
Akhirnya mereka menemukan pakaian dress batik yang cocok, senada dengan kemeja untuk para laki-lakinya, mereka tampak rapi, tampan dan cantik termasuk Gale yang ikut-ikutan di dandani dengan kuciran dua layaknya sailormoon.
"Lucu banget ponakan gueee !" gemas Melan mencubit dan menguyel-uyel pipi si gemoy Gale. Bayi gemoy itu risih dan merengek manja pada sang ayah.
***
"Nih, kalo kaya gini suami Sha, gantengnya kan nambah berkali-kali lipat !" ujar Shania merapikan kerah kemeja batik Arka. Sama halnya saat Arka memakai batik korpri, Shania selalu memujinya.
Cup ! satu kecupan disarangkan di pipi lembut Shania.
"Mas memang sudah ganteng dari lahir Sha," jawab Arka datar.
Ia bukan memukul Arka seperti biasanya, Shania justru mengerutkan alisnya, "mas sehat kan ?"
"Astaga neng !" bi Atun tertawa, kebanyakan gaul bareng geng demit membuat tingkat kepedean Arka melambung tinggi kaya balon dikasih nitrogen.
"Sha, yakin nih mau ngasih kado yang begituan ? Ko gue malu !" ujar Roy dari sofa tengah.
"Yakin !!! Tuh bumil ngidamnya yang begituan, demi bumil !"
"Muka sangar gue mau ditaro dimana Sha !"timpal Deni.
"Kresekin om Den, buang di kali Ciliwung !" jawab Leli.
"Baru kali ini, gengster disuruh kaya gini Sha !" jawab Ari, sedangkan Guntur malah asyik mendengarkan lagu dan menghafal gerakan yang akan mereka persembahkan nanti.
"Liat tuh om Gledek, doi asik-asik aja !" tunjuk Melan.
"Si gledek udah ga waras, semenjak ditolak guru," cebik Deni.
"Kadar kejantanannya udah berkurang !" timpal Ari bertos ria dengan Deni.
"Kimvritt, liat aja siapa yang duluan punya pacar !" tantang Guntur.
"Oke !" jawab Ari.
"Udah buruan ! Malah pada taruhan. Penganten pasti udah nungguin," Shania memasukkan perlengkapan Gale ke dalam mobil.
"Biar saya aja pak yang bawa mobil," tak enak hati menjadikan ex gurunya itu supir mereka, Ari mengambil alih tugas supir.
"Boleh, punya SIM ?" Ari mengangguk.
"Masih mengkilat dong pak !" tunjuk Ari pada SIM A miliknya.
"Oke, nih kuncinya !" Arka melempar kunci mobil pada Ari.
"Hati-hati ya nduk," ucap ibu.
"Bu, bi Atun kita pergi dulu. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Shania duduk di tengah bersama Arka yang memangku Gale, dan Inez, sedangkan Ari di bangku pengemudi.
"Njirrr, bentaran dulu om gledek !" rusuh Leli di bangku belakang bersama ketiga lainnya berdesakan.
"Ha-ha-ha, bontot dipangku aja !" ucap Deni dari bangku depan.
"Ogah !!! keenakan di om gledek !" sarkas Leli.
"Roy, bentar dulu ini rok gue loe dudukin !" heboh Melan.
"Rempong amat emak-emak," oceh Roy mengangkat pan_tatnya dari dress Melan yang terduduki.
"Heboh banget oy, kaya bawa orang sekampung. Bagusnya loe berdua naik mobil bak terbuka, biar luas ! Biar bisa sambil rebahan," jawab Ari.
"Yank, loe gue pangku aja lah !" Roy ingin pindah.
"Apaan, ga ada !" Shania sewot.
"No pangku-pangkuan sebelum halal !" tambahnya.
"Yang ada junior loe keenakan dijepit Inez, bangun yang ada !" ucap Deni membuat Inez tertawa.
