memberitahukan jika Vano adalah orang yang meneror Shania selama ini, agar Shania bisa lebih nyaman berkuliah.
"Maunya apa sih tuh orang ! Kan dia tau kalo Sha udah nikah, malahan suami Sha aja dia udah tau mukanya, Sha kira dia baik mas, dulu waktu ketemu di supermarket itu keliatannya dia cowok baik-baik."
Arka mengangguk, "penampilan ga bisa menjamin pribadi seseorang, Sha."
Dia hanya belum begitu paham apa motif Vano melakukan semua ini, karena berdasarkan dari info yang ia tau, Rivano ini adalah penyuka sesama jenis. Hanya ia harus sangat berhati-hati, biasanya orang dengan kelainan seperti ini selalu nekat jika memiliki keinginan.
Selain pada Yuna, Arka juga meminta tolong pada Deni dan Roy sebagai teman yang sehari-hari bersama Shania.
"Hay kaum pejuang receh !!!" seru Shania pada Arga, Sifa, Lukman, teh Mila dan Dimas.
"Cih, jujur banget kalian ! Iya ya, ko gue baru sadar kalo gue pejuang nafkah laki, " Shania ikut tertawa, menertawakan nasibnya sendiri.
"Hahaha, kemana aja mbak, baru sadar sekarang ?" tanya Arga.
"Fa, buatin Latte 3 ya !" pinta Arka.
"Siap mas bos !"
"Fa, gue mau coba racik kopi sendiri ah. Masa mas Kala aja bisa, gue bininya ga ada bakat !" Shania memasang appron di badannya agar tak mengotori pakaiannya.
"Monggo ka Sha," jawab Sifa.
"Emang bisa ?" tanya Lukman.
"Makanya Sha mau belajar uncle !"
"Sini gue ajarin !" ujar Dimas.
"Sha pengen coba yang latte art itu ! Keren deh kayanya !" seru Shania.
"Ga usah kebanyakan gaya dulu, kalo itu susah, yang ini aja cuma racik doang belum karuhan kamu bisa," Shania manyun mendengar pendapat Dimas.
"Ga usah manyun gitu, ntar gue tikung juga nih dari Arka !" kelakarnya membuat Shania bergidik.
"Yang ada Ori berantem terus rebutan mainan Dim.. sama Shania," tawa Lukman.
"Ga usah kebanyakan gosip deh, kalian udah kaya ibu-ibu. Buruan, jadi ngga nih ngajarin ?!" sewot Shania.
__ADS_1
"Tuh buruan, bu bos marah tuh. Mau dipecat kalian ?!" titah teh Mila, Arga terkikik melihat ketiganya.
"Idih kalian tuh ga ada takut-takutnya sama bu bos, heran deh Sha !" gerutu Shania seraya terus memperhatikan alat roastingan.
"Bu bos kaya gini, kalo nakal tinggal gantungin aja belakang pintu bareng appron !" jawab Dimas beradu kepalan tangan dengan Lukman.
"Si@*lan," desis Shania.
"Dih..dih...itu mulut, minta di selotipin," Lukman menjepit leher Shania di ketiaknya. Mereka sudah menganggap Shania seperti adik kecil mereka sendiri.
"Ini dimasukkin dulu ke alat roastingan Sha, kamu mau pake kopi apa ?"
"Emhhh, biasanya apa ? Sha mau robusta aja !" jawab gadis itu memperhatikan.
"Cukup segini aja, udah cukup pahit sama kuat aromanya !"
"Terus ?!" tanya Shania lagi.
Step demi step Dimas ajarkan pada Shania.
"Udah gitu tuangin kremer sama susunya,"
"Segimana ?"
"Sesuai selera kamu aja, tapi idealnya segini aja cukup !" tunjuk Dimas pada gelas ukurnya.
"Oke dah ngerti ! Awas minggir !" usir Shania, mendorong Dimas menjauh.
"Wkwkwk, habis manis sepah dibuang !" ujar Sifa.
Kini ia membuat racikannya sendiri, ia tampak asyik jadi barista dadakan.
"Taraaaa !!!"
"Allahu akbar !! Banyak amat dipakein wipcreamnya ?!" seru Dimas menepuk jidatnya.
"Itu mah wip cream di kopiin. Bukan kopi di toppingin wip cream,"
"Biarin aja lah suka-suka, biar estetik, indah !" jawab Shania
"Lah ! Mbak Sha itu wip cream udah kaya rambut orang kribo, dikasih marshmallow sama permen coklat ! Mbak Sha pakein segimana ?" tanya Arga melihat gelas ice coffe Shania yang penuh, sampai meluber oleh topping.
"Ga tau, pokonya itu yang di tube itu abis kayanya deh !" Shania asik menikmati ice coffe buatannya.
"Gue kalo tiap hari bini kaya gini, auto gulung tikar !" jawab Dimas.
"Untung Sha istri mas Kala kalo gitu, kalo suami Sha kaya ka Dimas ribet...udah cerewet, pelit pula !"
"Hahahaah," Lukman dan Arga tertawa.
***
"Biar cepet keungkap, terpaksa harus pake Shania sendiri sebagai umpan Ka," usul Vian.
"Nah itu Ka, disini..loe siap engga ?" tanya Hendra menyeruput kopinya.
"Siap ngga siap harus siap, biar ga berkepanjangan Ndra," jawab Arka.
.
.
__ADS_1
.