Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Pembagian rapot


__ADS_3

"Sebelum ke sekolah jemput dulu bunda ya," ucap Arka yang masih duduk di ruang makan.


"Oke, " jawab Shania sambil mengunyah roti dengan selai coklat.


"Udah lama ga ketemu ibu," imbuh Arka dengan tatapan mata ke arah kopi, namun pikirannya jauh entah kemana, mungkin ia rindu ibunya.


"Ya udah temuin aja mas, ibu juga pasti kangen !" jawabnya enteng.


"Nanti liburan, mas mau ajak kamu ke Surabaya. Udah lama ga ketemu ibu. Kamu juga belum kenalan sama keluarga mas 'kan ?! waktu nikahan engga datang semua,"


"Iya mas," anggukan kepala Shania setuju, one step closer (selangkah lebih dekat lagi) untuk lebih membuat Shania terjerat cintanya.


Mobil Arka masuk ke dalam parkiran rumah Shania. Rumah yang tak terasa, sudah lama Shania tinggalkan.


"Assalamualaikum, "


"Waalaikumsalam, "


"Eh, udah datang ?! sebentar bunda belum bedakan, tunggu sebentar !" pinta bunda yang langsung beranjak dari meja makan, saat Arka dan Shania salim takzim pada ayah.


"Bunda buruan ah, jangan lama ! jangan mau dimirip miripin sama Kyle Jenner, da dia mah duitnya banyak !" teriak Shania.


"Ka, Sha..gimana gimana nih ? kata bunda, Shania banyak kemajuan di sekolah ?"


"Iya dong yah !!! udah dibilangin dari dulu, kalo Sha tuh bisa lebih baik. Cuma kalo waktu itu belum indah pada waktunya aja !" jawab Shania, gadis itu meraih piring dan mencicipi nasi goreng bunda yang sayang untuk dilewatkan. Tadi di rumah ia sudah sarapan, tapi seakan memiliki kantung cadangan, perutnya mampu menampung nasi goreng buatan bunda.


"Bisa aja kamu ngelesnya, pasti ini juga ada campur tangan Arka !" jawab ayah yang duduk di kursi kebesarannya, seraya menyesap secangkir kopi Gayo kesukaannya.


"Alhamdulillah yah, ayah apa kabar ?" Arka mengambil posisi duduk di sofa samping ayah.


"Alhamdulillah, baru pulang dari Jambi semalam. Udah makan ? Makan dulu deh !" pinta ayah.


"Udah yah, udah. Tadi bareng Shania," jawab Arka.


"Ohhh, tapi ini anak datang datang kenapa kaya orang kelaperan ?" ayah mengangkat alisnya sebelah.


"Cuma nyicip doang, kangen nasi goreng bunda. Abisnya nunggu bunda bedakan mah kaya nunggu orang lahiran, mesti pembukaan lengkap, baru brojol !" jawabnya di sela sela kunyahannya.


Ayah menggelengkan kepalanya melihat sifat putrinya yang tak pernah berubah.


"Arka mau minta ijin ngajak Shania liburan ke Surabaya nanti waktu liburan yah, ya.. walaupun ga lama," ijin Arka seperti sedang mengajak kencan anak gadis orang pada ayahnya.


"Oh ya boleh Ka, bawa aja. Shania kan sekarang istri kamu, biar lebih mengenal keluarga suaminya, kenapa ga lama? " ayah sesekali meneguk kopinya. Benar kata ustadz ustadzah yang sring ia dengar ceramahnya, jika pacaran setelah menikah memang bikin lega. Tak harus takut jika kebablasan, tak was was jika bawa kabur anak orang, dan yang paling utama, ia tak akan mengulang dosanya kembali, menyentuh yang bukan muhrimnya apalagi dengan perasaan menggebu dan ketertarikan, akan menjadi dosa jatuhnya, dengan alasan cinta mo nyet dan gejo lak darah muda.


"Arka sudah harus pulang mengurus kuliah yah, usaha Arka juga ga bisa ditinggal lama,"


"Oh ambil kuliah lagi ? hebat, hebat !" decak ayahnya. Matanya seakan mengisyaratkan kalau saya tak salah memutuskan dulu.


"Iya, "


"Dimana ?" tanya ayah.


Bukan Arka yang menjawab, melainkan Shania, "Almamater kuning yah, hebat kan mas Kala ! Sha mau minta resep sama kiat kiatnya ahhh...mau masuk sana !"