"Mau sayang-sayangan disini mah ga bisa, nanti aja di belakang yank. Mereka mah suka rusuhin, ga seneng liat orang bahagia," dengus Roy.
"Sayang...sayang...halalin dulu ! Sayangnya loe sama om Den beda versi !" Shania menatap tajam Roy, seakan tau kelakuan teman-temannya ini, Roy terkekeh.
"Sayangnya bikin mabok gitu mak ?" tanya Guntur.
"Gue udah tobat mak," jawab Deni dari depan.
"Deni pacaran sama Anis, Sha.." ujar Arka terlontar begitu saja membuat mereka terkejut.
"Apa ?!!"
"Yahhh, bapak...pake dibilangin, lagi bokek saya-nya," kekeh Deni.
"Ah yang bener om Den ? Gilaaa ! Artis bruhh !" ujar Ari.
"Yoi," Deni menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Om Den !! Pejehhhh !!" seru Leli dan Melan.
"Ko, mas tau ?" tanya Shania.
"Kemarin Deni nganter Anis ke kampusnya, ga sengaja ketemu."
"Jadi ini yang jomblo tinggal gue doang nih sama om Gledek, cik Mel, ama si bontot (bungsu)?" tanya Ari.
"Iya om pong !" jawab Melan.
"Ga bisa jadi ini ! Pulang dari sini mesti getol cari pacar," oceh Ari.
Akhirnya di bangku belakang duduk berdesakan keempat manusia bernama Guntur, Roy, Melan dan Leli.
Ari melajukan mobil keluar dari parkiran rumah.
"Jam berapa sih akad-nya ?" tanya Leli.
"Jam 9 kalo ga salah," jawab Melan.
Jalanan terasa panas dan macet, pagi itu.
"AC dong Sha," pinta Leli.
"Udah Li, AC nyala dari tadi."
"Bedak gue luntur nih kayanya !" ujar Melan mengomel sambil mengipasi wajahnya.
"Makanya beli yang mahal cik Mel, masa orang kaya pakenya tepung !" jawab Roy.
"Enak aja, bedak mahal nih ! Lebih mahal dari uang jajan loe seminggu !" Melan menoyor Roy. Arka hanya menggelengkan kepalanya sambil mengelusi putrinya di pangkuan.
"Susu dedek mana Sha ?" tanya Arka.
"Ini," tunjuk Shania pada tas bayi yang di taruh di bawah kakinya.
Setelah menempuh waktu sekitar 40 menit mereka sampai, janur kuning melengkung di depan gang rumah Niken.
NIKEN DAN NIKO
Mereka memarkirkan mobil di parkiran yang sudah disediakan.
"Hufftt panas ! Padahal masih pagi,"
Niken beserta keluarga menyambut kedatangan Arka dan yang lain.
"Shania," ibu Niken keluar dengan pakaian kebayanya.
"Ada di dalem kamar, masuk aja !" pintanya.
"Mas, Sha masuk dulu ke dalem sebentar," Arka mengangguk, sementara para laki-laki duduk di kursi sesekali mereka bermain dengan Gale.
"Niken !!!" pekik mereka.
"Guysss !" mereka berpelukan.
"Cieee, penganten cantik banget, glowing !"
"Kalian juga, akhirnya nemu juga batik-nya !"
"Iya, samaan kan sama kebaya loe !" tunjuk Melan pada dress keempatnya bersama Inez.
"Selamat ya Ken, meskipun gue ga begitu deket kaya kalian. Tapi loe sahabat Roy ! Gue ikut bahagia," ujar Inez.
"Oohhh sweet, loe udah masuk ke keluarga kita Nez, loe temen baik Shania loe juga pacar Roy, loe keluarga kita !" jawab Niken diangguki Leli, Melan dan Shania.
"Ken, pihak laki-laki sudah datang," ibu Niken masuk ke kamar.