"Hebat lah ! semoga lancar ya, " ayah menepuk pundak Arka seiring turunnya bunda yang sudah siap. Ada rasa tersendiri disaat seorang lelaki yang disebut ayah itu membanggakannya, seakan ia merasakan jika sang ayah masih disini dan merasa bangga padanya.


"Bunda lama ih !! cepetan lah, da engga akan ada yang mau ngecengin bunda lagi atuh," omel Shania.


"Biarin atuh Sha, masa mau ketemu orang banyak penampilan kaya abis goreng ikan, berminyak !"

__ADS_1


"Kan mau jalan sama mantu, masa mantu cakep, mertuanya kuleuheu, kucel, lecek..kaya uang kembalian basreng !"


Kini Arka tau kosa kata yang tidak biasa dan sering membuat orang orang tertawa itu dari mana asalnya, termasuk wajah cantik Shania adalah perpaduan cantik ibunya namun kulit putih dan hidung mancung ayahnya. Shania benar benar patut bersyukur, Allah menurunkan semua yang terbaik dari gen kedua orangtua padanya.


"Ih bunda jangan bilang mantu nanti disana, derrr ! bunda keceplosan, kan berabe !" Shania mewanti wanti.


"Iya, "


"Hey ibu ibu mau berangkat apa cuma mau pada berantem, ini udah mau jam 8," ayah melerai kedua wanita kesayangannya seraya menunjuk arloji di tangannya, sementara Arka hanya jadi penonton setia dan pendengar yang baik.


Ketiganya berangkat menuju sekolah, membelah kemacetan jalanan ibukota.


"Arka wali kelas juga apa gimana ?" tanya bunda.


"Engga bun, sengaja ga ambil kelas soalnya tau pasti sibuk. Jadi hari ini cuma mau rapat bareng pak Wildan (Kepsek) aja," lirik mata Arka, lalu kembali fokus ke jalanan. Sedangkan Shania, gadis ini lebih asyik melihat jalanan di luar kaca jendela, jam jam sibuk jalanan ibukota memang sepadat ini hampir setiap hari.


"Oh, "


Arka keluar dari mobil, membukakan pintu bagian bunda.


"Bunda !!" pekik Inez datang bersama ibunya.


"Eh, Inez..bu Dera," bunda dan ibu Inez cipika cipiki.


"Bu Lia, ini siapa ?" tunjuk ibu Inez pada Arka.


"Ini pak Arkala bu, guru kimia disini !" jawab Inez, yang dijawab oh panjang dan anggukan kepala ibunya Inez.


"Shania !!!" teriak ibu Inez saat Shania keluar dari mobil.


"Si cantiknya ibu, denger denger kata Inez daftar Dispora, terus ke accept ? hebat lah, mau jadi atlet !" Shania melirik Arka lalu tersenyum getir pada ibu Inez.


"Ah ! Saya mah, maunya Shania di rumah aja lah bu, bukannya ga seneng jadi atlet cuma pengen dia di rumah aja biar ada temen, kuliah yang bener !" sela bunda.


"Bu Lia ?!" sapa pak Hadi.


"Eh, pak Hadi..."


"Loh ko bisa barengan sama pak Arka ?" tanya pak Hadi menatap bunda, Shania dan Arka bergantian.


"Iya tadi di jalan ketemu sama calon mantu !" seloroh bunda membuat Shania dan Inez saling berpandangan, namun tidak dengan Arka.


"Bu, pak Hadi dan anak anak. Saya pamit masuk ruang guru dulu, " ujar Arka.


"Iya Ka, " jawab bunda.


"Monggo pak, "


Kedua pasang ibu dan anak itu masuk ke dalam kelas, disana sudah lumayan banyak orangtua murid yang duduk di bangku siswa dengan beberapanya membawa hampers termasuk bunda.


Sepatah dua patah kata sambutan dari pak Wahyu, sebagai wali kelas Shania berlangsung begitu hangat dan penuh canda. Karena memang pak Wahyu orangnya begitu ramah dan kocak.


Satu persatu buku berisi laporan nilai selama kelas XI diterima oleh para murid dan orangtuanya.


"Shania Cleoza Maheswari, " panggil pak Wahyu. Bunda dan Shania maju ke bangku depan yang sudah disediakan berhadapan dengan pak Wahyu.