"Oh, udah dateng tuh !"
"Siap Ken ?" tanya Shania, Niken mengangguk.
Niko tampak datang dengan rombongannya sepaket dengan seserahan.
"Mungkin nanti setelah anak gue lahir, gue ijab lagi Sha biar lebih afdol.." bisik Niken.
"Ga apa-apa Ken, yang penting loe udah sadar kalo itu salah !" Shania mengusap bahu tertutup kebaya. Niken tampak cantik dengan kebaya putih coklatnya.
***
Flashback sebuah pernikahan memutar di otak Shania, saat dulu Arka mengucap janji di hadapan Allah di rumahnya. Lirikan mata Shania bertemu dengan pandangan Arka, kini lelaki yang dulu menikahinya tanpa perasaan apapun itu tengah tersenyum padanya penuh cinta, seraya memangku buah cinta keduanya di sebelahnya.
"Mas, jadi inget nikahan kita dulu," ucap Shania.
"Kenapa, mau ngadain resepsi lagi ?" tanya nya.
Shania menggeleng, "engga, makasih udah halalin Sha dulu baru sentuh Sha."
"Makasih sudah kasih mas kesempatan buat mencintai kamu," jawabnya, Shania menyenderkan kepalanya di bahu Arka.
"SAH !!!!!" teriakan geng kurawa paling kencang diantara hadirin yang hadir.
__ADS_1
"Alhamdulillah !!"
Pihak keluarga Niko menyerahkan beberapa kotak seserahan kepada pihak keluarga Niken.
"Ini yakin Sha ? Malu euyy !" ujar Ari.
"Buat bumil," Shania menepuk-nepuk pundak Ari.
"Duhh, ampun gue ! Kalo entar loe pada ngidam, jangan macem-macem, susahin aja laki masing-masing. Heran gue, ga ikut enak bikinnya, tapi kebagian repotnya," Roy meringis frustasi.
"Semangat yank, kapan lagi cowok bandel joget-joget ala girlband !" jawab Inez.
Deni mendekati orang sound, ia menyerahkan ponsel agar disambungkan pada speaker.
Saat pengantin duduk di singgasana pelaminan sana, Shania maju ke atas panggung.
"Check baby check !" ucapnya lewat mik, lantas semua yang hadir disana menoleh ke atas panggung termasuk yang sedang bersalaman dengan pengantin.
"Ken, Niko..selamat ya atas pernikahan loe berdua, samawah. Kita ikut seneng kalo loe bahagia Ken !" Niken mengusap sudut matanya ditemani Niko yang sedikit canggung, karena malu dengan tingkahnya tempo hari.
"Thanks guys, love youuu !" ucap Niken tanpa suara.
"Ini kado kita buat loe !" Shania menyimpan miknya lalu turun dari panggung, dimana teman-temannya sudah berdiri.
Niken mengernyitkan dahi, melirik ke arah Niko yang juga menggeleng.
Deni mengangguk pada si pengatur sound. Mulai terdengar suara musik, seiring mereka yang mengatur barisan di sana.
Alunan musik beat dari salah satu girlband Indonesia, mengisi seisi tempat hajatan Niken. Dengan koreo khas girlband itu yang dibawakan oleh geng demit, Niken sampai melongo dan menutup mulutnya dengan tangan.
Teman-teman berandalnya sampai mau-maunya seperti ini, hanya karena ngidamnya kemarin yang ia utarakan, jika ia ingin melihat mereka menarikan lagu girlband idolanya. Dan mereka kabulkan, meskipun saat kemarin mereka menolaknya mentah- mentah seraya ogah-ogahan.
Tubuh tatto'an Deni ikut menari ala-ala remaja perempuan 15 tahun, wajah sangar para laki-laki itu nampak kaku membawakan tarian girlband populer idola Niken sepaket dengan memakai kemeja batik. Jika Shania, Leli dan Melan sih jangan ditanya, mereka sih perempuan setidaknya badan mereka sedikit lentur dan luwes.
#Walaupun diri ini menyukaimu, Kamu seperti tak tertarik kepadaku, Siap patah hati kesekian kalinya, Yeah..yeah..yeah...!
Ketika kulihat di sekelilingku, ternyata banyak sekali gadis yang cantik, bunga yang tak benar tidak akan disadari, yeah..yeah..yeah..!
Saat ku melamun terdengar music mengalun di cafetaria, tanpa sadar kuikuti iramanya, dan ujung jari pun mulai bergerak, perasaanku ini tak dapat berhenti, come on come on come on come on baby ! Tolong ramaikanlah,
Yang mencinta, fortune cookie, masa depan tidak akan seburuk itu, hey..hey..hey ! Mengembangkan senyuman 'kan membawa keberuntungan,
Fortune cookie berbentuk hati, nasib lebih baiklah dari hari ini, hey..hey..hey ! Hey..hey..hey !
Janganlah menyerah dalam menjalani hidup, akan datang keajaiban yang tak terduga, ku punya firasat 'tuk bisa saling mencinta denganmu.
JKT48 - Fortune cookie.
Tautan telunjuk dan jempol berbentuk love membuat Arka tertawa kecil. Bukan Arka saja rupanya yang terhibur, tapi para tamu undangan lainnya. Anak berandal yang biasanya identik dengan musik metal dan underground malah berjoget-joget ria ala girlband.
Mereka mengajak Niken untuk turun dan menari bersama, Niken tertawa bahagia sambil ikut menari meninggalkan Niko dan tamu yang berjejer di depan.
Inez asyik mendokumentasikan moment ini, ia tak mau sampai melewatkan satu detik pun. Dimana anak-anak berandal berubah jadi anak manis semanis gula kapas hanya demi sebuah kebahagiaan persahabatan.
Bukan hanya Inez saja rupanya yang melakukan itu. Sedangkan Arka setia menjadi penonton konser dadakan anak-anak berandal Shania.
Sampai di akhir lagu, Shania memberikan kotak kado kecil, berisi tiket paket honeymoon untuk Niken dan Niko ke Jogja.
Aksi mereka menuai tepukan tangan dari semua yang hadir. Padahal gerakan mereka kaku, maklum mereka bukan penari latar.
"Thanks guys !!!" Niken menangis.
"Loe semua sampe bela-belain mau kaya gini !"
"Iya sama-sama. Tapi besok-besok loe kalo ngidam yang aga warasan Ken, noh laki loe repotin kalo bisa mintanya yang lebih aneh, terjun ke jurang gitu, atau nari bareng buaya sama hiu !" jawab Ari.
"Jatoh harga diri gengster gue, berserakan jadi abu gosok..." ratap Roy.
"Gue bukan lagi, mau ditaro dimana tatto-tatto metal gue ini ?" tanya Deni.
"Anak tiri lagi meratapi nasib," toyor Melan.
Inez tertawa, "sabar yank, kamu tetep keren !"
"Shania, Melan, Deni, Roy, semuanya ayo pada makan dulu !" ibu Niken menghampiri.
"Nah ayo lah ! Udah laper gue ! joget-joget begituan bikin perut gue lapar !" ajak Guntur.
"Om Gledekkk ! Nanti nyanyi ya !" pinta Niken sambil mengelus-elus perut ratanya.
"Allahu ! Ini bumil satu mentang-mentang jadi ratu sehari, banyak banget mintanya !" omel Guntur.
Baru saja mereka tertawa-tawa karena aksi konyol para berandal ini, tiba-tiba saat sedang makan mereka dikejutkan dengan kedatangan dua orang perempuan, dengan satu perempuan yang wajahnya sembab sambil marah-marah di acara Niken.
"Itu cewek yang waktu itu !" tunjuk Shania.
.
.
.
__ADS_1