"Shania...anak pak Hadi !" tawa pak Wahyu, julukan paling melegenda disini ya itu...anaknya pak Hadi, karena ia langganan masuk ruang BP, Shania dan bunda ikut tertawa kecil.


"Shania, kemajuannya cukup signifikan ya, apa karena campur tangan pak Arka ? bojo..bojo..." pak Wahyu menaik turunkan alisnya saat mengucapkan kata bojo.

__ADS_1


"Alhamdulillah, " jawab bunda.


"Tahun ini jadi penutup yang manis ya Sha, prestasi kamu raih. Tapi apa benar kamu mengajukan pendaftaran ke Dispora ?" alisnya berkerut mengingat langkah yang diambil Shania mungkin akan menjadi masalah yang cukup kompleks.


"Iya pak, tapi Sha batalkan.." pak Wahyu mengangguk angguk mengerti.


"Bagaimana pun saya tak mau Shania keliru mengambil keputusan pak, meskipun saya tau itu cita cita Shania. Tapi sekarang ada yang lebih berhak atas Shania dibandingkan sebuah cita cita, " tambah bunda.


"Iya bu, insyaallah...do'a terbaik untuk Shania dan pak Arka, " jawab pak Wahyu.


"Makasih pak, " anggukan bunda dan Shania.


"Ini rapotmu Sha, kamu naik ke kelas XII, congrats !!" jawab pak Wahyu.


"Terimakasih pak Wahyu, ini ada sedikit buah tangan untuk istri dan anak di rumah," bunda mengangsurkan paper bag berwarna merah maroon bertuliskan toko kue milik bunda Dapoer Mama Lia.


"Pak, ini ada titipan dari pak Arka," Shania menyerahkan 2 buah voucher angkringan dan Route 78 di cabang manapun.


"Eh, kenapa repot repot ?!" seru pak Wahyu.


"Itu anggap aja makan resepsi Shania sama pak Arka buat bapak sekeluarga, makasih sudah mengerti keadaan Shania dan pak Arka, pak !" jawab Shania tulus, obrolan mereka diakhiri dengan jabat tangan dan salim takzim Shania pada pak Wahyu.


"Saya selaku wali kelas XI MIPA 2 meminta maaf sebesar besarnya jika selama mengajar di kelas ini banyak kekurangannya, atau pernah melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak. Terimakasih kerja sama, suka dan dukanya, dan selamat berlibur !!"


Shania menunggu Arka diparkiran.


"Kemaren teh Nengsih nanyain Shania, katanya liburan sekarang Sha ke Bandung engga, udah nyiapin peuyeum ketan kesukaan Shania," ucap bunda.


"Bun, kayanya liburan kali ini Shania ga ikut ke Bandung, soalnya mas Kala ngajak ke Surabaya, udah lama ga liat ibu, "


Bunda mengangguk paham, "iya engga apa apa, kenali keluarga suami Sha, biar nanti bunda sampaikan salam buat keluarga di Bandung, "


"Maaf lama ya bun, " Arka tergesa sampai ke parkiran dan membuka pintu mobil.


"Engga ko, baru aja keluar dari kelas, "jawab bunda.


"Sha, nanti sebelum ke Surabaya, kita bikin hampers dulu buat saudara di kampung, "


Shania mengerutkan dahinya, "buat apa mas ? kan belum lebaran ?!" tanya Shania.


"Hampers apa Ka ? kue ?" tanya bunda.


"Iya bun, jadi kabar Arka sudah menikah sama Shania memang sudah diketahui saudara. Jadi mau bikin hampers buat sanak saudara. Kira kira bagusnya isinya apa ya bun ?" tanya Arka.


"Biar bunda yang urus saja Ka, kalian tau beres saja. Mau bikin berapa puluh dan kapan berangkatnya ?" tanya bunda.


"Ga banyak bun, soalnya kita berangkat pake kereta biar tidak cape berkendara, hampersnya kita titip di travel kenalan Arka, mungkin 3 hari ke depan bun, kita berangkat."


"Oke, " jawab bunda.


.


.


.


* Kuleuheu : dekil


* derrr ! : kalimat spontan bahasa sunda.

__ADS_1


* peuyeum ketan : makanan khas sunda, terbuat dari beras ketan yang diberi ragi.


* hampers : hantaran, bingkisan.


__ADS_2